Pergilah Cinta
Mei 1st, 2008 by erwinarianto
Waktu terasa begitu cepat jalannya. Sebentar lagi aku akan berusia 35 tahun. Dan teman-teman lainya sudah asik menimang-nimang anak. Di dalam hati ada kesepian yang sangat. Sebenarnya akupun membutuhkan perhatian dan cinta. Namun aku takut memulai. Tak banyak wanita yang kukenal di sekeliling hidupku. Mungkin aku telah patah arang.
Benar kata orang, bila wanita putus cinta, mereka akan bertambah cantik dan bertambah gaya. Bila pria putus cinta, makin kusam, hidup tidak teratur dan tampang makin jelek. Itulah yang terjadi padaku. Masa 3 tahun bersama Wina hilang begitu saja, saat Wina mengabarkan dia menerima tunangan dari mamanya. Bagiku itu adalah alasan yang dibuat-buat.
Wahai jiwa yang berada di dalam rasa dan diriku, apakah aku terlalu banyak berdialog dengan diriku sehingga aku kurang mampu berkomunikasi dengan lingkunganku ? Apakah aku adalah orang yang selalu berpikir picik dalam kehidupan ini? Apakah aku terlalu egois terhadap diriku sendiri? Pertanyaan batin ini menyeruak dan bermain dalam lamunan hati aku pun bertambah hancur.
Ini adalah cinta kedua yang kandas. Satu tahun aku menjadi kacau sampai-sampai aku pernah hampir di-PHK dari pekerjaan sebab jarang masuk kerja dan kalaupun masuk tidak ada kerjaan yang beres pada waktunya. Untunglah atasanku sangat baik padaku dan sering memberi semangat hidup. Kebiasaan minum di bar sudah setahun ini ku hentikan. Dan aku tidak pernah bikin malu lagi dengan teler di bar atau di jalanan.
Sering gelap dalam pikiranku tak seperti terangnya sinar matahari. Kulihat cahayanya menyilaukan mata, panasnya membuat dahi mengeluarkan keringat. Aku hanya bisa mengusap keringat itu dengan lenganku sebagai tanda bahwa aku kelelahan. Mana sempat aku bawa sapu tangan dari rumah dengan kondisiku saat itu. Ya Allah, sepertinya aku tak sanggup lagi menahan semua ini, begitulah gelora dalam batinku.
*****************
Pukul tujuh sore telah tiba. Akupun buru-buru pulang untuk menepati janjiku harus bertemu dengan Wina di sebuah resto favoritku. Kami duduk berdua di sebuah meja makan untuk makan malam. Cahaya lampu neon merubah wujud Wina menjadi bidadari cantik, menggetarkan hatiku. Begitulah kiranya hasil proyektor otakku. Kulitnya yang putih tak mungkin terbakar oleh sinar itu. Saat seperti ini hatiku membutuhkanmu untuk memadamkan asmara yang kian memuncak ketika aku merindukanmu setelah tiga tahun berlalu. Isi hatiku pun tak mampu keluar dari mulutka. Ah, yang bisa kulakukan hanya diam, bicara hanya mampu melalui mimpi atau saat aku lagi sendiri.
Wina ternyata telah berubah, makin gemuk dan wajahnya tak secantik dulu. Ada raut penderitaan di bola matanya. Setelah selesai makan kami bicara ke inti persoalan. Tak terasa ada air mata di wajah Wina. Aku pun mendadak terharu. Cerita yang dia lontarkan cukup mengagetkanku. Aku berpikir Wina pasti bahagia hidupnya. Ternyata tak seperti perkiraanku. Suaminya ternyata seorang don juan. Punya banyak simpanan wanita. Jarang pulang dan kalau pulang pun hanya pertengkaran yang ada. Sejak anak pertamanya lahir suaminya berubah. Kasar dan suka memukul.
Aku hanya terdiam dan tak sanggup berkata. Aku adalah orang lain sekarang bagi Wina dan semuanya tak akan bisa kembali seperti dulu. Aku sadar, tak baik bagiku menjadi orang ketiga di keluarga Wina. Itu akan menambah persoalan baru. Lamunanku kembali buyar. Wina menyadarkan aku. Mungkin karena hatiku menghibur diriku yang selalu kesepian ini, membuatku dapat tersenyum cerah tanpa beban di hadapan Wina.
“Gus, maafkan Wina ya. Wina telah menghancurkan hati kamu. Dalam hati kecil Wina, Wina masih mencintai kamu dan tak akan hilang sampai kapanpun. Terimakasih kamu telah mau menemani malam ini.” Wina pun mencium pipiku sebelum berlalu naik taksi untuk pulang.
Tanpa terasa hari sudah kian malam. Dan selama dalam perjalanan pulang, aku tak henti-hentinya bersyukur. Waktu yang sempit sekalipun harus kusyukuri. Rembulan malam tepat berada di tengah-tengah ketika nada-nada itu tiba-tiba lenyap digantikan keheningan yang luar biasa. Keheningan yang membawaku menyadari ternyata aku benar-benar sendiri. Aku yang telah terbiasa sendiri ini menjadi ketakutan. Bukan takut karena aku seorang diri di sini, tapi takut dengan kesendirianku yang selalu menyendiri, seperti sekarang ini. Aku tetap terdiam merenungi kesendirianku. Kenapa aku selalu ingin sendiri ? Berulang kali aku mencoba untuk bisa hidup dengan orang lain ternyata tetap tidak nyaman. Tidak seperti ketika aku sendiri. Mungkin aku selalu merindukan kesendirianku.
Aku termenung, aku tak tahu mesti berkata apa. Aku pada posisi yang salah. Bagaimanapun rasa suka masih ada. Tapi cinta nya telah hilang buat Wina. Saat aku pulang samar-samar di radio di mobilku terdengar lagu “Selamat jalan Kekasih… Manis yang berujung perih…Kisah ini terlalu indah tuk jalani ini semua”. Tanpa sadar air mataku menetes di pipi. “Tuhan, kuatkan iman hamba,” aku berdoa. Dan aku sadari aku pun tidak bisa memiliki Winaku lagi. Pergilah, biarkan kunikmati indah dirimu hanya dalam bayang-bayang sepi.
Aku terus berdoa kepada Allah, “Ya Allah sesungguhnya aku ini lemah , maka kuatkanlah aku, dan aku ini hina maka muliakanlah aku, dan aku fakir maka kayakanlah aku wahai Dzat yang Maha Pengasih. Biarkan aku ikhlas dalam melepas Wina. TakdirMu adalah segalanya bagiku.” Pergilah cinta dengan rasa yang selalu kujaga. Raihlah hidupmu. Bukankah cinta tidak harus selalu memiliki. Hanya pikiran itu yang ada di benakku kini.
Depok 3 April 2008
Melepaskan dan melupakan memang hal yang paling berat dalam mengarungi kehidupan tapi waktu jualah yang akan menjawab semuanya.
So life must go on keyzz
“Selamat tìnggal masa lalu aku kan melangkah maafkanlah segala yang pernah kulakukan padamu”
5 minute
“tidak ada seseorang yg sempurna… Yg ada hnya qta belajar u/ mencintai seseorang yg tidak sempurna, dengan cara yang sempurna…”
Tataplah ke depan jangan kau tengok ke belakang
aku pacaran 9 taun 4 bulan mo nikah malah berantakan smua.tp smua da hikmahnya,tuhan pasti punya rencana bwt kita
jangan pernah merasa dan seolah-olah kita lebih rendah dari mantan pacar kita.