KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Untuk Malaikatku, Alexa

Semalaman aku menunggu Brennan kembali di sampingku, merebah, menyentuhku. Ternyata keputusanku sia-sia belaka, pagi ini aku bangun sendirian. Sendiri di ranjang putih, di dalam kamar berdinding putih, bersebelahan dengan meja, di atas meja ada setangkai bunga berkelopak putih. Baju di tubuhkupun sama putih dengan mereka. Tidak nampak setitik noda. Selain noda di dalam hatiku.

***

“Pagi Mama, hari ini kita ke taman ya?” si kecil Alexa melompat ke pangkuanku, menyelipkan kepala kecilnya ke pelukanku.

“Iya, nanti kita ke taman.” Kucubit pipi tembem anakku. Anakku dan Brennan.
Alexa berlari kecil di antara ayunan dan mainan lain. Anak-anak lain seusianya juga banyak, tengah menikmati kasih sayang dari kedua orangtua mereka. Melihat kebahagiaan itu, kadang membuatku iri. Semestinya Alexa juga menikmati hal serupa. Lima tahun sudah dia hadir ke dunia ini menemaniku. Selama itu pula aku sendirian memimpikan Brennan datang untuk Alexa, untukku jika masih mungkin.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki, kira-kira berumur tujuh tahun menghampiri Alexa. Ia mengulurkan tangan ingin berkenalan. Anakku malu-malu menyambut undangan kecil itu, dengan senyum tersipu lucu ia menyentuh cepat ujung jari teman di depannya. Tak lama kemudian mereka telah akrab, bermain berdua, tertawa bersama, meloncat, berkejar-kejaran, dan duduk bersandar bangku taman merasakan nikmatnya lelah. Terasa kenikmatan itu juga kualami. Melihat tawa, senyum bahagia Alexa membuatku menerima satu perkuatan baru.

Pertemuan dengan teman baru itu berakhir kala sore. Keduanya terlihat capek, tapi tersisa gurat senyum di bibir imut mereka. Namanya Gading, ia bersama dua orangtuanya sengaja ke taman karena libur panjang tidak bisa dihabiskan hanya di rumah. Ketika aku menuntun Alexa pulang, ia terus saja menatap punggung Gading dari kejauhan, sampai sosok satria tampannya itu tidak lagi nampak.

“Bagaimana Alexa, tadi kamu senang bermain di taman?” seakan aku bertanya pada diri sendiri. Aku sudah tahu Alexa langsung tertidur sejak meninggalkan taman. Aku mengemudi terjaga sendiri. Saat seperti inilah rasa sakit di hatiku mengeluh. Membisikkan andai-andai ke kepalaku, dan pada waktunya cuma ada perih merambat menyesak rongga dada. Di sanalah kesepianku biasa tinggal.

Pekerjaanku sebagai konsultan desain kamar anak memberikanku cukup waktu di rumah. Rumah mungil di tengah kebun bunga luas. Sehari-hari bila tidak ada ibu atau ayah seorang anak memerlukan keahlianku, kusibukkan diri bersama Alexa. Aku tak memasukkan dia ke playgroup. Menurutku di sisiku lah tempat terbaik untuk mencurahkan seluruh kasih sayangku. Di dekapankulah ia aman, denganku sajalah ia tertawa. Meskipun rasanya sangat egois mengasingkan kekasihku ini dari senyatanya dunia luar. Karena aku masih belum rela kehilangan lagi sebuah cinta.

“Mama… ada telpon nih. Alexa nggak kenal lo Mah…” Alexa memberikan telpon itu padaku, kuhadiahkan satu kecupan di pipinya. Sambil berlalu dia meniupkan kecupan kecil ke arahku.

“Hallo, saya Maria. Dengan siapa saya bicara?” ku tunggu. Di seberang amatlah sunyi, tak ada jawaban beberapa lama.

Kemudian suara lirih berbisik dari ujung sana memanggilku, “Maria….”. Meskipun hanya berupa sisa-sisa, kenangan akan sebutan itu telah meruntuhkan bangunan kekuatanku selama ini. tanggul-tanggul kokoh di mataku pecah, air mata yang terkurung akhirnya terbebas. Tak sadar aku sesenggukan, duduk di atas kakiku, menangis di samping gagang telepon, telah kuputuskan hubungan.

“Ma… kenapa nangis? Ada orang mau jahat ke Mama ya….. Mama…,” Alexa memelukku erat. Diciuminya pipiku, keningku dan sesekali jari-jarinya membelai rambutku dengan lembut. Dia seakan malaikat kiriman Tuhan buatku. Di dalam pelukan itu, dengan cepat aku sembuh. Kembali kutangkapi puing kekuatan yang runtuh jatuh dan kubangkitkan lagi menjadi sebuah benteng. Kututup retakan tanggul kesedihan ini, karena Alexa menunjukkan cara menjadi tegar padaku.

***

Hari ini adalah hari pertama Alexa masuk taman kanak-kanak. Bersama Gading yang sekarang kelas satu SD ia berangkat ke sekolah masing-masing. Orangtua Gading sedang ke luar kota beberapa hari. Sejauh ini keluarga muda itu percaya padaku dapat menjaga Gading dengan baik. Apalagi kamar Gading adalah salah satu buah keterampilanku mendesain. Aku juga senang akan kehadiran Gading di rumah. Setidaknya Alexa tak lagi terus saja menyuruhku bermain sepak bola seperti biasa Gading lakukan bersamanya.

“Daah… Alexa. Banyak teman ya di sekolah nanti. Mama antar Gading sekolah dulu. Bye…” Alexa berlari melambaikan tangan memasuki gerbang bergabung dengan sosok-sosok mungil lainnya.

“Bye Alexa, have a nice day Alexa….!” teriak Gading menembus kaca mobil melaju pelan meninggalkan gerbang sekolah. Kuantarkan dia ke sekolah. Anak baik, ia selalu memberi perhatian pada Alexa. Ruetnya jalanan bukan penghalang bagiku membawa minicar ini ke tujuan.

“Tante, nanti kalau Alexa SD, sekolahin di tempatku ya. Biar aku bisa jagain dia. Tante…tante…sekolahku kelewatan, itu di belakang….!”

“Ah…maaf-maaf Gading, kelewat ya.” Baru saja aku terbawa ke masa lalu, masa getir itu masih saja sering mampir di otakku. Dan tak tahu telah melintasi depan sekolah Gading yang dekat dengan sekolah Alexa.

“Bagaiman tante? Boleh nggak nanti Alexa didaftarin ke sekolahku?”

“Tentu sayang, Alexa pasti senang bisa bareng kamu terus. Daah… buruan gih nanti telat lho…” Sopannya dia mengecup punggung tanganku memberi salam perpisahan. Baru setelah dia bergerombol bersama teman-temannya dan masuk halaman sekolah, aku kembali pulang. Ketenangan kini menyandingku, menghangatkan tubuh.

Minicar terparkir rapi di dalam garasi. Kutenteng dua tas berisi penuh barang belanjaan, kusempatkan ke swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari dan sebuah baju. Waktu hendak masuk lewat pintu samping rumah yang akan langsung ke ruang tengah dan dapur, aku baru sadar kalau aku lupa membawa kuncinya. Terpaksa aku memuatar lagi ke pintu depan. Begitu sampai, kubalik sebuah pot kecil di samping pintu di lantai di bawahnya tergeletak anak kunci kuningan. Namun baru saja kuselipkan anak kunci ke lubang kunci, telingaku menangkap berisik langkah kaki di samping rumah. Jantungku berdetaknya jadi kencang. Peristiwa kemalinganku tiga bulan lalu meski gagal sempat membuatku ketakutan.

Kuambil sebatang besi untuk menaikkan dan menurunkan pot gantung di teras. kupegang erat-erat, kaki kuletakkan hati-hati di tanah. Mengendap dan merunduk kucari asal suara langkah kaki tadi. Dari semak mawar tempatku sekarang mengintai, samar kulihat seseorang sedang mengamati pohon mangga yang lebat buahnya. Gerak-geriknya tak mencurigakan padahal aku tak mengenali dia. Ia masih saja asyik memandangi mangga-mangga itu sementara aku terus mendekat mengarahkan batang besi mengancamnya.

“Siapa kamu?” hardikku lantang. Ia terkejut dan menoleh ke arahku. Dan barulah aku tahu siapa dia, “Brennan…” mulutku kelu, tak mampu mengeluarkan hardik selantang tadi.

“Maria.” Ia menyongsongku dengan banyak senyuman. Belum sempat ia mendekat kuangkat dua lengan setinggi dada, menampakkan putih telapak-telapaknya dan Brennan mundur. Aku berjalan biasa pergi untuk masuk ke dalam rumah. Dari belakang ia mengikutiku, kubiarkan ia mengikuti.

“Silahkan duduk, akan kubuatkan minum.” Aku ke dapur, kutinggalkan ia sendirian di ruang tamu. Barangkali aku memang sudah kuat, aku mampu menatapnya tanpa perasaan istimewaku dulu. Hanya terkejut biasa mendapati sosok lama muncul tiba-tiba dihadapanku tanpa kabar lebih dulu.

Tak lama aku kembali ke ruang tamu membawa dua gelas jus jeruk dan kue. Brennan berdiri memandangi deret bingkai di dinding yang membingkai wajah malaikatku, Alexa. Aku langsung duduk tanpa menegur. Biarlah dia melihat rupawannya darah daging dia sendiri, kalau memang dia menyadari.

“Alexa,” gumam Brennan lantas dia duduk agak jauh dariku. Kenapa keasingan bisa tercipta setebal ini? Memadati jarak antara aku dan dia. Bisakah kami biasa saja, toh kejadian itu telah lama berlalu.

“Bagaimana di Jerman?” tanyaku mencoba mencairkan kebekuan di sekitar kami.

“Baik, aku sedang cuti liburan musim panas. Dia Alexa bukan?” ia menunjuk salah satu foto ketika Alexa belajar berenang di rumah Gading.

“Pekerjaanmu?”

“Aku baru dipromosikan, naik jabatan bulan depan. Dia sudah enam tahun ya, lama sekali.” Lagi-lagi ia menimpakan kebekuan panjang. Bicaranya seolah meraba-raba, bening matanya sama seperti dulu. Yah, ternyata aku tetap tak bisa benar-benar lupa. Empat tahun bersama bukanlah masa singkat yang dapat begitu saja kenangannya terhapus. Apalagi perpisahan kami sangat menyakitkan.

Malam itu satu minggu sebelum keberangkatannya ke Berlin, Brennan memutuskan hubungan kami. Alasan yang dia katakan adalah karena akan jauh dariku maka ia tak sanggup menjanjikan kesetiaan bila sejauh dan selama itu kami terpisah. Hemh, janji kesetiaan tak sanggup dia berikan? Lantas dianggapnya apa selama kami menjalin hubungan? Cuma karena harus melanjutkan kuliah di Jerman maka dia bisa mengambil keputusan mengakhiri hubungan begitu mudah? Padahal saat itu aku baru saja tahu kalau aku terlambat datang bulan karena mengandung benih bayi di rahimku. Terbukti sudah rumor kedekatan Brennan dengan Shinta yang juga sama-sama mendapat beasiswa menempuh S2 di Jerman.

“Dari mana kamu dapatkan alamat ini Ben?”

“Dari Tiyo, ayah Gading.” Tersentak aku mendengar jawaban itu.

“Kamu pernah ketemu Gading?”

“Tentu, dia lahir di Jerman. Tiyo dan Lusi adalah temanku kuliah.” Dunia memang kecil jika berkaitan dengan nasib sial. Sial karena aku mesti ketemu Brennan lagi.

Setelah percakapan pendek pagi itu aku pamit untuk mengunjungi salah satu klienku. Iapun pulang, kembali ke hotel. Ia tak menginap di rumah Tiyo. Sempat kutawarkan mengantarkan ke hotel, tapi ia berkeras naik taxi saja. Akupun tidak memaksa, tidak ada gunanya, kami sekarang sudah jadi dua orang asing.

***

Sebulan berlalu setelah pertemuanku dengan Brennan. Aku kalah. Ternyata kebanggaanku bahwa aku berhasil melupakannya hanyalah bualanku semata. Buktinya sekali ia datang di hidupku, dengan gampang aku roboh tak ada daya. Sekali lagi ia berhasil mengacaukan hidupku itu.

Seminggu lalu seorang ibu melemparkan gambar desain dan foto kamar anaknya penuh kemarahan, “Gimana sih, katanya bonafide ngasih desain eksklusif. Ternyata ini tuh persis sama dengan desain kamar anak Bu Wiwit. Saya kan malu Jeng…! Maluu…!”

Desainku tak lagi baru, tak ada ide cukup untuk kuberikan pada klienku. Kuputuskan menghentikan usaha.

Alexa belakangan ini seringkali ngambek karena aku malas-malasan membantunya menyirami bunga-bunga di kebun. Aku kerap melamun saat memegang selang, hingga tak melihat kemana arah air memancar. Beberapa bunga kesayangan kami mati kebanyakan air, akarnya membusuk. Entah kenapa bayangan pria itu menggerogotiku dari dalam secara perlahan.

Sore ini kubiarkan Alexa menyiram bunga sendirian, iapun melarangku membantu. Aku cuma duduk di bangku teras memandangi gadis kecil itu memandikan tanaman-tanamannya sambil bersungut-sungut. Tiba-tiba ia melemparkan selang di genggamannya, berlari ke arahku, menatapku sendu lalu masuk ke ruang tamu.

Dan dari ruang tamu itu ia menumpahkan kemarahannya padaku, “Aku nggak suka Mama pelamun seperti sekarang ini. Aku nggak suka Mama yang malas-malasan. Aku mau ke rumah Gading aja….! I want to go…!”

Kudengar ia menangis keras, meraung. Di telingaku, itulah tangis dan raung kesakitanku sendiri, akupun menikmatinya. Alexa yang polos telah kujadikan tempat pelampiasan.
Selang beberapa lama Lusi datang ke rumah oleh panggilan Alexa lewat telepon. Ia mendekap Alexa yang sesenggukan dan mengajakknya pergi. Saat melewati pintu, melewati sampingku kulihat Alexa berbisik di telinga Lusi. Lusi segera berhenti di depanku.

“Maria, Alexa ingin kamu juga ikut ke rumahku.”

“Biar Alexa saja.” Mendengar jawabanku, Alexa mulai menangis lagi. Kali ini aku tak tahan mendengar rengek manja Alexa. Aku menuruti kemauannya. Mungkin suasana hangat rumah Lusi membantuku memperbaiki suasana hati. Sungguh luka perih bekas perbuatan Brennan kini kembali tertoreh lebih dalam dari ketika ia meneleponku dulu.

***

“Kamu kenapa sih Maria. Aku denger juga problem usaha kamu, apa karena itu?” Lusi menggenggam tanganku. Di sisinya, Tiyo tengah mengupas Jeruk Bali untuk Gading dan Alexa. Kemudian mereka pergi setelah mendapat sama-sama setengah bagian.

“Kalau karena itu. Nggak semestinya kamu rebut kebahagiaan Alexa. Lihat, dia terlalu kecil untuk mengerti keruwetan pikiran kamu Maria,” khotbah Tiyo mengambang menyapu saraf otakku, tapi tak hinggap lama-lama.

“Kamu kenal Brennan Yo?” kuajukan pertanyaan simpananku semenjak kemunculan Brennan.

“Tentu, kami teman baik di Jerman. Kamu kenal?” jawab Lusi segera.

“Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan dahulu. Selesaikan yang pertama baru beralih ke yang lain. Benar usahamu ada masalah?”

Aku menggeleng.

“Maria, Maria. Kamu ini, mau dibantu tapi cerita masalahnya saja susah. Kalau….”

“Mas!” sergah Lusi menghentikan buntut kata-kata Tiyo, “kamu kenal sama Brennan, apa masalah kamu terkait dia?”

Aku menggeleng.

“Dia itu temanku satu asrama dulu. Kalau aku tak ketemu dia, pasti sampai pagi baru menemukan asrama…,” Tiyo menerawang sambil terus bercerita, “dia kawan terbaik pernah kupunya seumur hidup. Dia rela ngasih honor kerja partime di Caffe buat bantu aku ngambil Lusi sama Brennan dari rumah bersalin.”

Lusi tersenyum mengenang. Cocok, memang Brennan orang baik, selalu mudah menolong orang lain.

“Waktu itu kenapa sih dia kok nggak mau pulang ke Indonesia Mas?” Lusi tiba-tiba bersemangat mengingat kembali tentang Brennan.
“Dia ingin melupakan kekasihnya di Indonesia. Kan pacarnya itu sudah punya anak, kasihan si Brennan. Makanya ia putuskan untuk….”

“Kasihan…,” potongku, tapi bukan untuk Brennan melainkan khusus buatku, ironis karena berusaha dilupakan orang yang selalu dirindukan.
“Boleh kulanjut ceritanya? Biar buat selingan, barang kali kamu bosan mau ngomong kerjaan.” Tiyo, mengambil sebatang rokok dari sakunya. Lusi menatapnya ketus, diliriknya anak-anak. Tiyo mengerti dan mengurungkan niat menyulut batang linting tembakau itu, “Oke,…sayang sekali dia itu seret jodoh.”

“Iya lho Maria, aku aja capek cariin dia cewek. Ya temenku, temennya Tiyo. Dia bilang sih mau konsen ke kerjaan,” Lusi menimpali cerita suaminya.
“Ya kalau saja dia itu mau membuka hati untuk orang lain, pasti sudah punya anak seusia Gading, mungkin Alexa.”

Mendadak pipiku merona merah. Ada setitik nyala menyembur di sudut hatiku. “Shinta? Bukannya dia kekasih Brennan?” pancingku.

“Nggak, itu kan cuma rekanan dari Indonesia saja. Ya kan Yo?” Tiyo mengangguk membenarkan Lusi.

Benar, aku telah benar memutuskan untuk merindukan Brennan. Setiaku selama ini bukan perbuatan sia-sia. Setitik nyala barusan tadi di hatiku serta merta mengobarkan kehangatan ke seluruh tubuhku. Alexa, kamu akan segera bertemu ayahmu.

“Kamu sudah baikan Maria. Kok senyum-senyum.”Lusi melirikku curiga. Biarlah ia mencurigaiku, sebentar juga curiga itu tak perlu ada. Lusi kembali ke suaminya yang membaca sebuah surat yang baru saja diberikan Narmi, pekerja rumah tangga mereka.

“Dari siapa Mas?”

“Ini dari Jerman. Dik, Brennan minggu depan mau nikah! Sama Angel, cewek Inggris itu. Yang dulu ngejar-ngejar Brennan!”

“Kok mendadak sih Mas? Kenapa ya?”

“Ada sih dia bilang alasannya. Tapi personal banget Maria. Nggak apa-apa kamu dengar, barangkali kamu kenal pacarnya Brennan itu. Kata Brennan sih dia….”

“Boleh kubaca sendiri Yo?” tanpa menunggu persetujuan Tiyo, kurebut sucarik kertas itu dari tangannya.

Tiyo, aku sudah salah menjalani hidupku sejauh ini. Memang kesetiaan itu tak bisa dijanjikan terlalu lama. Dulu aku masih tak percaya mantan pacarku sudah berkeluarga. Bodoh juga aku, aku yang putuskan dia di tengah jalan malah aku yang tak bisa lupakan dia. Tapi aku bahagia, karena sebulan lalu aku ketemu dia Yo. Kulihat juga foto anaknya, manis sekali. Mungkin semanis kalau dia itu anak kami berdua. Aku tak mau mengusik keluarganya Yo, sampaikan salamku pada Alexa kecil dan ibunya juga ayahnya. Yo, ibunya Alexa itulah kekasihku yang tak bisa kuahapuskan kenangannya dari hidupku. Cuma sekarang terlalu jauh terlambat untuk memperbaiki.
Nanti kamu datang………..jangan lupa bakpia……selalu…..senang…Gading….

Di luar, hujan deras diturunkan, petir menggelegar di kegelapan. Mereka mengumpul jadi gemuruh, jadi raya di muka bumi. Di sampingku terlelap malaikat kecilku Alexa. Kupeluk ia erat-erat. “Alexa, Mama janji nggak akan lagi ngelamun, malas-malasan atau bikin Alexa sedih. Sebentar lagi Alexa akan punya….”
“Ma… Alexa mau bobok….Mama bobok juga dong…..selamat mimpi indah Ma…”

***

Tinggalkan Komentar