Menuju Tempat Matahari Terbit
Maret 23rd, 2008 by Arki Atsema
Aliran keringat tumpah ruah dari ujung kepala, melata dengan lambannya melalui pipi kiri dan pipi kanan lalu kemudian menyatu di dagu plontos Rendra. Perlahan, keringat itu terjun bebas ke tanah dan semakin deras, seiring dengan irama langkah Rendra yang tergesa-gesa berlari menuju sebuah mobil sedan bekas yang beratapkan samar cahaya rembulan dan terhalang oleh rindangnya barisan pohon rapuh di dalam hutan belantara. Keringat tersebut masih mengumpul di wajah Rendra, bahkan ketika ia sudah menyandarkan badannya di kursi penumpang dan menghembuskan napas leganya di dalam mobil, begitupun ketika mobil tersebut membawanya menelusuri hutan dengan suara pelan seperti orang berjinjit, wajah Rendra masih dengan meriahnya dihiasi keringat. Adalah atmosfer ketegangan dan desir adrenalin yang sedang memuncak di dalam hatinya ditambah kehadiran malam mencekam, yang membuatnya lupa untuk menyeka keringat di wajahnya. Karena, bersamaan ketika bulan purnama mulai tampak bundar di langit, dengan melemparkan senyum kemenangan pada teman di belakanganya, Rendra telah berhasil meloloskan diri dari penjara. Sesuai dengan rencana.
Malam tak pernah sedingin ini dan bulan tak pernah sedekat ini sebelumnya. Suara mesin mobil yang menggerung kencang adalah parade selamat datang bagi Rendra atas udara kebebasan yang kini ia hirup. Tidak ada lagi ruangan segi empat yang kumal dan sempit dengan jeruji besi karatan sebagai pintu masuknya. Kalau mau, Rendra bisa saja berdiri di atap mobil, tidur-tiduran di atas kap mobil, atau mengikat diri pada knalpot dan membiarkan dirinya terseret-seret, apapun bisa ia lakukan. Tidak akan ada yang melarang. Tidak ada sipir penjara yang mengawasi, mengatur, dan membatasi tiap gerak-geriknya. Atau aturan yang mengekangnya setiap detik dan makanan pagi-siang-malam yang dijatah ketat. Kali ini semua berakhir. Seperti burung, Rendra dan kedua temannya sedang terbang menuju puncak gunung tempat matahari terbit.
”Untuk kehebatan kita dan bulan purnama yang telah datang malam ini.” ujar Anwar dari kursi belakang seraya menyodorkan sebatang rokok pada Rendra. ”Tersenyumlah, ucapkan selamat tinggal pada dua tahun terakhir hidupmu.” Anwar menjentikkan korek apinya dan memantulkan sinar kuning keemasan yang redup di wajah Rendra. Senyum dan tawa lahir diiringi asap rokok yang melayang lemah disapu oleh angin, meredam suara binatang malam yang tak pernah begitu nyata seperti saat ini.
Kerikil dan gundukan tanah, tak berdaya digilas oleh roda-roda karet yang hampir gundul. Untuk sesaat, keadaan sepi dari topik pembicaraan yang biasanya mengalir dari mulut mereka. Untuk saat ini, hanya perasaan lepas landas yang mengitari mereka dari ubun-ubun hingga jempol kaki. Dan tidak seorangpun dari Rendra ataupun Anwar yang sudi untuk melewatkan perasaan hebat itu ketika momen pembebasan diri — yang harus mengantri untuk waktu yang cukup lama — masih hangat-hangatnya tercetak di kepala. Belenggu di leher kendur dengan sendirinya, nostalgia dengan dunia luar kini bermekaran di sekitar jantung, beberapa jam ke depan, matahari yang bakal terbit itu tidak hanya dapat dirasakan, tapi juga dipandang dengan mesra sampai ia terbenam lagi.
Rendra menghisap rokoknya dalam-dalam, gemeretak tembakau yang terbakar terdengar bening di telinga. Ia menoleh ke arah kemudi, melihat seorang lelaki dengan postur tegak, penutup kepala berwarna gelap, dan jaket berbahan kasar membungkus tubuhnya. Pembawaannya begitu tenang, walaupun wajahnya menunjukkan garis-garis yang tegas. Penampilan khas dari tipe orang yang sedikit bicara, banyak bertindak. Dan tampaknya cukup berpengalaman dalam mengerjakan tugas-tugas bawah tanah seperti sekarang.
”Krishna kan?” Rendra menyapa
Krishna setengah menoleh lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan, semacam gerak menghormati, sambil memancarkan sorotan mata yang awas.
”Terima kasih,” kata Rendra sambil melakukan gerak hisap-hembus yang biasa ia lakukan di dalam selnya, ”atas kerjasamanya. Dan, untukmu Anwar,” lanjut Rendra, ”untuk setiap rencanamu yang luar biasa itu. Entah untuk yang keberapakalinya kau menolongku. Terima kasih 1000 kali!”
”Tidak usah berlebihan, saudaraku,” balas Anwar, seraya tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi yang menguning, ”nikmati saja perjalanan ini.”
Lelah mengering dan rasa senang mencair, hukum telah mereka kelabuhi dengan telak. Hampir 2 bulan mereka memutar otak menyusun rencana ini. Dengan sabar dan ketelitian, setiap detail terekam di masing-masing kepala, setiap sistem yang bekerja dipelajari dengan seksama, dan setiap celah dimanfaatkan dengan sempurna. Habislah sudah lamunan siang bolong mengenai liburan panjang di tepi pantai dan segala hal lainnya yang selama ini hanya jadi koleksi imajinasi dalam rak kebahagiaan mereka. Keterkekangan tersapu oleh rencana berumur dua bulan itu yang terwujud hanya dalam tempo kurang dari 15 menit. Ya, hanya sekitar 15 menit. Dua tahun sudah mereka lewati di dalam sel yang lembab, namun cukup 15 menit yang dibutuhkan untuk mengakhirinya.
Bukan penantian yang sia-sia bagi mereka setelah makin menumpuknya sekelumit rasa kesal, aib, dan dosa di dalam batin dan kini bangunan penyesalan itu seakan telah runtuh tak berbekas lagi. Seekor kunang-kunang melintas, memperlihatkan kerlipnya di depan kaca mobil, dengan gesitnya memadukan manuver terbangnya dengan permainan tata cahaya yang apik, seperti pertunjukkan aerodinamis yang meriah. Anwar meraih saku jaketnya dan membuka sebuah buku catatan. ”Hari ini, kita akan menempuh sekitar 3 jam perjalanan menuju pelabuhan B. Dan di sana kita akan bertemu seorang teman yang akan mengurus semuanya, dalam beberapa minggu kita akan memiliki paspor dan identitas baru.”
Rendra menggumam perlahan, dengan antusias mengikuti alur perkataan Anwar. ” Teman kita itu nanti akan memberikan petunjuk selanjutnya mengenai apa yang harus kita lakukan. Kau tak perlu khawatir, dia orang profesional, asal kau tahu saja,” Anwar mendekatkan mulutnya ke telinga kanan Rendra lalu berbisik, ”dia juga sama seperti kita, dan tak ada yang bisa menangkapnya sampai saat ini.”
Rendra tersenyum, mengeluarkan suara tawa yang putus-putus diiringi dengan gerakan jakun naik turun.” Baiklah aku setuju dengan rencanamu asalkan jangan sampai aku harus memakai kacamata hitam dan wig di kepala.”
”He he he, kau pikir kita serendah itu.”
”Dan bagaimana dengan pesananku?”
”Sudah kusiapkan, Krishna yang menyimpannya. Tanyakan saja padanya langsung.”
Sambil terus asyik mengemudi dengan pandangan tanpa ekspresi ke depan, Krishna mengetuk-ngetukkan tangan kirinya ke permukaan kasar laci mobil. Rendra membuka laci mobil di hadapannya dan menemukan pesanannya itu telah terbungkus dengan anggun disertai pita merah muda yang membuatnya terlihat genit. Bungkusan tersebut diraihnya dan diletakkan pada pangkuannya. ”Kado ulang tahun. Putriku tercinta.”
”Putrimu akan senang dengan isinya,” ujar Anwar.
”Ya, ya, ya, aku percaya padamu. Kerja bagus sobat, aku tak sabar ingin melihat reaksinya.”
”Untuk yang satu itu, sepertinya kau harus lebih bersabar lagi. Ingat, kita mampir ke rumahmu hanya untuk mengambil beberapa pakaian dan menyimpan kado itu di depan kamar anakmu, sehabis itu kita melanjutkan perjalanan. Kita punya jadwal yang harus ditepati.”
”Ya, aku mengerti.”
”Dan jangan membangunkan istrimu, atau kita….”
”Ya aku tahu. Istriku hanya akan merusak rencana kita. Tenang saja, tak usah terlalu mengingatkanku seperti itu.”
Mobil terus melaju di atas jalanan bergelombang melewati pemakaman kecil yang menyedihkan dan sampai tak berapa lama di kota kecil yang suram. Suasana sepi di tengah malam menegaskan sambutan kota tersebut terhadap mereka bertiga seperti sebuah tatapan yang dingin. Namun aroma kota itu masih terasa familiar di hidung Rendra. Tidak ada yang berubah, tidak pula terlihat sama seperti dua tahun yang lalu, dan setiap inchi aspal yang dilalui membangkitkan satu per satu kenangan yang telah lelap di mana senyum, amarah, dan air mata menjadi pensil warnanya. Barisan rumah-rumah tampak sedang beristirahat dari rasa lelahnya dengan tenang. Seisi kota tertidur.
Rendra membuka kaca mobil lalu merentangkan tangan kirinya ke luar merasakan kembali atmosfer kota yang pernah memilikinya itu. ”Entah mengapa aku justru berharap kita segera sampai di pelabuhan B saat ini. Tapi aku juga begitu merindukan kota ini. ”
”Aku bisa merasakan perasaanmu itu.”
”Kau harus lihat bagaimana matahari terbit di kota ini.”
”Kita akan melihat matahari terbit di pelabuhan B.”
”Apa kamu yakin bisa lebih indah dari yang di sini.”
“Bisa jadi.”
***
Mobil berhenti dengan sangat perlahan di depan sebuah rumah. Suara mesin meredup lalu menyatu dengan suara malam yang kesepian. Sebuah rumah, dengan cat putih kusam, menjulang diselimuti gelisah, memperlihatkan ketenangannya seakan sedang menyembunyikan paras aslinya yang tampaknya akan segera rubuh. Rendra terdiam sejenak. Ia mengamati rumah tersebut dari dalam mobil. Persis seperti yang ia bayangkan, rumah tersebut nampak tidak tersentuh oleh perubahan, kondisi yang sama dengan saat ia meninggalkan rumah itu dua tahun yang lalu. Bahkan cahaya lampu luarnya masih redup seperti dua tahun yang lalu. Begitupun dengan dindingnya yang mengelupas dan rumput-rumputan yang berdesakan dengan semrawutnya di tanah. Tampak dalam wajah Rendra sebuah kerinduan yang baru saja tercurahkan.
Tapi sebuah sepeda roda tiga mungil berwarna merah muda yang terparkir di teras rumahnya adalah sesuatu yang tidak ada di rumah ini dua tahun yang lalu. Tak perlu waktu lama bagi Rendra untuk menebak bahwa itu adalah sepeda milik putrinya tercinta, si kecil Ros, yang malam ini baru saja menginjak umur 7 tahun. Dalam benaknya, ia merenungkan betapa waktu begitu cepat berlalu. Ia ingat ketika terakhir kali saat si kecil Ros selalu tidur ditemani boneka beruang kesayangannya. Ia membayangkannya dengan sangat jelas sebuah foto si kecil Ros yang mendekap boneka beruangnya itu, dan kini, Ros telah memiliki mainan baru yang menegaskan bahwa dirinya bukanlah anak kecil seperti dulu lagi. Sayang sekali, Rendra tidak berada di sana untuk melihat setiap detik perubahan berlangsung pada diri Ros.
Saatnya telah tiba, Rendra membuka pintu mobilnya dengan sedikit keraguan. Sempat terpikir untuk segera lari, namun hari ini hari ulang tahun Ros yang tak bisa ia lewatkan begitu saja. Sebelum menjejakkan kakinya ke tanah, Anwar memegang bahu kanannya dari belakang, “Ingat, aku tak ingin kau bertengkar dengan istrimu dan membuat rencana kita berantakan.”
Rendra menganggukkan kepalanya, meyakinkan Anwar bahwa iapun tidak ingin rencana ini hancur begitu saja. Pintu ditutup dengan sepelan mungkin. Rendra melangkah sendirian menuju pintu rumah sambil membawakan bingkisan putrinya dengan hati-hati. Dalam hati ia bicara, “Aku yakin 100% kalau pintu ini tidak dikunci.” Dan memang seperti itu kenyataannya, ia menekan gagang pintu dengan perlahan dan melihat seisi ruangan yang gelap gulita. Sebelum masuk, ia memandang ke arah mobil di belakangnya lalu mengacungkan jempolnya, menunjukkan pada Anwar bahwa ia tahu apa yang akan ia lakukan.
Kembali ke rumah membuat perasaannya berbunga-bunga. Ia berkeliling di dalam rumahnya, menuju dapur, melewati ruang tengah di mana TV 20 inchi itu masih saja ada di sana, melihat ke dalam kamar mandi yang lebih bersih dan lebih sedap dipandang mata dibandingkan dengan kamar mandi di penjara, melalui meja makan yang dibelinya saat baru menikah dulu, dan gudang tempat motor rusaknya berada. Kenangannya bangkit kembali menjalari setiap bagian tubuhnya. Rumah ini telah menjadi salah satu hal terpenting yang telah hilang dalam dua tahun belakangan ini.
Ia duduk sejenak di atas sofa merah di ruang tengahnya. Meneliti kembali apa yang pernah ia kenali. Walaupun terasa sedikit hambar, namun ia merasakan dirinya dua tahun yang lalu berusaha untuk masuk kembali melalui pintu jiwanya dengan malu-malu. Dan mungkin saja tanpa disadari, ia telah memanggil dengan berteriak, segala hal yang telah ia lewatkan, yang pernah ia miliki dan kini hilang begitu saja tanpa tahu cara untuk memulainya dari awal lagi. Sedikit-sedikit rasa betah menawar semangat petualangnya yang tumbuh malam ini. Ia merasa dituntut oleh keabsenannya di tempat ini dan di saat-saat di mana ia memiliki porsi yang besar untuk hadir. Bukankah selama ini tidak ada yang hilang kecuali dirinya di dalam rumah yang mulai sunyi ini? Kegaduhan dan keceriaan mengisi lubang kerinduannya sambil berdesakan dan menanyakan kabar pada dirinya dengan nada sinis. Rendra hanya bisa diam menghitung waktu yang ia pikir telah ia miliki. Dan kini entah mengapa, semua yang terlihat hancur tampaknya masih harus duduk di ruang tunggu yang lapang untuk diperbaiki.
Rendra bangkit dari duduknya, ia berjalan menyusuri lagi tiap sudut rumahnya. Waktu terus berjalan, dan kali ini ia tahu arah mana yang hendak dituju. Si kecil Ros berada di dalam kamarnya, membiarkan pintu kamarnya sedikit terbuka memancarkan cahaya kelam dari dalam. Keadaan ini menggodanya untuk masuk, untuk sekedar menatap wajah anaknya, mencium keningnya, atau menaikkan selimut menutupi permukaan badan mungilnya. Ia berjalan dengan perlahan mendekati kasur tempat si kecil Ros memunggunginya. Lampu di sisi tempat tidurnya tampak letih berpijar.
”Selamat ulang tahun.” Rendra berbisik dengan halus seraya meletakkan kado di meja tempat lampu redup itu berdiri. Di meja itu berdiri pula beberapa bingkai foto kerdil berhiaskan beberapa dokumentasi historis yang menceritakan sejumlah deret waktu yang telah dilalui oleh Ros. Wajah lugunya ketika masih bayi, senyum menggemaskannya ketika berusia 3 tahun, posenya bersama Rendra dan ibunya di atas motor baru yang dibeli Rendra sekitar 3 tahun lalu, dan foto terakhir yang belum pernah Rendra lihat sebelumnya adalah ketika Ros bergaya dengan mengenakan seragam sekolahnya. Seketika senyum menetes dari wajah Rendra.
Sebuah buku merah muda terbuka lebar bersama sebuah pensil yang juga berwarna merah muda tergeletak di atasnya. Tulisan-tulisan di atas buku itu nampak masih hangat. Dalam hati, Rendra terkesima mengetahui anak perempuannya kini sudah pandai menulis.
Halo Diary, si kecil Ros menulis, Besok umurku adalah 7 tahun. Tak sabar menunggu datangnya besok. Di sekolah, Anna adalah orang pertama yang ingat hari ulang tahunku. Lalu Martha dan Bimo. Mereka menanyakanku hadiah ulang tahun. Aku sendiri tak tahu. Aku sudah besar dan tidak tertarik dengan kado. Ulang tahun kemarin yang kudapat adalah diary ini. Tapi aku ’kan sudah punya rencana lain sama Mama. Besok saat hari ulang tahunku, aku akan pergi bersama Mama. Coba tebak ke mana? Ya, aku akan menemui Papa.
Rendra berhenti sejenak. Ya, aku akan menemui Papa, kalimat itu berputar-putar dalam benaknya. Ia melihat kalimat itu berkali-kali di atas buku harian Ros mencoba meyakinkan dirinya bahwa Ros menuliskan kata ”Papa”, bukan yang lain. Ia membacanya lagi berulang-ulang di dalam hatinya, lalu membacanya lagi dengan gerakan bibir, sampai akhirnya ia berbisik halus mengatakan, ”Aku akan menemui Papa.” Sudah begitu lama ia merindukan anaknya datang menjenguk dan bukti tulisan yang baru saja ia temukan menimbulkan getaran kecil di dalam tubuhnya.
Mama ingin aku memberikan kejutan padanya. Aku belum pernah melihat Papa sejak ia masuk Azkaban, seperti paman Harry Potter. Tapi aku sudah siap. Hasil tabunganku selama ini ditambah dengan uang pemberian Mama, kubelikan sebuah jaket berwarna biru dan celana panjang cokelat yang penuh manik-manik. Aku yang pilih. Semoga Papa suka. Aku ingin lihat lagi wajah Papa. Besok akan kuceritakan lagi apa yang terjadi. Sampai besok, diary, aku harus bangun pagi.
Dengan pelan, Rendra meletakkan buku itu kembali di tempatnya. Ia menghembus napas panjang. Berusaha menebak-nebak apa kiranya yang sedang ia rasakan jauh di dalam hatinya kini. Perasaan yang begitu abstrak. Perasaan sangat nyata yang sekuat tenaga ingin ia genggam erat. Ia duduk di samping lampu yang telah lelah itu. Merenungkan bahwa waktu telah terlanjur berlalu dan kini sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Sekali lagi ia melayangkan pandangan ke sekeliling kamar, dan tanpa terasa, air mata sudah sedari tadi mengalir di pipi.
***
Rendra beranjak keluar rumahnya, pintu masuk ditutup dengan meninggalkan sedikit suara. Anwar menunggu di luar mobil sambil merokok. Dari gelagatnya, sepertinya Anwar sedang diselimuti kegelisahan. Mungkin karena Rendra terlalu lama di dalam, dan Anwar khawatir misinya ini akan hancur berantakan. Untuk hal-hal seperti sekarang memang setiap spekulasi harus selalu diperhitungkan. Anwar berjalan mendekati Rendra, dan kegelisahannya bertambah ketika dari balik redupnya cahaya lampu, Anwar menemukan bingkisan itu masih dipegang oleh Rendra di tangan kanannya, persis seperti saat ia masuk ke dalam tadi.
”Ada apa? Kenapa lama sekali di dalam? Dan kenapa kado itu masih kaubawa? Kau tidak akan akan kuizinkan lagi masuk ke dalam. Kalau mau tinggalkan saja kadonya di depan pintu masuk.” seru Anwar menyambut kedatangan Rendra.
Rendra duduk di beranda rumahnya dengan gerakan acuh, tidak mempedulikan kata-kata yang dilontarkan Anwar. Dalam pikirannya seperti sedang terjadi sesuatu dan tercermin di wajahnya yang menyiratkan relief kebingungan. Ia menatap tanah. Bingkisan itu ia taruh di sampingnya. Lalu dengan perlahan ia berkata, ”Aku tidak tahu.”
”Apa maksudnya ini? Pasti istrimu lagi ’kan? Apa dia mengancam akan melaporkan kita ke polisi? Hah? Sialan!”, sahut Anwar dengan nada sedikit tinggi.
”Tidak. Aku tidak melihat istriku barang sedetikpun. Mungkin dia sedang tertidur di kamarnya, aku tidak tahu. Tapi ini tentang putriku.”
Mereka berdua hening sejenak. Saling menanti reaksi masing-masing. ”Putrimu sakit?”
”Tidak. Ia sehat-sehat saja. Bukan masalah itu, ini lain lagi. Lebih rumit. Aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya.”
”Katakan saja apa yang terjadi. Ayolah jangan mengulur-ulur waktu lagi.”
”Sepertinya…entahlah, aku bingung. Entahlah, aku tidak tahu.”
”Berhenti main-main. Ayo, katakan saja.”
”Begini, aku…baiklah, aku akan menyerahkan hadiah ini secara langsung pada putriku pagi ini.
”Secara langsung? Pagi ini? Apa maksudkmu?” Anwar menatap dengan serius kedua mata Rendra, dalam hatinya timbul sekilas gambaran mengenai rencananya yang sedikit-sedikit mulai digerogoti tikus got. “Oh tidak, jangan bodoh! Kau ingin mengajak putrimu bersama kita, hah? Tidak. Ini bukan rencana kita. Kamu tahu ini bukan bagian dari rencana kita. Sama sekali tidak!”
“Persetan dengan rencana itu! Aku berubah pikiran. Ya, sepertinya aku berubah pikiran.”
”Jangan sinting! Putrimu hanya akan merepotkan kita.”
”Diam kau! Jangan menjelekkan putriku. Lagipula siapa yang akan membawa dia pergi bersamamu.”
”Jadi, apa maksudkmu?”
Rendra menahan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya. Ia berkeringat lagi, gerakan napasnya semakin cepat dan tak beraturan. Ia mengumpulkan semua keberaniannya, dan tak lama ia melanjutkan, ”Aku akan kembali ke penjara, sekarang.”
Ini seperti bunyi gong di telinga Anwar yang memecahkan segala-galanya menjadi serpihan. Wajahnya berubah tegang. Ingin sekali rasanya ia tidak mempercayai ini, tapi sayangnya perkataan Rendra terucap tepat di depan kepalanya, dan Anwar tak kuasa mengelak. ”Luar biasa! Rupanya temanku ini sedang kesurupan. Bagus! Selanjutnya, biar kutebak. Kau akan balik lagi ke penjara, lalu sampai pagi mendekorasi seluruh sel dengan balon dan sebagainya untuk perayaan ulang tahun putrimu. Lalu sepanjang pagi kau terus berdo’a mengharapakan kedatangan putrimu itu, namun ternyata putri dan istrimu itu tak kunjung datang. Dan kau baru ingat bahwa mereka memang tak pernah datang sejak kau dipenjara 2 tahun lalu. Dan sambil menangis, kau menyesal, ’seandainya saja aku menuruti nasihat Anwar, sekarang pasti aku sudah bermain ombak di tepi pantai’. Itukah yang kamu inginkan? Ya kan?”
”Jangan menghina. Aku tahu putriku akan datang. Pagi ini segalanya akan berubah. Ia akan datang dan mengubah semua yang sia-sia yang aku nantikan selama ini.”
“Demi Tuhan, sadarlah Rendra. Sadarlah dengan apa yang telah kita lakukan untuk hari ini. Apa kamu yakin akan membuang semuanya begitu saja?”
”Sudah kubilang, aku tak lagi peduli dengan ini!”
”Gampang sekali kau bicara. Lalu bagaimana dengan nasibku?
”Kau lanjutkan saja semua rencanamu itu. Aku tidak akan membocorkan ini pada siapapun. Napi lain mungkin iya, tapi bukan aku. Pergi sajalah dari sini. Yang jelas malam ini, aku akan kembali lagi ke penjara.”
Anwar membanting rokoknya dengan kesal ke tanah dan menimbulkan percikan api kecil yang berterbangan dan kembali lagi jatuh menghujam permukaan berkerikil. ”Terserah apa maumu, brengsek!”. Ia membalikkan badannya lalu berjalan menuju mobil dengan langkah berisik. Lima detik kemudian, ia kembali lagi menuju Rendra. Dengan kesal ia menampar pipi kiri Rendra, ”Aku terlambat setengah jam!”, dan ia berlari kecil menuju mobil sementara pipi Rendra terbakar akibat ulahnya. Kemudian mesin mobil menyala, dan tanpa basa-basi melesat menuju jalan yang lengang. Suara mobil terdengar memudar dari kejauhan meninggalkan Rendra yang duduk sendiri di beranda rumahnya. Tanpa sedikitpun raut penyesalan, ia meraih bingkisan di sebelahnya, dan berjalan dengan santai menyusuri permukaan bumi menuju kembali ke penjara.
Ditemani dengan angin dingin dan dihiasi oleh latar suara jangkrik bersahut-sahutan, Rendra meniti langkahnya seorang diri. Ia menatap terus bingkisan di tangan kanannya seolah untuk menghindar dari godaan yang terus membisikinya saat ini. Akal sehatnya tak lagi ditanggapi. Ia bergerak menuju tempat yang ia percaya sebagai batu pijakan untuk sebuah awal. Awal yang menurutnya akan terwujud dalam sebongkah kebahagiaan. Di mana akhirnya, penantian panjang itu akan terjawab satu-satu. Dan Rendra, sebagai individu telah membuktikan bahwa ia berhasil menolak hal yang ia inginkan untuk hal yang paling ia inginkan selama ini: keluarga kecilnya.
Waktu tak terasa berlalu, malam tidak lagi menyisakan syaraf kehidupan. Lambat laun muncul sorotan cahaya menuju punggung Rendra. Ketika cahaya itu menjadi semakin menyilaukan, suara mesin mobil mengendap-ngendap merasuki kedua telinganya. Mobil sedan itu datang lagi.
”Aku sudah terlambat dan rasanya malas kalau pergi sendirian.” Anwar menjulurkan wajahnya melalui jendela depan mobil. Ia masih menghisap rokok dan memandang wajah Rendra, ”kali ini kita akan pergi ke tempat yang sama. Naiklah,” ujarnya, ”sebelum aku berubah pikiran.”
***
Mereka sekali lagi melewati pemakaman kecil yang menyedihkan itu, meninggalkan kota kecil yang suram di belakang mereka. Bulan purnama memudar, gundukan tanah dan kerikil digilas sampai rata, lalu pepohonan tinggi nan rapuh menyambut mereka yang telah pulang dari sebuah pelarian. Keadaan sangat sunyi mengitari ruangan dalam mobil. Hanya suara mesin yang nyaring terdengar. Tidak ada yang berbicara satu sama lain. Tak sepatah katapun.
Dan sampailah mereka di tempat awal dari setiap kejadian malam ini. Rendra dan Anwar turun dari mobil. Lewat jendela mobil, Anwar berbicara pada Krishna, ”Sampaikan pada bosmu, rencana ditunda sampai waktu yang tak tentu. Suruh dia untuk tidak menunggu di pelabuhan B. Kita tak akan datang pagi ini.” Krishna mengangguk dengan pelan.
Begitu mereka berdua berjalan menjauhi mobil, tiba-tiba Krishna setengah berteriak ke arah mereka, ”Kalian berdua adalah orang paling tolol yang pernah kulihat!”. Dan mobilpun melaju menuju hutan meninggalkan suara mesinnya yang terdengar capek.
”Sialan,” Rendra menyahut, ”tadinya kupikir dia itu bisu.”
”Aku kira juga begitu.”
Mereka berdua dengan gontai berjalan. Sampai akhirnya masuk ke dalam lubang di tanah yang menyambungkan mereka menuju ke dalam penjara. Selama 15 menit mereka di dalam tanah, hanya suasana dingin yang tersisa. Tidak ada lagi keakraban yang sebelumnya hadir. Sampai suatu saat, ketika mereka berhasil sampai di dalam penjara tanpa ketahuan petugas, Anwar mengatakan, ”Sampaikan salamku pada putrimu. Kupikir dia akan datang pagi nanti.” Rendra mengangguk sambil tersenyum nikmat. ”Selamat malam.”