Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
jika aku mencintaimu
maka aku akan menulis sajak seperti ini:
“cinta tak lagi sekadar kata-kata
sebab kau ada, Mbak.
sampai kau dan aku bisa membujuk matahari
untuk bersekutu dengan rinai gerimis
membentuk warna-warni pelangi
matahari dalam hatiku, gerimis pada hidupmu
Posted in Puisi, Intermezzo, Cinta, Keluarga dan Sahabat, Doa, Syukur dan Pujian, Sunyi dan Sepi, Resah, Gelisah dan Sedih, Teruntuk on April 28th, 2008 No Comments »
dia akan segera pergi meninggalkanku, dia akan mengeyam pendidikan yang jauh dengan waktu yang cukup lama…
apa yang harus aku lakukan sekarang?
menangis, meratapi semua ini ataukah membunuhnya?
apa ia tak tahu kalau selama ini aku selalu berharap padanya??
sebenarnya aku bangga padanya jika dia bisa menjadi hebat
Saat cinta bersemi
Bunga mekar mewarni
Bukakanlah hati yang hampir tertutup
Semoga layar terkembang, cinta bersemai…
Kesadaran jiwaku ingin meraih bintang pelita hatiku
Aku sangat takut kehilangan dirimu
Kasih tiada bertepi
Apalah artinya hidup tanpa kamu ada disisiku……..
Permanent link to this post (39 words, estimated 9 secs reading time)
Posted in English Articles on April 27th, 2008 2 Comments »
First love lies deep
That planted in the deep heart
The root so strong
So can’t pull for everything
No body know why
I too don’t know why
Cause it come to me
When I no yet introduce it
Permanent link to this post (40 words, estimated 10 secs reading time)
Melihat wajahmu aku bahagia…
Meskipun hanya sebatas pada media
Melihat senyummu aku turut tersenyum
Meskipun ku tak tahu untuk siapa senyum itu kau berikan
Melihatmu dimiliki…
hatiku melebur, hancur menjadi serpihan kecil yang menusuk jantungku hingga perih terasa dan tangispun tak terbendung
Posted in Cerpen, Fiksi on April 25th, 2008 6 Comments »
Leher anak perempuan itu masih terus mengeluarkan darah, membasahi bajunya, menetes-netes merembes, merubah warna jok mobil dari coklat menjadi merah gelap. Begitu Rima melihat luka menganga dilehernya, Rima sudah tidak kuat lagi memandangnya. Dibiarkannya anak perempuan ini merintih-rintih tergolek sekarat di jok belakang. Dari jok depan, Rima bisa mendengar suara nafasnya seperti orang mendengkur, lebih persisnya seperti suara leher sapi yang disembelih, darahnya menyembur ketika ia menarik nafas panjang. Dikuatkannya hatinya, ditutupnya telinganya, ditekuknya kakinya supaya kengerian yang ada di jok belakang itu lepas dari pikirannya. Dalam hati kini Rima menyesal juga kenapa tidak melarang mas Irfan menolong anak perempuan yang hampir mati ini, harusnya mereka pura-pura tidak melihat saja. Tapi mau bagaimana lagi, Rima dan mas Irfan sepakat menolong anak perempuan malang yang tergeletak di bawah pohon Trembesi. Ternyata niat baik ini sekarang merubah perjalanan pulang yang harusnya singkat menjadi begitu sulit dan lama. Kisah indah yang sudah dirangkum Rima dan mas Irfan hari itu kini seketika lenyap berganti sebuah kisah menegangkan dan menyeramkan.
Posted in Puisi, Renungan on April 25th, 2008 3 Comments »
Aku melihatmu kemarin, saat engkau
memulai aktifitas harianmu.
Kau bangun tanpa sujud
mengerjakan subuhmu
Bahkan kemudian, kau juga tidak
mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai santapanmu, juga
tidak sempat mengerjakan shalat Isha sebelum berangkat ke tempat tidurmu
Kau benar-benar orang yang bersyukur,
Aku menyukainya
aku mencintai kekasihku
luar dan dalam
aku tahu apa yang membuatnya bahagia, menangis, dan tertawa
aku mencintai kekasihku
seperti aku mencintai diriku sendiri
seperti aku mencintai kedua orang tuaku dan Tuhanku
kekasihku
lihatlah cinta yang kau pendam takkan
nyaman bagiku
Di kala aku gagal mempertahankan cintaku
Disitu kurasakan kehampaan
Hatiku hancur…!
Hidupku bimbang…!
Haruskan kukorbankan hidupku demi dirimu?
Kau yang tak pernah perduli dengan hidupku
Haruskah kulakukan semua demi dirimu?
Sedang kau menyanding orang lain
Tapi kini aku mengerti dan aku baru menyadari
Seperti kapal karam, rakit tak berpenghuni, perlahan tapi pasti sesosok tubuh itu didorong ke dalam nyala api. “Teriakanmu tak akan menghentikan tarikan siksa dariku!” kata malaikat itu lantang dan garang.
Diangkat lagi satu nampan catatan Atid. Sembilan belas malaikat itu bertanya, “Ini punya siapa?”