KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Pilihan Biyan

Kereta terakhir dari Gambir mengantarnya ke Pekalongan yang sedang dirundung hujan deras. Di awal malam, Adinia memanggil salah satu tukang becak di ujung jalan, yang datang tergopoh-gopoh mendorong tiga rodanya. Plang “Gg.Banjar” masih terbaca, ia pun turun di daerah Kampung Arab itu, menyusuri jalan sampai rumah. Becak Pekalongan besar, tidak muat masuk ke dalamnya. Air hujan langsung mengguyur seluruh tubuh, sekaligus melarutkan benak yang kosong.

Dalam selimut hujan ia memperhatikan rumahnya. Lampu kuning di teras menyala suram, tapi dari dalam rumah terdengar gelak tawa Ibu yang ngangenin. Adinia bisa melihat mereka dari luar, lewat kaca bening yang tak tertutup tirai. Ibu sudah mulai pelupa rupanya. Empat tahun lalu beliau masih mengomel apabila si Bibik belum menutup tirai jendela lewat jam enam sore.

Lewat jendela itu juga, Ibu tertegun melihat bayangan perempuan berdiri di depan pagar besi. Ia kemudian mendekat untuk melihat lebih jelas, dan terpekik kaget ketika sadar perempuan itu adalah anak tunggalnya yang sudah empat tahun tidak pulang. Teriakannya memanggil Bapak, menyuruhnya mencarikan payung masih terngiang. Hanya satu hal yang dilakukan Adinia begitu langkah cepat Bapak membawa mata penuh kekhawatiran itu ke hadapannya.

Menangis. Menangis dengan keras.

***

Bayang-bayang menembus penglihatan, membentuk satu punggung yang bidang dengan bahu ramping, tidur membelakangiku. Terbalut piyama putih bergaris coklat vertikal. Rambut hitam pendek kini berantakan karena terusap-usap bantal. Dalam setengah kesadaran aku tersenyum, menatap punggung yang selalu ada untuk meraupku kedalam dan tidur dalam kedamaian.

Tanganku bergerak ke arah daun telinganya, namun ada keengganan yang menegur. Mungkin ia begitu terlelap karena lelahnya kemarin di kantor, atau baru tidur dini hari karena menonton 22 orang berebut satu bola. Dengkurnya sangat lembut, seperti bayi.

Dua setengah tahun sejak kami saling mengenal, dan setelah melewati semuanya, kami masih merasa belum cukup. “Perlu bertahun-tahun lagi untuk tahu isi dirimu, Rosa,” ujarnya sambil menatap mataku tajam di dapur apartemenku. Tepatnya di depan kompor saat ia sakit dan minta dimasakkan telur dadar.

“Makanya, jadi istriku ya? Aku ingin lebih mengenalmu.”

Aku memandangnya lama sekali.. Telurnya pun hangus.

Kini, aku tertawa karena ia benar. Selalu ada bagian dirinya yang menjadi mata pelajaranku hari ini. Selalu ada kejutan dari tipis senyumnya, kemarahannya, ataupun spontanitasnya. Bersamanya, bagai menantang untuk menyusun timbunan puzzle yang tak habis-habis. Aku sangat yakin, ketika suatu saat selesai kupasang semua, puzzle itu akan mengurungku di dalamnya. Seperti anak bangsa Eskimo yang terperangkap dalam igloo. Kemana pun mata melihat, hanya akan ada potongan dirinya.

Indahnya.

Pelan ia menggeliat, menguap pelan, lalu berbalik menatapku. “Sudah lama bangun?” bisiknya. Aku menggeleng manja. Pipiku dibelainya dengan sangat hati-hati. “Masih merah lho. Sakit?”

“Sedikit. Istrimu tenaganya kuat juga,” gurauku, tapi tak ditanggapi.

“Nggak kusangka akan langsung menamparmu begitu dan kabur,” ia menghela nafas panjang. Mengusap keningnya.

“Sebagai pria berusia 37 tahun, kau harusnya tahu mana ada perempuan yang terima diselingkuhi.”

“Kupikir paling tidak ia sudah mengira…”

“Nggak ada hubungannya,” potongku lugas, “kalaupun ia sudah mengira, pasti sudah lama pula ia memendam amarah.” Biyan terdiam, tak bisa menyembunyikan rasa bersalah di wajah tampannya.

“Rasanya ingin kubalas. Kalau saja aku tidak ingat, bahwa ia mencintaimu sebesar aku.” gumamku. Ia menoleh.

“Tapi ia tidak pernah mau belajar memahamiku seperti kamu,” ujarnya lirih. Matanya lekat memandang mataku. “Sudah tujuh tahun, Rosa. Ia tak pernah tertarik pada apa yang kukerjakan, tidak pernah mau bergaul dengan keluargaku, selalu diam dan pasif ketika kuminta pendapat… aku butuh pendamping, bukan boneka.”

“Bukan karena ia mandul?”

“Hey…” ia bangkit.

“Bagaimana kalau aku mandul?” ulangku galak, tak perduli.

“Hhh…psikologis perempuan memang melelahkan. Kalau kubilang aku tak perduli kau mandul, kau pasti sudah punya pertanyaan lain yang sejenis. Kalau kubilang aku menikahimu karena ingin punya anak, pasti kau merasa hanya dijadikan mesin penghasil anak,” Biyan berkata penuh emosi.

“Terserah! Kau kira-kira saja jawaban mana yang membuatmu tidak sedih, nah itulah yang akan kujawab,” tandasnya sebelum bangun ke tepi tempat tidur.

Aku segera melompat, memeluk lehernya dari belakang dan menciumi pipinya tanpa henti. “I love you, I love you, I love you…” bisikku tanpa henti sampai ia kegelian dan berbalik menciumku.

***

Tak memperdulikan awan sore yang mendung dan gemuruh di atas langit sana, Adinia berjalan kaki, menenteng plastik berisi kecap pesanan Ibu sambil memandang berkeliling. Rok oranye terkibas di setiap langkah yang bersahutan. Pelan-pelan ia berjalan, mengamati tiap rumah dan gedung tua sambil sesekali minggir karena anak-anak sibuk berlarian.

Pelataran Masjid menghentikan tapak kakinya. Tanpa sadar, matanya jatuh pada tenda di seberang, tempat dulu ia dan Biyan makan Tauto yang enak sekali. Janji mereka adalah, tiap kesini, Warung Pak Wahyudi sang penjual Tauto, wajib dikunjungi. Tapi sudah tiga atau empat tahun janji itu teringkari.

Lalu trotoar itu. Tempat dimana mereka berjalan kaki sampai rumah sambil ngobrol. Suatu malam ketika ia bingung mencari topik pembicaraan, Biyan tiba-tiba mengeluhkan kucing manjanya yang merajuk karena dimandikan paksa, memancing tawa renyah Adinia. Itulah Biyan yang baik hati. Tak pernah sekalipun membuatnya canggung, meski ia sadar sekali ia hanya wanita daerah yang sederhana, ditambah kecerdasan pas-pasan. Saat itu ia percaya Biyan paham, bahwa kasihnya tulus. Persembahan satu perempuan, untuk satu laki-laki.

Keriput halus di sisi bibirnya tertarik karena senyum. Kota kelahirannya ini selalu punya lagu khusus untuk dia dan Biyan. Bait lirik, alunan nada, dan senandung rindu masih lirih mengalun mengundangnya kembali menjelajahi setiap trotoar, setiap lampu jalan, dan setiap alun-alun. Ia hanya berandai-andai, apakah kota ini mau mengerti, kalau tahu Biyan bukan miliknya lagi.

***

Seorang pria tinggi kurus menggandeng seorang wanita berkulit kecoklatan yang tampak letih, menuruni tangga stasiun kota Pekalongan. Ia menghentikan becak agar mereka terlindung dari sengatan surya. Rosa mengikat rambut ikalnya, mengibas-ngibaskan tangan seakan bisa mengurangi panas. Keduanya bersimbah peluh.

“Aku agak lupa, mana ya gangnya…” Biyan bergumam sendiri. Rosa tak menjawab. “Ah itu dia, stop kiri sini Pak,” Biyan berseru pada tukang becak yang langsung menghentikan kayuhan. Di depan mereka plang Gg.Banjar warna hijau berdiri agak miring ke kanan. Besinya sudah berkarat dan tulisannya hampir pudar. Usai membayar ongkos, mata Biyan tertancap pada tenda di seberang Pelataran Masjid. Sejenak sinar matanya padam, lalu berpaling.

“Nggak apa-apa kan, menunggu sebentar,” pinta Biyan retoris. Rosa mengangguk, beranjak melangkah ke Restoran Laksana di depan gang. Biyan menunggu sampai Rosa duduk, lalu berjalan agak cepat sampai ke depan pintu pagar besi warna cokelat. “Assalamualaikum,” Biyan berseru agak kencang, karena jarak pagar dan pintu rumah kurang lebih 5 meter. Sosok perempuan setengah baya muncul dari rumah bersama jawaban salam. Ia dua kali menoleh ke dalam, sebelum akhirnya membukakan pintu pagar.

“Sehat-sehat Bu?” sapa Biyan. Ia hanya menjawab dengan gumaman tidak jelas, menatap dingin laki-laki yang dimatanya begitu hina. Biyan ditinggalkan di teras, tanpa dipersilahkan duduk. Lima menit kemudian, Adinia keluar. Wajahnya tirus, pucat, tapi tubuhnya lebih berisi. Ia menunduk begitu melihat siapa yang datang.

“Aku semalam kirim…”

“Ya aku terima,” potong Adinia. Biyan semalam mengirim SMS. Meminta izin agar ia boleh menemuinya di rumah. Dengan gerakan tangan ia mempersilahkan Biyan duduk. Sang Ibu tak lama kemudian keluar membawa nampan dengan dua gelas air putih, lalu masuk kembali. Hening datang. Mencekik kerongkongan dan pita suara.

“Maaf,” Biyan memberanikan diri memulai.

“Aku nggak pernah ‘nampar orang sebelumnya?” ujar Adinia datar.

“Dia merasa pantas menerimanya kok,” jawab Biyan.

“Memang sudah seharusnya,” balas Adinia masih dengan nada datar yang sama. Biyan tak menyahut. Ia tak disini untuk mengulang pertengkaran pahit.

“Dia adik teman SMU-mu itu kan, yang kerja satu proyek denganmu?” tanya Adinia tanpa memandang Biyan. Yang ditanya mengangguk lemah.

“Dia bisa punya anak?”

“Sepertinya bisa.”

“Sepertinya?” kejar Adinia.

“Kami…, kami melakukannya dengan pengaman,” jawab Biyan tak nyaman.

“Bukannya itu yang Mas cari? Seorang Ibu,” Adinia berujar sinis. Biyan mengamati wajah istrinya.

“Nia, aku sudah sangat kejam. Menikahi perempuan lain di belakangmu. Tanpa persetujuanmu. Lalu membawanya ke rumah kita begitu saja.” Ia mengambil jeda, sebelum lanjut berkata, “Aku hanya bisa bilang, aku tidak pernah bertemu orang se-tepat Rosa.”

Mata Adinia menyala. “Usiaku 23 sejak pertama kali mendampingimu. Mengabdi padamu. Menemanimu setiap hari sampai sebulan yang lalu. Apakah itu tidak tepat untukmu?” sambarnya. Biyan tertegun. Menunduk, menggeleng pelan.

Adinia memainkan jari-jemarinya. Menimbang apakah ia kuat menyatakannya. “Hatiku, masih cukup luas untuk menerima Rosa,” ujarnya lembut. Biyan terbelalak. Wanita itu kini memandang ke arah pagar. Lima menit berlalu sebelum akhirnya hening terpecah.

“Hatimu memang luas, Nia. Semua salah hatiku, yang hanya cukup untuk satu orang.”

Mata Adinia nyaris basah, namun ia memaksa mengangguk, seakan mengerti. “Tidakkah seharusnya suami bisa mencintai ketidaksempurnaan istrinya dengan sempurna?” rintihnya.

“Tapi aku, sudah terlanjur mencintai yang sempurna.”

***

Rosa menunggu dengan tidak tenang, melongok ke jam tangannya setiap sepuluh menit. Tubuh indahnya menghambur keluar ketika melihat sang kekasih kembali. Pria itu hanya tersenyum suram, yang segera dibalasnya dengan genggaman tangan penuh pemahaman. Tanpa kata-kata, mereka menapaki jalan menuju stasiun bermandikan teriknya mentari yang menyala makin panas. Membakar hati yang harus memilih dan hati yang tak terpilih.

2 Responses to “Pilihan Biyan”

  1. on 19 Mar 2008 at 19:16djengwulan

    “Tidakkah seharusnya suami bisa mencintai ketidaksempurnaan istrinya dengan sempurna?” rintihnya.

    “Tapi aku, sudah terlanjur mencintai yang sempurna.”

    wow…kalimat itu saya suka banget!!!
    cerpen ini bagus, mengalir. saya berharap judulnya bisa lebih luas dari sekedar “pilihan biyan”.

    cheers..

  2. on 19 Jun 2008 at 13:42ade

    sabar banget ya adinia, kalo aku mungkin ga bisa d

Tinggalkan Komentar