KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

(Lanjutan kisah Via, Aisya, Hilda, dan Cherry, dalam Hanya Seuntai Kata Untukmu, Sahabat!)

Hari itu sekolah tampak seperti biasa, angin semilir membelai rambut, ayam peliharaan Ibu kantin yang masih riang menyambut pagi, serta senandung kecil mang Udin di sela kegiatannya menanak nasi uduk yang tak terkalahkan dari restoran ternama mana pun masih mengudara di kantin SMP Fantasista. Dan Via masih setia menunggu bel masuk ditemani itu semua, bersama dengan satu gelas es teh manis sebagai penyemarak.

“Neng Via, masih sendiri aja! Yang lain kemana?” Mang Udin bertanya.

“Yah… kayak biasa Mang. Nunggu sendiri. Hilda siang, Aisya bentar lagi, Cherry sesuka hati,” sahut Via sambil menyesap es tehnya perlahan, “selalu saya yang kepagian.”

“Nggak makan nasi uduk nih?” ujar mang Udin sambil nyengir penuh arti.

Via tersenyum. Tak ada yang lebih baik daripada menyambut hari diawali dengan nasi uduk ati ampela made in mang Udin yang amat sangat banting harga. Seribu lima ratus satu piring! Gimana nggak puas tuh? “Oke deh mang! Satu yah. Kayak biasa.”

“Heei! Vi, makan mulu. Masih pagi nih!” satu suara menyentakkan Via, sementara Aisya, sang pemilik suara kini mengambil posisi duduk di depannya, “dah ngerjain PR belum?”

“Udah dong! Gila aja. Pak Sholeh udah balik dan semenjak insiden guru praktek marah, dia sensi banget sama kita.”

“Iye. Makanya gue juga ngerjain,” ujar Aisya sambil terkikik dan menyambar es teh Via dan menyeruputnya hingga habis. Jerit protes Via seakan tak terdengar saat itu. “Mmm… enakk.. tengs yah Vi. Hehe..”

“Iya enak yaa? Gratis soalnya!” Via merengut, sementara satu piring nasi uduknya datang, “tapi Sya, kalo nggak ada insiden itu, kita nggak bakal pernah bisa temenan yah?”

“Iya. Insiden pembawa kebahagiaan,” Aisya tersenyum kecil, sebelum otaknya terusik akan sesuatu yang memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. “Emm… tapi Vi, Sebenernya gue masih ada sesuatu yang ganjel tentang Cherry, ngerasa nggak nyaman aja. Padahal udah empat bulan kita temenan.”

“Cherry ya,” Via merenung sejenak sambil mengunyah nasi uduknya hambar, “gue juga sih. Nggak ada masalah sama Hilda. Tapi Cherry, yah kita masih butuh waktu kali buat nyesuain diri.”

“Hmm… iya. Mungkin guenya aja ya yang terlalu sensitif.”

“Huaeeee semuanyaaa!!” tak butuh satu menit untuk mengenali sumber suara ini karena beberapa detik setelah suara cempreng itu bergema, Cherry sang oknum yang dibicarakan kini hadir dengan senyum manisnya. Dan senyum kecut sudah siaga di wajah Via dan Aisya! Oh, kenapa sih kita nggak bisa senyum lebih tulus sedikit!

 

* * *

Pelajaran hari ini lebih cepat usai daripada biasanya, namun menyisakan penat di hati Via. Entah karena udara yang amat menyengat, atau karena haid berkepanjangan yang sudah melebihi batas waktu ini. Via tak tahu. Namun beruntung kini Hilda dan Aisya tengah menemaninya di taman sekolah, lengkap dengan semangkuk Bakso Pak Kumis.

“Via, lo kenapa sih? Suntuk amat,” celetuk Hilda sambil menghirup kuah baksonya lamat-lamat, sebelum menggerutu pelan lantaran kuahnya kurang pedas.

“Nggak tau nih Hil. Mungkin lagi dapet. Dah gitu panas lagi,” kata Via sambil mengaduk-aduk baksonya hampa, “lagian kita kurang kerjaan amat ya? Makan bakso pas hari panas…”

“Hehe. Sori deh, gue lagi males makan di kantin soalnya. Alternatif Cuma bakso Pak Kumis ini,” Aisya nyengir minta maaf. “Via, apa lo masih kepikiran tentang kejadian kemaren itu? Udahlah say, lupain aja gimana? Erga nggak baik buat lo, masih banyak ikan di lautan.”

“Yup, tapi nggak ada yang nyangkut di kail gue selain Erga,” Via tertawa hambar, “ya udah lah. Kesel juga gue ama dia. Makan hati banget! Nggak jelas perasaannya ke gue kayak gimana!”

“Iya, Vi! Ngapain sih suka ama dia! Masih banyak kan yang ganteng! Geri, Yuda, Jojo, Juanda, Fahri. Udah Vi, dunia nggak bakal kiamat walo lo nggak jadian ama Erga. Lagian dia kayaknya player,” lanjut Aisya lagi.

“Iya, bener lo!” Via tersenyum lega, sambil terus menatap baksonya. Mendadak ia kembali menemukan nafsu makannya.

“Dan lo belum ngasih tau Cherry tentang hal ini?” Hilda bertanya tiba-tiba, yang membuat hati Via berdegup tak enak.

“Hil, bukannya gue nggak mau ngasih tau dia, tapi… gue nggak nyaman curhat sama dia. Entah kenapa.”

“I see, ngerti banget! Gue pun sama kayak lo. Gue Cuma nyaman kalo curhat sama lo berdua,” Hilda menegak habis es teh manisnya dalam beberapa teguk. Raut wajahnya mendadak berubah sendu. “Hey, kalo kita nggak bisa nerima dia sebagai sahabat yang utuh, sebagai sahabat yang bisa ditampungin satu ember curhat, buat apa kita terusin ini semua?”

Mereka bertiga terdiam, di sela angin siang yang berhembus perlahan. Rasa bersalah terselip di relung hati mereka, mengingat beberapa bulan terakhir ini mereka menjalani hari dengan rahasia milik bertiga dan merasa sayang untuk membaginya ke Cherry. Mereka tidak bermaksud apa-apa, hanya saja satu, ketidaknyamanan. Terkadang Cherry membahas rahasia mereka dengan suara melebihi kapasitas dan ia bergerak dengan caranya sendiri untuk membantu mereka. Hilda kapok lataran tempo hari ia harus menghabiskan satu hari penuh dengan wajah merona tatkala berpapasan dengan pria idamannya, hanya karena Cherry kelepasan bicara di hadapannya. Cherry adalah pemberi saran yang baik, namun bukan penyimpan rahasia yang baik, itu yang selalu menjadi alasan mereka agar tak bersusah payah berbagi cerita dengannya.

“Heeeeeeyyyyy! Kok Pada ngelamuuun! Ah, parah lo, nggak ngajak-ngajak gue makan bakso!!!” sapa Cherry dengan suara nyaring seperti biasa. Aisya membuat gerakan seperti membetulkan rambut samping, yang Via yakin itu gerakan untuk meredam suara Cherry agar tak tembus lebih dalam ke dalam telinga.

“Lo semua lagi ngomongin apa??” katanya lagi setelah membeli semangkuk bakso juga.

“Hm? Nggak… kok! Eh, lo kok baru nongol sekarang?” ujar Via mengalihkan pembicaraan.

“Oh… gitu…” Cherry tersenyum kecil. Sungguh senyum yang sangat sulit untuk diartikan. “ Eh, tau nggak? Gua barusan dari ruang guru, ngumpulin tugas bahasa Inggris. Terus, ngeliat si Willy sama Habil dimarahin habis-habisan sama Pak Danu. Aduh, tuh anak dua ya emang dasar.”

Hilda spontan tergelak sampai meneteskan air mata. “Ahahahaha…. Itu sih emang dasar mereka yang dudul! Ya ampun, sumpah ya kocak banget!”

“Emang kenapa sih?” Via benar-benar have no idea tentang yang mereka bicarakan sekarang.

“Itu loh Vi, Willy sama Habil main petak umpet di lemari kelas, terus si Willy KENTUT aja gitu dengan tidak berdosa,” Cherry tergelak lagi mengingat kejadian beberapa jam yang lalu, “si Habil teriak : TOLONG! TOLONG! Sambil gedor-gedor pintu. Terus tau nggak gimana kelanjutannya?”

“Gimana? Gimana???”

“Pintunya ancur en mereka berdua jatuh gedubrakan! Ahahahaha!” Cherry benar-benar tidak bisa membendung tawanya lagi, disusul dengan gelak Hilda, Via, dan Aisya yang membahana di taman sekolah, “dah gitu tampangnya Habil itu loh. Dia teriak… : ‘UDARA! UDARA SEGAR!’

Dan jadilah sisa istirahat siang dijadikan ajang membahas kentut Willy yang fenomenal dan mampu menghancurkan lemari kelas itu, sementara beberapa meter dari situ, tepatnya di kelas 2-E, Willy dan Habil tengah membetulkan lemari sambil terisak yang dibuat-buat.

* * *

Walaupun terkenal sebagai kwartet kembar dempet, Aisya, Via, Hilda, dan Cherry tetap melebur dengan pergaulan di sekeliling mereka. Memang waktu yang dihabiskan mereka berempat lebih banyak ketimbang dengan anak yang lain, namun mereka berempat juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk mengenal teman-teman yang lain lebih dekat. Siang itu pun kembar empat itu tak tampak bersama, karena mereka tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aisya tengah berkutat dengan soal Fisika bersama dengan Geri, Cherry sang supel tengah ngerumpi dengan Nana sang biang gosip, Via asyik mencoret-coret buku sketsanya, sementara Hilda lebih memilih untuk meringkuk di meja, tenggelam bersama kantuknya.

Via menorehkan pensilnya hampa. Gambar seorang pria yang setengah jadi itu seolah menguapkan semangat gambarnya. Objeknya pun belum begitu jelas, namun bibir tipis dan hidung mancung itu cukup memberi tahu bahwa Erga lah yang menjadi modelnya. Via tak sanggup menggambar matanya, karena ia tahu bahwa matanya yang membuatnya selama ini jatuh cinta. Biarlah ini menjadi gambar seorang Erga yang tak sempurna.

“Kok nggak ada matanya, Vi?” Shandy, teman curhat Via yang juga merupakan gebetan Aisya, merebahkan pantatnya di kursi sebelah Via. Direnggutnya buku sketsa Via, sambil berusaha menelaah objek yang ada di kertas itu, “hmmm…. Pasti Erga!”

“Hehe… paling tau lo pikiran gue!” Via nyengir kecil sambil memandang gambar itu. Sebersit kerinduan tersirat di wajahnya.

“Udah lah Vi. Erga itu nggak baik buat lo! Masih banyak cowok di dunia ini! Contohnya gue yang imut dan lucu ini,” ujar Shandy sambil mendirikan kerah bajunya.

Via tergelak. “Shandy, lo emang jodoh kali ya sama Aisya. Omongan lo sama persis tau nggak sama dia!”

“Sssst! Diem dong! Jangan keras-keras, ntar ketauan lagi gue suka sama dia!”

Via Cuma tersenyum geli, sambil menelusuri gambar itu lagi, “Hmm… arsiran hidungnya ane…,” kalimat itu terputus, tepat ketika seseorang merebut buku sketsa dengan kasar. Cherry memandang objek dalam buku itu dengan mata berapi-api.

“Oh. Jadi ini Via, gebetan lo! Oke,” katanya kemudian sambil melempar buku itu dengan kesal, sebelum meninggalkan Via yang melongo sesaat.

“Cherry…. CHERRY! Tunggu!!” Via mencoba mengejar Cherry. Gawat. Ini yang aku nggak suka sama Cherry. Mendramatisir keadaan. Tapi aku juga sih yang salah.”Cherry, jangan marah dulu dong, dengerin gue dulu.”

“APAAN SIH VI??? BAHKAN SI NANA TAU KALO LO SUKA SAMA ERGA? GUE LO ANGGAP APA VI??”

Shit! Enough with your damn voice! Namun Via menelan kembali kata-katanya. Rasa bersalahnya lebih besar dari apapun. “Dia kan sahabat gue dari kelas satu Cher. It’s about time. Gue Cuma belum sempet ngasih tau ke elo.”

Cherry menjawabnya dengan menampik tangan Via dan meninggalkannya dengan air mata berlinang. Hilda yang terbangun dan Aisya yang sudah usai mengerjakan latihan tergopoh-gopoh menghampiri Via yang tak sanggup membendung air matanya.

“Say, kayaknya udah cukup deh kayak gini,” ujar Aisya pelan.

Hilda menarik nafas panjang seraya berkata, “Kita harus ngomong ke dia.”

* * *

Sore itu sejuk angin sejuk membelai tengkuk. Langit pun agak berawan dan menunjukkan tanda-tanda mau hujan, menciptakan suasana lebih rileks di antara empat gadis yang sedari tadi membeku. Walau kamar Hilda yang biasa menjadi best camp mereka masih senyaman biasanya, namun suasana yang terbangun masih sedingin es. Sebulir air mata jatuh di pipi gadis yang paling mungil, walau sedari tadi ia bersusah payah menahannya. Tiga gadis yang lainnya saling berpandangan, rasa tak enak menjalar di sekujur tubuh mereka.

“Hm… Cherry, Cherry… main yuk,” Hilda mencoba berkelakar, yang disambut oleh tangis Cherry yang makin sesenggukan, “yah… makin nangis. Garing yah?”

“Banget!” sambar Aisya, yang mendapat satu delikkan tajam dari Hilda.

“Ng… jadi gini, Cher. Cherry sayang. Sungguh, kita sayaaaang banget sama lo! Kita nggak mau liat lo sedih. Pleaseee…,” Aisya mencoba membuka suara. Dan berhasil, sesenggukan Cherry sudah mereda.

“Ada sesuatu yang bikin kalian marah?” tanya Cherry perlahan.Sebenarnya ia sudah merasakannya semenjak hari makan bakso di taman.

Aisya tersenyum kecil, seraya menggelengkan kepala. “Nggak, Cherry, sama sekali nggak. Cuma…,” Aisya menghela nafas, mengumpulkan segala keberanian untuk mengeluarkan uneg-uneg yang kian menumpuk. Menarik nafas, perlahan ia mulai menuturkan, bagaimana kurang nyamannya mereka bertiga dalam berbagi rahasia pada Cherry, bagaimana sifat Cherry yang gampang sekali naik darah, bagaimana kesalnya Hilda jika berhari-hari Cherry membisu tanpa sebab kepadanya. Semuanya, tanpa bersisa. Cherry terdiam, walau bulir air mata masih terus menetes.

“Yah… jadi begitulah uneg-uneg kita, Sayang. Maafin kita ya,” ujar Via hati-hati, sambil terus menatap Cherry.

Cherry menggeleng cepat-cepat. “Huhuhu…. harusnya gue yang minta maaf. Gue emang masih kayak anak kecil. Gue masih nggak bisa ngontrol emosi, gue nggak bisa ngontrol suara, gue… maaf ya.. huhuhu..,” air matanya kembali menetes.

“Ya ampun… Cherry, nggak apa-apa! It’s totally fine with us! Malah kita yang merasa bersalah banget karena secara nggak langsung udah jauhin lo. Akhirnya kita sadar, bahwa diam nggak menyelesaikan segalanya. Dan sekarang misi kita pun berubah, kita ingin menjadikan sahabat kita biar lebiiiih baik dari sebelumnya. Okey!?” ujar Aisya lembut sambil memeluk bahu Cherry, “that’s why we told you Honey.

“Iya, Cher.. Gue juga udah maafin lo kok, walo anak satu kelas sekarang tau kalo gue fans-nya Erga. Hehehe…,” tutur Via seraya merengkuh Cherry dan Aisya bersamaan.

“Aaaah, gua mau ikutan meluk aaaah!” Hilda menghambur ke arah mereka, membuat gadis-gadis itu memekik kesakitan akibat energi besar Hilda yang meluap-luap, “uuuu… cup-cup sayang.”

Baru kali ini Cherry merasa kenyamanan amat memeluk dirinya. Menghadapi seseorang yang tengah mengkritik tingkah lakunya ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Justru sebaliknya, baru kali ini ia terpacu untuk merombak segala kelakuan buruknya, dan berusaha untuk menjadi sosok yang mendekati sempurna bagi sahabat-sahabatnya. Tak terasa sesuatu yang hangat mengalir dari sudut mata. “Kalian masih mau sahabatan sama gue kan?”

“YA IYA LAH….!” sahut Aisya, Via, dan Hilda bersamaan, sebelum mereka kompak tergelak.

“Oke, cukup nangis dangdutnya! Nyokap gue udah nyiapin Sosis Solooo! Ada yang mauuu???” ujar Hilda bersemangat.

“Maaaauuuuu!” dan mereka berempat menghambur keluar kamar.

* * *

Satu kata yang membuatku bergetar : “Semuanya tau nggak? Justru kekurangan lah yang bikin kita tambah deket. Karena berkat kekurangan kita jadi nyempatin waktu untuk duduk di sini dan bicara dari hati ke hati…”

For my Friends….

7 Responses to “Trust us! We’re Still Love You!”

  1. on 01 Apr 2008 at 10:47dela

    uwwwwwww…………….

    keyen!!!

    gw jd semangad wad berubah
    karakter gw cherry bgd!!hhi

    lanjutin yaaaaaaaaa

  2. on 01 Apr 2008 at 13:52dee

    so sweet……….

  3. on 01 Apr 2008 at 17:55Hartanto

    Nice stury
    Lanjutannya kpan nich, soalnya nanggung endingnya

  4. on 02 Apr 2008 at 06:39Nday

    Makasih yah…
    aku lagi berusaha membuat kisah ini lagi nih. doain selesai dalam waktu deket yah…^.^

  5. on 05 Apr 2008 at 17:27netty

    wow…..wow….
    i’m sure it’s so sweet……………..u have a good idea, i’m wait for the ending………………

  6. on 29 Jun 2008 at 03:38dara

    sumpah ceritanya sama persis kaya w..

    n w disitu jadi cherrynya..

    w sempet di jauhin ma shbd w ber3..

    tapi akhirny justru itulah yg bqn kita tmbh lengket..

  7. on 07 Aug 2008 at 13:45layla

    ya sm ky yg laen,,,, gw jg ska bgt’z
    mank bnr sgla kkrgan qt tu mlh bwt qt tw mn yg bs qt jd kan shbat / 9………………….
    py yg pst shbt tu lbh baik dri pacar qt,,,,,,,,,,hehehehehe
    good luck bwt yg nulis,,, gw tggu the next story
    [ * _ * ]

Tinggalkan Komentar