KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Belum Ada Judul

Aku melangkah dengan pasti menuju ruang lab bahasa. Sementara di luar sana anak-anak terus mengelu-elukan namaku. Tak berapa lama kemudian para pengawas yang terdiri dari guru dan panitia kompetisi memasuki ruang lab. Lalu membagikan beberapa lembaran kosong. Yap! Hari ini aku kembali mengikuti kompetisi mengarang. Bedanya, kali ini hanya kompetisi antar kelas.

Namaku Vazalinna, jagoan mengarang dari Jakarta. Namaku sudah melanglang buana sampai ke Eropa. Sudah dua kali aku memenangkan kompetisi mengarang tingkat internasional. Beberapa kali pula artikel ataupun esaiku mampir ke majalah-majalah ataupun koran-koran nasional. Otakku penuh dengan inspirasi, tanganku sangat terampil dalam menulis. Aku sangat bersyukur dikaruniai kedua kelebihanku ini. Walau kuakui aku memang tidak termasuk ke dalam golongan anak-anak jenius.

Anak-anak di luar masih saja berteriak-teriak heboh. Membuatku sedikit terganggu. Tampaknya Bu Simorangkir dapat membaca ketidaknyamananku. Aku hanya tersenyum saat Bu Simorangkir mengusir mereka. Kulihat sekelilingku, beberapa anak tampak sedang berpikir. Sebagian dari mereka sudah mulai sibuk menulis. Kebetulan tema tulisan kali ini bebas. Aku pun mulai berpikir tema apa yang akan kutulis.

Namun, entah kenapa tiba-tiba rasa penat menghinggapi kepalaku. Aku jadi malas menuangkan cerita-ceritaku ke lembaran kertas ini. Terus kucoba memikirkan tema yang cocok kali ini. Tentang cerita remaja? Ah basi! Sudah terlalu banyak cerita seperti itu. Kalau masalah keluarga? Terlalu psikologis. Ekonomi, sosial, politik? Tentang negara mana? Indonesia? Kayaknya aku nggak tega menulis tentang ketiga hal tersebut. Apalagi faktanya, sungguh ironis keadaan Indonesia saat ini. Ekonomi negara yang kian morat-marit. Kondisi sosial yang semakin hari semakin menambah kemiskinan. Politiknya pun kayaknya pantas mendapat nilai merah. Nggak tahu deh, mau kemana nih negara?

“Hampir tiga puluh menit!” ujar Bu Simorangkir.

Aku buru-buru tersadar dari lamunanku. Ya ampun kok aku jadi ngomongin negara sendiri sih? Ntar dikira politikus lagi.

Kutatap lembaran kertas kuarto yang sedari tadi hanya kupegang saja. Kulirik jam di pergelangan kiriku. Masih sisa waktu satu jam lagi. Hmm… ampun deh otakku kok jadi mentok gini ya? Aku benar-benar merasa tak punya ide sedikitpun. Kalau kayak gini terus, boro-boro menang. Yang ada aku cuma numpang bengong doang disini.

Aku jadi teringat pada kompetisi mengarang internasional tiga tahun lalu. Itulah pertama kalinya aku mengikuti kompetisi tingkat internasional sekaligus mengalahkan juara bertahan dari Russia. Tapi yang membuatku heran, rivalku itu tidak terlihat kecewa apalagi sedih. Bahkan ia tersenyum lega saat namaku dipanggil sebagai pemenang.

Penuh rasa penasaran kuberanikan diri bertanya padanya. Lucunya dia menjawab kalau dia tidak peduli apakah dia akan menang atau tidak. Yang ada di pikirannya, dia hanya ingin orang menghargai karya tulisnya. Kalaupun saat itu dia menang mungkin hanya suatu kebetulan. Dia tidak begitu pusing bila suatu saat dia kalah. Karena baginya hidup bukan soal kalah ataupun menang. Tapi bagaimana cara kita menghadapi kenyataan. Aku hanya bengong saat mendengar jawabannya itu. Kok bisa ya dia berkata bijak seperti itu? Padahal dia hanya setahun lebih tua dariku. Tapi seolah sudah hidup sejak berabad-abad yang lalu.

Kupikir jawabannya memang cukup realistis. Sayangnya aku tidak pernah bisa menerima kekalahan. Dan apakah kekalahan itu akan menimpaku sekarang? Seorang penulis berbakat dunia kalah di kompetisi mengarang di sekolahnya. Apa kata dunia nanti???

“Masih ada waktu lima belas menit lagi. Siap-siap waktu tinggal sedikit lagi,” kembali Bu Simorangkir mengingatkan.

Aku mencubit-cubit daguku. Mungkin benar kalau ada yang bilang menulis itu tidak bisa dipaksakan. Penulis yang baik bukan hanya menggunakan otaknya untuk mencari ide tapi juga perasaan. Aku terpekur, otakku terus berpikir tapi ahh…, kepalaku malah makin pusing. Jarum jam terus berputar. Waktu tinggal lima menit lagi. Aku semakin gelisah. Memang, aku belum pernah kalah di kompetisi mengarang manapun. Ah sudahlah! Kalau memang tidak ada inspirasi apa yang mau ditulis coba?

Sepertinya penulis Russia itu benar. Hidup itu bukan soal menang atau kalah tapi bagaimana cara kita menghadapi kenyataan. Kenyataan kali ini, tampaknya aku tidak akan mendapat pujian apalagi hadiah dari dewan juri. Karena saat ini aku memang tidak layak disebut pemenang.

Aku pasrah menunggu detik-detik terakhir. Kompetisi kali ini bukan giliranku. Kertasku tergeletak pasrah sama sepertiku. Masih bersih pula. Bahkan sangat bersih tanpa ada noda sedikit pun. Aku tak peduli apa kata dewan juri bila melihat hasil kerjaku. Aku pun tak peduli dengan komentar para pendukungku nanti. Yang pasti mereka akan kecewa. Tapi apa boleh buat? Pikiranku benar-benar kosong kali ini. Yah.. saat ini aku memang tidak mampu membuat karya yang patut dihargai. Mungkin suatu saat aku dapat menebusnya.

“Yak! Waktu habis anak-anak. Kumpulkan hasil kerja kalian!” gelegar suara Bu Simorangkir.

Aku tak terkejut apalagi kaget. Aku akan lebih kaget bila mendengar suara petir di tengah hari panas siang bolong. He.. he.. he..

Aku menarik nafas panjang. Kertasku memang masih bersih. Aku berpikir sejenak, kertas ini memang bersih tapi tidak akan benar-benar bersih. Sepuluh detik kemudian dengan santai aku mengumpulkan hasil kerja `rodi`ku.

Seperti waktu masuk tadi. Aku pun keluar dengan langkah pasti. Aku bahkan merasa kakiku lebih ringan dari biasanya. Beban dikepalaku tampaknya sudah berkurang. Melihat aku keluar, anak-anak langsung mengerubungiku.

“Wahh.. Val The Winner is back!”

“Val, ceritanya gimana seru nggak?”

“Iya, judulnya apaan, Val?!”

Anak-anak memberondongku dengan bermacam-macam pertanyaan. Mereka tidak tahu apa yang berkecamuk dibenakku tadi. Sorry teman-teman kali ini nggak ada cerita yang bisa kutulis.

“Apa ya? Hmm… gue pikir Belum Ada Judul,” jawabku pendek tapi pasti.

“Kok kayak judul lagunya Iwan Fals ya?” celetuk salah satu dari mereka.

Aku hanya tersenyum simpul. Memang belum ada judul toh?

Tinggalkan Komentar