KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tumbal

Leher anak perempuan itu masih terus mengeluarkan darah, membasahi bajunya, menetes-netes merembes, merubah warna jok mobil dari coklat menjadi merah gelap. Begitu Rima melihat luka menganga dilehernya, Rima sudah tidak kuat lagi memandangnya. Dibiarkannya anak perempuan ini merintih-rintih tergolek sekarat di jok belakang. Dari jok depan, Rima bisa mendengar suara nafasnya seperti orang mendengkur, lebih persisnya seperti suara leher sapi yang disembelih, darahnya menyembur ketika ia menarik nafas panjang. Dikuatkannya hatinya, ditutupnya telinganya, ditekuknya kakinya supaya kengerian yang ada di jok belakang itu lepas dari pikirannya. Dalam hati kini Rima menyesal juga kenapa tidak melarang mas Irfan menolong anak perempuan yang hampir mati ini, harusnya mereka pura-pura tidak melihat saja. Tapi mau bagaimana lagi, Rima dan mas Irfan sepakat menolong anak perempuan malang yang tergeletak di bawah pohon Trembesi. Ternyata niat baik ini sekarang merubah perjalanan pulang yang harusnya singkat menjadi begitu sulit dan lama. Kisah indah yang sudah dirangkum Rima dan mas Irfan hari itu kini seketika lenyap berganti sebuah kisah menegangkan dan menyeramkan.

Dicobanya mengingat-ingat semua kenangan indah yang dirangkumnya bersama mas Irfan seharian tadi sambil mendengarkan lagu-lagu di HPnya. Lenguhan dan rintihan anak perempuan itu kian pelan dan melemah, tapi masih cukup seram untuk mengganggu pikirannya. Dilihatnya mas Irfan juga kian panik mengendalikan jipnya, kubangan tanah becek, akar pohon, batu-batu dan lubang disana-sini serasa ingin memerangkap mobil, melemparkannya ke jurang yang dalam dan gelap. Matahari kian redup, merubah sore menjadi senja, merubah hutan pinus yang indah menjadi perangkap maut yang gelap.

”Lho kok sampe di sini lagi ?” Irfan bingung ketika mobilnya sampai lagi di tempat dimana mereka menemukan anak perempuan berdarah itu sore tadi.

Setelah menghabiskan puluhan lagu di hpnya, menahan rasa ngeri di hatinya, berharap segera tiba di kota secepatnya, kini Rima mulai cemas akibat ucapan Irfan.

”Kok bisa Mas? Tadi kan udah kelewatan jauh?” tanya Rima kebingungan.

Hari sudah gelap, hutan itupun kini pekat dan rapat, entah bagaimana harus menembusnya. Lampu sorot mobil hanya bisa menyinari ranting-ranting yang rapat menyilang menghalangi mobil. Kabut tebal menyergap, menjelma menjadi asap dingin yang menerpa wajah pucat Rima. Irfan kelelahan, dahinya tertunduk menempel di roda kemudi, diam putus asa. Digenggamnya tangan mas Irfan, dingin sekali, lebih dingin dari tangannya yang gemetar ketakutan sejak sore tadi. Diturunkannya sandaran kursi agar Irfan bisa sedikit rebahan, diambilkannya air minum untuk kekasihnya. Irfan masih diam, mungkin terlalu lelah. Rintihan itu sudah tidak ada lagi, mengingatkan Rima untuk melihat ke jok belakang, tapi rasa takutnya seketika mencegahnya. Ketika semua bunyi telah berlalu, Rima kini bisa mendengar desah nafas lelah mas Irfan, dan suara lenguhan lemah itu kini terdengar juga, mengagetkannya dan tanpa sadar memerintahkannya untuk segera menoleh ke arah sumber suara lenguhan itu. Rima menggigil ngeri, menggigit bibirnya, segera memejamkan matanya ketika dilihatnya mata anak perempuan itu membelalak putih, kepalanya terkulai dibahunya, darah dan daging masih keluar dari lehernya yang koyak tinggal separuh. Aroma udara dalam mobil kini berbau anyir darah dan dingin, membuat Rima mual, isi perutnya terasa naik ke kerongkongannya, kepalanya pening dan sekujur badannya terasa ringan dan lemah. Di sandarkannya kepalanya ke badan Irfan yang masih terdiam lemah. Dengan sisa tenaga, dicobanya membangunkan Irfan.

”Mas …..Mas ….. bangun mas Irfan ……” suara lirih Rima tak sanggup membuat mas Irfan terjaga.

Tiba-tiba Rima merasa ada sesuatu yang tajam, dingin dan basah menusuk lehernya, ada sesuatu yang lengket menempel di rambutnya, membuat Rima memekik dan berontak dalam kengerian. Ternyata anak perempuan yang terkulai itu kini persis di belakangnya, kepalanya yang terkulai penuh darah menempel dipunggungnya, lehernya yang hampir putus sekarang persis di belakang Rima. Dalam kegelapan malam Rima bisa melihat leher itu robek entah dipenggal dengan apa. Bekas potongannya terlihat seperti daging cincang yang tergantung disekelilingnya. Kedua tangan anak perempuan itu masih mengejar leher Rima yang baru lepas dari cengkeramannya. Dalam kegelapan dan dalam jepitan kabin mobil yang sempit, Rima berusaha menepis tangan-tangan berdarah itu. Dengan cepat diungkitnya tuas reclining jok mobil, dan ketika dirasakannya jok mobil sudah bisa direbahkan, ditendangnya jok mobil yang didudukinya keras-keras menghantam tubuh anak perempuan itu terjengkang kembali di bangku belakang. Sunyi kembali mencekam . . . . .

”Mas . . .bangun dong . . .” Rima menangis membangunkan Irfan yang belum terjaga juga. Deru angin malam membuat Rima bergidik, kabut dingin kian dalam menyusup, menyiksa Rima. Di antara degup jantungnya sendiri, Rima mendengar ada suara lain yang mulai hadir, bukan suara nafas Irfan, bukan lenguhan anak perempuan sekarat itu, bukan deru angin, suara yang kian membuat Rima bergidik putus asa, tapi entah suara apa. Disapunya pandangannya keluar kaca mobil yang buram oleh kabut, dipeganginya pipi dan telinganya, berharap suara itu pergi. Apapun itu, suara itu semakin membuat Rima menangis ketakutan, entah dari arah mana, dari depan kah atau dari samping kah . . . .

Ada titik-titik kecil menyala berderet-deret, keluar naik turun dari sela-sela gelapnya hutan. Titik-titik itu kian mendekat membawa suara itu kian jelas di telinga Rima, suara langkah berderak-derak menginjak dahan dan daun kering. Disekanya kaca mobil yang berembun dengan tangannya, Rima kini bisa melihat titik-titik itu mendekat ke arahnya, dari samping, dari depan, dan mungkin dari belakang juga, tapi Rima tidak berani menoleh ke belakang lagi. Titik-titik itu ternyata mata obor di ujung bambu dalam genggaman tangan orang-orang yang melangkah ke arahnya. Tapi Rima tidak bisa melihat orang yang membawanya, terlalu gelap, hanya keliatan sekelabatan tangan yang memegang obor saja. Rima putus asa, siapakah mereka, apakah akan menolongnya ataukah ….. Kaki dingin Rima kini menggigil lagi.
Suara ranting berderak itu kian jelas, kini Rima bisa melihat orang-orang yang membawa obor itu, mereka berhenti, berdiri di depan dan disamping, mungkin juga dibelakang mobil. Mereka bukan orang ….
Rima ketakutan melihatnya. Badan mereka tinggi-tinggi, rambutnya panjangn gimbal awut-awutan, kepalanya tidak berleher, dengan mata lebar merah menyala, siungnya menjulur disela-sela bulu lebat di wajah mereka. Tangan mereka panjang tapi kecil, satu tangan memegang obor dan satu tangan lainnya menjuntai ke tanah. Badan mereka bongkok dengan bulu lebat seperti babi hutan. Dan kaki mereka pendek, pengkor dengan telapak besar seperti kaki bebek. Rima sadar ini bukan pertanda baik.

”Mas…. bangun Mas….” Rima menangis lagi sambil mendekap kekasihnya. Salah satu dari mereka kini mendekat, memukul kaca mobil, mendobrak pintu belakang, menyeret anak perempuan sekarat itu keluar dari mobil. Rima memekik-mekik. Anak perempuan itu kini ada pada mereka, Rima melihat satu kakinya digenggam dan diangkat tinggi-tinggi, tubuhnya diayun-ayun dengan tangan dan kaki menjuntai-juntai dan sisa darah menetes ke sekelilingnya, sebuah pertunjukan paling ngeri yang pernah dilihat Rima. Perutnya serasa kian mual, ketika Rima melihat mereka mulai membagi anak perempuan itu, merobek kakinya, memutus tangannya, mencabik perutnya dan ketika seluruh tubuh anak perempuan malang itu tiada tersisa, mereka menghilang kembali ke dalam hutan. Rima melihat ada yang menenteng potongan lengan, ada yang menyeret sepotong kaki dan ada yang menggigit isi perut anak perempuan itu sambil berjalan pergi. Ingin sekali Rima segera pingsan rasanya, tak kuasa lagi Rima merasakan semua kengerian ini, tapi alam sadarnya masih terjaga, merekam semuanya. Sunyi lagi .. . .. .

Ketika nafasnya mulai tenang dan degup jantungnya mulai reda, Rima berharap usai sudah semua kengerian ini. Dilihatnya HPnya yang ternyata sudah mati. Seandainya saja Rima mengikuti saran Irfan untuk menghemat baterai HP. Dirogohnya HP Irfan di sakunya. Masih menyala, tapi percuma, tidak ada sinyal.

”Mas…Mas, bangun mas Irfan. Aku takut sekali,” Rima yakin mas Irfan bukan tidur tapi tidak tahu kenapa Irfan tidak bangun juga. Diusap-usapnya kepala kekasihnya ini, diguncang-guncang pundaknya dengan harapan kekasihnya ini segera terjaga. Entah mendapat ide dari mana, Rima membasuh muka Irfan dengan sisa air minum. Ada gerakan lemah dari kepala Irfan. Matanya perlahan mulai terbuka dan akhirnya terjaga.

”Aduuuh capek sekali. Kok gelap sekali ya, minta minum dong.”

Rima merasa lega. Irfan kini sudah terjaga. Ingin sekali Rima bercerita tentang semua yang dialaminya, tapi pergi dari tempat ini sepertinya jauh lebih penting sekarang.

”Mas, coba stater lagi mobilnya dong, siapa tau sekarang udah bisa jalan lagi,” Rima merayu penuh harap.

”Lhaa, sekarang bisa,” Irfan berusaha menahan gas supaya mesin tidak mati lagi.

”Ayo deh pulang Mas,” Rima memberi semangat.

”Bantuin cari jalannya ya… gelap amat sih.,” Irfan nampak mulai segar lagi.

Mobil jip mulai merangkak, menyusuri kegelapan hutan, menapaki celah-celah pohon, sesekali terdengar suara mobil menyerempet batang pohon. Waktu rasanya berhenti, ingin sekali Rima segera keluar dari tempat ini, ingin sekali Rima segera melihat pagi. Diantara pekat dan gelap hutan malam itu, ada cahaya kecil nampak dikejauhan.

”Eh sayang, itu lampu atau apa ya …?” Irfan menyentuh lengan Rima yang sedari tadi memejamkan mata, tak kuasa lagi melihat kegelapan malam. Rima takut sekali apa yang yang tadi dilihatnya akan datang lagi.

”Mana ..mana Mas?” Rima terpaksa membuka matanya sekarang.

Setelah bergerak maju lagi beberapa puluh meter, kini mereka bisa melihat cahaya itu adalah sebuah lampu kecil yang tergantung dalam sebuah gubuk. Dari semua yang sudah mereka alami, cahaya kecil di gubuk itu nampak seperti sebuah harapan besar, harapan untuk bisa mendapat pertolongan, sekedar makanan atau entah apa lagi. Mas Irfan mengarahkan jipnya ke sana. Gubuk itu memang kecil, dindingnya dari papan lapuk, atapnya dari ranting dan daun kering. Gubuk itu terletak disebuah gundukan tanah seperti bukit kecil. Dari jauh nampak sebuah bayangan orang sedang duduk di dekat jendela yang tak berkaca. Orang itu sepertinya memperhatikan kedatangan mereka, memberikan harapan buat mas Irfan dan Rima yang putus asa. Diparkirnya mobil jip yang penyok-penyok itu sedekat mungkin dengan gundukan tanah itu. Mas Irfan segera melangkah menuju gubuk itu lewat sebuah sisi yang sudah diratakan, Rima memegang erat ikat pinggang Irfan, menempel erat di belakangnya.

Tanpa berucap, orang itu membukakan pintu gubuknya sebelum mas Irfan mengetuk atau bahkan mengucap salam. Aroma busuk langsung menyengat ketika Irfan dan Rima masuk. Orang itu masih membisu, rambutnya yang beruban panjang-panjang dibiarkan tergerai kemuka, pundak dan punggungnya. Tangannya yang kurus keriput menggenggam kapur terbalut daun sirih, bibirnya miring terganjal gumpalan tembakau coklat, bajunya compang-camping lusuh dan kotor. Irfan baru sadar kalau orang ini ternyata seorang perempuan tua.

Rima menyapu pandangan, mencari mungkin ada sebuah tempat untuk berbaring meluruskan kaki dan membuang sedikit lelahnya. Tapi cuma ada dipan kecil yang tadi diduduki nenek itu, dipan dari beberapa lonjor bambu lapuk dan bengkok. Ada juga sebuah meja kayu kecil, ada sekotak peralatan susur, sebuah mangkok dari batok kelapa dan sebuah cangkir yang patah pegangannya. Rima melihat ada sebuah kuali dari tanah diatas tungku yang masih membara. Mungkin si Nenek sedang memasak, tapi dengan kuali sekecil itu apa yang dimasaknya, Rima mencoba menebak-nebak.

Irfan masih berdiri kebingungan tak tahu harus berkata apa, sementarar si Nenek pun masih komat-kamit mengunyah kinangannya. Rima masih gugup, tapi rasanya inilah harapan mereka malam ini, dicobanya menyapa nenek itu.

”Permisi Mbah, kami mau numpang sebentar ” Rima tahu basa-basi ini harusnya diucapkan tadi sebelum masuk.

”Nggih nduk, ngapunten panggene awon kados mekaten,” si Nenek membalas dengan bahasa halus. Rima mengerti sedikit bahasa Jawa tapi ia merasa kesulitan untuk membalas perkataan si Nenek dengan bahasa yang sama.

”Nggak apa-apa kok Mbah, kami cuma numpang duduk sebentar,” Rima berharap sebentar lagi pagi akan tiba. Irfan malah sudah duduk bersandar di dinding gubuk dari tadi.

Si nenek memberi isyarat kepada Rima untuk duduk di dipan kecilnya. Ingin sekali Rima rebahan di dipan itu, tapi dipan itu terlalu kecil untuknya, kakinya terpaksa tergantung. Nenek itu duduk di sebelahnya, membuat dipan itu kini kian sempit, Rima kini harus berbaring miring berbantal tangan. Irfan merasa cukup nyaman berselonjor di lantai tanah.

”Pun ngaso riyen mawon,” si Nenek memandang Rima, seolah tau apa saja yang sudah terjadi. Lelah dan ngantuk sekali rasanya, ingin sekali Rima terlelap sejenak menghapus semua rekaman ngeri di otaknya. Tapi kejadian-kejadian ngeri tadi seperti diputar ulang lagi setiap Rima memejamkan mata. Dirasakannya nenek itu beranjak bangkit dari dipan, membuatnya sedikit lapang. Nenek itu jongkok menghampiri kuali, menyulut daun kering membesarkan api tungkunya. Dalam picingan matanya, Rima penasaran mengintip apa yang sedang dimasak si Nenek. Kuali kecil itu diaduknya dengan sebatang kayu, hampir saja terguling. Sebuah tembang aneh atau mungkin juga mantra, dilagukan oleh si nenek ini, membuat Rima mulai gelisah lagi, ingin sekali Rima mencolek Irfan dengan ujung jari kakinya, tapi tak terjangkau juga. Angin dari luar jendela tiba-tiba meniup api lampu dalam gubuk itu hingga hampir padam, gubuk itu gelap sesaat. Samar-samar Rima melihat si nenek mengambil mangkuk batok kelapa di meja lalu membawanya ke dekat kuali untuk diisi, mulutnya masih menggumam tembang aneh.

Sulit melihat apa isi kuali itu ketika si Nenek menuangnya ke dalam mangkok. Sambil berjongkok, pelan-pelan si Nenek mulai meminum kuah dari mangkoknya. Dari suramnya sinar lampu, Rima bisa melihat pantulan gigi si Nenek yang ternyata masih lengkap. Mungkin karena ia rajin menyusur. Tapi gigi itu bukan cuma lengkap. Ada gigi taring keluar dari bibirnya yang keriput yang membuat Rima ketakutan. Ditahannya nafasnya yang kacau agar si Nenek tidak tahu kalau dia sedari tadi tidak tidur. Rima melihat tangan nenek itu merogoh isi mangkoknya, dengan nikmatnya, si Nenek menggigit sepotong tangan mungil yang sudah tidak lengkap jarinya. Ingin sekali Rima bangkit, lalu menyeret Irfan keluar dari gubuk tapi ketakutannya membuat Rima diam tak berdaya. Belum sempat Rima berpikir, si Nenek kini sudah duduk lagi di sebelahnya, menghimpit perut Rima yang mual.

”Nduk…Nduk….wonten ingkang badhe mejahi kangmas niku. Sakniki kesah mawon saking mriki.. sekedap malih tiyang-tiyang niku dugi mriki,” si Nenek berkata pelan seolah tahu kalau Rima sebenarnya tidak tidur. Segera ditariknya tangan Irfan yang tertidur di lantai keluar dari gubuk itu.

”Ayo mas, cepet pergi, ayo ayo !!!!!” Rima berteriak ketakutan. Dilihatnya titik-titik yang menyala itu mendekat lagi, titik-titik obor yang dipegang mahluk-mahluk aneh tadi.

”Apa sih itu ?…..” Irfan masih kaku tertegun melihat titik-titik api yang berayun-ayun mendekat.

”Ayo cepetan Mas…!!!!” bentakan Rima menyadarkan Irfan untuk segera menstarter mobil dan tancap gas. Rima kaget sekali ketika melihat gubuk di atas gundukan itu sudah tidak ada lagi, cuma ada sebuah batu nisan jelek yang sudah miring. Ooh kemana si nenek tadi….

Ada warna merah mulai tersembul di cakrawala di depan mereka, menambah semangat mas Irfan untuk menerabas hutan, suara-suara mobil terbentur kayu dan batu sudah nggak dipedulikan lagi. Dan ketika fajar kian terang, kabutpun terangkat, menyibak hutan pekat itu, memberi gambaran yang lebih jelas arah mana yang bisa dilewati. Sebuah sungai jernih memaksa mas Irfan menghentikan jipnya.

”Mandi dulu yuk, sekalian ngukur dalemnya air,” Irfan menggandeng Rima mencari batu yang bisa mereka duduki untuk membersihkan badan. Rima merasa cuci muka saja sudah cukup, airnya dingin sekali.
”Tuh liat Mas, ada kampung di sana,” Rima menunjuk arah jauh diseberang sungai. Walaupun airnya deras, sungai itu cuma setengah meter dalamnya, Irfan dengan mudah bisa menyebrangkan jipnya menuju kampung itu. Lega sekali ketika akhirnya mereka bisa bertemu warga desa itu yang keheranan melihat ada jip yang tiba-tiba keluar dari seberang sungai. Mereka berhenti di depan kerumunan warga yang sedang menjemur padi. Ketika membuka pintu belakang, Irfan kaget sekali melihat sebuah kepala tanpa badan tergeletak dikursi belakang, rambutnya lengket bersimbah darah, matanya mendelik putih, giginya menggigit jok mobil. Rima memekik-mekik mengagetkan warga kampung itu. Warung itu langsung geger, banyak orang seketika berhambur mengerumuni mobil jip Irfan. Seorang kakek menangisi kepala itu, berusaha mengambilnya tapi terasa berat sekali, ternyata gigi-gigi itu begitu kuat menggigit jok mobil. Kakek itu memotong kain jok mobil tempat gigi-gigi itu menancap kuat, dan akhirnya berhasil mengangkat kepala itu dalam gendongannya. Dalam isak tangisnya, kakek itu berbicara menyampaikan sesuatu kepada warga desa. Dan seketika warga desa itu mengamuk menghancurkan mobil jip Irfan, memukuli Irfan, menginjak-injaknya sampai tiba-tiba seseorang datang menghentikan penganiayaan itu. Rima menangis, memeluk Irfan yang bersimbah darah, mengelap lukanya dengan jaketnya.

Lelaki tadi memerintahkan beberapa warga mengantar Rima dan mas Irfan ke sebuah rumah. Beberapa ibu memberikan selimut dan baju bersih buat Rima, membuatkan teh hangat dan pisang rebus. Semua itu tak disentuhnya, Rima masih meratapi Irfan yang sedang diobati oleh beberapa orang bapak-bapak di rumah sebelah. Perlu beberapa jam kemudian untuk menunggu Irfan sadar. Rima menangis lagi melihat luka-luka Irfan di wajah dan sekujur badannya. Didekapnya kekasihnya ini, penuh sayang dibelai-belainya rambut lusuhnya.

Beberapa hari berlalu. Luka-luka Irfan kini sudah sembuh. Walaupun lututnya masih sulit digerakkan, Irfan sudah bisa berjalan sendiri. Rima masih menumpang di rumah yang bersebelahan dengan rumah yang ditumpangi Irfan. Tiap hari mereka bertemu, bercakap-cakap tentang nasib mereka berdua dan mencari tahu mereka berada dimana.

Belakangan mereka tahu bahwa anak perempuan yang ditemukan Irfan itu adalah cucu kakek yang menemukan kepalanya di dalam mobil Irfan. Anak perempuan itu memang hilang beberapa hari sebelumnya. Ternyata anak perempuan itu diculik warga kampung seberang untuk dijadikan tumbal untuk jin-jin di hutan Trembesi tempat Irfan menemukan anak perempuan yang baru disembelih itu. Dengan sisa tenaganya, anak perempuan itu menggigit jok mobil erat-erat ketika jin dan para lelembut itu menarik badannya keluar dari mobil. Akibatnya kepalanya yang sudah kiwir-kiwir itupun lepas dan tetap menggigit jok mobil sedangkan badannya ludes diperebutkan lelembut itu. Rima dan Irfan juga mendengar bahwa para lelembut itu mengamuk membunuh semua warga kampung seberang karena tumbal kali ini tidak lengkap, tanpa kepalanya. Rima teringat akan suruhan si Nenek untuk segera pergi dari gubuknya, pasti lelembut itu mengejar mereka karena mau mengambil kepala anak perempuan itu. Pemilik rumah yang ditumpangi Rima juga bercerita kalau kepala anak perempuan itu sudah dibakar hangus dan si Kakek meminta maaf karena sudah salah paham.

”Kok dibakar ??” Rima bertanya heran.

”Kalau dikubur, pasti lelembut itu akan mendatangi kuburnya dan mengamuk lagi,” kata si pemilik rumah.

Setelah dua minggu berlalu, Rima dan Irfan merasa sudah bisa menyatu dengan warga desa itu. Sebagai wujud rasa bersalah, warga desa membuatkan sebuah rumah sederhana buat Rima dan Irfan. Menurut warga, Rima dan mas Irfan sebaiknya menikah saja. Memang itu yang diinginkan Rima dan Irfan tapi bukan disini, di sebuah desa yang entah dimana letaknya. Tapi hati mereka kian lekat dengan keindahan desa itu dan persaudaraan warganya. Sebulan berlalu, entah mengapa mereka memutuskan menetap di desa itu. Sebuah adat sederhana meresmikan Rima dan Irfan menjadi suami istri, menempati rumah sederhana itu bersama. Tiap pagi Irfan mengajak Rima berjalan-jalan menikmati masa-masa indah pernikahan mereka. Irfan selalu memetik bunga-bunga indah yang tumbuh liar di sepanjang jalan, menyelipkannya di telinga kekasihnya ini. Rima selalu mengambil biji-biji bunga yang disukainya. Desa itu tidak terlalu luas untuk dijelajahi, dalam tiga hari mereka sudah mengenal betul batas-batas desa itu. Desa itu terletak disebuah dataran kecil di dasar sebuah lembah yang dipagari bukit-bukit berdinding tebing terjal dan tinggi di sisi utara, selatan dan barat. Di sisi timur, terhampar sebuah ngarai dengan sungai berair deras, jauh diseberang sungai nampak hutan lebat dan pekat. Dengan lokasi seperti ini, desa ini kaya akan sinar matahari pagi yang hangat dan ketika matahari berubah menjadi terik, dinding-dinding tebing tinggi itu menutupinya, membuat desa ini selalu teduh, namun juga cepat sekali menjadi gelap ketika matahari mulai pergi.

Setiap orang yang mereka temui selalu menyapa dengan ramah, membuat Rima dan Irfan kian kerasan. Setiap hari selalu ada orang yang mengantarkan buah-buahan atau makanan lainnya ke rumah mereka. Irfan juga dengan mudah berbaur dengan warga disitu. Sedikit demi sedikit, Irfan dan Rima kian mengenal warga desa ini.

”Orang sini agamanya apa sih, kok nggak ada masjid, gereja atau apa gitu ?” Rima heran.

”Sekolah sama pasar juga nggak ada hayo….”tambah Irfan.

”Terus kalau kita lihat Mas, nggak ada jalan keluar desa ya ?” Rima membuka catatan di kepalanya lagi.

”Lha iya lah, wong sekelilingnya ada tebing setinggi gitu, terus di sebelah timur ada sungai gitu kok,” Irfan mulai sadar betapa terpencilnya desa mereka ini.

”Tapi Mas, kenapa sih sungai nya selalu dijagain pagi siang sore segala ?” rupanya Rima memperhatikan juga keanehan yang dicatat Irfan.

Suatu hari warga desa datang ke rumah mereka membawa bibit-bibit tanaman, meratakan sepetak tanah yang cukup untuk mereka berladang dan mengajari Irfan menanami tanah itu. Begitu suburnya tanah desa itu, semua benih yang mereka sebar, segera tumbuh mekar, berbuah dan rimbun. Biji-biji bunga yang disebar Rima kini sudah menjadi taman bunga yang indah, ditatanya taman itu dengan rajin, rumah mereka kini indah seperti istana bunga.

Suatu sore seorang kakek tua datang ke rumah mereka. Kakek itu menangis. Ada seekor sapi betina gemuk yang dibawanya. ”Ambilah sapiku ini, dia lagi hamil besar, sebentar lagi punya anak,” kata kakek itu sambil menunduk menangis sedih.

Rima baru menyadari bahwa kakek ini adalah kakek dari anak perempuan yang kepalanya lepas tertinggal di mobil jip Irfan. Rima menggigil ketika semua rekaman kengerian itu tiba-tiba kembali lagi. Irfan mengajak kakek itu masuk ke rumahnya, mempersilahkan duduk, dan membuatkan teh hangat. Ketika hatinya mulai tenang, kakek itupun mulai bercerita. Sebuah cerita yang membuat Rima dan Irfan kembali sadar betapa desa ini bukan tempat mereka.

”Mulai dulu Mas, duluuuu sekali sejak kakek nenek buyut saya, desa ini ya begini-begini terus Mas, ndak pernah berubah. Jumlah kami semua selalu sama, selalu empat ratus empat orang, makanya kami menyebut desa kami ini kampung Pangapat singkatan dari patangatuspapat. Lha di timur di seberang sungai sana dibalik hutan Trembesi itu, ada kampung lain yang juga selalu sama jumlah penduduknya. Kampung itu bernama kampung pangaji singkatan dari patangatussiji karena jumlah orangnya selalu empat ratus satu. Tapi kampung itu sudah habis Mas, sejak mas Irfan sama mbak Rima datang kesini beberapa bulan yang lalu,” kakek ini menangis lagi. Rima teringat cerita warga kampung seberang yang mati dibunuh lelembut yang murka. Irfan penasaran,” Gimana sih kejadiannya Kek ?”.

Kakek itu menghabiskan teh dicangkirnya, dadanya yang kurus keliatan kian cekung ketika menarik nafas, Kakek itu melanjutkan ceritanya, kedua tangannya yang keriput tampak gemetar.

”Seperti yang saya bilang barusan, jumlah warga kampung Pangapat dan Pangaji harus selalu sama. Leluhur buyut saya dulu bilang, kampung ini akan selalu langgeng, gemah ripah loh jinawi, tentrem asal jumlah orangnya selalu sama. Bila ada penambahan orang, karena bayi lahir misalnya, maka harus ada orang lain yang dijadikan tumbal untuk Ki Rondhong Gomok, raja lelembut di alas trembesi di seberang sungai itu. Kalau sampai Ki Rondhong Gomok ini tau ada penambahan orang terus kita nggak ngasih tumbal, maka seluruh desa akan celaka. Ki Rondhong Gomok ini selalu minta kepala, kalau kaki, tangan dan daging lainnya itu dipreteli sama lelembut lainnya. Tumbal itu harus disembelih lehernya agar darahnya mengalir dan tercium oleh para lelembut itu. Tumbal itu harus digeletakkan di bawah pohon trembesi yang paling besar di hutan itu, karena itulah singgasananya Ki Rondhong Gomok. Selain itu ada juga mbah Rubinah yang rumahnya di dalam hutan itu yang selalu minta bagian, tapi dia ini paling cuma minta cuilan aja sedikit, kadang minta limpo, tangan atau biji mata udah cukup. Kalau mbah Rubinah ini nggak dikasih jatah, dia marah dan mengirim ratusan burung gagak untuk notoli apa yang dia minta, bisa biji mata atau kulit anak kecil.”

Rima hampir saja pingsan mendengar cerita kakek ini. Rima jadi teringat juga ada beberapa warga desa ini yang matanya buta. Kakek tua ini terbatuk-batuk, Irfan mengisi cangkir kakek ini sampai penuh lagi. Dibiarkannya kakek ini mengisap rokok daun jagungnya, meluruskan kakinya, lalu kakek ini meneruskan ceritanya lagi.

”Beberapa bulan lalu, di kampung pangaji diseberang sungai sana, ada bayi lahir, berarti jumlah orangnya bertambah satu, berarti ada satu orang warga desa Pangaji harus dijadikan tumbal. Tetapi, mereka serakah, mereka nggak mau mengorbankan satu orang warga mereka. Mereka malah nekat menculik cucu saya untuk dijadikan tumbal desa mereka. Saya itu cuma hidup berdua sama cucu perempuan saya. Anak saya, mantu saya dan cucu saya yang lain sudah habis mati satu per satu untuk tumbal Ki Rondhong Gomok. Di desa kita, keluarga yang mau menjadi tumbal itu sangat dihormati sekali, keluarga saya pernah jadi tumbal tiga orang sekaligus waktu ada tiga orang bayi lahir di hari yang sama. Mungkin orang kampung pangaji itu tau kalau keluarga saya sering jadi tumbal, makanya cucu saya diculik. Sekarang tinggal saya sendirian. Dan besok malam saya juga sudah akan mati jadi tumbal juga. Makanya saya titipkan sapi saya ini buat mas Irfan dan Mbak Rima,” kakek itu menangis lagi.

Rima dan Irfan langsung teringat pada tetangga mereka yang baru saja punya bayi hari ini. Rima menangis dipelukan Irfan. Kakek itu menarik nafas lagi, menghisap rokoknya lagi, matanya menatap kosong berkaca-kaca seolah membayangkan ritual tumbal yang akan dihadapinya besok malam. Bibirnya bergetar ingin melanjutkan ceritanya.

Irfan menutup jendela. Angin malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena cerita kakek ini, mungkin karena hatinya dilanda ketakutan, atau mungkin juga memang angin lebih keras berhembus malam ini. Kakek itu menarik tangan Irfan untuk segera duduk lagi. Irfan sendiri nampak penasaran sekali, ada juga rasa cemas tergambar di wajahnya. ”Kek, kenapa warga kampung Pangaji itu habis binasa ?”

”Yaa waktu Ki Rondhong Gomok marah karena nggak dapet kepala cucu saya, terus dia tau juga kalau warga kampung pangaji curang. Dia tau kalau tumbalnya itu bukan dari kampung pangaji tapi hasil menculik dari kampung kita ini. Ki Rondhong Gomok murka, terus menggelontor kampung Pangaji dengan gogrokan gunung longsor, langsung modhar semua warga pangaji itu,” Kakek itu masih ingin bercerita tapi nafas tuanya memaksanya berhenti dulu.

”Waktu kami datang, berarti kan warga kampung Pangapat sini bertambah dua, apakah terus ada yang dikorbankan kek?” Rima bertanya cemas.

”Waktu mas Irfan dan mbak Rima datang, jumlah warga Pangapat ini kelebihan satu, karena sebelumnya sudah pas 404. Terus cucu saya diculik jadi 403 dan terus waktu mas Irfan dan mbak Rima datang jumlahnya jadi 405, jadinya kelebihan satu. Makanya waktu itu cuma mas Irfan aja yang akan kami sembelih biar jumlahnya pas 404 lagi. Tapi waktu itu pak Tinggi melarang kita membunuh mas Irfan karena ada kabar bayi yang baru meninggal ketika kita rame-rame mau menyembelih mas Irfan ini..” Kakek ini berhenti lagi, menghisap rokoknya, bernafas panjang lagi.

Rima jadi teringat lagi. Dulu memang ada seorang lelaki yang membubarkan penganiayaan itu, memang dia pak Tinggi desa ini, tapi baru sekarang Rima tahu alasannya. Irfan terdiam lama sekali, mengumpulkan semua kesadaran dan ingatannya, atau mungkin juga tidak percaya dengan cerita kakek ini. Campur aduk perasaan Rima dan Irfan malam itu.

”Kakek, tadi bilang besok malam kakek akan jadi tumbal?” tanya Rima penasaran.

”Kemarin pagi anaknya Painem lahir, kalau sampai sepasar tumbal nggak diberikan, Ki Rondhong Gomok pasti murka, tadi pagi pak Tinggi bilang besok malam. Itu menurut itungan adalah hari yang baik untuk memberikan tumbal. Jadi saya ya manut aja Mbak,” jawab kakek itu pasrah.

Ketika bulan sudah mulai tinggi malam itu, si Kakek berpamit hendak pulang, ”Jangan pernah bilang kalau saya cerita soal ini ya.” Rasanya inilah pesan terakhir si kakek.

Ketika matahari sore mulai tertutup tebing, seluruh warga desa berkumpul di lapangan di depan rumah pak Tinggi. Rima sebenarnya tidak mau ikut, tapi karena takut ditinggal sendirian di rumah, akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti ritual tersebut.

“Ya udah ikut aja tapi nanti nggak usah liat, ngumpet agak jauhan ya,” pesan Irfan sambil menggandeng tangan Rima.

Kakek itu duduk di tengah lapangan, tertunduk lesu. Anak-anak kecil dibiarkan bermain di sekitarnya, seolah ini sebuah pesta. Rasanya kalau dihitung memang semua warga hadir dilapangan ini. Rima ingin duduk di dalam rumah seorang warga saja, ngeri sekali kalau membayangkan apa yang akan terjadi, tapi beberapa ibu menarik tangannya untuk ikut berdiri di antara mereka.

”Ndak boleh Mbak, kita harus ikut lihat semua, ” kata seorang ibu yang sambil menggendong anaknya. Pak Tinggi keluar dari kerumunan orang membawa sebuah pisau. Setelah berterima kasih kepada si Kakek, pak Tinggi meminta beberapa orang memegangi kaki dan tangan kakek itu. Entah sudah berapa kali dilakukanya, pak Tinggi lalu mengiris leher kakek malang itu. Darah mulai menyembur, tepuk tangan warga mulai terdengar, kakek itu mulai melenguh. Ketika leher si kakek tinggal separuh, pak Tinggi berhenti memotong. Seorang pria segera menggendong kakek itu pergi, kepalanya terkulai, matanya masih sempat menatap Rima. Mata itu seolah memberitahu sesuatu kepada Rima, tapi entah apa. Apakah kakek itu memberitahu Rima untuk menjadi tumbal berikutnya, ataukah sesuatu yang lain, Rima ngeri sekali melihat tatapan mata putihnya.

”Aku diminta pak Tinggi ikut nganter tumbal ke hutan, nanti pulang sama orang-orang aja dulu ya. Mudah-mudahan aku nggak lama,” Irfan sebenarnya kuatir sekali meninggalkan Rima.

Tiga orang rombongan kecil pembawa tumbal itu berangkat sore itu juga. Mereka tak ingin kakek itu keburu mati di jalan karena Ki Rondhong Gomok tidak mau menerima tumbal yang sudah mati. Mereka dilepas sorak sorai seluruh penduduk desa, hanya Rima yang menutup mukanya. Kakek tua itu di ikat kaki dan tangannya, sebatang bambu di masukkan ke dalam ikatan tali di kaki dan di tangannya untuk memikulnya, satu orang memikul di depan dan satu orang memikul didepan. Tubuh kakek itu terguncang-guncang, kepalanya yang separuh putus itu terayun-ayun mengeluarkan darah, membasahi orang yang memikulnya. Irfan melihat kakek itu memang masih hidup, mengerang, melenguh dan meronta-ronta menahan sakit yang tak terperi. Irfan sengaja berjalan paling belakang, dicobanya menyusun kembali semua ingatannya akan tempat-tempat yang dilaluinnya ini, disayatnya setiap batang pohon yang dilaluinya dengan pisau yang dibawanya.

Matahari sore masih terang ketika rombongan itu tiba disebuah pohon Trembesi terbesar di dalam hutan lebat itu. Kakek yang sekarat itu dilepas ikatannya, didudukkan di akar pohon dan disandarkan dibatang pohon besar itu. Posisinya seperti orang tertidur dengan kepala terkulai penuh darah, mengingatkan Irfan ketika menemukan anak perempuan kecil beberapa bulan lalu. Setelah dirasa cukup, rombongan kecil itu berjalan pulang. Kakek malang itu masih mengerang ketika mereka meninggalkannya, sesekali lendir dan darah masih muncrat dari lehernya yang robek. Matahari sore mulai redup, tapi masih cukup terang untuk memandu mereka bertiga kembali ke desa.

Rima berjalan pulang bersama beberapa keluarga yang searah dengan arah rumahnya. Ketika mereka sampai dirumah masing-masing, kini tinggal Rima sendiri. Beberapa ibu-ibu yang tidak tega, meminta suami mereka untuk mengantar Rima sampai rumahnya, Rima menolak sesopan mungkin tapi mereka tetap memaksa. Akhirnya Rima menerima juga tawaran itu, dua orang laki-laki berjalan di belakangnya mengantarnya pulang ke rumah. Seperti kebanyakan lelaki di desa itu, dua orang lelaki itu juga kurus-kurus, kulitnya coklat tua dan tangannya berbulu banyak, tak ada sepatah katapun yang mereka obrolkan. Rima hanya ingin segera sampai dan menunggu Irfan pulang.

Tiba di rumah, Rima mengucapkan terima kasih. Rima sengaja tidak menawari dua orang itu untuk minum atau sekedar duduk karena memang Rima ingin kedua lelaki itu segera pergi saja, perasaannya tidak nyaman sekali. Tapi sungguh di luar dugaannya, kedua lelaki itu tiba-tiba menangkapnya, menggendongnya dan merebahkannya di lantai. Rima meronta, Rima menendang sekenanya, Rima memekik, tapi kedua orang itu semakin kalap. Ditengah ketakutan dan kekagetannya, sesuatu yang berlendir memasuki dirinya. Rasa sakit, rasa jijik, rasa ngeri berbaur jadi satu, Rima menangis pilu menyadari apa yang sedang terjadi padanya. Ingin sekali Rima pingsan, dari semua kengerian yang dialaminya, tak pernah Rima merasa ngeri seperti sekarang ini. Entah siapa, entah yang mana dari dua lelaki itu, mungkin juga dua-duanya, Rima tetap meronta, menendang, memekik dan menangis tapi tak seorangpun yang menolongnya. Ketika kengerian itu hendak berlalu, dua lelaki itu kini mengancamnya ”Awas, kalau sampai lapor orang, kamu akan dijadikan tumbal berikutnya, ” dua lelaki itu pun pergi.

Dalam tangisnya, Rima bangkit. Dengan penuh rasa jijik dan mual, dibersihkannya badannya. Entah sudah berapa kali disiramnya badannya, tapi Rima masih merasa kotor sekali. Bencana barusan membuat Rima takut, merasa hina, menyesal dan semua perasaan buruk lainnya. Dirapihkannya lagi rumahnya yang berantakan, dibaringkannya badannya di kamar, Rima menangis lagi. Rima kedinginan dan ketakutan, menunggu Irfan pulang. Dalam kesedihan dan ketakutannya, tiba-tiba Rima berpikir Irfan tidak boleh tahu tentang bencana yang barusan dialaminya. Bukan karena takut ancaman dua lelaki tadi, tapi Rima tidak ingin menghancurkan perasaan Irfan. Biarlah ini menjadi bencana buat Rima sendiri saja.

Senja baru saja pergi ketika Mas Irfan tiba kembali di rumahnya. Dipanggilnya kekasihnya ini, betapa rindunya Irfan pada Rima. Ketika Irfan masuk ke kamar, didapatinya Rima sudah berbaring dikamar.

”Duuh maaf sayangku, lama ya ?” Irfan memeluk Rima penuh sayang. Rima menangis dalam pelukan Irfan tapi tak sepatah katapun bisa diucapkannya.

Esok paginya, tak biasanya Rima menolak ajakan Irfan untuk berjalan-jalan. Selangkangan Rima sakit sekali, kepalanya pusing dan perutnya mual.

”Mas cerita aja kemarin itu gimana ? Kita di rumah aja ya hari ini, aku mau masak nih,” Rima mencoba mencari alasan.

Irfan menceritakan semuanya perjalanan mengantar tumbal kemarin. Irfan juga bercerita sudah memberi tanda di semua pohon yang dilaluinya. Ketika Rima mulai memasak, Irfan teringat sapi yang diberikan si kakek itu.

”Eh sebentar ya sayang, aku mau nengok sapinya, kan belum kita kasih makan,” Irfan segera berlari ke halaman belakang .

”Rima !!! Rima …!! sini cepetan …” Irfan berteriak-teriak dari halaman belakang.

Dengan menahan sakit, Rima berjalan pelan, Rima tidak ingin Irfan melihat ada yang aneh pada dirinya.

”Sebentar mas, lagi nanggung nih, ” Rima berusaha mengulur waktu.

”Liat nih!” Irfan menunjukkan sebuah benda yang pernah diingatnya, sebuah benda yang kini mengingatkannya kembali siapa dirinya. Sebuah tas pinggang yang sudah lusuh tergantung di leher sapi itu. Tas pinggang itu dulu dipakainya ketika jalan-jalan petualangan bersama Irfan, sejak mobil jip Irfan dihancurkan warga desa ini, semua benda milik mereka sudah hilang, sampai tiba-tiba tas pinggang itu kini muncul kembali. Rupanya si Kakek malang itu mungkin menemukannya dan mengembalikannya kepada mereka.

Bagaikan melihat harta karun, Irfan dan Rima berpelukan gembira sekali ketika mereka melihat isi tas pinggang itu, ada dompet mereka berdua, lengkap dengan isinya, KTP, SIM, kartu ATM, kompas, pisau lipat kecil, ballpoint dan sejumlah uang. Ada juga charger HP tapi HPnya tidak ada. Tapi temuan ini sudah sangat membuat mereka gembira sekali. Seharian itu, mereka tak puasnya mengamati semua benda-benda itu satu persatu. Tas pinggang itu menyadarkan Rima dan Irfan lagi betapa desa ini bukan tempat mereka. Mereka ingin pulang. Mereka tahu sulit dan berbahaya sekali untuk bisa pulang, tapi Rima dan Irfan ingin pulang. Kini mereka merasakan betapa rindunya mereka pada tempat asal mereka dan keluarga mereka. Rima menangis lagi kalau ingat semua kengerian yang membawa mereka ke desa ini. Irfan berjanji akan membawa mereka keluar dari desa ini dan kembali pulang dengan selamat. Mereka menghabiskan hari itu membicarakan rencana dan persiapan untuk kabur dari desa itu. Begitu inginnya mereka kabur, malam itu Rima dan Irfan berpikir lagi apa saja yang bisa membantu mereka keluar dari desa dan hutan lebat itu.

Kadang Rima ingin sekali bercerita tentang bencana yang dialaminya itu. Tapi Rima tidak mau semua rencana ini berantakan kalau sampai Irfan tahu apa yang sudah menimpanya. Rima akhirnya memilih diam, disimpannya rapat-rapat rahasia ini.

Tiap pagi Irfan dan Rima masih suka berjalan-jalan pagi, bukan lagi untuk menikmati indahnya desa mereka, tapi untuk menghafal jalan untuk melarikan diri. Hanya ada satu jalan untuk lari, menyeberangi sungai di sebelah timur desa itu. Dari sungai yang panjang dan deras itu, cuma ada satu tempat yang agak landai, tempat warga desa menyeberang untuk membawa tumbal. Tapi tempat itu selalu dijaga pagi siang sore oleh beberapa orang utusan pak Tinggi. Ada celah lain yang juga bisa dilalui walaupun jeramnya lumayan deras dan dalam, tempat ini jauh dari desa, dari tempat inilah dulu mereka menyebrang dan akhirnya tinggal di desa ini. Tiap kali mereka berjalan ke tempat ini, Rima selalu ngeri melihat jeram deras yang seolah siap menelan, memutatnya didalam air dan menyeretnya kesela-sela batu besar. Tapi Irfan meyakinkan Rima kalau tempat ini lebih aman karena tidak ada yang menjaga.

Seminggu berlalu, Rima mual-mual. Irfan senang sekali mengetahui kalau Rima hamil. Rencana kabur terpaksa ditunda dulu menunggu Rima kondisinya kuat lagi. Sebulan berlalu, Rima masih sering mual dan muntah-muntah. Sudah ada dua tumbal lagi yang sudah disembelih warga desa, membuat Rima kian ngeri tapi badannya lemah sekali karena kehamilan ini.

Dini hari ketika ayam belum berkokok, Irfan mematikan lampu minyak di rumahnya, membuka semua pintu dan jendelanya, mengeluarkan sapi dari kandangnya supaya bila tetangganya bangun nanti, mereka tidak curiga karena melihat rumah mereka sudah terbuka seperti biasa.

”Ayo kita pulang sayangku.,” Irfan memeluk Rima, dituntunnya kekasihnya ini, digendongnya semua perbekalan mereka, tas pinggang itu melilit erat pinggangnya. Rasanya kandungan Rima baru berjalan dua bulan, tapi entah kenapa, kandungannya cepat besar.

Rasa rindu untuk pulang itu membuat mereka serasa melesat cepat. Matahari baru mulai terbit ketika mereka berdua tiba di sungai yang deras itu. Pagi itu air sungai nampak lebih deras dari biasanya. Irfan mulai menapak di batu, mencari pijakan sebelum Rima menyusulnya. Rima mengikuti dari belakang, menapak batu yang ditunjuk Irfan. Batu-batu itu licin sekali, di langkah yang kedua, Rima terpeleset ke dalam jeram yang dingin. Irfan melompat, menyambar tangan kekasihnya, menahannya dari tarikan arus liar. Ketika Irfan mulai berhasil berdiri lagi, memeluk dan mengangkat Rima ke tepi, tas pinggangnya tiba-tiba lepas dan dalam sekejap lari menjauh bersama arus. Irfan hanya bisa memandang tas itu menghilang menjauh, Rima diangkatnya ke tepi. Air dingin membuatnya menggigil, pucat dan membiru. Rima memegangi perutnya, rasa sakit membuatnya kuatir akan janin dalam kandungannya.

Kini mereka tiba di tepi hutan Trembesi yang tinggi dan lebat itu. Mas Irfan mulai mencari sayatan yang dulu dibuatnya ketika dia membawa kakek yang malang itu beberapa hari lalu.

”Naah ketemu, dari sini nih kita masuknya, ” Irfan gembira sekali ketika melihat sayatan di pohon pertama. Irfan menawari telur rebus dan air hangat buat sarapan Rima sebelum masuk ke hutan yang gelap itu. Sebenarnya Rima takut sekali, hutan Trembesi itu memaksanya mengingat kembali semua rekaman ngeri di kepalanya. Irfan membelai-belainya, menyanyikan lagu-lagu kesukaan Rima, membuat Rima berkhayal untuk segera sampai di rumah.

”Lanjut yuk…” Irfan menggandeng tangan Rima, menciumi pipinya lagi dan mulai berjalan memasuki hutan lebat itu.

Tak ada sejengkalpun tanah rata di dalam hutan itu, ranting-ranting tajam menusuk seperti paku, semak-semak rapat menghimpit, batu dan lubang bagaikan jebakan yang tiada habisnya. Sesekali Rima memekik, entah sudah berapa macam hewan menyentuhnya, mulai serangga penyengat, lintah daun hingga ular berbisa. Kaki Rima terkilir, tangan dan badan Rima lecet, perih penuh luka. Jejak sayatan pohon itu kini membawa mereka hampir dekat dengan pohon trembesi yang paling tinggi, tempat warga desa meletakkan tumbal mereka. Mas Irfan sengaja tidak memberi tahu tempat itu, dibawanya Rima berputar sedikit menghindari pohon besar itu. Irfan tidak ingin Rima ketakutan lagi seandainya Rima ingat disitulah mereka dulu menemukan anak perempuan itu. Beberapa ratus langkah dari situ, Irfan juga melihat lagi sebuah gundukan tanah seperti bukit kecil. Itulah dulu tempat gubuk si Nenek. Gubuk itu sudah tidak ada tapi memang gubuk itu cuma nampak di malam hari saja. Rima sebenarnya ingat juga tempat itu, tapi Rima juga malas membahasnya, dibiarkannya mas Irfan terus menariknya berjalan menembus hutan Trembesi itu.

Hutan itu ternyata memang luas sekali. Matahari mulai tinggi, tapi mereka masih juga berada di dalam hutan.

”Mas… kita nyasar lagi nggak ya, jangan-jangan kita cuma muter-muter aja dari tadi,” Rima teringat bagaimana mereka tersesat dulu.

”Tenang aja, aku kan bawa kompas, kalau kita terus ke Timur, kita nanti bisa keluar hutan ini kok,” Irfan terus menggandeng Rima. Sebuah tebing terjal menghentikan langkah mereka, di sinilah batas hutan itu. Di depan mereka kini nampak sebuah jurang dan di seberang jurang itu mereka melihat ada sesuatu yang berkelok-kelok mengikuti tepian jurang, sebuah jalan. Atas permintaaan Rima, mereka beristirahat dan membuka semua bekal mereka. Rima berbaring di pangkuan Irfan, jeritan binatang-binatang hutan kini sudah tidak terdengar menyeramkan lagi. Rasanya kini mereka mengucapkan selamat tinggal kepada Irfan dan Rima.

Badan mereka lelah sekali, matahari mulai sore, rasanya sayang sekali kalau waktu yang tersisa ini terbuang untuk istirahat. Rima mengajak Irfan melanjutkan perjalanan lagi. Jurang itu memang terjal dan dalam, Irfan beberapa kali harus melompat dan menggendong Rima untuk melaluinya. Hari mulai senja ketika mereka tiba di seberang jurang itu, lega sekali rasanya ketika akhirnya mereka berhasil mencapai jalan kecil yang tadi siang mereka lihat dari atas jurang sana. Irfan menggandeng Rima menyusuri jalan sepi itu. Senja berganti malam, tapi tak seorang pun melintas dari tadi. Ada sebuah lampu minyak nampak di depan mereka.

”Eh ada dokar kosong tuh Mas,” Rima lebih dulu mengenali darimana cahaya lampu itu berasal. Sais itu diam saja ketika Irfan dan Rima naik ke dokarnya, ”Tolong ke alun-alun ya Pak” Irfan meminta sembarangan saja. Tiap kota pasti ada alun-alunnya, dan alun-alun pasti ramai, begitu pikirnya.

Dokar itu meluncur pelan, angin malam mulai dingin, sais itu tetap diam sepanjang jalan. Irfan sibuk memeluk Rima yang kedinginan dan kelelahan. Rima tertidur dalam pelukan Irfan. Dokar itu berhenti di sebuah tempat yang terang dan ramai. Irfan mengajak Rima turun. Banyak sekali orang-orang disitu, berdiri bercakap-cakap, tapi tak seorangpun yang menyapa mereka. Irfan mengajak Rima duduk istirahat di sebuah pendopo kecil. Irfan sedih sekali melihat kekasihnya kelelahan, pucat, lusuh dan penuh luka, wajahnya kusam dan telapak kakinya pecah-pecah lecet semua. Irfan menyesal sekali. Dipeluknya penuh sayang kekasih yang sangat dicintainya ini. Rima tidur berbaring disebuah dipan kecil, Irfan memeluk dan menjaganya disebelahnya. Seorang lelaki datang tersenyum ramah menghampiri mereka, wajahnya tenang dan pakaiannya putih bersih. Lelaki itu membersihkan debu disekitar Rima dan Irfan dengan kibasan tangannya dan segera pergi menghilang. Irfan dan Rima tertidur lelap malam itu. Esok paginya, mereka ternyata berada di sebuah kuburan yang luas. Pendopo itu ternyata sebuah cungkup di tengah kuburan dan dipan tempat Rima tidur adalah penduso. Kuburan itu ternyata adalah sebuah batas desa. Sebuah desa kecamatan yang lumayan besar dan ramai.

Kini cuma ada baju lusuh yang melekat di badan. Rima lapar dan Irfan tak tahu harus berbuat apa. Dituntunnya Rima ke sebuah gudang tua di stasiun kereta api. Seorang nenek kumal terbangun, terbatuk-batuk mendengar kedatangan mereka .Sudut gudang itu penuh dengan jelaga hitam dari lampu minyak si nenek, entah sudah berapa tahun nenek tua tinggal di gudang ini. Sebuah bantal dari kain kotor yang diikat-ikat disodorkan sang nenek buat Rima, nenek itu tersenyum tanpa kata. Dibiarkannya Rima memilih tempat untuk berbaring dekat dengan tumpukan kardus alas tidur nenek.

”Sayangku tunggu sebentar ya, aku cari makan dulu ” dikecupnya kening Rima sebelum Irfan menghilang di antara gerbong-gerbong kereta.

”Sayang makan dulu ya” Irfan membangunkan Rima yang tertidur dalam lelahnya. Upah mengangkat barang milik pedagang kain cuma cukup buat membeli nasi dan sepotong tempe bacem.

”Udah makan barusan kok Mas ” Rima menunjuk sebuah rantang kusam di dekat kaki nenek itu.

”Aduuh terima kasih ya Nek ” tapi Nenek itu cuma diam memandang Irfan.

Malam itu Rima dan Irfan tidur di gudang kosong itu bertiga dengan si nenek, begitu juga esoknya dan esoknya lagi. Irfan belum juga bisa membawa mereka kembali pulang. Kandungan Rima kian berat, dan Irfan cuma bisa mengumpulkan sedikit uang untuk membeli dua bungkus nasi sehari, tak lebih dari itu. Nenek tua itu tetap dengan dunianya, menjelang siang nenek itu keluar membawa beberapa kardus bekas dan koran bekas yang dikumpulkannya kemarin, menukarkannya dengan nasi dan kembali lagi ke gudang sore harinya. Irfan kaget sekali ketika membaca sebuah berita di tumpukan koran bekas milik si nenek, ada sebuah berita bencana tanah longsor yang menimbun sebuah desa, 402 orang ditemukan tewas.

Entah sebulan mungkin juga lebih, Rima dan Irfan masih tetap bertahan di gudang kosong itu. Tiap malam Rima menangis, kandungan dalam perutnya terus menendang-nendang. Rima membayangkan betapa sedih ibu dan bapaknya mencari-cari dirinya berbulan-bulan. Rasa sesal kini menyayat-nyayat hatinya, sungguh tiada dalam benaknya betapa ajakan Irfan untuk jalan-jalan sehari itu kini membalik nasibnya seperti ini. Rima ingin sekali bertemu ibu dan bapaknya lagi, bersimpuh mohon ampun pada ibu dan bapaknya, tapi apakah dengan perut gendut seperti ini mereka akan menerimanya. Rima cuma bisa meratapi nasibnya kini. Irfan kian kurus, tak ada lagi yang bisa dipakainya untuk mencari nafkah kecuali tenaganya. Irfan sebenarnya juga ingin pulang, tapi dia memilih bersama Rima. Irfan sungguh menyesali betapa kisah cintanya dengan Rima kini hanya menghancurkan Rima.

Kandungan Rima kian membesar. Irfan ingin sekali anak perempuan yang cantik seperti Rima. Suatu tengah malam, akhirnya tiba juga saat Rima melahirkan. Rima mengejang, mengerang-ngerang, tapi bayi itu tak juga lancar keluar. Rima mulai lemah, nafas dan tenaganya kian habis, darah membanjiri kardus alas tidurnya. Nenek tua itu membantu menarik bayi Rima keluar. Nenek itu menarik telapak kaki mungil yang mulai keluar itu. Irfan miris pilu ketika didengarnya suara krek, aduuh kaki bayi itu patah ketika ditarik si Nenek. Akhirnya bayi itu lahir juga, menangis melengking, tangisnya bergema di dalam gudang tua itu. Bayi itu ternyata laki-laki, kurus dan tangannya berbulu lebat.

6 Responses to “Tumbal”

  1. on 26 Apr 2008 at 10:21andy_thio

    Bagus bangets ceritanya..
    Alurnya jelas, membuat yang membaca jadi berimajinasi dengan baik. tapi ada bahasa jawa yg ga aku mengerti. Tapi it’s ok, berkreasi terus ya

  2. on 08 May 2008 at 19:29iZzuR

    Ceritanya bagus banget, walaupun ada sedikit bagian yang kurang jelas. Tapi nilai ” 100 ” untuk cerita ini

  3. on 31 May 2008 at 15:44rama Bali

    serrrreeeeeem !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. on 10 Jun 2008 at 06:56darwis

    Salut!!! kya gini, aq suka! cerita yang unik.,cinta yang romantis dan kehidupan masyarakat primitif yang sangat ironis!!

  5. on 20 Jun 2008 at 15:54Farah

    Bapak ceritanya serem banget…. Bikinin cerita lagi dong buat Farah…

  6. on 02 Aug 2008 at 15:08Aditya

    Iya Pakde….ceritanya kok syereem sih….hiiiiii

Tinggalkan Komentar