Hari Terakhir ke Sekolah
April 30th, 2008 by dedeawan
Seorang anak perempuan yang baru beranjak remaja terlihat bersemangat memakai seragam putih merah yang sudah sedikit pudar warnanya, mungkin karena terlalu sering dipakai. Dari bibirnya yang mungil itu bersenandung lagu yang sedang ngetren saat ini.
“No no no no tunggu dulu …cinta jangan buru-buru …. karena kurasa.. terlalu cepat…. kutakut semua palsu….”. Begitulah ia bernyanyi meskipun ia sendiri kurang mengerti dari band apa lagu yang ia nyanyikan. Yang ia tahu hanya syairnya yang begitu tak asing di telinganya semenjak menjadi soundtrack sinetron yang sering ia lihat. Meskipun tempat tinggalnya memang berada di sebuah desa yang sulit ditempuh, tapi bukan berarti tidak bisa menikmati kemajuan teknologi seperti listrik, televisi, parabola, VCD dan sebagainya. Bahkan lagu-lagu dari musisi tanah air yang berkembang pesat saat ini sudah sangat akrab ditelinga mereka melebihi lagu Padamu Negeri, Rasa Sayange, Suwe Ora Jamu, atau mungkin bahkan lagu Indonesia raya yang sering dikumandangkan saat upacara bendera masih terdengar fals dinyanyikan dan belum benar atau belum hafal sama sekali.
Setelah sepatu yang nanti hendak ia kenakan sudah terbungkus plastik hitam, bergegas ia memakai sandal jepit biru tua dan segera menyusul teman-temannya yang sudah siap-siap menuju sekolah seperti biasanya. Langkahnya yang semakin lama semakin berat karena sandal yang ia kenakan bagian bawahnya dilapisi tanah merah hasil dari guyuran hujan semalam. Setibanya di sekolah, segera ia lepas sandal dan meletakkannya di genengan air dengan tujuan untuk melepas tanahnya. Sambutan riuh tawa dan sorak sorai teman-temannya disambutnya dengan senyuman ketusnya yang membuat kerutan dikeningnya. Godaan dan cibiran dari teman-temannya sama sekali tak ia hiraukan karena sudah biasa. Apalagi untuk saat-saat seperti sekarang ini, semakin sering ia menjadi buah bibir dikalangan teman-temannya. Tapi yang namanya anak-anak terlalu mudah untuk melupakan segala bentuk ketidaksenangan yang mengganggu pikirannya. Itu sebabnya anak-anak sekarang kurang memikirkan pelajaran yang tidak disenanginya.
Di sudut kelas kursi paling belakang kembali ia termenung dan merenung memikirkan pembicaraan yang disampaikan calon suami, orang tua, dan saudara-saudaranya. Matanya yang bulat bersinar terlihat lembab karena air mata yang tidak jadi keluar. Kembali ia menghela nafas panjang memikirkan bahwa hari ini adalah hari terakhirnya ia pergi ke sekolah untuk belajar, bertemu dengan gurunya, teman-temannya, kelasnya, sekolahnya dan segala kenangan yang indah tentang sekolahnya. Sahabat sebangkunya baru datang dengan membawa payung dan tanpa bersepatu. Sapaan hangatnya sedikit membuyarkan lamunannya yang tadi menerawang jauh. Dipasangnya muka berseri yang semakin memperindah wajahnya yang mungil, putih bersih, serta deretan gigi rapinya yang indah. Obrolan ringan diantara keduanya terdengar akrab dan sesekali diselingi gelak tawa yang menghibur. Sama sekali sahabat sebangkunya itu tidak menanyakan rencana pernikahan yang hendak ditempuh sahabatnya ini. Mungkin karena ia sama sekali belum pantas untuk membicarakannya atau mungkin karena ada hal lain yang lebih seru untuk dibicarakan.
Rintik air hujan mulai kembali membasahi bumi seakan belum puas setelah guyurannya semalam. Langit mendung kembali membuat gelap ruangan kelas bangunan sekolah tersebut. Harapan anak-anak untuk mendapat ilmu dari bapak dan ibu guru mereka seakan pupus mengingat hujan yang semakin memperberat laju kendaraan yang akan dilalui bapak dan ibu guru mereka. Harapan untuk mendapat pelajaran kemungkinannya semakin kecil setelah rintik air hujan kini berubah menjadi guyuran yang semakin deras. Sorak-sorai dan teriakan anak-anak seakan terkalahkan oleh kerasnya suara seng atap bangunan sekolah.
Sementara itu, ia masih belum beranjak juga dari tempat duduknya dari sudut kelas kursi paling belakang itu. Ia membuka-buka buku catatannya berisikan PR Matematika tentang faktor bilangan. Ia hanya membuka-buka saja tetapi tidak segera mengerjakannya. Mungkin ia berfikir untuk apa mengerjakannnya, ini kan hari terakhir ia ke sekolah?. Ataukah ia memang sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Entahlah hanya ia sendiri yang tahu. Sementara sahabat sebangkunya sedari tadi hanya bermain-main di papan tulis dengan kapur tulis ditangannya yang diambilnya dari meja lemari guru yang memang tidak terkunci itu. Sahabat sebangkunya ini memang anak yang paling cerdas di kelasnya. Mendapat peringkat adalah hal biasa baginya. Tapi diantara semua pelajaran, bahasa Indonesia adalah pelajaran favoritnya. Bahkan menulis puisi adalah salah satu keahliannya. Ia kemudian membaca puisi puisi karya sahabat sebangkunya itu yang dituliskannya di papan tulis.
“Guruku sayang
Rintik air hujan
Sorak-sorai
Menyatu pagi itu
Oh guruku sayang
Mengapa kau tak datang”.
Kehadiran penjaga sekolah yang rumahnya memang dekat sekolah itu memecah kehingar-bingaran kelas. Setelah hujan mulai mereda, beliau menyuruh anak-anak untuk pulang, disambut sorak-sorai kegirangan, satu persatu mereka mulai meninggalkan kelas, meninggalkan sekolah.
Ia pun mencari sandal jepit biru tua yang tadi diletakkannya di genangan air hujan. Rupanya sandal kesayangannya itu hanyut terbawa arus air hujan. Dengan sedikit kesal ia mengumpat. Akhirnya dengan menenteng sepatu dalam plastik hitam dan kini tanpa beralas kaki, ia melangkah meninggalkan sekolah menuju rumahnya sendirian, karena teman-temannya meninggalkannya sewaktu ia mencoba mencari sandal jepit biru tuanya. Kali ini air matanya tak kuasa menetes mengingat hari ini adalah hari terakhirnya ke sekolah. Kenangannya kembali menerawang jauh mengingat saat indahnya bersekolah. Gerimis air hujan seakan melengkapi kesedihannya. Kini, rambutnya yang terurai panjang sudah basah. Baju yang ia kenakan juga demikian halnya seakan menampakkan lekuk tubuh indahnya yang baru mulai tumbuh.
Melewati sungai yang biasa ia lalui, dengan hati-hati ia hendak menyeberang. Di tengah-tengah arus aliran sungai, ia berhenti. Dihanyutkannya tas sekolah dan sepatu dalam plastik hitam itu. Ditatapnya dengan haru kepergian mereka dengan tatapan yang sendu. Wajahnya seakan menggambarkan seorang gadis yang ditinggal pergi kekasihnya. Wajah ayunya semakin terpancar dengan rambutnya yang basah meskipun usianya baru menginjak belasan tahun.
“Dinda.. hei..Dinda….ayo cepat pulang! Sedang apa kamu disitu!” Dari pematang sungai, kakaknya memanggil-mangil namanya. Segera ia menghampiri kakak tertuanya itu dan bersama-sama hendak pulang ke rumah. Ia menceritakan sewaktu menyeberang sungai ia terpeleset dan menyebabkan tas dan sepatu serta sandal jepitnya hanyut terbawa arus sungai. Kakaknya mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memerlukannya lagi. Karena mulai besok ia hanya memerlukan suaminya, mengurusinya, menjaganya, bahkan membelikan sepatu dan tas sekolah lagi untuknya jika memang perlu. Setibanya di rumah, sudah banyak tetangga-tetangganya, keluarganya, berkumpul di rumahnya yang sempit itu. Setelah membersihkan diri, segera ia menyambut para tamu yang ingin bertemu dengan calon pengantin itu.
Hari itu langit cerah. Sinar mentari pagi menghangatkan bumi yang pagi itu basah. Sisa hujan kemarin perlahan kini tak membekas. Tanah merah kini mulai mengering. Hanya tumbuh-tumbuhan saja yang basah karena embun pagi. Suasana di rumah Dinda, anak perempuan yang baru beranjak remaja yang akan melangsungkan pernikahan itu mulai sibuk, meskipun mentari baru akan meninggi. Kesibukan terlihat di sana-sini, di halaman rumah, ruang tengah rumah, dapur, juga kamar tempat merias pengantin. Dengan perasaan yang tak menentu, anak perempuan yang baru menginjak remaja itu, dipoles sedemikian rupa sehingga kini tampak seperti gadis dewasa yang siap untuk diperistri. Sang ibu bercampur perasaan antara haru dan bahagia. Kini, anak terakhir yang rasanya belum lama ia lahirkan itu akan segera memulai hidup baru bersama pendamping hidupnya. Pria dewasa yang tegolong masih tetangganya itu, atau mungkin jika ditilik lebih jauh itu mungkin masih saudaranya. Tak henti-hentinya sang ibu membelai rambut indah putri kesayangannya itu. Anak perempuan itu masih dengan gaya lugu dan polosnya hanya bisa tersenyum manja menanggapi godaan-godaan saudara-saudara perempuannya yang tak henti-hentinya menyanjung keayuan wajah putihnya, mata lentiknya, bibir mungilnya, dan segala keindahan gadis yang baru menginjak remaja itu. Sesekali senyumannya terbuka lebar menampakkan deretan rapi gigi indahnya yang membuat penampilannya sempurna itu.
Akhirnya, setelah senja hampir tiba, selesailah semua prosesi pernikahan itu. Segala tradisi yang biasa di desa itu lakukan sudah dilaksanakan, sudah pasti juga dengan ijab kobul yang membuat syahnya pernikahan. Pernikahan di desa yang terbilang sederhana itu, bukan berarti memakan dana yang sedikit. Segenap keluarga mempelai mengusahakan biaya pernikahan itu dengan segala cara dan sekuat tenaga. Meski harus menjual warisan keluarga, hewan ternak, ataupun menguras penghasilan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Dan malam itu lngit kembali mengguyur bumi dengan nyanyian rintik hujan gerimis.
Pagi itu, anak perempuan yang baru menginjak remaja itu sudah rapi setelah membersihkan badannya. Sang suami masih belum juga terlihat batang hidungnya. Semenjak dini hari tadi, sebelum adzan subuh berkumandang, sebelum dia tersadar sepenuhnya dari tidurnya, sang suami sudah tak menemaninya lagi. Bergegas dihampirinya ibunda tercinta yang masih sibuk berbenah di halaman belakang rumah. Menurut penuturan ibunya, suaminya ada di rumah orang tuanya yang hanya beberapa langkah itu, hanya melewati beberapa rumah saja. Mendengar penjelasan ibunya, segera ia masuk ke rumah dan menuju kamar kembali memeluk bantal guling kesayangannya. Sang pengantin baru itupun tak ambil pusing lagi tentang keberadaan suaminya. Karena memang masih mengantuk, seketika itu saja ia sudah terlelap kembali.
Merasa ada yang membelai-belai rambut panjangnya, dengan berat hati mencoba membuka kelopak matanya yang sayu.
“Mas Aryo, dari mana saja Mas?” ucapnya sembari merapikan rambut dan pakaian yang dikenakannya.
“Maaf kalau aku mengganggu tidurmu. Tapi ada hal mendesak yang harus kubicarakan denganmu,” jawabnya dengan mimik muka serius. Diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul 10 kurang 15 menit.
“Ada apa Mas, sepertinya penting banget ya!” ujarnya polos. Mas Aryo hanya tersenyum sambil memegang hidungnya yang mungil itu.
“Auw…, sakit tahu! Mas Aryo nakal ah, aku bilangin ke Ibu lho nanti,” gertak Dinda dengan roman muka marah manja.
“Kamu memang lucu kalau sedang marah,” kata Mas Aryo sambil kali ini tangannya mengelitik perutnya.
“Aaakh…, Mas Aryo nakal. Akh..jangan!” teriak Dinda dengan manja.
“Ada apa to kok ribut-ribut. Dinda, ayo cepat bangun bersihkan badanmu. Anak perempuan sudah siang begini kok masih di tempat tidur. Oh ya Mas Aryo kopinya sudah Ibu buatkan tuh. Diminum dulu gih, nanti keburu dingin lho,” kata Ibu, sedikit berteriak dari luar kamar.
Siang itu di ruang tamu, Dinda, Mas Aryo, Ibu, dan Ayah berkumpul. Sepertinya ada hal penting yang akan dibicarakan antara mereka. Dinda masih dengan raut kening mengkerut, kebingungan dan keheranan dengan tingkah laku suami dan ayah ibunya ini. Suasana hening sejenak. Ayah mencoba memulai pembicaraan setelah ‘lintingan mbako’ ditangannya disulut api dan dihirupnya mantap.
“Nduk,” Ayah berujar sembari tangannya meraih asbak disudut meja itu, “Mas Aryo ini harus segera kembali ke Jakarta lagi untuk bekerja”.
Dinda masih tertunduk menunggu lanjutan penuturan ayahnya dengan penuh tanda tanya.
“Kamu mau ikut dengan suamimu, atau tetap disini bersama ayah ibumu?” kali ini ayahnya memberikan pertanyaan.
Dinda tak kuasa menahan tangisnya. Segere ia berlari ke kamar sambil menangis tertahan. Dihempaskannya tubuhnya ke ranjang. Airmatanya meleleh membanjiri bantal. Ibunya kini sudah berada di sisi tempat tidur itu. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, diberikannya pengertian terhadap puteri kesayangannya ini. Berat hati Dinda untuk memutuskan. Apakah ia akan mengikuti suaminya ke Jakarta, yang berarti berpisah dengan ibu dan ayahnya, atau tetap berada di rumah dan terpisah dengan Mas Aryo.
Akhirnya, sore itu, Dinda, anak perempuan yang baru menginjak remaja dan kini sudah bersuami itu, memutuskan untuk tetap tinggal di rumah menemani ibu dan ayahnya. Dengan haru dilepaslah kepergian Mas Aryo, sang suami tercinta untuk kembali ke Jakarta. Semuanya berlalu begitu cepat. Ketika pagi, dua hari yang lalu, ia masih beseragam putih merah berangkat ke sekolah. Kemarin, acara pernikahan berlangsung dengan bahagia. Dan malam ini, ia melamun sendirian mengingat kejadian kemarin malam. Dan akhirnya tidur terlelap sendirian tanpa ditemani sang suami yang baru sekali menjamah dirinya. Baru sekali ini pula ia mengenal apa yang namanya cinta dan kerinduan.
Keesokan paginya seluruh desa dihebohkan oleh sebuah berita yang tersiar dari mulut ke mulut. Sebuah berita yang sangat mengguncang hati Dinda dan keluarganya. Sebuah bis menuju Jakarta yang berangkat sore kemarin mengalami kecelakaan dan mengakibatkan ada yang meninggal dan sebagiannya lagi luka parah. Dinda dan keluarganya mengalami kepanikan yang luar biasa. Bagaimana tidak, kemarin sore itu kan Aryo berangkat ke Jakarta naik bis. Apakah yang mengalami kecelakaan itu adalah bis yang ditumpangi Aryo atau bukan. Jika memang iya, terus bagaimana keadaan Aryo saat ini. Pak Lurah yang mendengar tentang kemungkinan warganya ada yang menjadi korban kecelakaan itu langsung mencari informasi. Dinda dan keluarganya menunggu kabar terakhir dari Pak Lurah dengan penuh kecemasan. Bahkan ibunya Aryo pun masih dalam keadaan panik dan terkadang menangis histeris, mencoba ditenangkan oleh keluargadan para tetangga yang bersimpati mendengar kabar tersebut.
Menjelang siang hari, dengan tergesa-gesa dan keringat yang masih mengalir, Pak Lurah memasuki rumah orang tua Aryo. Tumpah ruah sudah seluruh air mata dan kesedihan di rumah yang sempit itu. Kabar yang tidak diinginkan itupun harus terjadi. Aryo menjadi salah satu korban yang meninggal dari tragedi kecelakaan tersebut. Lalu bagaiman dengan Dinda, dimana ia berada? Rupanya ia berada di sudut dapur rumah itu sambil mencoba tegar meskipun isak tangis seperti hampir habis hingga nafasnya sulit untuk bernafas. Seketika itu pula badannya langsung lemas dan untunglah ada yang sigap menopang tubuh yang lemas tak berdaya itu. Di siang yang terik itu, kesedihan benar-benar memilukan dan menyayat hati. Seluruh warga bersimpati dengan Dinda, janda yang teramat muda di desa tersebut. Mereka semua menyayangkan nasib gadis manis yang baru berusia belasan tahun itu. Mereka terkadang menyalahkan orang tuanya yang tergesa-gesa menikahkan anak yang belum mengerti tentang keadaan dirinya saat ini. Sore itu benar-benar kelabu dan menyedihkan sampai datangnya jasad dan proses pemakaman itu pun segera dilakukan.
Setelah kejadian itu, hati Dinda benar-benar tidak menentu. Airmata pun terasa telah mengering. Sia-sia saja ia meratapi nasib yang sudah terjadi itu. Kali ini ia berpikir, mampukah ia menjalani hari-harinya yang akan masih terus berlanjut dengan statusnya sebagai janda.
Kehidupan terus berjalan pasti. Tanpa kita sadari, kita terus dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang merupakan ketetapan ilahi. Manusia hanya bisa berencana, namun pada akhirnya harus pasrah berserah diri dan tetap memohon pertolongan dan mengharapkan ridho-Nya. Berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah hal yang baik. Selama kita berjalan di jalan-Nya, jalan keluar pastilah akan ada tanpa kita duga sebelumnya.
Dinda kini hanya bisa pasrah akan nasibnya. Dalam kekalutannya, ia tetap bertekad untuk tidak memberi ruang kesedihan di relung hatinya. Dan pagi itu, ia sudah bisa tersenyum dan menyapa sahabat-sahabatnya yang hendak bersekolah seperti biasanya. Sikap ramahnya tetap mengembang kepada siapapun yang ia jumpa. Terlebih kepada sahabatnya yang satu ini.
“Tumben kamu Nis, pagi-pagi begini kok sudah mau berangkat sekolah! Wah sepatumu baru ya?” sapa Dinda pada Nisa, sahabat sebangkunya ketika sekolah itu.
“Nyindir nih..! Mentang-mentang aku biasanya tak pakai sepatu,” jawab Nisa dengan wajah yang tak mau diguyoni.
“Maaf deh, kalau aku kamu anggap nyindir, aku tak bermaksud seperti itu kok. Aku hanya mau memastikan, kalau sepatumu bener-benar baru kan!” ucap Dinda hingga membuat sahabatnya ini benar-benar terpojok.
“Sudah lah, tidak usah dibahas! Eh, kamu tidak sekolah?” tanya Nisa mengalihkan pembicaraan.
“Males akh! Buruan sana kalau mau berangkat,” jawab Dinda sambil melanjutkan kegiatan menyapu halaman yang tadi sempat terhenti.
“Daaah….!” Nisa pun akhirnya berlari sambil melambaikan tangan, ia merasa salah dengan ucapannya.
“Kenapa sih aku tadi tanya seperti itu. Bodoh benar aku ini,” sesal Nisa atas pertanyaan yang semestinya tidak diajukannya itu.
Sepeninggal sahabatnya itu, Dinda sedih atas kenyataan bahwa dirinya tidak bisa bersekolah lagi. Padahal dalam benaknya, keinginannya bersekolah masih tetap ada. Matahari belum juga mampu mengusir rasa dingin. Hawa sejuk pegunungan masih merupakan teman keseharian para penduduk yang akan pergi berladang, dan anak-anak yang hendak bersekolah. Setelah selesai dari pekerjaannya, Dinda duduk termenung di atas bongkahan batu besar di depan rumahnya. Sinar matahari pagi membelai lembut wajah ayunya dengan penuh kehangatan.
Purworejo, Februari 2008.
Menurut penilaian Saya cerpennya bagus bangat. tspi sedikit yang jadi pikiran dan penasaran dari cerpen ini bagi Saya adalah akhir dari kisahnya.
Kasihan sekali tokoh utamany tp dsygkan akhr ceritany msh menggantung dsisi lain ad plajaran tentang takdir tuhan yg memang sngt pst trjadi pd smua org
Malang skali tkoh utama dlm cerpen ini, msh rmaja ttpi tdk punya masa depan lagi. Berhenti skolah dan di tinggal suami. . . kalau saya yg mngalaminya pztì sy tdk punya smangat hdup lg. ttapi wlwpun bgtu kt slama kt msih hdup kt jgn ptus asa. Masa depan yg cerah ada di blik fajar, kalau kt trus brusaha.