Sebuah Penantian yang Terlupakan
April 23rd, 2008 by Fauzan Masri. Z
Seperti kapal karam, rakit tak berpenghuni, perlahan tapi pasti sesosok tubuh itu didorong ke dalam nyala api. “Teriakanmu tak akan menghentikan tarikan siksa dariku!” kata malaikat itu lantang dan garang.
Diangkat lagi satu nampan catatan Atid. Sembilan belas malaikat itu bertanya, “Ini punya siapa?”
Suasana hening seketika. Sepasang kaki gemetaran, mulutnya tak tahan untuk berucap. Senampan catatan Atid yang penuh dengan ulat, membusuk dan sangat bau.
Tak jauh dari situ seseorang tengah asik bercengkrama dengan malaikat. Percakapan yang sungguh jauh dari kemesraan,
“Kau perempuan yang selalu menyebarkan taikmu sambil berjalan, mengencingi ruang tamuku, mengangkangi tubuhmu di atas gentengku,” ujar malaikat itu dengan raut wajah tak bersahabat.
Kenapa tulang-tulangku memiliki tubuh lagi? Siapa yang telah menghidupkannya?
Begitulah pertanyaan yang muncul dari setiap orang yang terkejut dan mulai tercengang bisa berdiri lagi.
“Yang menghidupkannya adalah yang menciptakannya pertama kali,” jawab para malaikat. Tak jauh beda dengan perempuan tadi dia juga menanyakan hal yang serupa.
Lama kelamaan api-api itu mulai jengah, dan jenuh berdiam diri tanpa dikomando lagi mereka menyerbu sebongkahan tubuh yang sudah jelas asal usulnya.
Menyahut seseorang dari kejauhan, “Aku percaya bahwa nyawa ini hanyalah pinjaman, bukan milikku!” berulang-ulang orang itu berteriak. Ringkas saja malaikat menjawab, “Sudah terlambat!”
Menimpali lagi satu mahluk diantara mereka yang tersiksa,”Sudah terlambat karena pinjamanmu sudah berbunga.” Dan mereka tertawa di dalam kobaran nyala api yang menyakitkan.
Mahluk yang aneh, masih sempat-sempatnya tertawa dalam siksaan.
Sembilan belas malaikat Zabaniyah sedang sibuk membenamkan kepala-kepala yang mencoba muncul dari permukaan api.
Terlihat dari kejauhan tepat di depan pintu gerbang sekumpulan orang-orang berpakaian serba putih sedang berdialog dengan malaikat.
Mereka adalah orang-orang yang pintar dalam berzikir, puasa dan sholat wajib ataupun sunat,
“Kamu malaikat Malik, seharusnya menunjukkan kami arah yang benar agar kami tidak tersesat sampai kesini,” kata salah satu dari mereka yang berpakaian serba putih, kepalanya dibalut sorban.
Menjawab malaikat yang menjaga pintu gerbang itu, “Arah kalian sudah benar kesini!”
Sebuah jawaban yang singkat dan jelas, membuat mereka terkejut, heran bercampur takut.
Masih dalam keheranan mereka, datang salah satu dari sembilan belas malaikat tadi.
“Mari masuk,” ucapannya terdengar begitu syahdu menyayat hati. “Ini ganjaran buat kalian yang angkuh dalam beribadah, sibuk berzikir disaat tetangga-tetangga kalian tertimpa musibah, mengabaikan pertolongan dari setiap orang karena kalian hanya bisa sholat dan hanya itu yang kalian lakukan, melafalkan ayat-ayat yang maha sempurna untuk kepentingan diri sendiri.”
Panjang lebar malaikat itu berceramah di hadapan mereka. Dan mereka masih juga terdiam dalam keheranan, sekali lagi malaikat itu mengulang ucapannya, “Mari masuk!”
“Ampunilah aku, tolong!!!, aku menyesal, sungguh aku sangat menyesal.”
Penyesalan yang begitu sangat meyakinkan dari seorang seniman, semasa hidupnya telah menjadikan ayat-ayat yang maha sempurna seperti ternak yang digembalakan sesuka hati, membantah kebenaran, manampikkan ucapan para ulama dengan perkataan “Ini adalah seni!” Entah aturan dari mana yang mereka lafalkan, risalah apa yang telah mereka tambahkan kedalam catatan yang maha sempurna.
Seniman itu didampingi oleh beberapa perempuan cantik dan sexi, tapi! itu dulu, ketika mereka masih bernaung di bawah langit, sekarang wajah perempuan itu sudah tak jelas bentuknya, jangankan untuk mengundang keindahan yang mereka tampilkan dalam balutan birahi yang tersembunyi, menatapnya saja hanya akan menambah rusak pemandangan yang memang sudah rusak adanya.
“Mau kalian tujukan kemana tangisan penyesalan yang sungguh-sungguh itu? Ayo kesini bergabunglah bersama kami,” ajakan mesra dari salah satu mahluk di antara mereka yang tersiksa.
Beberapa dari perempuan itu menangis dan meraung pilu, “Mana tubuhku yang dulu indah, wajahku yang cantik menyenangkan setiap mata yang memandang?”
Menyahut lantang salah seorang yang dulu semasa di bawah langit mengenal perempuan itu, “Ini semua ulahmu, seandainya saja dulu aku tak melihat tubuhmu mungkin aku tidak akan berada disini.”
“Kenapa dengan tubuhku yang dulu banyak disukai dan dikagumi orang, apanya yang salah?” tanya perempuan itu.
“Kekagumanku padamu ternyata telah mengumandangkan dendangan birahi dalam naluriku, memang aku yang salah membiarkannya berlarut-larut hingga aku tak tahan melampiaskannya dalam perzinaan, tapi yang pasti kamu punya andil…!!!”
“Salah kamu sendiri, tidak ada paksaan untuk melihat tubuhku, ulahmu juga memilih birahi yang salah,” balas perempuan itu tak mau kalah dituding seperti itu.
“Dasar perempuan laknat tak tahu aturan,” orang itu menghujad dan berlalu pergi karena diterjang api.
Nun jauh di ketinggian mengintip beberapa mahluk dengan pandangan haru, penuh sayang dan kasih. Mereka semua berparas sungguh indah elok nan rupawan, tidak ada satu kalimatpun yang dapat mewakili keindahan mereka, baik penampilannya, wajah, ataupun suara, sungguh tidak ada seorangpun yang dapat menandingi keindahan mereka.
Berucap lirih salah satu di antara mereka, “Duhai kekasihku yang malang, semasa di bawah langit aku selalu memperhatikanmu dan mananti kehadiranmu disini, sampai sekarang dan sampai kapanpun aku akan selalu menanti kehadiranmu, segeralah datang kesini agar kita bisa bercengkrama bersama di tempat yang dimuliakan ini.”
Mereka semua berduka dan sedih yang teramat sagat, melihat pasangan mereka yang sudah ditakdirkan semenjak hari kelahiran, hati mereka merintih melihat kekasih yang abadi disiksa di dalam kobaran nyala api.
Terlihat lagi di depan pintu gerbang sekelompok orang sedang melangkah masuk, menuju kobaran nyala api, sejenak sebelumnya orang-orang itu berpapasan dengan malaikat Malik, siapakah sekelompok orang itu?
-SELESAI-
y sungguh menyedihkan, bila satu sama lain tidak bisa menahan diri dalam berbuat maka kita semua akan merasakan akibat yang sama tanpa bisa saling menyalahkan
Hati2 menceritakan ttg ‘alam gaib’. Banyak2lah baca ttg kehidupan setelah mati sbg referensi. Agar tdk menimbulkan persepsi yg keliru. Terus berkarya…
Subhanallah…., sungguh cerita yang penuh hikmah. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi kita untuk ingat bahwa dunia hanya persinggahan dan ada tempat kembali nan abadi yang sering terlupakan …
mankax jangn lpa dunkz, kl qm tua wajar lpa, kl qm msh mda truz lpa brarty qm GUUOOOOBLOK !!!!!!! STUPID
astaghfirullah, Jangan takabur mengomentari cerpen ini…!!! sesungguhnya manusia itu adalah tempatnya salah dan lupa, Seperti disebutkan dalam hadis Nabi Saw: “al-Insaanu mahallul khotho’ wan nisyaan—manusia itu tempatnya kesalahan dan kekhilafan”. kita sebagai khalifah di muka bumi ini nggak usah sok selalu ingat dan tidak pernah lupa, apa lagi sok suci.
Oleh sebab itu jika seseorang berbuat dosa tidak sepenuhnya dianggap mutlak salah.
Allah SWT maha mengetahui perihal makhluk ciptaannya
Allah berfirman dalam Surat az-Zumar [39]: 53 “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
dasar komentator takabur….!!!! yang namanya manusia itu memang tempatnya lupa dan salah! jgn mentang2 masih muda, lagak sok suci, sok sempurna, selalu ingat semuanya
Assalaamu’alaiukum.
Lumayan bagus, teruslah berdakwah, salah satunya melalui media cerpen.
Wassaalam.
oalahhh rek..rek! banyak juga santri yang baca cepen ni ya!? bktinya ada yang ngluarin hadits n Qur’an segala!! Salut buat komentator!!! bravo!! buat penulis, trus brkarya!!!