KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Yang Tak Pernah Kembali.

Senja itu pun tiba dengan segenggam lelah pada tubuhku yang basah. Sunset yang memerah terlihat kurang begitu indah akibat insiden yang menimpaku barusan. Yah..mungkin hari ini saatnya aku berpisah dengannya. Kurasa, sudah cukup lama ia menemaniku. Baiknya kulepas ia dengaan keikhlasan di hati. Mungkin dengan begitu kisah ini akan berakhir dengan sempurna.

“Bli..ada board bekas ga?”

Tatapan kosongku pada lautan lepas yang memerah tiba-tiba buyar oleh suara seseorang yang sepertinya kukenal.

“Eh, Bli Made..ada tuh. Kapan mau liat?”
“Terserah Bli nya aja kapan punya waktu.”

“Mm..gimana kalau hari Rabu, pas aku surfing kesini lagi?”

“Oke. Mm..Board bekasnya, Bli mau jual berapa?”

“Masalah harga, gampang lah. Yang penting, Bli liat kondisi Boardnya dulu.”

“Wah..makasih banyak yah Bli.”

Anak pantai, aku sungguh kagum pada mereka. Usiaku sama dengannya. Namun aku, tak perlu susah-susah mencari nafkah seperti dirinya. Cukup dengan bermain surfing saja, tiap bulan jutaan rupiah mengalir deras dari sponsor. Cukup dengan bermain surfing saja, aku bisa keliling dunia. Yah..tak percuma selama lima tahun aku berkecimpung dalam olahraga yang satu ini. Seperti kata mereka, tak ada usaha yang sia-sia.

”Gilang, papan selancarmu kemana? Kamu jual?”

“Gak Mam. Tadi pas jatuh kegulung ombak, tali roof nya putus. Boardnya kebawa arus, jadinya hilang deh.”

“Emangnya tadi kamu surfing dimana?”

“Di Padang-padang Mam.”

“Main surfing kok jauh-jauh banget seh. Kenapa ngak surfing dekat rumah aja. Kalau lapar tinggal pulang. Lagian kan Mama juga pengen liat kamu main surfing.”

“Ah..Mama ini ada-ada aja deh. Pantai Double Six rame banget Mam. Apalagi musim liburan sekolah kayak gini. Huh, turis local dimana-mana. Tuh pantai dah kayak pasar aja, sumpek abis. Males bangat deh pokoknya.”

“Hei, kalau bukan karna mereka, Bali ini gak ada apa-apanya. Toko Mama juga gak bakalan ada pengunjung. Mama yakin kamu belum lupa, gimana susahnya kita saat-saat pertama datang kesini. Hidup itu jangan banyak nuntutnya, banyakin bersyukurnya.”

Jelas aku belum lupa masa-masa pahit lima tahun yang lalu. Saat itu masa-masa terakhirku dibangku SMA. Pada hari Senin sepulang sekolah, tiba-tiba kudapati Ibunda sedang memeluk adik perempuanku satu-satunya dengan tangisan yang begitu sendu. Aku hanya terdiam dalam gejolak batin yang berkecamuk. Yang kutakutkan akhirnya terjadi juga. Itulah akhir dari percekcokan panjang kedua orang tuaku. Semuanya telah kandas diatas lembaran surat perceraian. Tak ada kata yang terucap, hanya rangkulan hangat yang kuberikan kepada adik tercinta sebelum perpisahan itu memisahkannya dari pandanganku. Ia ikut Papa pindah ke Jakarta bersama istri barunya. Sedangkan aku, pindah ke rumah nenek yang di Bali bersama Mama.

Lima tahun sudah kisah itu beralalu. Panjangnya waktu menggunungkan rindu pada mereka yang kucintai. Lima tahun sudah kumeninggalkan kota kelahiranku. Kota Medan yang penuh kenangan. Kota dimana sahabat-sahabatku kutinggalkan tanpa untaian kata selamat tinggal.

Entah kenapa, rasanya malam ini ingin sekali kumendengarkan satu tembang yang dulu pernah menyimpan sebuah luka. Tak menunggu lama, kunyalakan Laptop yang tersudut pada meja kaca dekat ranjangku. Dalam hitungan detik, lagu itu pun akhirnya kutemukan. Perlahan lagu itu bersenandung. Lirih syairnya ingatkan aku pada kelamnya kisah terindah. Goreskan luka pada cerita paling abadi anak manusia.

Pernah kita sama-sama rasakan..panasnya mentari hanguskan hati..
Sampai saat kita nyaris tak percaya, bahwa roda nasip memang berputar..
Sahabat..masih ingatkah..
kau..
Sementara hari terus berganti..engaku pergi dengan dendam membara..
di hati…

Kata mereka, apa artinya hidup tanpa seorang teman. Kata sang surya, apa artinya dunia tanpa sinarnya. Dan ucap pasir berbisik, luka karna dendam, bagai duri dalam daging. Sakitnya takkan hilang sebelum dicabut keluar.

“Lupakan, dan maafkanlah..” ucap lembut nyiur yang melambai

“Ya..sudah lama aku memaafkannya. Bagaimana tidak, dia sahabatku sedari kecil.”

Kuterdiam pandangi ombak yang berkejaran. Papan surfing yang menemaniku, masih berdiri tegak menunggu isyarat dariku. Hembusan angin seakan tiupkan kerinduan padanya. Rasanya, mulut ini ingin kembali memanggilnya ‘sobat’. Dan sepertinya aku memang merindukannya

“Hmm..”

Aku tersenyum, pada kisah yang terlintas dikepala. Bukan hanya satu kisah, tapi ribuan kisah yang bila kuingat akan membuatku tersenyum bahagia. Cukup lama aku terdiam dalam lamunan. Lalu akhirnya sang ombak berteriak, coba mengingatkanku pada tujuan kedatanganku sore ini. Teriakan itu tak kuhiraukan, karna sepertinya sore ini aku ingin habiskan dengan menikamati birunya lautan sembari mengenang kisah yang lalu.
Nyanyian anak pantai bersama senandung dawai gitar, semakin menambah haru birunya lautan jiwaku yang paling dalam.

Do u remember when I first meet U…
Over ten years I go back…
U can rewind..we lot the time
U stil my mate..
do U remember.

Itu lagunya siapa, jelas aku kurang tahu. Yang pasti liriknya sangat mengena di hati. Dan sepertinya kini aku merasa orang paling kesepian di dunia. Merasa sunyi dalam keramaian yang ada. Terduduk sendiri dengan hanya ditemani papan surfing yang baru diberikan pihak sponsor tadi pagi. Sungguh menyedihkan sekali diriku ini. Lihat lah mereka yang tetawa bahagia disana. Bercanda dan berlari habiskan sore bersama sahabat teman sejiwa. Ingin kuraih kemabali kisah itu. Tapi masih adakah jalan tuk kembali?

“Huh..”

Pertanyaan sulit itu membuat dadaku terasa sesak. Kalimat itu terasa menumpahkan penyesalan yang membeludak. Sungguh aku tak tau dari mana hendak memulainya. Tapi satu yang pasti, masih ada kata maaf di hatinya. Aku yakin, waktu yang panjang telah kikis semua luka, basuh semua dendam yang ada.

“Gilang!?” ucap seorang pemuda bertopi merah dengan nada terkejut.
“Ya…,” ucapku dengan nada heran bercampur penasaran.

“Gil, ini gue, Rei.”

“Rei, Rei siapa?”

“Masa lo udah lupa ama gue seh. Kurang ajar banget lo. Gue teman sekelas lo waktu SMA yang paling sering makan gratisan dirumah lo gila. ”
“Hah! Rei..hahaha.”

“Kurang ajar lo Gil. Haha..ga nyangka gue bakal ketemu lo di sini gila.”

“Haha..gue juga, Rei.”

Ternyata sore yang indah ini tak kuhabiskan dengan duduk sendiri. Suasana ceria hadir di antara percakapan yang ada. Kisah yang lalu diumbar bagai gosip terhangat selebriti. Yah..inilah yang namanya bernostalgia. Tak kusangka akan bertemu kembali dengannya. Dia teman sekelasku waktu SMA, teman satu komplek perumahan juga. Benar-benar sungguh tak kuduga.

“Ngapain lo ke sini Rei?”
“Pertanyaan lo ada-ada aja Gil. Ya liburan lah. Kalau lo, ngapain disini Gil?”

“Gue emang tinggal disini. Oh iya, sorry bro, pas gue pindah ke Bali ga pake bilang-bilang. Soalnya semuanya serba mendadak.”

“It’s oke lah. Gue sempat dengar kabar dari anak-anak soal perceraian ortu lo. Tapi ga ada satu pun yang tau lo pindah kemana. Eh ternyata, lo tinggal di Bali. Hehhe, coba kalau gue tau, bakal sering gue liburan ke sini.”
“Habis dari sini lo mau kemana Rei?”

“Paling balik ke hotel. Emang kenapa Gil?

“Lo ga buru-buru kan? Gimana kalau sekarang kita ke rumah gue. Rumah gue dekat sini, pas di belakang toko yang itu.”

“Wah..ini benar-benar rezeki yang tak terduga Gil. Gue dah lama ga nyicipin masakan nyokap lo. Ditambah lagi, gue dah lama ga ketemu gadis pujaan gue yang cantik jelita, adik lo, hehhe.”

“Hmm..”

Hanya senyum tipis yang kuberikan atas ucapan Rei barusan. Wajar dia berkata demikian, karena dia tak tahu-menahu dengan apa yang telah menimpa keluargaku. Namun yang jelas, aku sangat gembira dengan pertemuan yang tak terduga ini. Rasanya ingin berbincang lebih lama. Banyak hal yang ingin kutanyakan padanya. Terutama soal Doni, sahabat, yang juga jadi musuhku.

Setengah jam berselang, dalam penantian Ibunda yang belum juga datang. Kita sengaja menunggu Bunda tuk menyiapkan masakan istimewa buat tamu spesial kali ini. Ibunda sudah hapal benar, masakan kesukaan bocah yang satu ini. Ya..Rei paling suka dengan ayam betutu buatan Ibunda. Namun, kini ia harus menunggu.

“Mama, kok lama bangat yah. Padahal tadi gue dah telpon loh. Gue coba telpon sekali lagi.”

“Udah lah, Gil. Paling entar lagi juga datang. Masih ada urusan kali.”

“Gimana kabar Doni, Rei?” ucapku bertanya

“Sebelum gue jawab pertanyaan lo, gue mau nanya sesuatu ama lo Gil. Selama ini gue belum yakin benar soal penyebab permusuhan diantara kalian berdua. Jadi, tolong lo jelasin. Gue pengen dengar langsung dari mulut lo.”

Terhentak kuterdiam. Sungguh aku kebingungan dari mana memulai penjelasan ini.

“Hmm…okeh. Pas ortu gue cerai, Bunga, pacarnya Doni gue jadiin tempat curhat. Dari sejak mereka belum pacaran, kita emang udah dekat. Jadi wajar kalau gue curhat ama dia. Lo pasti heran, kenapa gue ga curhat ama Doni. Hehehe..Doni itu kalau soal begituan banyakan becandanya. Makanya soal perceraian ortu gue, ga langsung gue kasi tau ke dia. Akhirnya gue SMS-an and telpon-telponan ama si Bunga. Ga tau kenapa, tiba-tiba si Doni cemburu. Tiba-tiba si Doni langsung nelpon gue sambil marah-marah ga jelas. Namanya gue lagi banyak masalah, yah…ocehanya gue balas pake emosi juga. Akhirnya perang mulut pun tak dapat dihindari. Besokannya pas gue baru pulang beli tiket dari Bandara Polonia, tanpa sengaja gue papasan di jalan ama dia. Mungkin saking marahnya dia atau gimana, tiba-tiba motor gue langsung diserempet ama Doni. Spontan motor gue langsung goyang, lalu nabrak trotoar. Nih bekas lukanya masih ada. Dua hari setelah kejadian itu, gue langsung pindah ama nyokap ke Bali. Gue pindah bukan karna soal masalah gue ma si Doni. Tapi karna rumahnya dah dijual ma bokap gue. Huh..”

“Kalau yang gue dengar dari anak-anak sih ga begitu Gil. Lo berantem ma Doni gara-gara lo macarin si Bunga. Dan buktinya pun kuat banget, si Bunga yang langsung ngomong kalau dia emang suka ama lo.”
“Mm..mungkin gara-gara itu kali yah, ampe si Doni tega nyerempet motor gue.”

“Lo kok ga ngomong langsung ngejelasin semuanya ama Doni, Gil?”

“Itu dia gobloknya gue. Gue terlalu egois untuk minta maaf pada kesalahan yang ga gue perbuat. Gue ga merasa salah, justru si Doni yang terlalu cemburuan dan emosian”

“Terus sekarang gimana Gil, lo masih kesal ama dia?”

“Ga, Rei. Gue dah lama maafin dia. Gue juga dah lama pingin minta maaf ma dia. Hmm..gue dah coba ratusan kali nelpon ke rumahnya, tapi ga pernah nyambung-nyambung. Bokapnya belom bayar tagihan telpon kali yah, hehhe.”

“Sekitar sebulan setelah lo pindah, mereka juga pindah Gil. Jadi di komplek itu tinggal gue sendiri. Ga ada lo, juga Doni.”

“Pindah kemana?”

“Ke Bandung, Gil.”

“Kok bisa. Gimana ceritanya tuh, Rei?”

“Hmm..sebaiknya kita ganti topik pembicaraan aja deh.”

“Loh..emangnya kenapa?”

“Kurang pas aja waktunya bahas soal itu. Kita bicarain besok-besok aja.”
“Yaelah..parah banget si lo, Rei. Ga mau tau, pokoknya lo harus cerita.”

“Yakin lo?”

“Kayak apaan aja nih. Iya, yakin. Cerita aja kok susah banget seh. Rei..Rei, masih kaku aja lo.”

“Doni meninggal dalam kecelakaan, Gil. Kejadiannya seminggu setelah lo pindah.”

“Hah! Yang benar lo!?”

“Malam itu tiba-tiba Doni datang ke rumah gue. Dia minta ditemanin ke rumahnya si Bunga. Katanya ada hal penting yang mau dia omongin. Sepanjang jalan, dia bercerita soal lo terus, Gil. Dia dah nyari kabar soal lo kemana-mana, tapi hasilnya nihil. Si Doni nyesal banget soal pertengkaran diantara kalian berdua. Mungkin karna terlalu banyak pikiran atau gimana, tiba-tiba dia ga ngeliat kalau ada truk yang nyalip mendadak. Buar..tabrakan pun tak dapat dihindari. Doni tak sempat di bawa kerumah sakit, dia mati ditempat.”

“Bo’ong bagat sih lo, Rei. Lo bilang, lo tabrakan berdua ama dia, tapi gue liat lo baik-baik aja nih. Ga ada goresan bekas luka sedikitpun.”

“Terserah lo mau percaya atau ga. Dua hari sebelum dia meninggal, dia sempat titip pesan ama gue. Dia minta tolong, foto-foto kalian waktu kecil ama mainan ini dikembaliin ke lo. Barang-barangnya ini tolong simpan baik-baik, Gil. Ini permintaan terakhirnya dia.”

“Loh..kok bisa tiba-tiba barang-barang ini ada dalam tas lo, Rei?”

“Itu ga penting, Gilang. Satu hal yang perlu lo tau, lo sahabat terbaiknya dia. Dan dia berharap, lo maafin kesalahan-kesalahannya dia selama ini.”

“Huh..”

Aku masih tak percaya dengan semua ini. Ini nyata atau mimpi?

“Gil, kayaknya gue ga bisa lama-lama nih. Sekarang kayaknya gue mau balik ke hotel aja. Titip salam buat Bunda. Dan perlu lo tau, gue turut prihatin atas semua cobaan yang menimpa keluarga lo, juga soal adik lo. Heheh..kalo lo ke Jakarta, terus ketemu ama adik lo yang cakep itu, tolong sampein salam gue. Oke Bro, waktunya kita berpisah. Next time kita ketemu lagi. Gil, lo teman terbaik yang pernah gue kenal. Thanks for everythink Bro.”

Waktu yang tak pernah kembali, buatku tertimbun dalam sejuta penyesalan. Kini aku berada dalam belahan benua lain, namun bayang mereka masih selalau mengikuti. Pada sahabatku yang telah berlalu. Ada kata maaf yang tak sempat terucap yang kan kubawa hingga aku mati. Bila pun nanti akan bersua, aku tak tahu akan berkata apa. Penyesalan, hanya itu yang tersisa. Sang waktu, mengiringiku dalam penderitaan terpanjang. Sang waktu, yang tak pernah kembali. Sahabatku, maafkan aku.

3 Responses to “Yang Tak Pernah Kembali.”

  1. on 23 Apr 2008 at 16:19try

    setiap kisah pasti ada kenangan , tk ada cerita tanpa penutup
    roti kn berjamur bila trus d biarkan . buat pa kita berjalan
    d jln yg tk sesuai dgn kehndak kita. kita hidup berjalan ke depan penyesalan tk kn hbs lagi……….
    km pasti g mw seumr hidup terbelenggu dalam penyesalan
    jd jalani hari mu dengan sebuah senyuman senyuman terindah yg pernah km berikan pd orng yang pling km sayangi.
    oce ……………………

  2. on 05 May 2008 at 15:42Dark_wing

    Stiap prtmuan pzt ada prpisahan n kbnykn prpshn brakhr dgn air mta.
    Smua itu hrz lah kt jd kan pljrn.
    Bwt pnulisnya yg tbh za y ‘life must go on’.
    N tuk smua org yg blm bsa mengungkapkan maaf k pd org” yg d syg mintalah mav sblum trlmbt.

  3. on 07 Aug 2008 at 10:40LAYLA

    t’kdg qt bru mnyadari klo qt bth ssorg stlh qt berpisah dgn dy,!!!!!!!!!!!
    org srg bgt blg klo qt adlh org yg bdoh, , , py tu lh hdp
    pst ada pnyesalan di dlm nya!!!!!!!!
    sqt sh mrsakan nya,,, py apa mw di qta,,, nasi udh jd bu2r n 9 bs di ubh 6e….
    bwt pnlis lo3 hrs tbh bro….
    gw ykn klo dy qn sllu mynyagi lo3 smpy kpn pun…
    n 1 psn gw LIVE MUST GO ON
    so,,, msh ad hri2 lain yg t’sisa bwt lo3 m’prbaiki smua na!!!!!!!!
    good luck yach’……..!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Komentar