KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan April 2008

Seorang anak perempuan yang baru beranjak remaja terlihat bersemangat memakai seragam putih merah yang sudah sedikit pudar warnanya, mungkin karena terlalu sering dipakai. Dari bibirnya yang mungil itu bersenandung lagu yang sedang ngetren saat ini.

Langkah Sebatas Asa

ku coba terus melangkah meski kakiku remuk
ku coba terus jalani cerita meski tanpa rencana
ya Allah sampai kapan tenagaku kuat untuk terus menyusuri jalan
penuh dilema ini
sampai kapan kau sematkan tenaga dalam raga ini
letih rasanya jiwa ini
tak sanggup lagi kaki menopang raga
ingin rasanya ku akhiri semua ini
karna jiwa dan ragaku tak kuat lagi

Hidup

Jangan hanya menatap paksa
dan mencoba telanjangi perasaan
lalu menyeretnya ke persimpangan
hingga kau dapatkan jawaban

sudahlah,
kali ini mungkin ketaksadaran
tahu diri masih berusaha lari

sementara itu,
suruhlah hasratmu untuk bersembunyi
atau ia akan memakimu
dalam sepi tanpa batas…

Tuhan…
bagaimana aku tidak bersyukur pada-Mu
atas udara pagi yang kuhirup dalam nafasku
atas teguk air yang kuminum dalam dahagaku
atas tetes-tetes hujan yang kurangkum dalam telapakku
atas setiap langkah pada hari-hariku
atas segenap ilham dan pemikiran dalam diriku
atas segala rasa dalam hatiku
atas orang-orang yang datang dan pergi dari hidupku
atas jalan yang kupilih dalam setiap fase hidupku
dan terutama atas bekal terbaik untukku menjalani hidup sebagai aku

Terima kasih,Tuhan
Kau masih biarkan aku terbangun hari ini
Kau masih ijinkan jantungku berdetak hari ini
Kau masih memberikanku hidup hari ini
Sehingga aku masih dapat menikmati karuniaMu yang terindah
Yang orang sebut cinta

Cerita Mas Ibnu

Cahaya matahari terpancar pada celah jendela kamar, membuat aku terbangun dari tidur yang hanya sesaat karena selepas subuh tertidur lagi. Jam tangan yang aku taruh di meja kecil sebelah tempat tidur menunjukan pukul tujuh kurang lima menit lalu aku menghampiri jendela untuk melihat suasana di luar. Terlihat halaman kecil yang hijau dan ada seseorang sedang duduk sendiri di teras bangunan utama. Memang kebetulan kamar yang aku tiduri berada di paviliun belakang rumah yang terpisah oleh bangunan kecil, sebuah musholla kecil.

Perjalanan

Sampai kapan kita terus begini
Berjalan dalam sebuah ketidakpastian
Memenuhi segala hasrat jiwa
Yang baik dan yang buruk

Bersyukurlah mereka yang telah mengerti
Tentang sebuah arti keberadaan
Dimana jiwa dan raga bertemu
Bersatu padu beriringan seia sekata
Dalam meniti sebuah keberadaan yang hakiki

Inginku


Aku ingin menyentuh pembatas langit bersamamu
ketika malam yang sarat akan gelap
dan hanya ada satu cahaya di atas kepala kita
tak ada yang tahu…
karna hati kita yang menari-nari
sampai pagi…

C.I.N.T.A.  Lima huruf yang membuatku bodoh. Sebetulnya aku membenci keadaan ini. Sudah lama aku tidak jatuh cinta. Dan tiba-tiba makhluk ajaib itu tiba dan menyergapku dari belakang, memitingku, dan dengan hebatnya membantingku dengan kasar, maka jatuhlah aku ke pelaminan.

Bulan September waktu itu, ketika aku begitu dekat dengan wanita itu, wanita bernama Tiwi, Pratiwi Zakhrotuni tepatnya. Aku juga telah begitu dekat dengan dia, tapi tidak disini, tidak di alam ini tapi di alam mimpi. Oleh karena itu, begitu aku dekat dengan dia maka aku berusaha untuk menyampaikan apa yang aku rasa dan apa yang aku alami di alam itu, tapi terlalu susah untukku mengutarakan semua itu, aku tidak ingin kedekatan ini akan berubah jika aku mengatakannya.
“Sudah lama ya, kita tidak melihat bintang-bintang?” kata Tiwi sambil melihat ke arah angkasa. Ke arah langit gelap yang dipenuhi bintang. Menatap bintang-bintang. Juga menatap rembulan.

Next »