Tangan Hijau Kecil yang Mungil
April 7th, 2008 by indra purnama
Setengah tahun lebih tak ada yg kulihat. Semua gelap. Kudekatkan tanganku dan kubelalakkan mataku, tetap tidak terlihat. Tak ada cahaya disini, yg ada hanya keberadaanku saja. Syukurlah kalo ternyata aku masih ada. Tapi sebentar, ada ya? Memang kurasakan tubuh ini masih ada. Dan aku yakin mataku masih berfungsi normal. Sempat kurasakan ketakutan, jangan jangan sebenarnya semua tampak jelas. Hanya saja aku tidak punya kekuatan untuk merasakan dan melihat semua, termasuk diriku sendiri. Ketakutan itu tampak semakin dekat…. Dan aku mundur ke belakang.
Tanpa sadar aku sudah tidak bisa mundur lagi. Kuhentakkan kakiku tapi tubuh ini tetap tidak bergerak mundur. Aku yakin walau aku menoleh ke belakang, takkan ada sesuatu yg terlihat. Kubalikkan badan ini dan kepegang perlahan. Sangat perlahan. Kurasakan satu tembok keras, yang bila kutendang sekalipun gak mungkin roboh.
Hhhh….
Penjarakah ini? Lalu dimanakah petugas pemberi makan? O iya, berarti ada pintu. Kutelusuri tembok keras itu dengan tanganku. Perlahan kujalan dengan tangan tetap menempel di tembok. Keyakinanku sudah mencapai puncaknya. Tidak akan kulewatkan 1 cm pun. Setengah jam aku berjalan…. tapi aku tetap tidak menemukan celah itu. Aku lelah…
Aku duduk terpuruk dalam kediamanku. Menunduk lesu. Menangis tidak akan ada gunanya. Harapan akan pertolongan tampaknya sia-sia, karena Superman tidak mungkin datang disini. Kesadaranku satu-satunya adalah hanya aku yang bisa menolong diriku. Itu saja!
Kupegang kepalaku, berpikir layaknya filsuf pemikir dengan kepala botaknya. Kucari segala kemungkinan jawaban. Mungkinkah tembok ini tak berujung, karena sudah kuberjalan berkilo-kilo rasanya dan tidak ada perubahan sama sekali. Atau mungkin tembok ini sebenarnya berputar, seperti bumi yang bulat. Ya! dua kemungkinan itu ada di sini. Terima kasih “Aha”ku.
Tapi aku harus keluar. pemikiran tadi hanya berhenti di titik itu saja tanpa melahirkan solusi. Sekarang saatnya solusi. Solusi dan solusi! Tapi apa?
Tunggu! Aku kan belum berusaha merobohkan tembok ini. ….
Aku mundur beberapa langkah menjauhi tembok. Aku ingat bapak-bapak polisi di film yang bisa menjebol tembok dengan tubrukan punggungnya. Mungkin itu bisa dicoba. Aku mengambil nafas dalam. Aku tahu aku tidak bisa menahan nafas itu lama-lama karena nanti aku pasti terbatuk-batuk. Superman… berikan kekuatanmu….. Bugh!
Tembok itu tetap tidak roboh. Tetap disana dengan sombongnya, mungkin sedang tersenyum melihatku. Mau marah pun percuma. Kupegang lagi tembok sombong itu. Namun kali ini sebagai sandaran kedua tanganku yang menopang tubuhku dengan kepala menunduk. Aku terdiam. Dan aku merasakan tembok itu bergetar. Pelan…
Aku diam. Tembok itu juga diam dengan sedikit getarannya. Aku sadar tembok itu sedang kesakitan. Ya.. kesakitan oleh tubrukanku tadi. Berarti, tembok itu rapuh! Tanpa sadar bibirku sudah tersenyum. Bukan senyuman kecil, tapi satu jalan keluar. Satu harapan terbesarku saat ini.
Aku ingin jadi Superman yang mengangkat pulau ke angkasa. Akan kuangkat tembok ini. Pelan tapi pasti sedikit kugali tanah di bawah tembok, hanya agar tanganku mempunyai ruang untuk memegang tembok ini dari bawah. Setelah cukup tergenggam, aku akan berubah menjadi Hulk ijo gede. Kuambil lagi nafas dalam yang tentunya juga tidak lama seperti tadi. Kuangkat tembok itu dengan kekuatan yang kupinjam dari Hulk yang saat ini sedang berlibur. Tembok itu terangkat. Sekali lagi… tembok itu terangkat. Terangkat sampai batas lututku. Lalu dengan sekuat tenaga tembok itu kuangkat lebih ke atas lagi…. tapi susah. Akhirnya tangan kananku kukeluarkan dari tembok berusaha meraih pegangan di luar.
Saat ini kubayangkan satu hal. Kubawa diriku keluar dari sini. Kubawa diriku naik agak jauh dari tempatku berada sekarang. Dan aku melihat satu keadaan yang membuatku merasa yakin bahwa memang begitulah keadaannya. Sebuah tangan kecil itu keluar dari tempurung. Tangan itu berwarna hijau. Jari-jarinya berjumlah 3. Di sela-sela jari itu ada selaput bening dan berlendir. Pikiranku mengatakan bahwa itu tangan mungil si Kodok.
Ternyata aku adalah kodok
Dan di luar sana kehidupan terindah menantiku. Menyiapkan upacara kedatanganku dengan sorak sorai. Mereka semua sudah bersiap-siap untuk tersenyum dan berteriak-teriak. Aku berpikir sejenak.
Tanpa tahu sebab jelas. Dan kuingat zona kenyamanan ini begitu enaknya, aku turunkan kembali tembok tempurung ini perlahan. Hingga semua yang kulihat tadi berubah menjadi kegelapan lagi. Dan aku sekarang mau meneruskan kehidupanku di sini dulu. Aku mau berfoya-foya dalam zona kenyamanan ini. Menjadi kodok lagi untuk sementara waktu. Hingga aku siap disambut mereka yang akan selalu di situ untukku. Selamat malam semua… Kodok ini akan tidur lagi
Ooo… Ternyata kodok ya.Padahal tadi imajinasiku sempet jauh banget pas baru baca judulnya.
Lucu ….. bikin penasaran …. eh kodok
Iya kodok….
Dan bayangkan kodok itu adalah Anda, yang hidupnya segelap dan sesuram itu tanpa kekuatan keluar dr kediamannya.