Namanya Piksi. Di kepalanya ada jambul kecil berwarna kuning keputih-putihan. Badannya yang ramping terlihat indah oleh semaraknya warna bulu yang merah menyala. Pada ujung-ujung sayapnya terdapat sepuhan warna hijau tua. Begitu juga pada ekornya.
Dialah burung nuriku. Sudah tiga tahun lebih dia kupelihara. Dan itu sudah cukup membuatnya pintar untuk diajak berbicara dan bernyanyi. Banyak sekali lagu yang dia kuasai. Ada kira-kira sebelas lagu yang telah Piksi hapal, baik itu lagu dangdut maupun lagu rohani. Walaupun yang dia nyanyikan hampir semuanya hanya pada bagian reffrain-nya saja, tapi itu sudah sangat membuatku senang.
Pagi-pagi sebelum matahari mulai terbit, Piksi sudah mendahului membangunkanku dengan lagu yang aku ajarkan. Untuk lagu yang satu ini, dia benar-benar menyanyikannya utuh, tanpa dia kurangi seperti lagu-lagu lainnya.
Surya pagi t’lah bercah’ya
Hawa dingin segar terasa
Badan sehat senantiasa
Kar’na Tuhan yang mencipta
Jika aku sedang belajar, Piksi selalu menemani. Walaupun dia sering mengoceh tidak karuan, tapi aku suka. Sebab aku jadi tidak begitu jenuh. Hanya saja kalau aku sudah lebih dari dua jam tidak beranjak dari meja belajar, Piksi bakal bikin ulah. Kalau tidak mematuk kupingku, pasti rambutkulah yang jadi korban paruhnya. Ya. Piksi sering bosan kalau harus terlalu lama menungguiku. Dan sambil menjambak-jambak rambutku, burung itu ribut berteriak-teriak, “Jalan-jalan! Jalan-jalan!”
Sering tengah malam aku baru pulang, karena terlalu asyik jalan-jalan bersama Piksi. Ini pula yang membuat Ayah jadi mengomel karena harus menunggu aku pulang. Dan jika melihat Ayah marah, Piksi biasanya bergegas terbang menuju sangkarnya, takut kalau kena marah seperti aku. Pokoknya Piksi ini bisa badung juga.
Tapi hari ini Piksi tidak tampak gembira seperti hari-hari biasanya. Tak terdengar omelan dan gerutuannya bila jatah makannya terlambat aku berikan. Juga tidak terdengar nyanyiannya yang sering kacau dan ngawur. Hari ini terpaksa Piksi menungguiku di tempat tidur sejak seharian tadi. Aku memang lagi tak enak badan. Seluruh tubuhku terasa panas bila dipegang, tapi sebenarnya aku menggigil kedinginan. Selain itu kepalaku juga terasa berputar. Makanya hari ini aku tidak masuk sekolah.
Kasihan Piksi. Dia jadi ikut-ikutan tak mau makan, lantaran tadi melihatku enggan makan. Matanya juga tampak sendu sekali, seolah bukannya aku yang sakit melainkan dia. Iba juga aku melihatnya.
“Sudahlah Pik,” hiburku, “kamu jangan ikut-ikutan lesu seperti burung sakit gitu, dong. Aku sehat, kok. Lihat nih, aku bisa tertawa kan?”
Sejak tadi memang Piksi hanya bertengger saja di rangka tempat tidurku. Tapi begitu melihat aku tertawa, dia segera terbang dan hinggap di perutku yang berselimut tebal.
“Bubur! Bubur!” serunya memekakkan telinga, yang maksudnya memintaku untuk segera makan bubur yang masih utuh di atas meja. Ibu yang ada di ruang tengah ikut memekik agar Piksi tidak usah berteriak-teriak begitu.
“Tidak Pik,” sahutku sambil menggeleng. Kuulurkan tanganku agar Piksi mau mendekat. Tapi dia malah mundur. Jual mahal juga ini burung. “Aku sudah kenyang, kok Pik. Kamu sajalah yang makan duluan. Nanti aku temani.”
Piksi diam saja. Muka sedihnya tampak makin kentara. Ah, Piksi.
“Pik, hari ini badanku memang lagi sakit. Tapi hatiku tidak kok,” aku tersenyum. Sedikit demi sedikit Piksi beringsut mendekat. Jambul di kepalanya yang lunglai kini mulai tegak lagi. Dipatuknya jari tanganku pelan. “Kalau kau tak percaya, akan aku ceritakan sesuatu yang membuatku tak merasa sakit.”
Sambil bercerita, kubelai kepala Piksi dengan lembut. Tumben sekali dia tak banyak komentar seperti biasanya bila aku sedang menceritakan sesuatu. Jika aku ngomong sedikit, komentar Piksi dua dikit. Aku ngomong dua dikit, komentarnya tiga dikit, begitu selalu. Dan Piksi paling senang bila aku bercerita tentang indahnya sorga. Aku bilang bahwa di sana adalah tempat yang paling menyenangkan. Dan Piksi akan menyahut betapa dia dapat makan jagung dan jambu menurut yang dia suka. Kalau akau mengatakan bahwa di sorga orang boleh menyanyi dengan riang, Piksi akan bilang bahwa dia akan menyanyi sambil makan jagung dan jambu kesukaannya. Pokoknya segalanya tak mau dia lepaskan dengan jagung dan jambu. Bila kemudian aku mengusulkan agar dia tak banyak berkomentar tentang ceritaku, dia bakal mengomeliku.
“Anak badung! Anak nakal!” begitu selalu.
“Sudah Pik. Aku sudah selesai bercerita,” aku benahi selimutku yang tadi berantakan karena tadi ditarik-tarik Piksi, “kau boleh main sesukamu di luar.”
“Cerita! Cerita!” pekiknya agak keras, “anak badung!”
“Baik, baik. Heh, jangan kamu patuk-patuk selimutku! Dengar Pik. Aku kepingin tidur, karena kepalaku sakit. Nanti begitu aku bangun, kau boleh dengar cerita lagi. Sana pergi!”
Piksi masih mencoba menarik selimut yang aku tutupkan di kepala. Dasar burung bandel.
“Kamu memang burung nakal,” omelku kesal, “kalau kau tak mau keluar, nyanyikan saja lagu kesukaanku. Sebelum aku tidur kau tak boleh berhenti nyanyi.”
Ternyata Piksi menurut. Dialunkannya lagu kesukaanku yang bunyinya jadi cempreng seperti panci jatuh.
Ketika ‘ku tidur
Ingin ‘ku mimpi tentang sorga
Senang bersama m’laikat
Riang s’panjang saat
* * *
Sedang nyenyak-nyenyaknya tidur, ketika tiba-tiba saja kudengar pekikan ibu di luar.
“Piksi-mu Dit!” seru Ibu.
Mendengar itu aku segera bergegas menghambur ke luar. Pening dan lemah di badan tak aku pedulikan lagi. Padahal rasanya seperti berjalan di dalam kapal yang sedang dilanda badai.
Dan, di depan pintu taman, di genggaman tangan Ibu, kulihat tubuh sahabat baikku itu kaku dan hangus tak berbentuk. Bulu-bulunya yang indah kini tampak acak-acakan.
“Dia tampaknya terbakar karena tadi menerjang kawat listrik itu,” kata Ibu sambil menunjuk kawat listrik di depan rumah. Diulurkannya tangannya pelan-pelan. Aku hanya dapat menerima bangkai burung itu dengan hati yang teramat sedih, tanpa dapat berkata-kata. Betapa sahabat baikku yang sering menemaniku dalam banyak hal, kini terbujur kaku di tanganku. Sementara di kakinya tampak menjuntai bekas benang layang-layang yang terikat, yang barangkali inilah yang penyebab Piksi tersengat listrik.
Aku makin tambah menyesal, karena mula penyebab Piksi menjadi korban adalah aku. Coba kalau tadi tidak kusuruh main di luar, pasti dia masih segar bugar. Barangkali kalau dia tadi kuajak menemaniku tidur siang seperti biasanya, sahabat lucuku itu masih bernyanyi-nyanyi hingga sore ini. Ah Piksi, aku benar-benar kehilangan kamu.
Bangkai burung itu lalu aku kubur di halaman sebelah kamar tidurku. Dengan begitu aku bisa selalu ingat akan pengalaman yang pernah kami alami ketika dia masih hidup. Dan, pagi hariku tak lagi ada yang membangunkanku dengan nyanyian indah itu.
Surya pagi t’lah bercah’ya
Hawa dingin segar terasa
Badan sehat senantiasa
Kar’na Tuhan yang mencipta