Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Harus! Titik! Nggak ada tapi-tapian lagi! Apapun yang terjadi dia harus bisa! Yap, apalagi kalo bukan harus langsing! Itu misi terpentingnya. Itu cita-citanya yang paling diimpikan siang malam, pagi sore, pokoknya segera. Darurat deh! Doo segitunya? Emang seh, cita-citanya nggak semulia orang lain malah kesannya malu-maluin, tapi Suci nggak peduli. Dia tetep keukeh pengen langsing mendadak, kalo bisa malah lebih instan daripada buat mie.
Posted in Cerpen, Fiksi on Mei 28th, 2008 No Comments »
Rintik hujan turun membasahi hari semenjak pagi. Entah pertanda atau kebetulan saja. Aku berharap ini pertanda, ini pasti pertanda. Manusia seringkali mengandalkan pertanda. Tapi pertanda itu datang terlambat atau mungkin tidak. Bagiku tidak ada lagi pilihan lain. Mungkin ini takdir. Ah tidak, aku tidak percaya hidup yang digariskan semenjak lahir. Aku mencoba untuk tidak percaya.
saat kubimbang dengannya kau datang padaku
saat kuragu kau yang meyakinkanku
saat kugundah kaulah sandaranku
saat itulah kau pangeran hatiku
kemudian…
saat hatiku yakin kaulah takdirku
kau yang meragukanku
saat kusetia padamu
kau khianati aku
saat tunas ini mulai tumbuh
kau tinggalkan aku
saat harapan ini memuncak
kau acuhkan aku
saat kubutuh dirimu
kau tak pernah ada lagi di sampingku
saat itulah kau gantungkan aku
Posted in Cerpen on Mei 28th, 2008 3 Comments »
Mungkin pertemuan itu bagi dia biasa-biasa saja. Tak ada yang perlu diingat-ingat. Tak ada yang harus dikenang. Bagaikan kertas tisu yang dia pakai untuk menyeka titik keringat-keringat di lehernya yang jenjang itu, lalu dia buang ke tempat sampah begitu saja. Buat apa diingat-ingat. Rugi!! Memakan waktu saja!! Lebih baik membaca materi kuliah!! Mungkin begitu pikirnya. Aku hanya mereka-reka dalam angan. Benar atau tidak, aku tidak tahu. Entahlah..Tapi bagiku tidak begitu. Pertemuanku dengannya di halte siang itu, sungguh mati tak bisa aku lupakan. Selalu mengisi ruang dan waktuku. Dan yang paling berkesan adalah saat kutanya namanya. Lalu ia melirik dan menoleh. Oh… Sungguh bibirnya itu adalah maha karya Tuhan yang luar biasa. Bibir yang tipis, sensual dan berwarna merah tanpa lipstik. Bibir itu melempar senyum tipis. Menghembuskan angin penuh karisma ke dalam dada. Bergetar. Ah…ada desir lirih mengusik kalbu. Lalu bibirnya mulai terbuka pelan tapi sempurna. Aku perhatikan dengan seksama setiap geriknya sampai ada suara yang menerobos di antara bibir indah itu.
Siang itu saat putri kecilku pulang dari sekolah.
“Assalamualaikum!” teriaknya dengan muka lugu tanpa dosa memberi salam kepadaku.
“Walaikumsalam. Kamu dah pulang Keysia?” jawabku kepada Keysia.
“Sudah Bunda. Bunda masak apa?” tanya Keysia kepadaku sambil membuka sepatu dan mengganti seragamnya.
“Bunda masak sayur sop dan goreng empal daging,” seruku kepada Keysia.
Posted in Puisi, Fiksi on Mei 26th, 2008 1 Comment »
hmm… Kakang Yudhistira!
akankah Kakang membiarkan rakyat Ekacakra
tewas di tangan raksasa Bakasura?
aku satria titisan dewa angin
Pancanaka, Alugara, Bargawasta dan Bayubraja kepunyaanku
tak bisa diam berebut ingin dikenakan
Kakang lupa Hidimbawana?
restu bunda buatku kepada Brahmana
dengan sekereta buah akan aku hancurkan Bakasura
Kakang Yudhistira!
aku akan pulang membawa kemenangan Pandawa
dan Bakasura sebagai hadiah buat rakyat Ekacakra
ini janji seorang satria…!
Kakang Ajatasatru, satria mulia penegak derma!
jangan masih anggap Bakasura bukan musuh sebagai derma
dia hendak meluluhlantakkan Ekacakra
Panchala sudah menunggu kita…Kakang Yudhistira…
ijinkan aku membunuh Bakasura!
mengayuh sampan usia
di antara ombak badai mendera
mendayung perahu waktu
di atas indah samudera biru
menujuMu
Cilacap, 23 Juli 2007
Permanent link to this post (22 words, estimated 5 secs reading time)
Langit malam seakan menutup
setiap jawaban.
Namun,
‘kan slalu ada bintang kecil
yang menerangi malam glap.
Menandakan:
harapan ‘kan slalu ada
Permanent link to this post (22 words, estimated 5 secs reading time)
Posted in Intermezzo on Mei 24th, 2008 6 Comments »
jika egomu telah binasa
itulah cinta….
ahsvakarsa
Permanent link to this post (8 words, estimated 2 secs reading time)
Ketika hati bicara …
Ketika sayang tercurah …
Ketika hidup berliku …
Ketika asa terputus …
Kau buat ku ceria …
Kau limpahkan hidupmu untukku …
Kau bimbing ku mengarungi hidup …
Kau selalu ada untukku …
Ketika badai menghantam …
Ketika kawan menjadi musuh …
Ketika gelombang luluh lantakkan …
Ketika ku terpuruk …