Arini, Oh Arini
April 1st, 2008 by dedeawan
Kuangkat HP-ku yang berdering. Sebuah suara yang tak asing lagi di telingaku, begitu merdu dan menggetarkan hatiku.
“Nanti malam, jadi khan main ke rumahku!” suara dari hp itu meminta kepastianku.
“Tentu dong Sayang. Semoga saja malam ini cuaca cerah,” sahutku mesra.
“Oke, sampai jumpa nanti malam. Jangan sampai nggak datang loh!” dia melanjutkan.
Kujawab sekenanya sebelum ditutupnya.
Kubayangkan pertemuan kencanku malam ini. Aku senyum-senyum sendiri dengan lamunanku, sebelum suara keras Ayah mencoba membangunkanku sore ini. Mengira aku masih tidur di hari yang hamper petang ini. Kulirik jam dinding kamarku. Pukul 05.05. Segera kubangkit dari peraduanku, menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhku merasakan dinginnya air.
“Baiknya malam ini kau tidak usah bepergian Nak!” suara lembut Ibu mengiringi kepergianku mengingatkan aku akan cuaca dingin di luar sana.
“Tidak bisa Bu, aku sudah janji dengan Arini, lagipula ini kan malam minggu” jawabku halus, tak bermaksud mengabaikan anjuran Ibu.
“Baiklah kalau begitu, tapi hati-hati ya Nak!” kali ini Ibu mengizinkanku pergi.
“Sampaikan salam kami untuk orang tuanya! Dan jangan pulang terlalu larut!” Ayah menimpali dari dalam rumah sementara aku siap melaju dengan sepeda motorku.
Dinginnya angin malam benar-benar merasuk hingga tulang. Benar ibuku mengingatkan. Tapi kerinduanku untuk bertemu Arini, kekasihku, begitu kuatnya, meskipun badai datang menghadang, aku akan tetap berusaha agar dapat bertemu dengannya malam ini.
“Ehh.. nak Hadi rupanya, ayo masuk, Arini sedari tadi menunggumu” ibunya Arini ramah menyambutku ketika aku telah tiba di rumah mereka. Memang kedua orang tua kami, orang tuaku dan orang tua Arini begitu merestui hubungan kami, karena mereka sudah saling mengenal.
Arini menemuiku di ruang tamu, setelah ibunya masuk memanggilnya. Seakan mereka memberikan kesempatan kepada kami untuk berdua saja. Arini menemuiku, ia tampak anggun, berpakaian longgar lengan panjang dan rok panjang, dan rambut panjangnya yang terikat. Meski tidak memakai pakaian yang serba ketat, bagiku dia tetap seksi. Sikapnya mengedepankan kesederhanaan dan kesantunan. Meski Habiburrahman El Shirazy dalam novelnya Ayat-ayat Cinta menggambarkan sosok Fahri sebagai orang yang benar-benar sempurna, maka aku adalah kebalikannya. Seperti pada saat ini yang sedang berasyik masyuk berduaan bebas menebarkan pandangan dan mengumbar pesona dalam diriku, sebagai upaya untuk memikatnya.
Ayah Arini berdehem keras sengaja memperingatkan bahwa ada mereka di rumah itu, selain kami berdua. Itu juga merupakan pertanda bahwa waktu berkunjung telah habis. Ayah dan ibunya menemuiku, sepertinya ada hal penting yang hendak mereka utarakan. Ayah dan ibunya seperti menginterogasiku tentang kelanjutan hubungan kami. Mereka berpendapat, tidak baik berhubungan dekat tanpa sebuah ikatan yang sah, sementara kami sudah saling mencintai, saling memahami dan mengeri perasaan masing-masing.
“Kau benar-benar mencintai Arini kan!” ayahnya mencoba menegaskan.
“Iya Pak! Saya mencintainya,” jawabku mantap.
“Lantas tunggu apa lagi!” ayahnya kembali meminta ketegasanku.
Aku diam seribu bahasa. Tenggorokanku seakan tercekik tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun, menandakan keraguanku atas pertanyaan mereka.
“Sudahlah Pak, jangan terlalu memaksa mas Hadi. Berikanlah dia waktu untuk berpikir,” Arini melakukan pembelaan padaku yang sudah terjepit ini. Berusaha mencairkan ketegangan.
Aku mengenal Arini sebagai sosok wanita yang tegas. Mungkin karena dia anak tertua dikeluarganya. Dia memiliki kedewasaan yang mantap, meski saat berduaan denganku, tak jarang pula dia bersikap manja padaku. Sepertinya apa yang dilakukan kedua orang tuanya ini benar-benar atas persetujuan Arini. Kulihat di wajahnya ada gurat kekecewaan, karena kekurang tegasanku atas apa yang diinginkannya.
Aku mohon diri dengan perasaan tak menentu. Setibanya di rumahku, Ibu dan Ayah meminta keteranganku atas apa yang telah terjadi hingga membuat ayahnya Arini menelepon ke rumahku, meminta Ayah dan Ibuku menasihati aku. Sepertinya mereka semua lebih memikirkan apa yang sedang terjadi padaku. Mereka selalu lebih memikirkan apa yang selalu kuacuhkan.
Aku memang mencintai Arini. Tapi entah kenapa jika ditanya untuk menikah, aku tak bisa memberi kemantapan atas jawabanku. Mungkin pula karena hati ini masih ragu, keraguan yang tak berdasar. Aku mencoba menegaskan pada diriku sendiri. Apa kurangnya Arini? Jangan kau bertindak bodoh Hadi! Arini adalah wanita ideal dan sempurna di jaman seperti sekarang ini. Tapi entahlah, aku sepertinya enggan untuk mengenal kata menikah, berkeluarga dan bertanggungjawab. Aku masih ingin bebas.
Sejak peristiwa malam itu, Arini terus menerus mencoba meminta kejelasanku tentang kelanjutan hubungan kami, baik secara langsung, lewat telepon, atau SMS. Aku sampai bosan meladeninya. Ayahku pun tak kalah gencarnya menyemangatiku untuk melamarnya.
“Kau tidak usah khawatir, biar nanti ayah yang mengurus semuanya. Kau tahu beres saja,” ayahku menasihatiku suatu ketika saat aku baru pulang kerja.
“Aku harus pikir-pikir dulu!” jawabku.
“Jangan kelamaan mikirnya, nanti keduluan orang lain!” ayahku mencoba memperingatkanku.
Entahlah, tapi semakin lama hubunganku dengan Arini semakin memburuk. Dan ujung dari keburukan itu adalah putusnya hubungan pacaran kami yang telah terjalin hampir lima tahun itu. Berat bagiku untuk berpisah, karena jujur, aku masih sangat mencintai Arini, hingga detik ini.
Purworejo, 17 Maret 2008
Cck.. Cck..
Bikin terharu maz
seperti cerita pengalaman pribadi, setelah beberapa kali menjalin hubungan hampir 80 % pria bersifat demikian,,,
kaum pria lebih takut untuk berkomitmen…. krn mereka takut terikat… kalo aja sejak awal sudah dipikirkan…. pasti jg nda akan mengecewakan arini…..
apakah akir dari pertemuan itu harus sebuah perpisahan…???
hikz3x…. jd sedih… T.T
cowok emg aneh
semaunya ajj
Silakan baca tulisan saya yang lain di dedeawan.blogspot.com
Silakan kunjungi dedeawan.blogspot.com untuk melihat tulisan saya yang lain
aku minta buat disimpen di komp y.