Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on Maret 29th, 2008 2 Comments »
Pada ombak yang tak pernah berlabuh
Bergulung-gulung, berkejaran, dan menjauh
Meninggalkan buih putih yang masih terdiam
Nyanyian gemuruh ombak itu,
Memenuhi mimpi-mimpi malam
Bersama desah yang dulu membuncah
Pada ombak yang tak pernah berlabuh
Tahukah…
ada raga, yang hatinya milikimu
Permanent link to this post (41 words, estimated 10 secs reading time)
Posted in Puisi on Maret 27th, 2008 No Comments »
Langit tampak biru di angkasa
semilir angin meniup rambutku pelan
dunia tampak luas
tak terjangkau oleh tangan
aku sungguh terkesiap,
bayang gelap sungguh tak tampak
agaknya hari ini bumi tersenyum senang
lupakan kesedihan para manusia
yang menangis karena kelaparan
aku melangkah perlahan
Posted in Puisi on Maret 27th, 2008 No Comments »
Menatap matamu..
Ibarat menikmati sejuknya embun dipagi hari,
yang menghadirkan sejuta nyanyian mengucap takjub didalam hati..
Memandang parasmu..
Laksana menatap rembulan dimalam purnama,
walaupun sejuta cahaya yang hadir takan mampu menggantikan cahayamu..
Memandang tubuhmu..
Menciptakan sepercik api yang membakar gejolak jiwaku..
Hatiku runtuh dan terjatuh,
menjadi benih ditaman hatimu
Biarkan ia tumbuh, bersemi dan kan kita kan menikmati buahnya..
Permanent link to this post (60 words, estimated 14 secs reading time)
Posted in Puisi on Maret 27th, 2008 No Comments »
berjalanlah lintang
menggigit sunyi
sampai keratan terakhir
mengalir dalam lipatan qadar
dan melayang
mencapai satu tentang lintang
Tang!
biarlah lintang
karena engkau adalah Lintang
Qayyam ‘08
Permanent link to this post (27 words, estimated 6 secs reading time)
Posted in Puisi on Maret 27th, 2008 No Comments »
Ingin rasa berlari menggapai semua angan
Ingin kurasakan perubahan dalam hidup yang semakin menghimpit bagaikan batu besar di atas dada
Tapi semua hanya bisa kubayangkan,tak pernah semua angan dapat kucapai…
Bahkan semakin hari semakin menumpuk penderitaan dalam jiwa yang terasa hampa..
Aka kah ada setetes embun yang bisa menyegarkan dahaga?
Posted in Puisi on Maret 27th, 2008 1 Comment »
Tuhan….
Hati ini bergetar ketika mendengar namanya
Mata ini seakan tak sanggup menatapnya
Tuhan…
Tak bisa satu haripun aku lupa padanya
Setiap saat senyun itu terbayang
Oh..Tuhan..
Virus cinta ini telah merasuk
Aku tak dapat menolaknya
Aku sudah direngkuhnya
Tuhan…
Posted in Puisi on Maret 27th, 2008 No Comments »
Masih kuingat hari-hari yang kita lalui bersama
Saat kebahagiaan masih menjadi milik kita
Berdua kita terbang ke puncak angan dan harapan
Namun sesaat semua kian memudar dan hilang
Setahun yang lalu…
Rasa itu begitu lekat dihatiku
Banyak hal yang kau ajarkan padaku
Posted in Puisi, Asa on Maret 27th, 2008 No Comments »
Aku sangat mencintai hidupku
dengan kawan, mama dan semuanya…
aku merasa tak pernah memiliki beban…
beban yang sangat berat
dan sulit untuk dihilingkan…
Kala aku dihadapkan untuk…
menanggung beban…
Beban untuk melepaskan kepergian
kepergiannya yang tak pernah ku harapkan…
dia akan pergi dari kehidupanku…
Posted in Puisi, Teruntuk on Maret 27th, 2008 No Comments »
aku mencintaimu
dengan segala kebesaranNya
aku merindukanmu
atas segala izinNya
semua cinta dan rinduku padamu
ada dalam genggamanNya
Permanent link to this post (19 words, estimated 5 secs reading time)
Posted in Cerpen on Maret 27th, 2008 1 Comment »
Tema tentang cinta selalu menarik untuk diperbincangkan. Selain karena kekuatannya yang sangat dahsyat bagi kehidupan manusia, juga karena cinta tidak bisa dilepaskan dari eksistensi manusia. Namun ada sisi menarik yang sering dilupakan dalam masalah cinta, yakni keharusan adanya tanggung jawab ketika seseorang menyatakan cinta kepada orang lain. Tanggung jawab itu, tidak hanya ditunjukkan dalam bentuk kesediaan melanjutkan cinta ke jenjang pernikahan, namun tanggung jawab dalam menyeleksi siapa orang yang harus dicintai. Karena mencintai itu sendiri merupakan proses memilih jodoh (Luqman Haqani, Jangan Katakan Cinta, 2004:5).
Ibnu Hazm al-Andalusy dalam buku Thauq al-Hamamah halaman 47, Cinta adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan gejolah naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap kekasihnya. Ia terlahir dengan penuh semangat, kasih sayang dan kegembiraan. Pada mulanya cinta hanya sekedar iseng lalu menjadi serius. Demikian lembutnya arti sebuah cinta sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Cinta hakiki takkan dapat dimengerti kecuali dengan sebuah pengorbanan (Dr.Khalid Jamal, Ajari Aku Cinta, 2007:16).
Sesuatu itu dapat dicintai jika telah dikenal dan diketahui. Jika sesuatu itu sudah dikenal dan diketahui kemudian ada kecocokan sifat dan kesesuaian, maka timbullah rasa cinta (mahabbah). Karena itu rasa cinta itu karena kecenderungan perasaan terhadap sesuatu yang menyenangkan. Kecenderungan perasaan yang kuat itulah yang disebut cinta (Abu Fajar Al Qalami, Ringkasan Ihya Ulumiddin Imam Al Ghazali, 2003:375).
Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita pada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak perlu disakralkan dan diagung-agungkan (Habiburrahman El Shirazy, Ayat-ayat Cinta, 2008:291).
“Dan orang-orang yang beriman itu lebih kuat cintanya kepada Allah”(QS. Al Baqarah 165).
“Sesungguhnya Allah SWT. mengatakan pada hari kiamat akan memanggil, “Manakah orang-orang yang saling mencintai hanya karena aku? Pada hari ini Aku akan melindungi mereka di hari yang tidak ada tempat berteduh dan berlindung kecuali perlindungan-Ku” (HR. Muslim).
Seorang lelaki umumnya menganggap cinta dan pernikahan hanyalah satu tahapan kehidupan yang ia lalui. Kemudian setelah itu ia tetap berkonsentrasi pada sesuatu yang lebih penting dari itu menurut pandangannya. Seperti jaminan hidup, masa depan dan mewujudkan cita-citanya. Akan tetapi cinta bagi seorang wanita, meskipun ia wanita karier yang memiliki cita-cita tertentu, ia akan menganggap pernikahan dan tugas ibu rumah tangga menjadi segala-galanya dalam hidupnya. Bukan sebagai satu tahapan kehidupan yang ia lalui. Maka, tidak salah lagi bahwa seorang wanita yang menjalin ikatan cinta dengan seorang lelaki sebelum pelaminan, ia sebetulnya telah mempertaruhkan nama baik dan kehormatannya. Dan pada akhirnya ia mempertaruhkan seluruh hidupnya (Dr.Khalid Jamal, Ajari Aku Cinta, 2007:43-44)
Kahlil Gibran dalam Bidadari-bidadari Lembah yang mengisahkan tentang Martha yang menuturkan……. Ia memberiku segalanya dengan senyum, dibalik kelembutan untaian kata-kata dan perlakuan kasihnya, ia sembunyikan nafsu dan hasrat binatangnya. Lalu setelah berhasil ia memuaskan nafsunya dengan tubuhku dan menebas habis harga diriku, ia pergi meninggalkan bara api dalam hatiku yang kian berkobar. Sejak itu, aku jatuh dalam kegelapan ini dimana bara kepedihan dan duka yang pahit memenuhinya.
Semoga apa yang telah anda baca ini bermanfaat dan menjadi renungan dalam mengarungi samudera cinta. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoi cinta kita, dan menghindarkan diri kita dari cinta semu yang memilukan.
Purworejo, 22 Maret 2008, Pk.14.30
Permanent link to this post (514 words, estimated 2:03 mins reading time)