KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Kupu-Kupu Pilihan

“Di hadapan Pasukan Cahaya. Dalam kamar yang tertutup rapat, aku merintih dihujat waktu, seakan berjalan tanpa kaki, tak kenal letih selalu perih menindih…”

***

Malam itu Karti sibuk merenungkan nasibnya. Bicara pada kupu-kupu yang kedinginan di malam itu. Siang tadi orang tua Karti bilang kalau mereka akan datang ke rumah Karti. Dia bingung apakah aib ini harus disembunyikan, atau perlukah mereka mengetahuinya?
Sembari melirik kupu-kupu yang hinggap di lampu taman itu, Karti mengeluh dalam hati.

“Hai… kupu-kupu, kenapa kamu masih berada di waktu ini, bukankah ini sudah malam? Apakah kamu tidak takut akan dosa? Dosa dari rintihan waktu yang telah kamu binasakan.”
Satu di antara dua kupu-kupu itu berwarna merah terbang menghampiri Karti. Persis di samping dia duduk. Dan merekapun terlibat dalam percakapan tentang isi hati masing-masing.

“Apakah salah kalau aku keluar malam?” suara kupu-kupu itu balik bertanya kepada Karti.
“Tidak ada yang salah dengan waktu,” dengan suara pelan dan pasrah, Kartipun melanjutkan perkataanya, “memang tidak seharusnya, tidak penting membicarakan waktu, biarkan waktu berlalu sesukanya, hanya akan menyisakan penyesalan kalau kita merajuk kepada waktu.”

Sambil berlalu dari tempat hinggapnya kupu-kupu yang kedua berwarna putih, terbang menghampiri Karti.

“Kamu menyindirku?” ucapan itu terlontar begitu saja dari kupu-kupu putih tanpa disangka Karti sebelumnya.

“Tidak, aku tidak ada maksud untuk menyindir siapapun,” jawab Karti.
“Kamu bohong!” balas kupu-kupu putih membantahnya, dan kupu-kupu putih itu melanjutkan perkataanya dengan rasa malu yang menggeliat dihati, “sebenarnya aku sadar memang tidak seharusnya aku berkeliaran di malam hari, dengan tampilan yang akan menarik mata penghuni malam.”
Seakan mementahkan perkataan kupu-kupu putih! Kupu-kupu merah balas menimpalinya, “Akh… sudahlah, sadar atau tidah sadar, dosa ataupun tidak, yang penting hasilnya sekarang sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup dan gaya hidupmu. Coba pikir! Seandainya kamu keluar di siang hari, apa yang dapat kamu lakukan? Terlalu banyak pekerja di siang hari, yang menghiasi bunga-bunga di taman ini, sedangkan bunganya sudah semakin sedikit dan semakin suka memilah-milah kupu-kupu mana yang boleh menghinggapinya. Ditambah lagi dengan peraturan yang akan menancapkan bunga larangan di taman ini.”

***

Malam semakin larut!
Sambil mengencangkan ikat pinggangnya, seorang laki-laki tua telah menutup pintu kamar dari luar. Sementara di dalam kamar Karti tengah sibuk membersihkan tempat tidurnya yang berantakan. Diambilnya lembaran-lembaran rupiah yang ditinggalkan laki-laki tadi dan beranjak lagi keluar menuju taman.
Menjelang subuh, sudah belasan kali pintu kamar itu dibuka dan ditutup.

***

Azanpun berkumandang, sekumpulan malaikat turun dari langit, membawa buku bertemakan Diary Subuh. Di suatu subuh yang sakral, beberapa ekor kupu-kupu telah lelap dalam tidurnya. Kecuali kupu-kupu putih tadi. Dia menangis, dia ketakutan mendengar panggilan itu. Pangilan azan itu terdengar sangat nyaring ditelinganya, dia bisa memaknai panggilan itu. Ingin sekali dia membalas panggilan itu tapi suaranya tertahan oleh isak tangis yang begitu pilu. Tak urung niatnya untuk menghampiri panggilan itu, tapi kakinya terbelenggu, tangannya terbalut dua sayap bersulamkan emas.
Dalam isak tangis yang tak terbendung, kupu-kupu putih itu berucap lirih, “Di hadapan Pasukan Cahaya. Dalam kamar yang tertutup rapat, Aku merintih dihujat waktu, seakan berjalan tanpa kaki, Tak kenal letih selalu perih menindih. Adakah yang mau mempercayakan kakinya untukku? Membiarkan aku berjalan menemui pangilan itu. Adakah yang mau mempercayakan tangannya untukku? Membiarkan aku membasuh tubuh yang kotor ini.”

8 Responses to “Kupu-Kupu Pilihan”

  1. on 28 Mar 2008 at 19:14Angga

    Wah ceritanya bagus loh…Kalo bisa dipanjangin ceritanya to bikin part II oke…

  2. on 09 Apr 2008 at 14:44Ranin

    fauzan aku suka sm cerita kamu, tapi alangkah bagusnya kalo ceritra kamu itu, kamu susun jadi novel. Kan ntar bisa tambah keren….

  3. on 09 Apr 2008 at 14:48Ranin

    fauzan aku suka sm cerita kamu, tapi alangkah bagusnya kalo ceritra kamu itu, kamu susun jadi novel. Kan ntar bisa tambah keren…. salam sastra dariku…… bye.. bye.. NB:kirim email cerpen kamu ke alamatku ya,,,,,,,,,segera…. ocheyyyyy

  4. on 11 Apr 2008 at 12:26Epank

    Cerita yg bagus, aku sependapat dgn saran yang pertama. Slmt brkarya.

  5. on 20 Apr 2008 at 01:18alonk

    halo bro….
    boleh juga ya kamu sekarang…
    banyak berubah….
    bikin cerita kupu-kupu liar bro…
    hehehehe.

  6. on 28 Apr 2008 at 06:39x-z

    cip2 ^_^
    i like it

  7. on 25 May 2008 at 13:24sHyntia

    mm,,,,
    BaGus da,,,,

    seManGat dh waT nuLis cerIta yG laen yaCh,,,,

    GOOD LUCK,,,

    btw,,,kaPan pLgny neh???????????

  8. on 04 Jun 2008 at 14:18santi

    figure of speech-nya bagus (cieeee)
    mungkin kamu bisa nambahin “konflik diri/dalam hati” yang dialami si kupu-kupu puith tadi, zan.

    btw, coba deh baca “elevn minutes”-nya paulo coelho

    keep on writing, bro’!

    ^_@_

Tinggalkan Komentar