KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Terjebak

Semilir angin yang menerpa wajahku terasa menyegarkan bak seorang musafir yang menemukan air zam-zam dikala ia sedang beristirahat. Teduhnya suasana kurasa semakin sempurna saat sang surya tenggelam oleh gerombolan awan putih yang datang dalam birunya langit di kota Yogyakarta. Bisingnya kendaraan yang melewati tak tergubris karena tempat ini. Di tiang besar yang kotak, duduk kusandarkan punggungku sambil melihat lalu lalangnya orang-orang disebuah pusat kebahagiaan materi. Mereka hanya berlalu, melewatiku, tanpa kutahu sudah berapa lama aku disini. Hanya tetumbuhan dibelakangku yang setia menemani. Kuhidupkan sebatang rokok.

Kuhisap dalam-dalam rokok di tangan, nikotin langsung merasuk ke otak meredakan sesak pikiranku walau sesaat. Rindangnya tembok trotoar yang kududuki tak jua menghilangkan rasa gundah dan bingung di pikiranku. Mungkin boneka di etalase tahu, sedih yang tergambar di raut muka mereka seakan memberitahuku. Sejak tiga hari, perasaan takut kehilangan menggelanyuti benak ini. Adalah Shinta, seorang dara dari Madiun. Sudah satu tahun kami jalan bareng menuliskan lembar demi lembar catatan kisah kasih kami. Sejak aku menyatakan padanya, “Shin, kita kan sudah lama kenal. Sudah dari dulu aku suka sama kamu. Semakin lama waktu berlalu, semakin aku sayang dan care ma kamu. Dan aku sekarang yakin kalau aku jatuh cinta sama kamu. Jangan tanyakan kenapa dan sebabnya, akupun sendiri nggak tahu. Tapi aku yakin ini adalah anugrah. Kalau kamu mau jadi pacarku, ya…alhamdulillah. Kalau tidak, ya …yang penting kau tahu perasaanku.” Tak dinyana-nyana gadis supel seperti kamu pun mengiyakan.

Hari-hari yang ceria menjadi sebuah kekacauan diantara keindahan. Selaksa cuaca cerah sebelum badai, semua bermula setelah ia selesai merampungkan skrispsinya. Memang tak bisa kupungkiri kalau dia jauh lebih pintar dariku. Nilai komulatifnya pun cum laude, bahkan temen sekelasnya pernah bilang sambil bercanda, Shinta mungkin akan menangis kalau dapat nilai C.

Kegembiraan yang dia rasakan tidak teramini olehku, bukan karena iri atau dengki. Kedekatan jiwa dan hati tercemar oleh rasa ketakpercayaanku padanya. Ia selalu tidak mau setiap kuajak jalan malam mingguan, dan alasanya pun selalu sama ‘males ach’ . Kalaupun didesak dengan enteng dia menjawab, “Kita kan dah dewasa, udah nggak saatnya lagi hura-hura.” Ku hanya bisa menghela nafas panjang, yang kuhendaki tidak bisa kupaksakan padanya. Semula aku mengira ada cowok yang lain tapi dugaanku salah. Apa yang terjadi padamu Shin?

Mungkin benar apa yang dikatakan orang, kalau perempuan akan menginginkan sesuatu yang lebih ketika mereka tambah dewasa. Sebagai mahasiswa yang aku pun tak tahu kapan lulusnya, hanya kasih yang bisa kujanjikan. Sebentar lagi Shinta diwisuda, hasrat ingin kepastian tergaris dikata-katanya saat terakhir bertemu kemarin, ia bilang padaku , “Mas, gimana kalau habis wisuda Bapak menyuruhku pulang ?” Sialnya, dengan enteng kujawab , “Ya, PJJ (pacaran jarak jauh) aja.”

Apakah ini yang membuatnya jadi jauh, apa yang kan terjadi nanti, apakah aku bisa bertahan tanpanya? Pertanyaan-pertanyaan ini terus berputar dikepalaku, aku pun tak tahu jawaban atas semuanya. Aku belum siap melepasmu. Dan yang paling sial adalah aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Ketakutan yang dalam kehilangan dirinya mulai menghampiriku. Langit terasa lebih gelap dikepalaku. Semburan asap keluar dari mulutku, sambil menghela nafas kutarawang jauh disana birunya langit. Masih kulihat malasnya mentari diantara gemuknya awan putih.

Sambil mendesa nafas pendek puntung ditangan terbuang diinjaknya olehku. Berdiri kumelengok kanan-kiri. Lalu lalang orang berjalan melewatiku. Kaki kulangkahkan menuju pintu kaca disebuah pusat perbelanjaan di daerah Jalan Solo. “Bisa-bisa aku jadi gila mikirin Shinta terus. Mending aku jalan-jalan,“ pikirku dalam hati .

Aku disambut dengan sebuah outlet makanan cepat saji di samping kanan pintu. Kutapaki satu demi satu lantai marmer hijau disepanjang outlet-outlet yang berjajar rapi. Terpajang sepasang maket boneka mengenakan celana jins model terbaru. Memakainya dan memamerkanya hanya bisa terbayang dibenak seperti biasa. “Seratus lima puluh ribu kok discount,” gumamku dalam hati

Kubelokkan langkahku naik escalator ke lantai dua, kulihat sepasang cewek di depan yang turun berlawanan arah denganku. Yang kanan berwajah manis dengan rambut sebahu dibungkus dengan kaos lengan panjang dan jins yang ketat mengikuti lekuk tubuhnya, nampak modis. Di sebelahnya, terlihat agak tomboy dengan potongan rambut pendek ala Nirina Zubir. “Mmm…lumayan cantik juga,“ telisik hatiku yang nakal. Tapi yang membuatku terbelalak adalah tank top warna putih yang dikenakannya, yang pastinya membuat ketertarikan para kaum Adam. Sudah bukan rahasia lagi kalau cewek sekarang lebih terbuka dan berani.

Saat mereka melewatiku, godaan kusampaikan dengan melirik ke arah wajah mereka. Perbincangan yang tadi asik terganggu oleh lirikanku. Tanpa kuduga cewek yang manis tadi membalas pandanganku. Bibir merah itupun tersenyum, kutorehkan rasa kagum di hati lewat indra penglihatan. Layaknya hitamnya langit dimalam hari, tersiratkan keindahan dunia dibola matanya. Pertemuan sedetik itu pun berlalu.

Kakiku menapakkan marmer hijau dilantai dua. Bayangan binar matanya masih membekas dibenaku. Terlintas tuk kembali dan memperkenalkan diri. Tapi urung kulakukan, kumenoleh dan melihat mereka menjauh dan hilang dikeramaian. Tak kusadari langkah kaki berjalan tanpa adanya kendali dari mataku yang masih terkesima dengan padanganya. Seorang ibu yang membawa kantong plastik penuh dengan barang belanjaan tertabrak olehku.

Kontan saja ibu itu kaget, “Aduh, hati-hati dong.“ Barang-barang di kantong plastik putih berceceran.

“Eh, maaf ya Bu, tak sengaja,“ sesal kunyatakan karena tak sengaja menabraknya. Segera kumembantu barang-barang yang tercecer. Cewek muda yang bersamanya pun cekatan menjumputi belanjaan ke plastik. Meski berparas cantik dia terlihat sinis berbicara padaku, “ Lihat-lihat dong Mas, kalau jalan.“ Kantong plastik kembali penuh dengan segera. Kucoba menyatakan kembali penyesalanku pada ibu berkerudung itu, tapi ia tak menghiraukanku. Kucoba ‘tuk berlalu dan masa bodoh apa yang terjadi.

Tak terlihat olehku jika ia sedang sibuk melihat-lihat isi tas samping yang ikut terjatuh tadi. Wajahnya nampak lebih serius memeriksa. Cewek berambut bergelombang di sebelahnya juga ikut memeriksa isi tas. Terdengar teriakan dari belakang, “Copet…copet…copet!” Aku cepat-cepat menoleh padanya. Tak disangka dan dinyana, ia menunjuki tangannya ke arahku. Darah sontak naik dengan cepatnya, jantungku berdegup kencang. Aku bingung.

Belum sempat kumemahami apa yang terjadi, orang-orang yang tadi berjalan-jalan di sekitar ataupun nongkrong tersentak mendengar teriakanya. Tanpa komando mereka langsung mengerubuti aku, entah lengan siapa yang menyikap kuat leherku sampai-sampai tak bisa bergerak, cengkraman kuat menahan tangan dan tubuhku. Kebingungan yang belum pudar, terlihat seorang melayangkan bogem mentah ke wajahku, insting reflek membuatku menundukan wajah tuk menghindar. Keberuntungan yang ada cuma sesaat, lagi-lagi bogem datang. Kali ini dari belakang, tanpa adanya persiapan incaranya mengenai pelipis atas mataku. Sudah bukan rahasia lagi kalau masyarakat kita terkenal dengan main hakim sendiri apalagi terhadap copet atau orang yang diduga mencopet. Untuk urusan satu ini, mereka dengan senang hati menyalami copet atau orang yang diduga mencopet dengan bogem dan tendangan mereka. Sialnya, orang yang diduga tersebut adalah aku.

“Stop, stop, stop, ada apa ini?” terdengar suara diantara kerumunan yang tak lain adalah dua orang security Mall. Kerumunan orang jadi ciut nyalinya untuk menghajarku. Satpam dengan pentungan ditangan memborgol kedua tanganku dibelakang. Aku ditarik bagaikan seekor binatang yang siap akan digorok. Cewek cantik yang bersama ibu tadi berkata padanya, “Copet Pak !!!” jawabnya singkat. Jalan yang terbaik kurasa ikut mereka karena massa sudah siap menghajarku. Percuma juga aku melawan, tak sepatah kata pun keluar. Aku hanya diam. Petugas lalu membawaku ke pos satpam.

Disuruhnya aku duduk disebuah kursi di sebuah ruangan yang besarnya tak lebih dari kamar kosku. Satpam itu bernama Wahyu, seperti yang tertera diseragamnya. “Bener, kamu mencopet ibu ini?” tanyanya dengan nada tegas. Ketegasannya bertambah dengan tangan kanannya yang menghardikku dengan kepalanya. Belum sempat kubuka mulutku, cewek cantik itu langsung nyerocos, “ Iya Pak, dia mencopet dompet Mamaku, pakai pura-pura nabrak lagi.” Ocehanya membuatku ingin marah, tapi apa mau dikata aku sedang terpojok. Sabar dan berpikir jernihlah yang bias dilakukan saat ini.

Keadaan ini tidak mempermudah tugas Wahyu. Dari wajanhya kuduga umur tiga puluhan, ia cukup berpengalaman mengatasi situasi pelik semacam ini. Mungkin yang ada di benaknya adalah adanya penjelasan dari kedua belah pihak. Ia bijaksana sekali menyuruh cewek yang berapi-api untuk tenang barang sejenak. Wahyu bertanya pada ibu yang merasa kecopetan.

“Benar dia copetnya?” sambil menunjuk ke arahku. Tanpa ragu ia mengiyakannya. “Saat mau turun dari eskalator, dia nabrak saya pak, setelah ia membantu mengambil barang-barang ke kantong plastik, dompet saya nggak ada,” tambah ibu itu. Walaupun parasnya cantik, mulut anak ceweknya yang cerewet langsung menuduhku lagi, “Tuh, dia copetnya kan, Pak.”

Aku tak habis pikir apa yang ada di benak mereka, belum juga hilang rasa nyeri di pelipis atas mata, harga diriku sudah hancur atas apa yang mereka tuduhkan padaku. Inginku berontak atas tuduhan ini, sekali lagi itu semua percuma. Amarah pun kutahan, kupalingkan pandanganku kearah wajah pak Wahyu yang masih telihat tenang.

“Pak, tadi memang saya menabrak Ibu itu, tapi saya nggak mengambil apa-apa kok, sumpah!” terangku jelas padanya. Matanya yang sedikit melotot, cewek cantik itu berkata tanpa berfikir dua kali, “Bohong, ne…kalo copet ya,..copet, pake pura-pura segala.” Orang yang di posisiku pastilah ingin berdiri dan balas menghardiknya, atau menampar mulutnya yang sembrono itu. Benar saja, Pak Wahyu belum percaya akan penjelasanku, tersirat jelas olehku di wajahnya.

Kucoba membela diri, “Pak kalo nggak percaya silahkan geledah saya.” Tangannya cekatan masuk di saku-saku baju dan jaketku. Jemarinya yang besar dan kuat terasa saat memeriksa celana jinsku. Dompet belel dan Hp yang ia temukan. Diangguk-anggukannya kepala, sambil memegang Kartu Mahasiswa, diketahuinya namaku adalah Afri.

Ibu paruh baya dan anaknya sedikit kaget sejadi-jadinya. Dompet yang hilang itu ternyata tidak ada padaku. Karena tak percaya ia mendesak lagi, “Mungkin sudah disembunyikan di tempat lain Pak,” sambil menatap wajah Pak Wahyu.

Mencoba membantu cewek cantik menambahkan “Iya bener tuh Pak!”

“Tenang dan berpikir, itulah yang harus kulakukan,” pikirku dalam hati. Walaupun terjepit, kucoba berkonsentrasi, wajah mereka yang sinis tak kuperhatikan, kugali dalam-dalam ingatanku atas rincian kejadian barusan.

“Aku harus membela diri, tapi gimana. Aku bahkan tidak pernah melihat dompetnya,” risauku dalam hati. Secara spontan kubilang pada pak Wahyu, “Mungkin di kantong plastik, Pak”. Dikeluarkannya lagi satu per satu barang-barang belanjaan. Mata kedua wanita itu terbelalak, dompet warna coklat yang dicari ternyata terselip diantara tumpukan buah jeruk didalamnya. Antara kaget dan lega ataupun keduanya terpancar di wajah mereka, tapi yang pasti aku jadi bisa bernafas lega.

Rasa penyesalan ada dibalik kaca mata ibu yang mulai keriput tapi tertutupi oleh bedak di wajahnya, ia mendekat kearahku. Yang kudengar hanyalah, “Maaf ya Dik, sudah nuduh yang nggak-nggak.” Wahyu, security mall melepaskanku dari tuduhan dan membolehkanku pergi.

Jiwaku yang tadi terkobar amarah merasa damai lagi, inginku menggap fitnah ini jadi angin lalu dan mengatakan, “Tidak apa-apa kok.” Tapi ada satu hal yang mengganjal, hatiku berontak. Harga diri seorang anak manusia telah diinjak-injak !!!.

“Saya ingin memaafkan Ibu, yang telah memfitnah saya, tapi harga diri saya tidak bisa? Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum saya tidak bisa begitu saja membiarkan hal ini.”
Ia tidak mengerti yang kumaksud. Ia hanya bertanya-tanya mencerap perkataanku.

“Nah, sekarang saya pinjam KTP Ibu, saya akan laporankan ke Polres di depan karena pencemaran nama baik atau fitnah,” sambil menunjuk ke arah Timur. Tambahku, “Saya juga kena pukul, gara-gara fitnah Ibu.”

Kedua wanita Ibu-Anak yang tadi gembira kini malah kaget-sekagetnya. “Kami minta maaf sekali,” dengan setengah merengek, Ibu itu coba membujukku. Dan anaknya juga ikut membujukku dengan kata-kata manisnya. Siapa yang tak tertarik dengan bujuk rayu seorang cewek cantik. Hatiku sudah bulat, ini harus diproses secara hukum. Wahyu yang tadi menengahi dan menenangkan, kini menjauh seakan sudah lepas tangan.

“Nama baik saya sudah tercoreng, saya akan meluruskannya,” kataku tegas.

Iba di wajahnya hampir-hampir tak kuasa melihatnya. Dompet yang dirisaukannya tadi dibukanya. Aku mengira ia akan langsung pasrah dan memberikan KTP-nya, dikeluarkannya dua lembar uang seratus ribuan.

“Ini sebagai uang berobat dan rasa sesal kami,” sambil menyodorkan uang kepadaku.

“Mohon diterima ya,” imbuhnya.

Melihat gelagatnya ketika aku dituduh, berubah 180 derajat dengan sekarang. Ia dan anaknya bermanis-manis dalam bertutur kata.

“Saya bukan pejabat yang bisa disuap bu, lagian kalau cuma dua ratus ribu aku juga punya.”

Kebetulan aku membawa uang yang lumayan banyak hari ini, terbiasa ketika jalan-jalan. Idealisme seorang mahasiswa membuatku tetap kukuh. Suap benar-benar sudah berakar di budaya Indonesia. Putrinya yang berambut bergelombang juga merasakan sama dengan Ibunya, parasnya dari tadi sudah merasa cemas akan permintaanku. Ia pun menambah lembaran uang ditangan ibunya jadi dua kali lipat. Kali ini wajah kedua perempuan itu benar-benar memelas.

“Tolong lah Mas, jangan dilaporkan,” rengek mereka. Masih dengan menawarkan uang damai.

Sempatku tergoda untuk mengambilnya saja dan berdamai. Bak sebuah pohon yang diterjang badai, kuakui aku sempat goyah. Tidak, sekali layar terkembang pantang tuk kembali. Jangan samakan mahasiswa dengan Polantas atau PNS tingkatan teras yang mudah disuap, apapun yang terjadi pantang mundur. Tetap saja kutodongkan tanganku meminta KTP Ibu tersebut. Terlintas di otakku ide nakal untuk menunggu sedikit lebih lama, ia pasti akan menambahnya.

“Bu, bagaimanapun juga Hukum harus ditegakkan. Sebagai seorang mahasiswa, saya harus menegakkan keadilan. Apa jadinya negeri ini jika orang yang sudah tahu salah masih juga melawan hukum? Mau jadi apa bangsa ini?” jelasku pada mereka. Mereka terdiam dan tertuduk, seakan memahami apa yang kumaksud. Apakah memang mereka mengerti? Bagiku mereka hanyalah orang-orang yang egois dengan diri mereka tanpa belas kasihan pada orang-orang yang tertindas.

Karuan saja, ia terlihat akan menyerah. Dalam keterputusasaannya, dompet dibukanya lagi dan diambilnya dua lembar uang yang sama.

“Mas, kami minta maaf yang sebesar-besarnya, uang tak seberapa ini hanya untuk biaya pengobatan dan sesal kami,” matanya yang berkaca-kaca menjadikan sulit untuk memutuskan. Ia menambahkan, “Kalo Mas nggak mau saya pasrah deh”. Kalimatnya yang terakhir terus mendengung berulang-ulang di kepala.

“Saya pasrah deh, apa maksudnya?” tanyaku dalam hati menyimak perkataannya.

“Uang bulanan saja tidak sampai segitu,” gumamku dalam hati. Nalar yang tadi berdiri tegak dilangit menyuruhku menunduk mengambil uang itu. Keraguan di hati jadi ternafikan. Untuk mengurus perkara, biaya pengadilan dan pengacara tidak cukup segitu, bisa-bisa aku keluar uang lebih banyak. Siapa yang tidak mau dikasih uang enam ratus ribu. Bagi mahasiswa biasa seperti aku, uang tersebut bisa berarti sesuatu. Sudah menjadi jelas dompet tersebut dipermasalahkannya, tak terkira olehku berapa uang di dalamnya.

Tanpa terasa tangan kanan tergiur dan bergerak berlahan dengan sendirinya tanpa adanya impuls dari otak. Bisikan entah berantah datangnya. Jiwaku tidak bisa menipu diri sendiri. Inginku berhenti, tetap saja ia terus bergerak. Aku hanya tak kuasa menahannya. Ya Tuhan, Maafkan hambamu ini yang telah tertipu diri.

Saat hijaunya uang akan tersentuh oleh jemariku, kurasakan ada yang aneh dari celana jinsku. Getaran HP mengalihkan niatku, suaranya mulai merambat jelas di telingaku. “Siapa sih?” kataku lirih. Saat kutekan tombol “terima” dan kudekatkan ditelinga, deringannya berhenti.

“Sialan,” aku mengumpat. Ternyata sobatku, Dewi, lagi-lagi miscall dan aku terbangun jadinya. Uang yang ada di hadapanku pun hilang.

5 Responses to “Terjebak”

  1. on 07 May 2008 at 01:31Farhan ZF

    wahh lumayan panjang nih.. ntaran dehh bacanya.. hehee..

  2. on 08 May 2008 at 17:05t2fat

    bagus. tapi kok endingnya harus mimpi sih. kalo beneran kan seru. btw thx ya bwat ceritanya.

  3. on 13 May 2008 at 15:57o55y ^o^

    Wah, Gokil….
    Ini sich.. Jelas ngayal… he..he..he…

  4. on 15 May 2008 at 14:02alfin

    maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnttttttttttttttttttttttttttttttttaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaapppppppppppppppppppppppppppppppppppppppp!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  5. on 21 May 2008 at 15:59ita

    seru tc critanya….

    tapi kasian juga pemuda itu disangka malink…..

    heheheheh………

Tinggalkan Komentar