KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Gantungan Kunci

Seekor anjing memandangiku dari jarak tak begitu jauh. Ia duduk menatap jalan. Tapi saat aku melangkah menuju ke arahnya, ia mulai terlihat seperti mengawasiku. Pandangannya tak lepas, bahkan kepalanya terlihat memutar begitu aku mulai melintas melewatinya. Seakan ada yang janggal dari diriku. Atau mungkin ia mengenaliku, walau aku tak merasa pernah ‘berkenalan’ dengannya sebelum ini. Tapi biarlah. Aku bukan tipe orang yang suka binatang. Apalagi saat ini aku sedang agak terburu-buru untuk segera tiba di sekolah. SMA-ku berada tak begitu jauh lagi dari jangkauan langkahku. Tapi semenjak pengalaman kecil ini, pikiranku mulai terusik. Karena setelah itu, selama beberapa hari aku selalu mengalami hal yang sama setiap pagi. Yaitu diperhatikan oleh seekor anjing yang menatapku tajam sejak ia melihatku hingga aku hilang di kejauhan. Tak ada yang istimewa dari hal kecil ini. Oleh sebab itu pula aku berusaha untuk menepisnya dari dalam pikiran.

Hingga suatu saat, anjing itu seperti mulai sebal kepadaku. Karena ia bukan hanya memperhatikan, melainkan menghadang langkahku. Ia beranjak dari tempat ia duduk semula, lalu memotong jalanku persis saat aku telah berada beberapa langkah darinya. Bukan tak sengaja. Karena sambil begitu, ia menatapku dengan kilatan di matanya yang nampak tak ramah. Ini merepotkan. Aku tak merasa pernah mengusiknya, tapi mengapa anjing itu bersikap tak bersahabat. Tentu saja aku takut. Karena dari mulutnya ia nampakkan deretan gigi tajamnya. Aku bersiap untuk berbalik arah menghindarinya. Bagaimanapun, ia bukan lawan yang kuharapkan pagi itu. Tapi sebelum aku sempat berbalik, anjing itu telah beranjak dari tempatnya berada. Ia pergi begitu saja. Entah apa maksudnya dengan segala kejutannya itu. Tapi aku sudah kepalang basah. Aku mulai penasaran dengan tingkah binatang itu. Aku ingin tahu, siapa sebenarnya yang berada pada posisi aneh. Aku, atau anjing itu.

Dan untuk menunggu keesokan hari, aku merasa tak akan sabar menanti. Karenanya kuputuskan untuk membolos sekolah saja, dan mengikuti anjing aneh itu. Ia berjalan dengan kepala menunduk. Nampak lesu. Tapi arah langkahnya jelas. Ia menuju ke suatu tempat. Aku belum tahu tempat yang akan dia tuju. Tapi rasa penasaranku semakin menguat semenjak ia menghadang rutinitasku. Aku bertekad untuk mencari tahu, siapa sesungguhnya pemilik anjing itu. Aku hanya menebak bahwa ia sedang menuju jalan pulang ke rumah pemiliknya. Tapi perjalanan yang kuharapkan akan menju ke suatu rumah, ternyata tidaklah demikian. Aku tertegun beberapa saat dan menghentikan langkah. Anjing itu tidak berjalan menuju tempat yang kutebak. Ia berbelok ke suatu tempat yang tak kuharapkan. Sebuah makam!

“Anjing aneh,” gumamku.

Aku mengendap di luar pagar makam. Walaupun pagi hari, tapi suasananya tak begitu menyenangkan. Aku merasakan atmosfer tak nyaman. Sementara di dalam sana, anjing itu terlihat duduk di samping salah satu pusara. Ia membelakangiku, jadi aku merasa bahwa ia tak sadar kalau aku telah membuntutinya. Tapi tidak. Karena kemudian dia menoleh ke arahku.

Walau hanya binatang, tapi aku merasa kikuk juga telah ketahuan mengikutinya diam-diam. Seolah yang kuhadapi adalah seseorang yang tak ingin ia tahu kalau aku membuntuti dirinya. Aku berjalan dengan hati-hati menuju pusara itu. Bagaimanapun juga, di hadapanku adalah binatang yang dapat menjadi buas, apalagi bila terusik. Tapi aku makin penasaran saja. Siapa sesungguhnya yang ada di pusara itu. Diakah tuan dari anjing ini?

Aku mendekat. Tentu saja dengan hati-hati. Aku ingin tahu, siapa nama yang tertera di nisan. Yang aku tahu, gundukan pusara itu terlihat belum lama, karena tanahnya terlihat belum tertutup rerumputan seperti yang lainnya. Ada nama yang tertulis cukup jelas dan rapi, tapi pendek saja. Rara. Lalu di bawahnya adalah tanggal lahir dan wafatnya. Aku menduga dari namanya, pasti perempuan. Ah, ternyata tuan dari anjing aneh itu adalah seorang gadis. Kalau dihitung dari tahun kelahiran dan wafatnya, gadis itu berusia duabelas tahun. Masih belia.

* * *

Hampir dua minggu lamanya sejak aku datang ke makam seorang gadis, tak ada lagi hal baru yang kutemui. Selama itu pula yang kutemui adalah pandangan tak bersahabat seekor anjing, bahkan sekali pernah sampai menggigit ujung celana abu-abuku. Tidak membuat cidera, tapi sempat membuatku kaget.

Siang ini setelah pulang sekolah, aku bertekad untuk ke makam gadis yang –kuyakini– adalah pemilik anjing itu. Pikiranku masih diselimuti tanda tanya. Kenapa anjing yang tak pernah aku kenal itu begitu memusuhiku. Sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali antara anjing yang menyebalkan dengan pusara seorang gadis bernama Rara. Tapi aku berusaha mencari jawab.

Di makam tempat pusara Rara bersemayam tak kulihat anjing itu. Teriknya siang tak begitu terasa karena pepohonan kamboja dan kenanga yang tinggi meneduhi sekitar. Harum bau kenanga yang khas tak sempat aku nikmati. Aku berjongkok di samping nisan Rara. Gadis kecil, gumamku. Aku sama sekali tak mengenalnya. Pasti ia gadis cantik. Kenapa kini terbaring di sini, aku jelas tak tahu. Tapi dia telah berpulang sejak dua bulan lalu. Di nisan tertulis bulan Mei, saat berpulangnya. Aku amati sekitar pusara Rara. Tak ada yang aneh. Bahkan membuatku tambah bingung. Ah, biarlah. Mudah-mudahan Rara senang dengan kedatanganku ini. Semoga pula ia tenang di sisiNya.

“Rara, aku pulang dulu,” bisikku, “senang bisa kenal kamu.”

Aku bangkit dari jongkok. Kuraih tas ransel yang tadi terletak di tanah lalu kutaruh di punggung.

“Dah Rara,” gumamku sambil berbalik untuk melangkah pulang.

Tapi sebelum sempat melangkah, aku dibuat tertegun. Karena di depanku kini telah berdiri seorang gadis yang berada beberapa langkah dari tempatku tadi berjongkok. Dia mengenakan seragam putih abu-abu. Rambutnya hitam sepunggung tapi dibiarkan terurai tanpa diikat. Di tangan kanannya dia bawa bunga.

“Kamu siapa?” tanya gadis itu padaku. Matanya memicing penuh selidik. “Kenapa kamu ada di makam adikku?”

Aku mendekat.

“Aku minta maaf atas kelancanganku ini,” kataku. “Namaku Widi. Boleh aku tahu nama kamu?”

Kuulurkan tangan untuk menjabat tangannya. Tapi gadis itu tidak menanggapinya. Ia tetap diam menunggu kujawab pertanyaan keduanya. Kini ia melangkah menuju pusara Rara yang ada di belakangku. Dia membungkuk untuk meletakkan seikat bunga yang tadi ada di tangannya ke tengah gundukan pusara itu. Ditepisnya beberapa batu kecil yang dirasanya mengganggu. Lalu ia berjongkok dengan kedua lututnya menyentuh tanah.

“Kayaknya aku belum pernah mengenalmu,” ujarnya. Nada suaranya pelan seperti bicara pada diri sendiri, walaupun itu ditujukan untukku. Lalu dia menoleh. “Kamu mengenal adikku?”

Aku menggeleng. Kuhampiri gadis yang belum mau mengenalkan diri itu dan ikut berjongkok di sisi kirinya. Tas ransel yang tadi ada di punggung kulepas dan kutaruh di tanah.

“Aku hanya tahu nama adik kamu dari itu,” ujarku sambil menunjuk ke nisan. “Aku yakin, dari namanya dia pasti adik yang cantik.”

Dia menolehku sambil mengangguk, lalu sedikit tersenyum. Kini kulihat dia tampak lebih cantik dari saat terlihat pertama kali tadi. Pandangan matanya juga lebih bersahabat dari sebelumnya.

“Dia adikku satu-satunya,” sahutnya. Matanya terlihat berbinar. “Dia memang cantik sekali.” Tapi sesaat kemudian wajahnya nampak sendu. Dielusnya nisan Rara, seolah itu kepala adiknya.

“Dia ‘pergi’ begitu saja saat aku dalam perjalanan dari pulang sekolah ke rumah sakit.” Di pipinya kulihat ada butiran air mata turun ke bawah. Tapi buru-buru diusapnya. “Dia sakit tapi tak pernah dia tunjukkan kepada siapapun.”

“Ah, sori,” sahutnya lagi. Dibiarkannya aku meraih tangannya untuk sekedar menenangkan emosinya. “Aku tak bermaksud menceritakan ini sama kamu. Tapi thank you ya Wid, kamu mengunjungi makam adikku walaupun aku belum tahu alasannya. Namaku Winda.”

Gadis yang ternyata bernama Winda itu bangkit. Dia berdiri sambil kedua tangannya bertaut di depan. Aku ikut bangkit sambil tak sengaja menoleh ke belakang. Sungguh kaget, karena ternyata tak jauh dari tempatku berada, kulihat anjing aneh itu sedang duduk memperhatikan. Entah kapan datangnya, tapi dia tak bersuara sedikitpun. Kusentuh tangan Winda sebagai isyarat akan datangnya anjing itu.

“Ah, kamu datang Tim,” kata Winda. Dia menolehku. “Dia Tim, kesayangan Rara.” Dihampirinya anjing yang terlihat murung itu. Tapi Tim cuek saja. Dia seperti biasa, memandangku dengan sorot mata tak suka. Ah, barangkali itu hanya perasaanku yang enggak-enggak. Tapi aku merasa bahwa anjing itu sungguh-sungguh tak suka padaku. Mestinya dia harus merasa beruntung memiliki tuan yang cantik-cantik.

“Karena Tim inilah maka aku mengenal Rara dan kamu,” ujarku pada Winda. Aku tetap tak bergeming dari tempatku berdiri, kuatir kalau tiba-tiba anjing itu mencelakaiku. Bagaimanapun aku harus berjaga diri dari binatang yang tak mau bersahabat, setidaknya pada saat ini. Aku ceritakan secara singkat bagaimana awalnya Tim sudah memperlihatkan sikap tak bersahabat, padahal aku belum pernah mengenal ataupun mengganggunya.

Winda menyimak penjelasanku dengan seksama. Tapi dia yang sebelumnya ada di sisi Tim, kini melangkah ke arahku. Matanya tertuju ke bawah. Ya, dia berjalan ke arahku, namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Yaitu tas ransel yang masih kutenteng di tangan kananku.

“Aku kenal benda itu walaupun enggak yakin,” ujarnya sambil meraih sesuatu yang ada di tas ranselku. Dipegangnya benda itu. Ah, gantungan kunci. “Kamu dapat dari mana Wid, gantungan kunci ini?”

Winda berusaha melepas benda mungil itu dengan hati-hati dari ranselku. Aku ikut membantu menariknya. Benda yang berujud bola mungil dari anyaman sedotan plastik itu memang kutemukan beberapa bulan lalu di pinggir jalan saat aku pulang sekolah. Sebelumnya sempat kutendang-tendang karena ujudnya memang seperti bola berwarna oranye. Tapi segera kupungut begitu kulihat sesuatu yang unik darinya. Ada anyaman inisial huruf T dari sedotan pula, namun warnanya kuning.

“Aku yakin ini punya Rara,” sahutnya lagi. “Rara membuatnya khusus untuk Tim, bertepatan dengan hari ulang tahun adikku sebulan sebelum ia ‘pergi’.” Winda menceritakan bagaimana adiknya begitu akrab dengan Tim.

“Iya Win, itu memang bukan punyaku,” kataku. “Aku menemukannya di pinggir jalan saat berangkat sekolah.”

Oleh Winda, bola mungil yang terbuat dari sedotan plastik itu diikatkan pada kalung yang melingkar di leher Tim. Anjing itu nampak antusias. Air mukanya berubah ceria.

“Tim senang dengan pemberian Rara waktu itu,” ujar Winda. Aku lihat bahwa gadis itu juga nampak senang. “Walaupun bola ini tak dapat dilihatnya karena tergantung di leher, tapi aku yakin ia dapat merasakan ada enggaknya benda ini. Maaf ya Wid, mungkin bola itu terjatuh tak sengaja. Dan Tim tahu bahwa akhirnya bola itu tergantung di tas sekolah kamu.”

Kuberikan isyarat untuk sambil berjalan keluar dari makam itu.

“Tim memang sedih karena kehilangan pemberian dari Rara,” Winda melanjutkan. “Sebulan ini sikapnya aneh dan murung. Waktu ada Rara, mereka berdua ramai sekali. Ah, sudahlah. Kini dia sudah bahagia. Trim’s ya Wid, atas kebaikan kamu ini.”

“Ah, jangan begitu,” tukasku merendah. “Aku menemukan juga tanpa sengaja. Tapi cerita baiknya, aku bisa berkenalan sama kamu. Trim’s juga ya Win, seandainya kamu mau jadi sahabatku.”

Sambil mengangguk, gadis itu tersenyum. Manis sekali. Tim juga menampakkan senyumnya. Ia sudah tak semurung tadi. Dari sorot matanya, aku merasakan bahwa ia berusaha menyatakan terimakasihnya.

Sebha-Libya; 26 Januari 2008

One Response to “Gantungan Kunci”

  1. on 24 Apr 2008 at 02:39pembaca

    Gw suka gaya berceritanya, temanya juga. Cuman kok bacanya kayaknya kurang puas…

Tinggalkan Komentar