Yang Tersisa…
Maret 16th, 2008 by muth3
Di satu dimensi, Jun menggantung semua mimpinya. Mimpi yang terkadang hanya ilusi di padang sahara. Delusi yang siap menghempaskan ia ke jurang terdalam sekalipun. Jun tahu semua itu, tapi toh ia tetap menggantung mimpi itu di kerlipan bintang malam. Entah sejak kapan, Jun tak mengerti, ia menggantung semua angan kosong itu pada satu sosok yang ada namun tiada, yang hanya siluet diantara bayang jingga.
Jam pasir berbalik, putarkan semua pusaran ingatan Jun kembali kesaat dimana ia mendapati Zen di dimensinya.
“Hempaskan semua kekanak-kanakan kalian. Dunia ini bukanlah sebuah permainan. Aku sangat lelah mengurusi pembangkang seperti kalian….” Suara Zen di ospek lalu kembali menderu di rongga telinga Jun.
Braak!!!! Gebrakan itu buyarkan kebisuan Jun. Zen menghempaskan sebuah kursi di hadapan Jun. Jun terperangah.
“Aku bosan dengan makhluk tolol seperti kalian. OK, kalian tahukan hukuman untuk pembangkang. Posisi…3 set!!!!” perintahnya pada semua maba di ruang itu. Jun mendengus kesal. Dia tidak mengerti kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Jun terdiam beberapa saat, menyerang Zen dengan tatapan penuh Tanya.
“Kau…apa kau tidak dengar hah!!!” mata Zen hancurkan keping tanya Jun. Jun mengikuti prosesi itu. Lelah kakinya, tercekat semua dunianya. Hatinya mengumpat penuh benci pada sosok yang begitu berkuasanya hari ini. Dia tak pernah menyangka ospek begitu menyiksanya, belum lagi perih yang tersisa dari tamparan tanpa alasan yang baru di dapatkannya kemarin. Baru dua hari Jun melangkah di kampus itu, rasanya sudah beribu tahun. Dia ingin menangis, kembali ke tempatnya dulu. Tempat yang nyaman, berisi kehangatan. Jun tinggalkan kotanya demi sebuah masa depan yang entah berujung dimana. Jun hanya ingin menjalaninya.
“Yap, hukuman hari ini cukup, Tes adrenalinnya lumayan kan!” suara lembut itu hapuskan semua gundah Jun. Yah, adrenalin kini penuhi setiap celah selnya. Senyum Zen pudarkan lelahnya. Sejak pertama melihat Zen, Jun tak pernah mendapatkan senyum dari seniornya itu. Jun terhenyak merasakan debar aneh di dadanya. Secepat itukah??? Tanya Jun pada jiwanya.
@@@
“Jun, pinjem diktat kamu yah???” Kay balikkan kembali jam pasir.
“Ngelamun mlulu..” Jun tersenyum
“Masih memikirkan dia??” Tangan Jun tiba-tiba membekap mulut Kay.
“Ini rahasia kita Kay, klo ada yang tahu mampus aku.” Bisik Jun pada Kay, Kay hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Eh mo minta tanda tangan lagi nggak?” Jun Cuma menggeleng
“Bosan…pasti di kerjain lagi”
“Yah biarin daripada saat BA kita di KO gimana. Udah deh Jun, ikut aturan aja dulu, Nanti abis prosesi itu kita bebas kan? Nggak lagi di kejar-kejar ma senior” Kay menyapukan pandangannya di tiap sudut tempat itu. Takut kalau-kalau mata telinga senior baru saja merekam suaranya. Akhirnya Jun mengangguk setuju. Di keluarkannya buku kecil penuh coretan tangan miliknya.
Dengan langkah beratnya Jun memasuki dimensi Zen. Tawa mereka terdengar renyah, kemudian berpasang mata menatap Jun dan Kay bersamaan.
“Boleh minta tanda tangannya, senior?” suara Jun tertahan sesaat. Sepasang tangan raih buku kecil milik Jun kemudian menyapukan pesan dan coretan di atas kanvas kecil itu. Jun menatap Zen yang sejak tadi terdiam, dia berdebar entah mengapa tiap kali Zen berdiri di hadapannya nyalinya ciut.
“Senior…” belum lagi di selesaikan kalimatnya, tangan Zen sudah menyambar buku kecil itu. Zen membuka buku itu, membaca aksara yang melekat di dalamnya. Zen menatap Jun sesaat, Jun kikuk. Kemudian Zen asyik dengan kanvas putih itu, entah apa yang di ucapkan tinta hitam itu. Zen menyodorkan kembali buku itu. Jun mengernyitkan dahi, tak ada prosesi? Sementara Kay disana sedang asyik dengan pantomimnya.
“Duh Jun, aku capek banget, cuman dapet satu eh bayarannya mahal lagi!” keluh Kay sambil mengusap peluhnya.
“Kamu dapet tanda tangan Kak Zen?” Jun mengangguk
“Coba liat!” Kay meraih buku milik Jun.
“cintailah orang sewajar cintamu padanya; sebab engkau tak tahu kapan engkau akan membencinya.bencilah orang sewajar bencimu padanya; sebab engkau tak tahu kapan engkau akan mencintainya” Jun terperanjat
“What???” di raihnya kembali bukunya, matanya menatap tajam aksara yang merangkai kalimat itu
“Ciee..yang cinta dan benci!!!!” sindir Kay. Pusaran itu berputar kembali. Jun tak paham makna kalimat itu. Tahukah Zen kalau Jun menyimpan mimpi tentangnya? Tahukah Zen kalau Jun juga membenci semua tingkah sok kuasa Zen selama ini? Jun tak paham semua. Makin coba dipahaminya, makin keras pusaran itu benamkan ia.
Di hempaskannya tubuh Jun di atas kasur kesayangannya, pikirannya masih berputar di deretan aksara tanpa makna itu.
“paling aku cuman geer doang” tawanya pada hatinya.
@@@
Dunia Zen. Zen terpaku menatap sosok mungil itu. Wajah itu bersemu merah tersapu sinar mentari. Gadis itu berlari kecil sesekali mengusap peluh yang sejak tadi menetes di wajah putihnya. Zen tak tahu mengapa bayang gadis itu terus terpantul di dinding otaknya. Selama ini Zen tak pernah berfikir akan menaruh hati pada mabanya. Ospek selalu menyisakan “rasa”. Kadang benci, kadang pula simpatik. Zen ingat betul saat gadis itu menatapnya dengan seribu tanda Tanya yang siap menyerangnya. Gadis itu terlalu berani buatnya. Baru kali ini ia dapati gadis yang penuh tanda Tanya yang siap dilemparkan kepada siapa saja yang mengusik damainya.
‘Memangnya aku salah apa? Kau pikir kau siapa seenaknya memperlakukan aku semaumu’ kalimat itu yang seakan menghujam Zen lewat tatapan sinis Jun. Sampai saat ini tatapan itu hancurkan tembok keegoisannya. Zen tersentak saat melihat gadis itu terhempas. Sesuatu goyahkan gadis itu dan jatuhkan semua benda di tangan mungilnya.
@@@
Jun mengusap peluhnya, lelah ia dengan semua keseharian ini. Tiga bulan sudah ia mengambang di dimensi barunya. Penat itu yang ada. Perih itu yang tergores. Tangis itu yang tersisa. Semuanya mencekat Jun. Dia pikir Kampus itu indah, surga kebebasan tapi yang di temuinya malah hutan belantara yang siap cabik manusia yang ada didalamnya.
Laporan yang terpantul, bentakan, caci maki bahkan “sentuhan perih” tanpa alasan telah hiasi 100 hari dunia itu. Sanggupkah ia bertahan??? Belum lagi rasa tolol yang kini membelenggu jiwanya. Diraihnya lembaran-lembaran yang tercecer di tanah, sambil mendengus kesal.
Ia berjalan tapi pikirannya membatu, mengapa ada rasa yang tersisa di ospek??? Salahkah??? Jun ingin hempaskan rasa itu dan berharap rasa itu tak pernah ada. Ataukah Jun ingin memutar balik jam pasir??? Tapi hidup ini air yang mengalir tak mungkin kembali.
Ospek sisakan cacian, makian, bentakan, tamparan, push-up, kengkringan, dendam, benci bahkan…..CINTA
Makassar, Oktober 03
Di satu dimensi, Jun menggantung semua mimpinya. Mimpi yang terkadang hanya ilusi di padang sahara. Delusi yang siap menghempaskan ia ke jurang terdalam sekalipun. Jun tahu semua itu, tapi toh ia tetap menggantung mimpi itu di kerlipan bintang malam. Entah sejak kapan, Jun tak mengerti, ia menggantung semua angan kosong itu pada satu sosok yang ada namun tiada, yang hanya siluet diantara bayang jingga.
Jam pasir berbalik, putarkan semua pusaran ingatan Jun kembali kesaat dimana ia mendapati Zen di dimensinya.
“Hempaskan semua kekanak-kanakan kalian. Dunia ini bukanlah sebuah permainan. Aku sangat lelah mengurusi pembangkang seperti kalian….” Suara Zen di ospek lalu kembali menderu di rongga telinga Jun.
Braak!!!! Gebrakan itu buyarkan kebisuan Jun. Zen menghempaskan sebuah kursi di hadapan Jun. Jun terperangah.
“Aku bosan dengan makhluk tolol seperti kalian. OK, kalian tahukan hukuman untuk pembangkang. Posisi…3 set!!!!” perintahnya pada semua maba di ruang itu. Jun mendengus kesal. Dia tidak mengerti kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Jun terdiam beberapa saat, menyerang Zen dengan tatapan penuh Tanya.
“Kau…apa kau tidak dengar hah!!!” mata Zen hancurkan keping tanya Jun. Jun mengikuti prosesi itu. Lelah kakinya, tercekat semua dunianya. Hatinya mengumpat penuh benci pada sosok yang begitu berkuasanya hari ini. Dia tak pernah menyangka ospek begitu menyiksanya, belum lagi perih yang tersisa dari tamparan tanpa alasan yang baru di dapatkannya kemarin. Baru dua hari Jun melangkah di kampus itu, rasanya sudah beribu tahun. Dia ingin menangis, kembali ke tempatnya dulu. Tempat yang nyaman, berisi kehangatan. Jun tinggalkan kotanya demi sebuah masa depan yang entah berujung dimana. Jun hanya ingin menjalaninya.
“Yap, hukuman hari ini cukup, Tes adrenalinnya lumayan kan!” suara lembut itu hapuskan semua gundah Jun. Yah, adrenalin kini penuhi setiap celah selnya. Senyum Zen pudarkan lelahnya. Sejak pertama melihat Zen, Jun tak pernah mendapatkan senyum dari seniornya itu. Jun terhenyak merasakan debar aneh di dadanya. Secepat itukah??? Tanya Jun pada jiwanya.
@@@
“Jun, pinjem diktat kamu yah???” Kay balikkan kembali jam pasir.
“Ngelamun mlulu..” Jun tersenyum
“Masih memikirkan dia??” Tangan Jun tiba-tiba membekap mulut Kay.
“Ini rahasia kita Kay, klo ada yang tahu mampus aku.” Bisik Jun pada Kay, Kay hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Eh mo minta tanda tangan lagi nggak?” Jun Cuma menggeleng
“Bosan…pasti di kerjain lagi”
“Yah biarin daripada saat BA kita di KO gimana. Udah deh Jun, ikut aturan aja dulu, Nanti abis prosesi itu kita bebas kan? Nggak lagi di kejar-kejar ma senior” Kay menyapukan pandangannya di tiap sudut tempat itu. Takut kalau-kalau mata telinga senior baru saja merekam suaranya. Akhirnya Jun mengangguk setuju. Di keluarkannya buku kecil penuh coretan tangan miliknya.
Dengan langkah beratnya Jun memasuki dimensi Zen. Tawa mereka terdengar renyah, kemudian berpasang mata menatap Jun dan Kay bersamaan.
“Boleh minta tanda tangannya, senior?” suara Jun tertahan sesaat. Sepasang tangan raih buku kecil milik Jun kemudian menyapukan pesan dan coretan di atas kanvas kecil itu. Jun menatap Zen yang sejak tadi terdiam, dia berdebar entah mengapa tiap kali Zen berdiri di hadapannya nyalinya ciut.
“Senior…” belum lagi di selesaikan kalimatnya, tangan Zen sudah menyambar buku kecil itu. Zen membuka buku itu, membaca aksara yang melekat di dalamnya. Zen menatap Jun sesaat, Jun kikuk. Kemudian Zen asyik dengan kanvas putih itu, entah apa yang di ucapkan tinta hitam itu. Zen menyodorkan kembali buku itu. Jun mengernyitkan dahi, tak ada prosesi? Sementara Kay disana sedang asyik dengan pantomimnya.
“Duh Jun, aku capek banget, cuman dapet satu eh bayarannya mahal lagi!” keluh Kay sambil mengusap peluhnya.
“Kamu dapet tanda tangan Kak Zen?” Jun mengangguk
“Coba liat!” Kay meraih buku milik Jun.
“cintailah orang sewajar cintamu padanya; sebab engkau tak tahu kapan engkau akan membencinya.bencilah orang sewajar bencimu padanya; sebab engkau tak tahu kapan engkau akan mencintainya” Jun terperanjat
“What???” di raihnya kembali bukunya, matanya menatap tajam aksara yang merangkai kalimat itu
“Ciee..yang cinta dan benci!!!!” sindir Kay. Pusaran itu berputar kembali. Jun tak paham makna kalimat itu. Tahukah Zen kalau Jun menyimpan mimpi tentangnya? Tahukah Zen kalau Jun juga membenci semua tingkah sok kuasa Zen selama ini? Jun tak paham semua. Makin coba dipahaminya, makin keras pusaran itu benamkan ia.
Di hempaskannya tubuh Jun di atas kasur kesayangannya, pikirannya masih berputar di deretan aksara tanpa makna itu.
“paling aku cuman geer doang” tawanya pada hatinya.
@@@
Dunia Zen. Zen terpaku menatap sosok mungil itu. Wajah itu bersemu merah tersapu sinar mentari. Gadis itu berlari kecil sesekali mengusap peluh yang sejak tadi menetes di wajah putihnya. Zen tak tahu mengapa bayang gadis itu terus terpantul di dinding otaknya. Selama ini Zen tak pernah berfikir akan menaruh hati pada mabanya. Ospek selalu menyisakan “rasa”. Kadang benci, kadang pula simpatik. Zen ingat betul saat gadis itu menatapnya dengan seribu tanda Tanya yang siap menyerangnya. Gadis itu terlalu berani buatnya. Baru kali ini ia dapati gadis yang penuh tanda Tanya yang siap dilemparkan kepada siapa saja yang mengusik damainya.
‘Memangnya aku salah apa? Kau pikir kau siapa seenaknya memperlakukan aku semaumu’ kalimat itu yang seakan menghujam Zen lewat tatapan sinis Jun. Sampai saat ini tatapan itu hancurkan tembok keegoisannya. Zen tersentak saat melihat gadis itu terhempas. Sesuatu goyahkan gadis itu dan jatuhkan semua benda di tangan mungilnya.
@@@
Jun mengusap peluhnya, lelah ia dengan semua keseharian ini. Tiga bulan sudah ia mengambang di dimensi barunya. Penat itu yang ada. Perih itu yang tergores. Tangis itu yang tersisa. Semuanya mencekat Jun. Dia pikir Kampus itu indah, surga kebebasan tapi yang di temuinya malah hutan belantara yang siap cabik manusia yang ada didalamnya.
Laporan yang terpantul, bentakan, caci maki bahkan “sentuhan perih” tanpa alasan telah hiasi 100 hari dunia itu. Sanggupkah ia bertahan??? Belum lagi rasa tolol yang kini membelenggu jiwanya. Diraihnya lembaran-lembaran yang tercecer di tanah, sambil mendengus kesal.
Ia berjalan tapi pikirannya membatu, mengapa ada rasa yang tersisa di ospek??? Salahkah??? Jun ingin hempaskan rasa itu dan berharap rasa itu tak pernah ada. Ataukah Jun ingin memutar balik jam pasir??? Tapi hidup ini air yang mengalir tak mungkin kembali.
Ospek sisakan cacian, makian, bentakan, tamparan, push-up, kengkringan, dendam, benci bahkan…..CINTA
Makassar, Oktober 03
euy, panjang banget, jadi males bacanya…
wakakakakakaka