Ini Lho “Aku”
Mei 3rd, 2008 by Naomi Sandjaja
Dari membaca judul di atas, apakah yang timbul di benak Saudara? Mungkin beberapa dari Saudara seringkali tidak bisa mengatakan keras - keras “Ini loh Aku”. Bilamana demikian sama lah nasib anda dengan saya. Sering kali saya merasa bingung dan merasa saya ini sangatlah bodoh. Saya tidak bisa melakukan banyak hal.
Saya punya seorang teman ketika SMP. Suatu hari saya bertanya kepada Tuhan, kenapa dia diberikan begitu banyak talenta sedangkan saya tidak diberi banyak? Teman saya jago menyanyi (suaranya juga merdu) lagu - lagu Jepang, jago bermain piano (bahkan dia menciptakan sendiri lagunya), jago menggambar (terutama komik).
Begitu banyak kelebihan - kelebihan yang dia miliki dan jujur, saya juga ingin memilikinya. Saya ingin jago bermain piano namun ketika saya disuruh les piano oleh Mama, hasilnya nihil. Saya malas latihan piano. Saya ingin sekali bisa menggambar. Namun saya selalu merasa “Kamu ini tidak berbakat dalam menggambar.” Bahkan kedua orangtua saya selalu bilang, “Keluarga kita tidak ada yang berbakat menggambar. Jadi kamu pasti memang tidak ada bakat menggambar.” Orang tua saya kembali berceramah, “Nom, menggambar itu butuh yang namanya bakat baru bisa menghasilkan suatu karya yang hidup.” Begitu mendengar perkataan itu, saya jatuh dan menjadi lemah. Merasa percaya diri saya hilang. Saya berteriak pada diri sendiri, “Apa yang kau bisa? Sepertinya kau tidak bisa berbuat apa - apa dengan sempurna. Padahal aku bukan anak cacat. Aku sehat walafiat bahkan sangat sehat.” “Tidak ada,” jawab saya pada diri sendiri. Begitu depresi.
Bahkan ketika saya memasuki dunia SMP, saya menyempatkan diri untuk mengambil ekskul melukis di sekolah. Teman - teman yang menjadi partner saya di ekskul tersebut memang memuji lukisan saya (saya lebih mahir mencampuradukan warna ketimbang membuat sketsa). Alhasil yang membuat sketsa adalah guru pembimbingnya, Pak Edi, sebut saja demikian (Terima kasih Pak Edi. Jikalau ada kesempatan saya ingin belajar melukis denganmu lagi).
Hidup saya rasanya diatur oleh kedua orang tua saya. Dari memilih sekolah sampai menentukan jurusan apa yang harus dipilih pada saat saya menginjak bangku kuliahan. Saya seperti robot yang tidak memiliki pendirian yang tetap. Saya tidak dapat memutuskan apa yang benar - benar saya suka. Apa yang terbaik buat saya? Saya adalah orang yang menyedihkan. Mungkin tidak hanya saya seorang. Mungkin masih banyak Naomi Naomi di dunia ini. Mereka mungkin juga mengalami hal yang serupa dengan yang saya alami dahulu kala.
“Mengapa harus demikian?” tanya saya dalam hati. “Aku tidak ingin menjadi sebuah robot yang hidup tanpa arti yang hanya dikendalikan oleh manusia.” Namun apa yang harus saya lakukan?
Kini telah saya temukan yang ingin saya lakukan. Saya ingin berteriak dengan suara lantang, “Ini lho Aku. Aku ingin menulis dan menulis. Aku ingin menjadi seorang penulis novel dan ingin menjadi seorang humas yang dikenal.”
Semoga Naomi Naomi yang belum menemukan tujuan hidupnya. Segera temukanlah!
keep smiLe
^_^
orang lain cuma belum menyadari bahwa ada mutiara yang sangat berharga yang ada di diri kamu…
sLaM kNaL…
fR: cHiMoeTz
Salam kenal juga cHiMoeTz… Namamu siapa?
Nulis artikel juga disini kah? Judulnya apa?
www.yahoo.com
BeThuL