KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan April 2008

 

jika aku mencintaimu

maka aku akan menulis sajak seperti ini:

“cinta tak lagi sekadar kata-kata

sebab kau ada, Mbak.

sampai kau dan aku bisa membujuk matahari

untuk bersekutu dengan rinai gerimis

membentuk warna-warni pelangi

matahari dalam hatiku, gerimis pada hidupmu

dia akan segera pergi meninggalkanku, dia akan mengeyam pendidikan yang jauh dengan waktu yang cukup lama…

apa yang harus aku lakukan sekarang?

menangis, meratapi semua ini ataukah membunuhnya?

apa ia tak tahu kalau selama ini aku selalu berharap padanya??

sebenarnya aku bangga padanya jika dia bisa menjadi hebat

Saat cinta bersemi
Bunga mekar mewarni
Bukakanlah hati yang hampir tertutup
Semoga layar terkembang, cinta bersemai…

Kesadaran jiwaku ingin meraih bintang pelita hatiku
Aku sangat takut kehilangan dirimu
Kasih tiada bertepi
Apalah artinya hidup tanpa kamu ada disisiku……..

First Love

First love lies deep
That planted in the deep heart
The root so strong
So can’t pull for everything

No body know why
I too don’t know why
Cause it come to me
When I no yet introduce it

Melihat wajahmu aku bahagia…
Meskipun hanya sebatas pada media
Melihat senyummu aku turut tersenyum
Meskipun ku tak tahu untuk siapa senyum itu kau berikan
Melihatmu dimiliki…
hatiku melebur, hancur menjadi serpihan kecil yang menusuk jantungku hingga perih terasa dan tangispun tak terbendung

Tumbal

Leher anak perempuan itu masih terus mengeluarkan darah, membasahi bajunya, menetes-netes merembes, merubah warna jok mobil dari coklat menjadi merah gelap. Begitu Rima melihat luka menganga dilehernya, Rima sudah tidak kuat lagi memandangnya. Dibiarkannya anak perempuan ini merintih-rintih tergolek sekarat di jok belakang. Dari jok depan, Rima bisa mendengar suara nafasnya seperti orang mendengkur, lebih persisnya seperti suara leher sapi yang disembelih, darahnya menyembur ketika ia menarik nafas panjang. Dikuatkannya hatinya, ditutupnya telinganya, ditekuknya kakinya supaya kengerian yang ada di jok belakang itu lepas dari pikirannya. Dalam hati kini Rima menyesal juga kenapa tidak melarang mas Irfan menolong anak perempuan yang hampir mati ini, harusnya mereka pura-pura tidak melihat saja. Tapi mau bagaimana lagi, Rima dan mas Irfan sepakat menolong anak perempuan malang yang tergeletak di bawah pohon Trembesi. Ternyata niat baik ini sekarang merubah perjalanan pulang yang harusnya singkat menjadi begitu sulit dan lama. Kisah indah yang sudah dirangkum Rima dan mas Irfan hari itu kini seketika lenyap berganti sebuah kisah menegangkan dan menyeramkan.

Surat dari Setan Untukmu

Aku melihatmu kemarin, saat engkau
memulai aktifitas harianmu.

Kau bangun tanpa sujud
mengerjakan subuhmu

Bahkan kemudian, kau juga tidak
mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai santapanmu, juga
tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ke tempat tidurmu

Kau benar-benar orang yang bersyukur,
Aku menyukainya

aku mencintai kekasihku

luar dan dalam

aku tahu apa yang membuatnya bahagia, menangis, dan tertawa

aku mencintai kekasihku

seperti aku mencintai diriku sendiri

seperti aku mencintai kedua orang tuaku dan Tuhanku

kekasihku

lihatlah cinta yang kau pendam takkan

nyaman bagiku

Di kala aku gagal mempertahankan cintaku

Disitu kurasakan kehampaan

Hatiku hancur…!

Hidupku bimbang…!

Haruskan kukorbankan hidupku demi dirimu?

Kau yang tak pernah perduli dengan hidupku

Haruskah kulakukan semua demi dirimu?

Sedang kau menyanding orang lain

Tapi kini aku mengerti dan aku baru menyadari

Seperti kapal karam, rakit tak berpenghuni, perlahan tapi pasti sesosok tubuh itu didorong ke dalam nyala api. “Teriakanmu tak akan menghentikan tarikan siksa dariku!” kata malaikat itu lantang dan garang.

Diangkat lagi satu nampan catatan Atid. Sembilan belas malaikat itu bertanya, “Ini punya siapa?”

« Prev - Next »