KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Delapan tahun sudah berlalu dari masa-masa remaja yang membahagiakan. Terkadang masih saja ada setumpuk penyesalan yang membuncah di benak. Belum puas? Ya, begitulah yang terjadi sekarang.

Masih banyak cerita yang ingin ditambahkan dalam lembaran kanvas berwarna-warni masa remaja, warna sejati persahabatan, cerita lucu di langit biru tentang perjalanan satu masa silam, setumpuk cerita dalam kelas tentang guru, tentang pelajaran… Akh..!
Cerita cinta! Huuuuh… Yang satu ini benar-benar tidak ada habisnya memenuhi angan.

Rasanya masih banyak kekurangan warna yang ada dalam cerita cinta masa SMU-ku dulu. Sayang waktu begitu angkuh berjalan, tanpa secuilpun untuk berbalik.
Begitulah waktu, seakan dia terlihat seperti berlari sangat cepat, meninggalkan angan-angan yang masih merangkak di palang cobaan kehidupan.

Masih melekat kuat dalam ingatanku, tentang kado pertama yang kamu berikan untukku, sampai sekarang kado itu masih aku simpan dalam ingatan. Memang yang tertinggal hanyalah ingatan belaka, sebab tak mungkin buat aku menyimpannya sampai sekarang, sedang tanganku sudah letih berperang melawan waktu.
Sebuah kado ulang tahun darimu! Kamu bungkus dalam selembar amplop berwarna merah jambu, biarpun aku tau itu tak pantas disebut kado ulang tahun, dulu buat aku itu sudah cukup mewakili belaian sayang dan perhatianmu yang akan melambungkan anganku kelangit tertinggi, sampai tanpa sadar untuk balik kebumi.

Senyummu dulu, juga masih ada dalam daftar ingatanku, senyum yang indah, dipadan dengan deretan gigi putih yang tersusun rapi dan sepasang mata bening dengan tatapan rona manja dari paras yang menawan.
Aroma parfummu juga, masih berbaur dalam ingatanku, wangi sekali, seakan-akan masih ada tercium di hidungku.
Begitu indahnya dirimu dalam kanvas goresan anak remaja, rasanya diriku benar-benar menjadi anak laki-laki yang paling beruntung bersanding bersamamu. Menatap matamu rasanya jantungku berhenti, sampai-sampai mulutkupun juga berhenti, gagap, bingung harus berkata apa. Terkadang perkataan yang terlontar begitu membosankan.
Di bangsal paling belakang kita bertemu, dengan tubuhku masih terkulai lusuh, dengan raut wajah layaknya seorang pasien. Saat itu merupakan hari kematian dari cita-cita yang sudah aku hembuskan dengan nafas penuh semangat, karena virus busuk yang menggerogoti tubuhku, cita-citaku untuk menjadi seorang atlit sirna sudah.

“Mat siang Uda, makanannya sudah dihabiskan?” begitu ucapan pertama yang kamu lontarkan padaku, sontak mengagetkan aliran darahku, meregangkan mataku yang sayu. Belum lagi sempat aku membalas ucapanmu, setumpukkan lempengan pahit sudah kamu sodorkan ke mulutku, dengan senyum yang masih menempel, sambil berkata, “Uda ini bandel, sudah dibilang sama dokter, kalo habis makan langsung minum obat, masih juga Naina sodorkan baru diminum.”

“Kalau sudah ada senyum manis, seperti senyum kamu itu, pasti obatnya sudah aku telan dari tadi,” jawabku.

“Ehm…!! Emang kalo liat senyum Naina obatnya bisa jadi manis?”

“Bukan..! Bukan itu, kalau aku liat senyum kamu aku serasa jadi pahlawan bangsa yang akan bertempur dan harus siap sakit atau mati!!”

Lagi-lagi sebaris gigi putih itu menghiasi decak tawamu.

“Naina Sintia Dewi,” ucapanku sambil milirik papan nama yang menempel di seragam putihnya,

“Panggil saja Naina. Untuk minggu ini Naina kebagian praktikum di bangsal ini, dan mudah-mudahan Uda nggak bandel,” sindirnya lirih, dengan sedikit tersenyum.

“Makasih nasihatnya ya Nek,” balasku. Dan untuk kesekian kalinya kamu hanya memperlihatkan gigi putihmu bersama tatapan mata tulus memberi senyuman.

“Naina tinggal dulu, Uda istirahat yang banyak, jangan banyak mikir, kalau bisa cemilannya dihabiskan semua, biar cepat sembuh,” begitu nasehatnya sambil mengemas beberapa peralatan yang sedari tadi menempel di lenganku serta menutup beberapa catatan.

“Ntar sore kesini lagikan?” tanyaku.

“Iya, wajib kesini, soalnya ada rapat ntar sore di bangsal ini.”

“Boleh aku nitip belikan majalah edisi minggu ini?”

“Kalo tebakan Naina nggak salah pasti nitipnya majalah Esay, ya kan?”

“Ya!! Tepat sekali.” Walaupun sudah sama-sama tahu kalau tiap Senin aku selalu menitip beberapa majalah Esay pada setiap perawat yang mau pulang. Begitu kuatnya rekaman kilas balik cerita aku bertemu, dan kenal kamu pertama kalinya. Pertemuan itu tanpa dikehendaki telah meluluhkan kebekuan parasit patah aral dalam hatiku, sedikit demi sedikit mulai memupuk angan-angan kemesraan pada setiap pertemuan kita.

Pertemuan untuk ke dua kalinya di sore itu, kamu datang membawakan pesananku. Kita bercengkrama seakan sudah kenal lama, bercanda dan tertawa bersama, tanpa sadar pada kondisi masing-masing. Tidak ada batasan peran kehidupan antara kita saat itu, akupun merasa bukan lagi seorang pasien yang sedang sakit. Hari-hari berlalu begitu penuh suka, sampai aku lupa dengan duka hati dan tubuhku yang sedang sakit. Terkadang mencuat suatu pikiran bodoh agar penyakit ini tak perlu beranjak dariku, agar aku dapat lebih lama bersamamu. Tapi itu tak penting, mengingat satu minggu yang akan datang kita sudah bikin janji bertemu, tentunya setelah aku sembuh nanti.

Minggu pagi yang dijanjikan, di sebuah bukit di kota kecil, langitpun tanpa sungkan menampilkan cuaca mendung yang sejuk, beriring tarian awan yang lalu lalang mengitari bumi, aku duduk termenung mananti kedatanganmu, dengan wajah yang pucat pasi, dan jantungku yang berdegup kencang.

Saat itu merupakan janji kencan pertama kita. Adalah peristiwa yang tidak dapat aku lupakan. Rona wajahmu yang tersipu malu menghampiriku.

“Maaf, Naina sudah bikin Uda menunggu, tapi nggak lama kan?”

“Lama bangat, hampir saja aku lupa kalau aku lagi menunggu Naina disini,” jawabku dengan raut wajah serius, walaupun sebenarnya cuma bercanda, namun wajahnya juga mulai serius menanggapi dan sekali lagi berkata maaf.

“Kalau bukan karena menunggu kedatangan paras manis yang wangi seperti Naina pasti aku sudah pulang dari tadi,” ucapanku dengan sedikit senyum agar tidak kelihatan kaku, tentunya dengan senyum terindah semampuku. Dan kamu tersenyum malu-malu membantahnya,

“Manis? Nggak mau, nanti dirubungi semut!”

Ini merupakan awal pertemuan kita yang terjadi pertama kalinya setelah aku sembuh dari sakit, selanjutnya kita bercerita panjang lebar tentang banyak hal, tentang keluarga, teman, sekolah, hingga pada akhirnya sampai di ujung sebuah pertanyaan,

“Memangnya kesini ada perlu apa?” sebuah pertanyaan yang sontak saja membuat hatiku kaget, kamu lontarkan dengan tatapan tepat ke mataku.

Dengan polosnya aku menjawab, “Rencananya sih mau bilang….,” sejenak aku terdiam.

Seolah berbisik kamu lanjut bertanya, “Mau bilang apa?”

“Mau bilang kalau aku sangat senang bisa bertemu Naina!”

Tatapan itu! Sungguh telah menggetarkan mulutku hingga tak mampu bersuara dari ungkapan hati yang seharusnya aku utarakan. Di luar hujan turun semakin deras, menjadikan suasana dalam ruang tamu di asrama itu semakin dingin pula, tapi tidak untuk dadaku yang semakin panas karena jantung yang berdetak kencang. Akhirnya aku memberanikan diri mengarahkan wajah ayu itu ke dalam tatapanku dan bilang, “Aku sayang kamu, kamu mau nggak jadi pacarku?” Wajah yang ada dalam dua telapak tanganku itu hanya mengangguk, dan ciummanku-pun mendarat di keningnya.

Hari sudah mulai beranjak sore, tanpa terasa airmataku menetes jatuh di atas sebuah tumpukan tanah pusara! Aku menangis, di samping pusara yang pada batu nisannya bertuliskan “Naina Sintia Dewi.” Sebuah nama pada delapan tahun silam aku lihat di bawah wajah yang tersenyum manis padaku, kini telah pergi meninggalkanku karena kecelakaan tragis sebuah pesawat di ruang langit ketika awan mulai menari.

3 Responses to “Di Ruang Langit Awan Menari”

  1. on 15 Apr 2008 at 10:02dedeawan

    Cinta memang luas maknanya. Cerita yg menyentuh. Dgn menggnk. B.Ind yg baik dan benar (bukan bhs gaul), kita junjung bahasa persatuan

  2. on 20 Apr 2008 at 01:14alonk

    hehehehehe
    kok jadi kayak gini koe sekarang.. melo banget…
    tapi salut deh… asal ga plagiat aja…
    bravo my friends…..
    berkarya terus ya….

  3. on 19 Aug 2008 at 14:34Rianti

    ini bukan cerita cinta mas fauzan kan??? klo iy tragis banget jadi sedih bacanya

Tinggalkan Komentar