KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Senyumku di Pagi Hari

Sepuluh menit berlalu. Menunggu memang hal yang menjemukan. Janji datang tepat waktu tak pernah ditepatinya. Ada saja alasan untuk membela diri. Bodohnya, aku selalu menjadi si ‘ontime’ (aku rasa itu kebiasaan yang baik). Aku berusaha mengusir kebosananku menunggu dengan mengamati orang-orang yang berada di restoran, tempatku berada kini.

Hmm… mengamati orang lain adalah hal yang menurutku mengasyikkan. Dari tempatku, aku bisa melihat bagaimana para pelayan berusaha menjamu para pelanggan dengan sebaik mungkin. Memberikan senyum termanisnya, bertutur kata penuh kelembutan dan bersikap sopan. Para pelayan itu bersliweran dimana-mana di dalam restoran ini. Kulihat juga seorang pemuda yang tengah bercakap-cakap dengan teman wanitanya. Sesekali mereka berdua tertawa lepas. Serasa mereka hanya berdua di restoran ini. Di sudut lain kulihat bapak paruh baya tengah membaca koran pagi ini. Sesekali ia membenarkan posisi kacamatanya dan menyeruput minuman pesanannya.

Aku sendiri merasakan kepuasan tersendiri melakukan hal ini. Mengamati orang lain. Dalam hati aku mengucap syukur akan indahnya karunia-Nya padaku. Aku telah diberikan mata yang sempurna sehingga aku mampu melihat pemandangan pagi di restoran ini. Hal kecil yang jarang sekali orang memikirkan hal itu, namun banyak sekali hikmah dari semua itu.

Tiga puluh menit pun berlalu tanpa aku sadari. Kucoba menghubungi orang yang sedang kutunggu. Tidak ada jawaban. Tidak diangkat. Ingin marah rasanya. Tapi aku langsung menahan amarahku. Ini hari yang indah. Tidak mungkin aku memulai hari dengan kejengkelan dihati hanya karena orang yang membuat janji padaku tak dapat menepati janjinya padaku.

Tak lama handphoneku berdering. Ternyata orang yang sejak tadi kutunggu mengirimkan pesan untukku. Aku membacanya. Rupanya ia punya alasan mengapa ia tidak bisa datang untuk menemuiku disini. Alasan yang cukup membuatku menerima alasannya. Ia harus mengantar ibunya ke rumah sakit. Aku membalas pesannya untuk mengatakan bahwa aku memakluminya.

Aku beranjak dari tempat dudukku setelah aku membayar pesananku. Aku berjalan menuju halte yang tepat berada di seberang restoran. Aku berusaha mengembangkan senyum termanisku. Aku siap untuk untuk memulai hari ini.

Kawan, seandainya saja semua orang mampu mengambil hikmah yang tersembunyi dari hal-hal yang sepele yang setiap hari kita temui, mungkin hidup ini takkan pernah menjadi beban. Seandainya kita mampu menerima setiap hal yang menyebalkan atau hal yang buruk sekalipun dengan sunggingan senyum dan keikhlasan, mungkin akan tenang hati ini.

Mulailah hari dengan senyuman dan besar hati dalam menerima setiap kemungkinan dalam setiap episode kehidupan.

6 Responses to “Senyumku di Pagi Hari”

  1. […] Baru sebentar aku membaca karya penulis-penulis pelapis dari seberang. Ada satu entry yang buat aku tiba-tiba mengingat kembali penulis agung itu. Kalau pun bahasa mereka belum setanding, rona-rona seni itu bagaikan bersendi. Tiga kali aku membaca entry ini. Senyumku di pagi Hari.. […]

  2. on 07 May 2008 at 01:20Farhan ZF

    honestly.. great!!

  3. on 11 May 2008 at 07:52thendy

    pesan ceritanya bgus!! ceritanya jg bagus..

  4. on 23 May 2008 at 13:06ayuk

    pesan yang ingin disampaikan memberi masukan agar kita kuat menjalani hidup…bravo!!!!!

  5. on 04 Jun 2008 at 14:175ieee

    passs bgd dech . . .

  6. on 10 Jun 2008 at 21:03yugas

    kesederhanaan tulisan, sample peristiwa kehidupan yang menarik, inti cerita dan penutup yang bagus, motivator sejati…salut 4 u

Tinggalkan Komentar