Ibu Guru Hasnah
April 15th, 2008 by dedeawan
Dengan langkah mantap ibu guru Hasnah menyusuri jalan setapak menuju sekolah tempatnya mengabdikan diri. Mendidik putra putri generasi penerus bangsa. Dengan peluh yang membasahi keningnya, senyum ramahnya tetap menghias menghampiri anak didiknya yang berhamburan mengerumuni untuk menyalami tangan keriputnya. Hilang sudah rasa lelahnya melihat kelucuan dan keluguan mereka. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru karena merasa dirindu, dinanti, dan dibutuhkan.
Anak-anak sekolah itupun kemudian berbaris rapi di depan kelas seperti biasanya, sebelum memasuki kelas untuk memulai pelajaran. Dengan suara lantang, seorang siswa menyiapkan barisan. Satu persatu mereka memasuki kelas sementara ibu guru Hasnah memperhatikan kerapihan berpakaian dan memeriksa kebersihan kuku mereka.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” ibu guru Hasnah memberi salam
“Wa’alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!” suara mereka bergema ke ruangan kelas tersebut. Satu ruangan yang terdiri dari tiga puluhan siswa saja yang terdiri dari kelas I, II, dan III.
“Sebelum memulai pelajaran, kita berdoa dulu. Berdoa mulai!” lanjut ibu guru itu, mereka lalu berdoa. Diantara mereka masih saja ada yang usil, namanya juga anak-anak.
Mentari pagi sedang hangat-hangatnya, begitupun suasana hangat di kelas yang ibu gurunya ramah itu, bukan semata karena pengaruh seng atap sekolah. Dengan sabar dan perhatian dibimbingnya anak-anak itu untuk belajar.
Waktu istirahat pun tiba. Saatnya ibu guru Hasnah untuk sejenak melepas lelah. Suaranya hampir serak karena terus menerus berbicara. Berbicara untuk mengajar anak-anak itu, ataupun untuk mengingatkan mereka yang usil dan ramai. Benar-benar hari yang melelahkan.
Bu Hasnah dikejutkan oleh suara seorang pemuda gagah yang mengetuk pintu kantor guru yang mirip gudang itu. Dipersilakannya masuk tamu itu, duduk di kursi-kursi reyot tanpa sandaran itu.
“Ada keperluan apa ya Pak?” bu Hasnah bertanya heran karena biasanya tak ada yang mertamu di sekolah terpencil itu.
“Ibu Guru kok panggil Pak, sih! Saya Handoko Bu, murid Ibu,” jawab pemuda yang bernama Handoko itu.
“Han…Handoko, Handoko ‘jabrig’ itu?” bu Hasnah tertegun karena Handoko yang oleh teman-temannya dulu di panggil jabrig ini kini menjadi orang sukses. Terlihat dari pakaian yang dikenakannya.
“Betul Bu. Alhamdulillah, Ibu tidak lupa dengan saya!” Handoko menjawab dengan senyum.
“Bagaimana Ibu bisa lupa dengan anak yang paling bandel seperti kamu!” jawab ibu hasnah dengan gembiranya. Lepaslah tawa diantara mereka.
Rupanya, pemuda gagah di hadapannya saat ini adalah Handoko. Putera dari bidan desa yang dulu ditugaskan di daerah itu, namun akhirnya pindah ke kota seperti yang lain-lain. Seperti guru-guru negeri di sekolah itu yang akhirnya pindah juga sehingga kini yang tersisa di sekolah itu hanyalah pak guru Hamdani, yang merupakan suami ibu Hasnah yang sedang sakit di rumah dan dijaga oleh putera tunggal mereka. Pak Hamdani adalah kepala sekolah sekaligus guru kelas IV, V, dan VI. Sementara ini masuknya bergantian dengan kelas I, II, dan III saat pak Hamdani sedang sakit, karena tak mungkin bu Hasnah mengajar enam kelas sekaligus, meskipun di sekolah itu hanya terdiri dari dua ruang kelas dan satu ruang kecil tambahan untuk ruang guru. Sementara kelas yang lain sudah roboh dan belum diperbaiki. Sarana dan prasarana di daerah terpencil itu sangat sulit dan memprihatinkan, diperparah lagi dengan longsor dan terjangan leysus yang sering melanda daerah itu.
Nama lengkap ibu Hasnah adalah Uswatun Khasanah. Seorang guru wiyata bakti yang mengajar penuh di kelas I, II, dan III. Semangat pengabdiannya mengalahkan segalanya. Ekonomi keluarga yang pas-pasan, pekerjaan yang tidak ada kepastian, karena beribu-ribu tenaga wiyata bakti yang katanya mengabdi, tapi terus menerus menuntut untuk diangkat menjadi pegawai negeri. Tetapi berbeda dengan bu Hasnah ini, meskipun hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah, kepiawaian dan pengalamannya dalam mengajar tidak kalah hebat dengan guru-guru lain yang berijazah lebih tinggi darinya, kepercayaan masyarakatlah yang membuatnya bisa menjadi guru karena bu Hasnah adalah puteri seorang ulama sekaligus tokoh masyarakat di daerah itu, juga karena beliau istri seorang guru. Buktinya, berapa banyak orang-orang hebat seperti Handoko yang lahir dari tangan-tangan berjasa seperti bu Hasnah ini.
Dadirejo Bagelen, 13 Maret 2008