“Saya Bukan Pemalas, Bu”
April 20th, 2008 by santi tileSTian
Siang ini tak seperti hari-hari kemarin. Cuaca mendung telah menggantung di langit. Panas luruh telah menyelinap dibalik awan-awan hitam yang menggerombol berdesak-desakan. Jalananpun tampak sepi. Orang-orang lebih memilih berteduh daripada menantang gerimis yang sebentar lagi mengguyur tanpa ampun. Di sudut jalan perkampungan itu tampak sebuah rumah kecil berdinding tembok yang catnya telah mengelupas. Di depannya sebuah emper kecil dengan kursi rotan berwarna coklat usang dan berdebu. Rumah itu kelihatan tua dan diteduhi oleh sebuah pohon kelapa tua yang telah coklat blaraknya. Di samping kiri dan kanannya rumah-rumah tetangga tertata tak beraturan. Ada yang terlalu menjorok ke depan hingga menyentuh tepi jalan. Ada yang terlalu ke dalam hingga tanah lapang di depannya jadi halaman.
Sudah hampir setengah jam Wuri duduk di emper rumah dengan gelisah. Kursi rotan berdenyit-denyit mengikuti gerak kakinya yang mengayun pelan. Tidak biasanya Laras, adiknya pulang terlambat sesore ini. Wuri beranjak dari duduknya dan menatap jauh ke jalan kalau-kalau adiknya sudah tampak. Air hujan itu menghalangi pandangannya, samar-samar tak seorang pun berjalan di sepanjang jalan itu.
“Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Laras’ katanya pelan. Hujan tak kunjung reda, suara petir masih tersedak-sedak mengagetkan jantungnya. Hati Wuri semakin gelisah, ia berjalan mondar-mandir dan sebentar-sebentar ia kembali dudk di kursi rotan berdenyit itu. Lima belas menit pun berlalu, Wuri bertekad menyusuri jalan yang biasa Laras lewati setiap hari. Di ujung jalan, tepatnya di depan pasar Turi, Wuri melihat Laras ikut segerombolan pengamen kecil yang sedang bernyanyi di depan salah satu toko kelontong di pasar itu.
“Dik Laras? Sedang apa di sini? Ayo pulang!” Wuri menarik lengan Laras secara paksa. Laras berusaha untuk melepaskan tapi sia-sia.
“Mbak Wuri, Laras hanya ikut nyanyi.”
“Ayo pulang!” kata Wuri tegas dan Laras menunduk sedih. Sepanjang perjalanan Wuri hanya diam sambil terus memegang lengan Laras kuat-kuat. Bocah kecil itu menangis tanpa berani berkata apa-apa.
***
“Aku hanya ikut nyanyi, mbak Wuri” suara Laras terdengar serak dan terisak-isak. Kedua tangannya disembunyikan di sela-sela pahanya. Wajahnya tertunduk, ketakutan, dan badannya tampak kedinginan.
“Kalau hanya nyanyi kenapa mesti ikut mereka dan sampai sesore ini? Nyanyi dengan mbak Wuri kan bisa?” Laras masih menunduk dengan mempermainkan jari-jemarinya yang ia sembunyikan di bawah pahanya.
“Dik Laras tidak boleh seperti itu lagi!” Wuri kasihan melihat laras yang ketakutan padanya. Ingin rasanya Wuri memarahi tapi tak tega. Dipeluknya Laras dan diciuminya pipi Laras.
“Sekarang dik Laras makan dulu ya!” Laras hanya mengangguk dan Wuri melepaskan pelukannya. Diamatinya Laras yang hendak menuju ke meja makan. Langkahnya berat dan rambutnya tampak bergerak ke kiri dan ke kanan.
“Ada PR tadi dari Bu Guru?” Wuri bertanya dengan tiba-tiba. Laras membalikan badan dengan muka yang khawatir dan bingung. Ditatapnya Wuri dengan takut.
“Ada. Sedikit,” jawab Laras lirih.
Meja kecil yang terletak di dekat almari tua itu tampak lengang. Hanya ada dua bungkus nasi dan beberapa belimbing kecil sisa kemarin. Di samping belimbing-belimbing itu ada sebuah botol berisi air putih yang tak penuh. Laras menghampiri meja kecil itu dan tanpa sengaja kakinya tersandung lumpang, alat penumbuk jamu. Ditatapnya lumpang itu dengan seksama. Lumpang itu masih bersih, tak ada sisa-sisa tumbukan jamu yang biasanya masih menghiasi dinding-dinding lumpang itu.
“Mbak Wuri tadi tidak jualan ya?” Tanya Laras dengan tanpa beranjak dari tempat itu. Matanya mentatap tajam Wuri dan Wuri menjadi heran dengan sikap Laras yang tampak aneh.
“Tidak, dik Laras. Mbak Wuri tadi membantu tetangga mencucikan baju, kan lumayan bisa untuk beli nasi bungkus. Jualan jamunya besok saja.”
Mendengar ucapan Wuri, Laras hanya terdiam dan menatap meja kecil itu dengan menggigit bibir. Wuri memang berjualan jamu gendhong setiap hari sejak orang tua mereka menjadi korban kecelakaan kereta api saat pergi ke Surabaya. Tak ada ganti rugi apapun yang Laras dan Wuri terima saat itu, kecuali kehilangan orang yang dikasihi dan harus hidup mandiri yang dijalani seperti saat ini.
Ruang berukuran 7×6 meter dengan 15 bangku dan 30 murid itu tampak sangat tenang. Seorang wanita bertubuh tambun berambut pendek berjalan dari satu bangku ke bangku yang lainnya. Di atas setiap meja terdapat buku dalam posisi terbuka. Wanita itu mengamati setiap buku dengan seksama.
“Laras, mana PRnya? Coba ibu lihat!” Bu Wiwik mengambil buku laras yang sudah lusuh itu. Bu Wiwik mengeryitkan dahi sambil membolak-balik halaman demi halaman.
‘Lho mana PRnya? Belum mengerjakan ya?” Laras mengangguk perlahan-lahan tanpa menatap wajah gurunya.
‘Tulis ulang 10 kali besok pagi perlihatkan pada Ibu!” perintah Bu Wiwik tegas dan Laras kembali mengangguk pasrah. Diamatinya teman-teman di kanan kirinya. Semuanya mengerjakan. Semuanya tenang. Semuanya terbebas menulis ulang 10 kali. Semuanya bisa tertawa bangga. Semuanya mendapatkan kebahagiaannya.
Laras masih terdiam tatkala seluruh temannya sedang bermain, ada yang jajan di kantin, minum es, makan chiki, kejar-kejaran. Laras hanya terdiam di tempat duduknya….10 kali…10 kali….10 kali.
“Laras, ayo keluar!” teriak Arya, teman sekelas Laras. Arya kadangkala juga memboncengkan Laras saat pulang sekolah. Walau masih kelas 2 SD tapi rasa rendah hati Arya cukup baik. Laras hanya mengangguk menerima tawaran Arya. Ketika hendak berdiri, Laras kembali terduduk dan menenggelamkan kepala di kedua tangannya yang bertumpu di meja.
“Laras!” Arya mendekati Laras dan duduk di sampingnya. Laras mengangkat muka dan tersenyum pahit.
“10 kali,” kata Laras lirih.
“Kamu tidak mengerjakan PR ya? Kamu gimana sih! Bu Wiwik itu galak makanya kamu disuruh ulang 10 kali,” jelas Arya sambil berdiri dan keluar kelas. Laras hanya terdiam….
***
Lampu kecil yang tergantung tepat di tengah-tengah atap itu tampak bergoyang. Gerimis membuat udara dingin semakin menjadi. Wuri duduk di tikar sembari menghitung uang receh hasil jualan jamu gendhong siang tadi. Kakinya tampak letih dengan dua koyok salonpas yang tertempel di kedua lututnya. Laras sedang mengamati Wuri dari kejauhan. Tangannya memegang pensil dan dagunya bersandar di atas buku tulisnya. Jari-jemarinya sangat lihai memainkan pensil yang dipegangngya. Sorot matanya menatap ke arah Wuri dengan tanpa berkedip, mencoba mengeja apa yang dirasakan mbaknya. Cahaya lampu kecil di rumah itu makin membuat suasana bertambah tak menentu. Wajah Laras tersapu cahaya lampu yang bergerak-gerak dan di ujung yang lain tampak Wuri sedang mengadu untung rugi.
“Mbak Wuri?” panggil Laras pelan. Wuri masih menghitung uang receh dengan mulut komat-kamit.
“Mbak Wuri?” untuk kedua kalinya Laras memanggil tapi tetap saja sama, tak ada jawaban. Wuri masih tak mendengar tapi kali ini Wuri hampir selesai menghitung untung rugi jualannya. Laras bangkit berdiri dan meletakkan pensil di atas bukunya. Langkah kaki Laras semakin mendekati Wuri. Satu langkah…dua langkah…tiga langkah…
“Seribu…dua ribu… tiga ribu…” Wuri menghitung kembali recehan yang telah ditumpuknya. Laras menghentikan langkah dengan tiba-tiba. Raut mukanya berubah pucat. Kakinya menjadi lemas untuk melanjutkan langkahnya.
“Tiga ribu untuk bayar hutang mbok Minah. Lima ribu untuk beli bahan jamu dan hutang tempo hari. Sisa tiga ribu untuk beli nasi bungkus. Ya ampun!! Hutang mas Sukri belum bisa dibayar lagi” Wuri mengusap dahi dengan tangan kanannya yang masih memegang uang. Raut mukanya sangat bingung. Wuri memungut recehan-recehan itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Tiba-tiba Wuri menghentikan kegiatannya. Didapatinya Laras berdiri termangu di situ. Menatap Wuri tanpa berkedip.
“Lho dik Laras ada apa? Sudah belajar?” Laras mengangguk terpaksa.
“Ada PR dari Bu Guru? Sudah dikerjakan?”
“Ada sedikit” jawab Laras dengan berlari menuju ke tempat ia belajar tadi. Tanpa curiga Wuri terus melanjutkan pekerjaannya. Laras tertunduk kembali dan tidur dengan meletakkan pipi kanannya di atas buku.
***
Tiga hari Bu Wiwik ternyata tidak mengajar di sekolah. Hari pertama ada tugas membuat puisi. Hari kedua ada tugas membuat paragraph tentang kelautan. Hari ketiga ada tugas menjawab 5 pertanyaan tertulis dari catatan Bu Wiwik. Tiga hari itu adalah hari membahagiakan dan kebebasan bagi Laras. Tidak ada tugas yang diminta oleh Bu Wiwik. Laras merasa tenang karena bebas dari kemarahan Bu Wiwik.
Keesokan harinya, Laras memasuki kelas dengan takut. Dalam hatinya ia berdoa semoga Bu Wiwik tidak mengajar lagi. Tak berapa lama, Bu Wiwik masuk kelas dengan membawa buku-buku dektat yang masih baru. Satu persatu diangkatnya dengan penjelasan yang mengisyaratkan agar setiap murid wajib memilikinya. Buku-buku terlihat menarik, ekslusif, dan yang jelas pasti mahal harganya. Hati Laras tidak tenang, raut mukanya tampak ketakutan. Selang beberapa menit, Bu Wiwik memanggil satu persatu muridnya untuk mengecek tugas rumah. Suara keras Bu Wiwik makin membuat Laras bergidik. Sedikit demi sedikit temannya sudah terpanggil.
“Laras” panggil Bu Wiwik keras. Laras maju ke depan kelas dengan raut muka ketakutan. Kalau saja ada mbak Wuri, Laras pasti akan dipeluknya. Mbak Wuri tak pernah membiarkan Laras takut dan sedih. Tapi saat ini tidak ada mbak Wuri, Laras hanya sendiri…sendiri…
“Mana PRnya?” tanya Bu Wiwik. Laras dengan gugup membolak-balik halaman bukunya secara perlahan-lahan meskipun ia tahu tak ada PRnya di situ.
“Mana, Laras?”
“Mana PR tentang puisi, paragraph kelautan, pertanyaan-pertanyaan Ibu, dan mana PR yang mengulangi 10 kali?” tanya Bu Wiwik dengan ketus. Laras makin ketakutan, ia melihat mendung di wajah Bu Wiwik. Laras menangis terisak-isak.
“Laras kasihan mbak Wuri, Bu! Buku laras sudah habis. Mbak Wuri tidak punya uang. Kasihan mbak Wuri.” Suara Laras semakin serak dan tak jelas. Tangisnya pecah, matanya berkaca-kaca, wajahnya tertunduk tak mampu lagi menatap Bu Wiwik.
“Laras, kamu jangan beralasan ya! Kamu pemalas tak pernah mengerjakan PR!” kata Bu Wiwik membantah
“Laras bukan pemalas,Bu. Sungguh!”
Tiba-tiba seorang gadis muda dengan baju lusuh bermotif kembang-kembang dan selendang biru tua terlampir di pundak datang mengetuk pintu. Ia berdiri di luar kelas dengan membawa segulung kertas yang tak begitu besar.
“Mbak Wuri” Laras memanggil dengan berlari menghampiri dan terisak-isak. Wuri menyerahkan gulungan itu pada Bu Wiwik. Dibukanya gulungan itu dan ternyata hanyalah sebuah kalender tahun lalu. Diamat-amatinya dan ternyata di sebalik kalender itu Laras menuliskan seluruh PRnya. Tak lama kemudian, Bu Wiwik tersenyum dan memeluk Laras dengan haru.
“Saya bukan pemalas, Bu,” kata Laras lirih.
***
Siang itu adalah hari paling membahagiakan bagi Laras. Laras menemani Wuri berjualan jamu sehabis pulang sekolah. Lewati kampung-kampung dan pasar dengan terikan khas “Jamu…jamu”
“Mbak Wuri kok tahu laras membuat PR di kertas kalender?” tanya Laras sambil menengadah ke arah Wuri.
“Kemarin malam pas dik Laras ketiduran di atas meja belajar, mbak Wuri membaca kalender itu. Terus mbak Wuri membopong dik Laras ke tempat tidur.”
“Lagian tadi dik Laras juga lupa tidak membawanya kan?”
“Terima kasih ya, mbak Wuri!”
“Iya, dik Laras juga adik yang baik.”
“Dan bukan pemalas…haha,” gelak tawa Laras kembali terdengar di telinga Wuri dan itulah kebahagiaan mereka.
14’ 11’ 07
Cerpen yang menegangkan. Alur ceritanya bagus, tpi kok terlalu pendek. Air mataku aja gak jadi turun karena ceritanya keburu abis…
kerennnnnnnnnnnn……..
aq mw ambil ni cerpen bwt tgs b.ind aq…
blh ya???
thanx
istimewaaaaa…..!
aku jg mw ambil ni cerpen buat tgs b.ind aq….
sama dong ama agung!!
thanks ya!!!!
keren!!
sederhana tapi menggetarkan hati..
ku suka banget cerita yang tokoh utamanya anak-anak gini. Karena gak semua cerita tentang anak-anak adalah cerita kekanakan. Ya kan??
Two thumbs up!
thumbs up !!
nice…..
Keren, bener toeh kata agunk ‘n afina ray…
tapi sayang ceritanya kedikitan. Hehehe….
Benar kata orang orang yg komentar, kedikitan… ditambahin lagi. Btw alurnya udah kelihatan baik dan detail dlm penggambaran suasana… kisah nyata kayaknya…