KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kisah Sepeda Kumbang.

Dia yang dulu pernah bergaya..
Kini tinggal sebatas nama.
Apa boleh dikata..
Siti Nurbaya tinggal cerita.

Wangi sedap malam tercium tinggi menerawang. Sepi tak bertuan menandakan rembulan malam tepat diatas awan. Terlihat sinar kecil, tengah menerjang gelapnya jalan. Suara kecil rantai sepeda menemani teriakan jangkrik yang tengah berpesta. Dia, pemuda yang masih belia. Sungguh terlihat bangga melaju diatasnya. Wajahnya terlihat begitu gembira. Kalahkan sinar rembulan di atas sana. Dengan mulut tersenyum riang, ia kayuh
Sepeda kumbang yang jadi hadiah ulang tahunnya.

“Wuss..”
Sebuah mobil sedan modifan, melesat kencang disampingnya. Namun seperti tak ada yang terjadi, terlihat ia tak peduli. Berselang beberapa menit kemudian. Segerombolan Gang motor sapu debu jalanan dengan gilasan super kencang. Kali ini dia sedkit kaget dengar suara kenalpot. Tanpa makian, dia tetap melaju nikmati malam. Yah, dia benar-benar merasa diatas awan. Penuh bangga, ia kayuh sepedanya. Sepeda pemberian orang tuanya. Sepeda yang turun temurun jadi kebanggaan keluarganya. Yah, ini lah sepeda yang konon katanya punya pelet penggaet wanita.

Seperti biasa, setelah jam pelajaran usai, seragam putih abu-abu bertebaran disepanjang trotoar. Bermacam tingkah yang mereka lakoni. Ada yang berjalan mesra dengan sang pujaan hati, ada juga yang bergerombol bersama teman sejiwa. Ada yang pulang dengan mobil mewah, ada juga yang menunggangi si kuda besi. Namun yang berjalan kaki, bisa dihitung dengan jari. Maklum, sekolah ini banyak dihuni para anak pejabat dan orang terkemuka di kota ini.

Dari kejauhan, terlihat sang sepeda Kumbang keluar perlahan dari pintu gerbang. Seorang diri, ia keluar dengan damai. Tanpa olok-olokan atau tatapan aneh dari orang-orang sekitarnya. Sungguh hal yang luar biasa untuk hari pertama saat si Kumbang turun ke jalan.

Pemuda yang menungganginya, terlihat berpenampilan rapi bersih. Wajah manis dengan rambut klimis. Dialah Azis, putra tunggal juragan batik tulis.

“Oi, Zis. Valentine Rosi kalah tuh ama sepeda lo.”

“Hehehe..yoi, Di.”

Pemuda itu hanya tertawa menanggapi ejekan teman sekelasnya barusan. Sepertinya ia memang tak malu dengan sepeda Kumbang hadiah istimewa dari orang tuanya. Malah sebaliknya, ia begitu terlihat bangga.

“Ini hadiah istimewa yang lo bilang itu?”

“Iya, Di.”

“Zaman udah canggih, Zis. Udah ga gaul, kalo hari gini naik sepeda kumbang. Dari pada naik sepeda kayak gini, mending lo naik sepeda Bmx.”

“Ini sepeda, bukan sembarang sepeda. Ini sepeda warisan turun temurun keluarga.”

“Eh, Zis. Cewek idaman lo tuh.”

Dengan cepat mata pemuda yang bernama Azis langsung melirik ke arah yang dimaksud. Matanya bagai tak berkedip melihat sang bidadari pujaan hati. Rendi yang asik duduk diatas Kawasaki Ninjanya, hanya tertawa melihat tampang aneh si Azis.

“Udah lah, Zis. Jangan diliatin melulu..langsung tembak aja.”

“Gue masih nunggu waktu yang tepat nih, Di.”

“Semua waktu itu tepat, dodol. Lo nya aja yang takut.”

“Belum waktunya, Di.”

“Apanya yang belum waktunya!? Lo udah dua tahun suka ama dia. Masa belum waktunya juga. Sampai kapan..ampe lo tua?”

“Masalahnya dia belum kenal ama gue, Di.”

“Kalo gitu, kenalan lah! Berani ga lo?”

“Okeh.”

“Udah..buruan, sebelum mobilnya jalan.”

Dengan cepat, Azis melesat dengan kecepatan kilat ke arah mobil Mercy berwarna hitam metallic. Tak banyak pikir, dengan PD-nya kaca mobil ia ketuk. Saat kaca itu tebuka, gerimis senyuman ia tebarkan pada si gadis yang tengah duduk manis di dalamnya.

“Ada apa?”
“Ga ada apa-apa. Cuman mau kenalan aja.”

“Hah!? Kenalan?”

“Iya. Kenalan. Ga apa-apa kan kalau aku mau kenalan ama kamu?”

“Boleh-boleh aja.”

Dari kejauhan, terlihat Rendi mengacungkan kedua jari jempolnya ke
arah Azis. Dan Azis spontan tersenyum girang menanggapinya.

“Mm..namaku Azis. Kamu?”

“Julia.”

“Hehe..”

Azis tersenyum bahagia. Ternyata tak sesulit dugaannya. Dia berpikir, kenapa hal ini tidak ia lakukan dari dulu saja. Mungkin sakitnya derita cinta terpendam takkan menggerogoti jiwanya.

Malam ini, Azis tengah duduk di taman belakang rumahnya. Dengan wajah bersinar bahagia, ia tersenyum pada bintang diatas sana. Bagai bunga yang mekar disekelilingnya, cintanya kini tengah bersemi. Tak sabar rasanya ia menunggu pagi. Mencoba dapatkan hati sang bidadari.

“Hmm..benar apa kata kakek. Sepeda ini benar-benar idaman para wanita. Buktinya, Julia mau kenalan. Hmm..”

Azis merasa bahagia dengan sepeda Kumbang miliknya. Sambil mengelus-elus sang sepeda Kumbang, nama Julia pun ia tembangkan dengan penuh cinta. Sang bulan hanya bisa tertawa melihat tingkah anehnya. Dan para bintang, jadikan ia bahan olokan hingga pagi tiba.

“Oi, lagi ngapalin apa Zis?”

“Ganggu aja lo, Di. Gue lagi sibuk nih!”

“Ntar lagi mau ada test yah? Wah gawat..test apa tuh?”

“Akh..ganggu konsentrasi aja nih!”

“Bukannya kenapa-kenapa, Zis. Kalau memang mau ada test, biar gue juga langsung belajar.”
“Dasar gila lo, Di! Ga ada test, gue cuman ngapalin kata-kata yang entar bakal gue bilang ama si Julia.”

“Maksud lo?”

“Goblok bangat sih lo, Di. Entar sepulang sekolah gue mau nembak si Julia.”
“Gila lo. Masa baru kenalan kemarin, lo dah langsung main shoot aja. Sinting lo yah?”

“Bukannya lo pernah bilang ama gue, kalau semua waktu itu tepat. So..?”
“Iya seh..tapi harusnya ada PDKT dulu, Zis.”

“Ga pake PDKT, gue dah PD. Tenang aja. Sepeda Kumbang milik gue, punya pelet dahsyat penggaet wanita.”
“Hahaha…orang goblok mana tuh, yang bilang kayak gitu?”

“Sialan lo, Di. Kakek gue yang bilang gitu. Bapak gue juga bilang kayak gitu.”
“Oke, Zis. Terserah lo deh. Sepulang sekolah kita buktikan kebenarannya.”

Sebelum pelajaran usia, masih ada dua jam mata pelajaran lagi. Pelajaran paling santai bagi semua siswa di kelasnya Azis. Wajar kalau banyak yang suka dengan pelajaran ini. Masalahnya, guru bahasa Indonesia yang satu ini paling suka tidur kalau udah jam terkhir kayak gini. Alhasil, semua siswa berpesta pora, bertindak sesukanya. Dan kali ini, Azis terlihat sibuk dengan teks yang tertulis pada selembar kertas di tangannya. Mulutnya komat-kamit menghapalkan kata-kata yang tertulis pada kertas itu. Itu semua tentang Julia. Kata-kata puitis ungkapan cintanya.

Sesaat khanyalnya terbang melayang. Ia membayangkan dirinya tengah berdua bersama Julia di atas sepeda Kumbangnya. Mereka melintasi jalan taman sambil bercanda diatas sepeda. Saat sepeda Kumbangnya ia pacu, tangan Julia terasa mendekap pinggangnya. Ia tersenyum bahagia. Lalu ia ulangi hal serupa. Namun kali ini ada turunan di depan sana. Julai kini berteriak ketakutan, lalu…..

“Oi, bengong aja lo, Zis. Udah waktunya pulang nih. Katanya mau nembak Julia. Jadi ngak?”
“Hah..udah bel yah?”

Dengan tergesa, mereka berlari mengejar Julia. Dengan sepeda Kumbangnya, ia menghampiri gadis pujaan hatinya.

“Julia mau pulang yah?”
“Iya.”

“Gimana kalo saya anter pulang?”

“Kamu mau anter saya pulang?”

“Iya.”

“Naik apa?”

“Naik sepeda ini?”

“Hah..!? Naik sepeda Kumbang butut ini? Najis gue. sorry yah, jemputan gue dah nunggu tuh.”

Julia berlalu. Dengan lagkah tergesa ia segera menghampiri mobil Mercynya. Dan Azis hanya terdiam terpaku, membisu bagai batu. Lama ia terdiam tanpa suara. Sepertinya ia masih tak percaya dengan apa yang barusan menimpanya. Azis menatap Rendi. Tanpa komentar, Rendi terdiam membisu, walau sebenarnya dalam hati ia ingin tertawa.

“Di, kok bisa yah?”
“Bisa apanya?”

“Dia ga mau gue anter pake sepeda Kumbang ini, Di.”
“Jelaslah dia ga mau. Daripada naik sepeda kumbang lo, mendingan dia naik mobil mewah super nyamannya. Ga kena panas, terus ada AC-nya lagi.”

“Ini kan sepeda istimewa, yang pernah menggaet puluhan wanita.”

“Ini bukan jaman kompeni Belanda, sepeda Kumbang sudah tak berjaya. Pelet Belanda udah kalah dengan pelet Jepang yang bermerk Honda dan Yamaha. Seharusnya lo sadar, ini tahun sudah memasuki millennium kedua.”
“Terus gue harus gimana? Apa perlu besok gue suruh bokap gue beli mobil BMW keluaran terbaru yang harganya ratusan juta? Gue yakin, bokap gue mampu.”

”Kalo lo mau, gara-gara mobil dia suka ama lo, it’s oke. Lakukan saja. Tapi perlu lo ingat, Zis, cinta bukan karna materi. Cinta itu dari hati. Yang jadi pertanyaannya, lo naik sepeda ini karna pelet penggaet wanitanya atau karna lo senang?”
“Gue emang senang naik sepeda ini. Gue lebih senang naik sepeda ini daripada diantar ama sopir gue naik mobil.”
“Ya udah, lakukan saja apa yang kamu suka. Jangan pedulikan apa kata dunia. Masa bodo dengan para wanita. Kesenangan itu di atas segalanya. Camkan itu baik-baik anak muda.”

9 Responses to “Kisah Sepeda Kumbang.”

  1. on 22 Apr 2008 at 20:13Maylan

    Karakternya polos, idenya bikin senyum-senyum, penyampaiannya ringan .. asyik deh bacanya.

  2. on 24 Apr 2008 at 19:19Maura

    bikin qta sadar akan arti kesenangan itu sendiri… tanpa perduli orang mo bilang apa…

  3. on 11 May 2008 at 20:22didi roten

    itu=Cinta.

  4. on 18 May 2008 at 20:54destantia

    kali ni karakternya berkesan polos ya??

    tp gpp, malah crtnya kerasa lbh real n fresh

    great job!!

    congratz yaaaa…^^

  5. on 20 Sep 2008 at 15:53kiko

    bagus bangggggggg

  6. on 05 Nov 2008 at 13:30deenasiregar

    kenapa yah di..cerita kamu tuh gak jauh2 dari cinta seseorang yg gak kesampaian…but its another nice story of urs

    i like it

  7. on 12 Dec 2008 at 15:29lilliperry

    true story lg nih kyknya…

    huahaha

  8. on 23 Dec 2008 at 14:19shila

    inti dr cerita diatas bukan soal cintak tak sampai..tp soal kesenangan di atas segalaya..bhakan wanita sekalipun.

    yg pentig hapy..
    for fun..

    seperti kutipan di bawah ini

    “Gue emang senang naik sepeda ini. Gue lebih senang naik sepeda ini daripada diantar ama sopir gue naik mobil.”
    “Ya udah, lakukan saja apa yang kamu suka. Jangan pedulikan apa kata dunia. Masa bodo dengan para wanita. Kesenangan itu di atas segalanya. Camkan itu baik-baik anak muda.”

    satu wanita tanpa cinta..bisa dibeli dengan sekilo mangga.
    dua wanita tanpa cinta…bisa ditiduri dengan sejuta kebohongan

  9. on 12 Jan 2009 at 17:47sisy

    yaah..pupus lgy d crita’a…..
    xixixi….
    gpp..bgus”…. :D

Tinggalkan Komentar