KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Cerita Mas Ibnu

Cahaya matahari terpancar pada celah jendela kamar, membuat aku terbangun dari tidur yang hanya sesaat karena selepas subuh tertidur lagi. Jam tangan yang aku taruh di meja kecil sebelah tempat tidur menunjukan pukul tujuh kurang lima menit lalu aku menghampiri jendela untuk melihat suasana di luar. Terlihat halaman kecil yang hijau dan ada seseorang sedang duduk sendiri di teras bangunan utama. Memang kebetulan kamar yang aku tiduri berada di paviliun belakang rumah yang terpisah oleh bangunan kecil, sebuah musholla kecil.

Setelah bersih-bersih pagi dan membasuh muka dengan air tanpa mandi terlebih dahulu aku langsung menghampiri orang yang duduk-duduk di teras, seseorang laki-laki yang kira-kira berusia empat puluh tahunan, tidak tinggi juga tidak pendek, kelihatan chubby atau gemuk, beberapa lembar uban terlihat di kepalanya. Aku memanggilnya Mas Ibnu.

“Assalamualaikum, gimana tidurnya? Nyenyak? Mari duduk disini sambil sarapan,” kata Mas Ibnu spontan ketika melihat aku menghampirinya. Aku pun menjawab, “Wassalamualaikum, nyenyak kok Mas tidurnya. Makasih Mas. Oya Mas, maaf karena malam baru sampai rumah Mas.”

Lalu aku duduk di kursi sebelah Mas Ibnu duduk. Terlihat di atas meja antara tempat duduk Mas Ibnu dan aku sudah ada dua gelas cangkir, tiga buah poci yang berisikan air teh, kopi dan susu murni, serta beberapa lembar roti tawar yang cukup membuat kenyang kalau hanya di makan berdua saja dan bermacam-macam jenis selai dari buah-buahan.

“Oh, nggak apa-apa. Anggap rumah sendiri ya, jangan sungkan-sungkan, teh atau kopi?” kata Mas Ibnu dengan ramah sambil memegang cangkir untuk diberikan padaku.

“Iya Mas, makasih. Saya tuangkan sendiri aja,” jawab aku sambil menuangkan kopi ke dalam cangkir dan meminumnya berlahan karena masih terasa panas.

“Suasana di sini enak ya Mas, apalagi weekend seperti ini. Jarang lho saya merasakan seperti ini, biarpun weekend untuk libur masih aja melakukan kerjaan kantor. Oya, Mas tinggal sendiri? Anak-anak dimana mas? Ada dua orang anak kan?”

Sebenarnya Mas Ibnu adalah temanku di dunia maya. Kami berkenalan melalui internet. Dulu sempat juga bertemu pada saat Mas Ibnu main ke Bandung tapi hanya sebentar saja. Kami cukup akrab karena mempunyai pandangan yang sama dalam menjalani hidup, yaitu kehidupan hanya sesaat, semua yang ada hanyalah titipan Allah SWT yang nantinya harus dipertanggungjawabkan. Kebetulan aku sedang ada kerjaan di Jakarta. Pada saat chatting di internet aku ceritakan, akhirnya mas ibnu menawarkan untuk menginap di rumahnya

“Wah, anak-anak kan sama mama mereka. Ya, sekarang di sini tinggal sama Mas Jon dan keluarganya. Mas jon itu sudah lama membantu keluarga ini, sejak aku mulai kuliah, mungkin sudah dua puluh tahunan lebih. Jadi dari dia bujangan sampai punya istri, ya sampai dia sudah punya dua anak sekarang. Tuh tinggalnya bersebelahan dengan kamarmu. Tuh orangnya,” Mas Ibnu menjawab sambil menunjuk ke seseorang yang baru akan membersihkan daun-daun yang berjatuhan dan bertebaran di halaman. Memang Mas Ibnu pernah juga menceritakan lika-liku kehidupannya. Sudah lama ia bercerai dengan istrinya, namun sampai sekarang hubungan mereka sangat baik seperti layaknya sebuah keluarga besar dan hal itu yang membuat aku terkesan.

Belum setahun setelah mereka bercerai, istrinya menikah dengan laki-laki yang juga teman baik Mas Ibnu. Seorang teman yang nantinya juga menjadi bapak dari anak-anaknya. Setelah bercerai hubungan Mas Ibnu dan mantan istrinya tidak terputus dan tetap berhubungan, tidak hanya karena anak-anak mereka semata, namun seperti hubungan layaknya kakak dan adik. Mungkin pada saat itu terdengar aneh, mungkin sekarangpun akan terdengar aneh untuk orang lain. Awalnya aku juga berpikir seperti itu. Waktu Mas Ibnu menceritakan saat menjadi wali nikah untuk pernikahan mantan istrinya, karena orang tua atau bapaknya menyerahkan kepada orang lain untuk menjadi wali nikah anaknya, aku heran, apa mungkin hal ini bisa terjadi. Aku pernah bertanya, “Kok bisa Mas?” Jawabannya adalah “ingin hidup bahagia dan damai, selayaknya membahagiakan orang”. Singkat tapi maknanya sangat dalam. Pandangan hidup seorang Mas Ibnu yang merasa hari-harinya penuh ketakjuban atas kebesaran pencipta dan selalu mengingatkan aku dengan berkata “hati-hati melangkah karena kiamat sudah deket, apa sudah siap untuk mempertanggungjawabkan semua? Allah maha pengasih dan maha penyayang tapi harus di ingat juga maha pemberi azab”. Mungkin arti kiamat adalah kematian atau kiamat itu sendiri, memang tidak ada yang tahu kapan akan terjadi kecuali Allah. Paling tidak, pengalaman Mas Ibnu bisa dijadikan contoh untuk orang lain.

Mas Ibnu bercerita akan adanya rasa takjub yang dirasakannya pada saat bermimpi sebagai jawaban atas pertanyaan yang pernah dilontarkannya, “siapakah atau apakah aku (manusia)?”. Dalam mimpi diceritakan bahwa sesungguhnya manusia adalah roh karena digambarkan roh sebagai segumpal sinar atau cahaya yang ada dalam diri manusia. Kadar terang dari setiap orang berbeda-beda, mungkin itu gambaran dari amal perbuatan manusia itu sendiri. Sedangkan tubuh ini, hanyalah seonggok daging yang rapuh dan apabila ditinggalkan oleh roh akan menjadi rusak atau busuk. Dalam mimpi yang berikutnya setelah beberapa waktu kemudian, mungkin sebagai gambaran hari kiamat, bumi ini sudah hancur porak-poranda. Terlihat mayat-mayat bergeletakan dimana-mana, orang dewasa, tua, muda bahkan anak-anak. Yang dirasakan Mas Ibnu waktu itu adalah hampa, lengang dan sunyi, tapi damai. Pada saat itu terlihat roh seperti segumpal cahaya keluar dari seluruh mayat yang tergeletak dengan berbagai kadar terang yang berbeda, seperti bergerak lalu berkelompok sesuai dengan kadar terangnya, suatu pemandangan yang luar biasa. Mungkin tidak semua orang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Mas Ibnu. Semua yang ada di kehidupan ini hanyalah titipan Allah. Cerita itu membuat aku penasaran dan mencari litelatur mengenai pengalaman Mas Ibnu. Akhirnya di salah satu toko buku yang cukup ternama aku menemukan sebuah buku yang berjudul ‘Ruh’ oleh Ibnu Qayyim.

Matahari terlihat meninggi, udara sudah terasa panas. Saat melihat jam tangan sudah menunjukkan waktu jam sepuluh. Masih pagi memang, namun aku merasa udara sudah sangat panas yang jauh berbeda dengan di Bandung. Tidak terasa ngobrol-ngobrol dengan Mas Ibnu terutama pada saat menceritakan liku-liku kehidupan yang pernah dijalaninya, pandangan hidup. Akhirnya aku minta ijin untuk mandi dan bersiap-siap untuk pulang kembali ke Bandung.

One Response to “Cerita Mas Ibnu”

  1. on 30 Apr 2008 at 08:50adel

    Boring! Ini mah bukan cerpen, tapi cocoknya di konversi jadi cermin dengan sedikit modifikasi atau dijadiin artikel aja deh

Tinggalkan Komentar