Pengkhayal dan Pengembara
Mei 2nd, 2008 by dedeawan
Lagi-lagi aku harus mendengarkan ocehan dari sahabatku. Di antara kami berdua memang jauh berbeda, tapi justru perbedaan itulah yang membuat persahabatan kami jauh melebihi kedekatan saudara kandung sendiri. Sahabat adalah tempat berbagi suka maupun duka, saling mengisi dan melengkapi.
“De, aku susah tidur,” begitu bunyi singkat sms yang kuterima lewat jam 12 malam dan baru kubaca pagi harinya. Langsung kupanggil, karena pagi, murah sesama operator.
“Kamu kenapa? Ada yang bisa saya bantu?” sebagai sahabat, kucoba menawarkan bantuan, mungkin saja dia membutuhkan nasihatku.
“Mungkin ini bisa menjadi ilham untuk tulisanmu,” begitu jawabnya, karena kini dia mengetahui kalau aku menjadi penulis cerpen, dan cerpen perdanaku adalah mengangkat kisah cintanya (baca cerpen Arini, Oh Arini).
“Boleh saja,” aku mulai antusias, ”asal tidak ada lembaran yang hilang” Aku memperingatkannya, karena kebiasaannya adalah menghilangkan bagian yang menarik apabila bercerita.
Walaupun belum ada satupun cerpenku yang dimuat di media massa, semangatku untuk menulis masih menggebu-gebu.
Aku mencoba menjadi pendengar yang baik, meskipun aku belum bisa menangkap ceritanya, karena sedari tadi bicara ngalor-ngidul tidak karuan. Dalam benakkupun belum ada cerita yang benar-benar menarik dan menjual. Mungkin seperti itulah cerpen-cerpenku yang dianggap kacangan dan tak layak untuk dimuat. Tapi sebagai orang yang pernah membaca novelnya Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi, akupun terpacu untuk mewujudkan mimpiku. Walaupun orang yang banyak bermimpi adalah yang suka tidur, tapi novel lanjutan yang kubaca berjudul Edensor, semakin membuatku yakin dengan impianku, menjadi penulis terkenal yang melahirkan karya sensasional.
“Tut..tut..tut..” bunyi akhir handphoneku yang mengakhiri pembicaraanku dengan sahabatku. Kucek pulsa. “Sisa pulsa Rp.81”. Lagi-lagi aku diputus paksa ditengah pembicaraan seru karena alasan klasik. “Sisa pulsa anda tidak mencukupi untuk melakukan panggilan ini, segera lakukan pengisian ulang,” suara merdu operator wanita yang sama sekali tak menyenangkan.
Alhamdulillah. “Pake sekian SMS, gratis sekian SMS”, logo iklan seluler yang kini kurasakan manfaatnya. Tapi ya itu tadi, “sesama operator”.
“De, kini kuterlemparkan cinta, cinta memang membuat buta, seorang temanpun rela menikam. Cintaku, bagai makhluk, bermuka dua, tapi sang rembulanku tertutup oleh mendung kebahagiaan saat bulan purnama”, SMS dari sahabatku. Entahlah, apa maksudnya. Meskipun mangaku ahli bercerita tapi tak pandai merangkai kata, SMS-nya terkadang seperti pujangga yang berekspresi dengan permainan katanya.
“Yang menikam teman itu siapa? Pokoknya kamu jangan mengendarai motor dulu, nanti apa-apa ditabrak” Sms balasanku sama sekali tak mengimbangi permainan kata, pujangga amatiran itu.
“Ya, teman kemunafikan, nan pengecut, tetapi Layla telah terhipnotis olehnya, aku bagaikan musafir kehilangan arah” Lagi-lagi sahabatku menunjukkan kepiawaiannya mengolah kata.
“Bukan aku khan!” Aku mulai tersinggung mengingat masa laluku..
“Dibuat cerpen bagus ini, terus lanjutkan, sepertinya saya telah menemukan inspirasi”, antusiasme saya muncul lagi.
“Ya, penulis hanya berempati, bereksperimen dengan ceritanya, sedangkan dia tak pernah tahu derita cinta, dan seolah-olah dialah orangnya, menderita dalam kisahnya. Selamat bercinta dengan kisahmu sendiri, tapi ingat, cinta itu konkrit!”
“Karena dengan bercerita, kita sendiri yang menentukan endingnya. Paling tidak, terhindar dari kisah cinta yang memilukan, yang membuat runtuhnya semangat hidup”
“Hidup tanpa cinta, bagaikan makhlik tak bernyawa. Dia hidup tapi seolah-olah telah mati. Cinta memang bermacam-macam derajat dan tingkatannya”
“Mudah-mudahan ada perempuan yang suka dengan pengkhayal sepertiku. Dan mudah-mudahan pula ada perempuan yang suka dengan pengembara sepertimu” Aku mengakhiri perdebatan sengit lewat sms itu, yang kalau dilanjutkan tidak ada habisnya. Kuambil buku dan pena, berkelebat ide memenuhi pikiranku, harus segera kutuangkan lewat tulisan, sebelum ide itu pergi.
Pengkhayal dan Pengembara, sebuah cerpen buah penaku pagi ini. Calon penulis tersohor ini memang selalu terinspirasi oleh berbagai hal. Cerita sesederhana apapun akan menjadi sedap jika ditambahi bumbu-bumbu penggugah cita rasa.
Purworejo, 19 April 2008, Pk.09.10 WIB.
Ceritany polos n bener2 ap adny jujur kyk khidupan nyata
ceritanya ga ada alurnya ya, mau kemana ceritanya juga ga jelas. ato memang penulisnya lagi kebingungan ya untuk membuat cerita………………????? hehhe…..terus berkarya ya…salam!!!
mana ceritanya? agak sedikit *&^%$@#?
uuuuuh
Kok aQ aga bingung dengan ceritanya yach…….
ya sama aku juga bingung
mksudd.a apva . ?
gga ngrtti .
kbyakan ktta ktta puisii.a .
bkiin pusiing ttao .
ppi bgoss jggk tsii puisii.a .
bkiinin buad akuhh doms doms .
mmao ea . ?