Sinar Mentari Pukul Sepuluh Pagi
Mei 1st, 2008 by afina ray
Pukul sepuluh pagi aku berdiri,
berjalan dan lalu berlari,
di bawah sinar mentari.
Panasnya menusuk kulitku,
dan menyilaukan mataku,
namun tenang menembus hatiku.
Hangat,
ketika aku meraba-raba keagunganNya.
Ingin ku peluk dunia,
karyaNya, ciptaanNya,
Ingin ku utarakan semua
Biar dunia tahu,
aku bangga sebagai makhlukNya!
Aku berdiri,
berjalan, dan lalu berlari,
di bawah sinar mentari pukul sepuluh pagi.
Mengamati dunia,
dan mengucap syukur padaNya.
Kenapa harus pukul sepuluh pagi?
Kok g jam lima pagi ato jam dua belas biar sekalian panasnya menusuk dagingku dan membitorkan mataku
G,g bcanda,mbak
wow…!!!
akhir2 ini aku banyak berpikir tentang seberapa besar harusnya kita bersyukur atas apapun dalam hidup kita.
dan puisi ini mengingatkan aku bahwa hal2 kecil pun harusnya kita syukuri sebagaimana mestinya…
makasi atas inspirasinya, mbak…!
hahahahaha jam 8 juga dah panas tuh
jangan jam 10 kesiangan buat jalan n lari page he…….