Risa dan Impian-Impiannya
Maret 16th, 2008 by destantia
….inspired from someone’s experience….
Impiannya adalah membaca jutaan buku. Saat dia menceritakannya padaku, dia tersenyum dengan mata berbinar indah dibalik kacamata berlensa tebalnya.
“Suatu hari nanti, aku akan menjadi orang yang paling banyak membaca buku! Aku akan mengingat semuanya dan menceritakannya pada seluruh dunia!”
Namanya Risa. Teman masa kecilku yang sangat kukenal. Tidak seperti anak kecil lainnya yang lebih memilih permen dan boneka, Risa sudah memeluk buku sejak umurnya empat tahun. Ibunya, yang juga teman baik Ibuku, yang menceritakan ini padaku.
“Risa itu, sejak kecil sudah suka sekali dengan buku. Dulu Tante suka bingung. Kalau Risa nangis, Tante kasih buku baru dia berhenti menangis, ” tutur Mama Risa padaku saat mereka datang berkunjung ke rumahku.
Mamanya Risa menceritakan itu dengan senyum terkembang. Mamaku terdengar kagum saat menanggapi, “Wah, beda banget sama Cha! Cha sih majalah atau buku yang ditaruh di dekat dia pasti langsung bisa dijadikan bubur kertas! ”
Aku dan Risa hanya mendengar kedua orang tua itu bertukar pengalaman sambil tersenyum.
Ya, Risa dan aku sangat berbeda bagaikan lagit dan bumi. Bagaikan matahari dan bulan. bagaikan daratan dan lautan. Dan bagaikan perbandingan antonim lainnya.
Risa lemah di kegiatan fisik. Dia lebih suka duduk diam dan membaca di sudut ruangan. sedangkan aku? Aku dan buku adalah musuh abadi. Aku lebih suka disuruh menggiring bola dan memasukkannya ke gawang daripada duduk diam dan membaca.
Dan bagaikan bulan dan matahari yang tidak bisa berada di satu tempat, aku pindah ke Jakarta lima tahun yang lalu, sementara Risa tetap tinggal di Bandung.
Tapi kami masih sahabat yang saling melengkapi.
***
“Halo, bisa bicara dengan Risa?”
Aku memutar-mutar kabel telepon, kebiasaan isengku kalau lagi menelepon.
“Cha ya?” suara Mama Risa terdengar menjawab.
“Ya, Tante. Risanya ada?”
“Sebentar ya Cha.”
Lagu Fur Elise terdengar saat tombol waiting ditekan. Aku menikmati lagu itu dengan jari yang semakin giat memintal-mintal kabel telepon. Mama yang lewat mendelik kesal padaku, tapi akhirnya melengos pasrah dan pergi. Mama memang paling hafal kebiasaanku ini
“Halo,” suara Risa terdengar dari seberang. Masih lembut dan pelan seperti dulu.
“Hai Ris! Aku ganggu?”
“Ga kok. Aku lagi baca buku.”
“Oh..eh Ris…”
“Kenapa Cha?”
“Em…”
“Cha?”
“HAPPY B’DAY RISAAAAA!!!!!!!!!!!!! ”
Aku langsung bernyanyi lagu happy birthday dengan semangat 45, lengkap dengan suara serak-serak becek yang bisa memuat kakek tetangga kena serangan jantung.
“Ya ampun Cha!” Risa tertawa di seberang sana, “thanks yaa…”
“Happy sweet seventeen Risa…hope your wish comes true..”
“Iya iya..thanks ya,” Risa tertawa lagi, “aku pikir ada apa kamu tiba-tiba telepon aku! Makasih ya.”
“Oke deh Mba! O ya, mau gift apa nih??”
“Em..terserah kamu lah..kan kamu yang ngasih.”
“Gimana kalo buku?”
“Wah! Ga nolak Cha!” suara Risa terdengar bersemangat.
“Oke. Nanti aku kirim ke alamat kamu ya. Belum pindah rumah kan?”
“Belum. Aku tunggu ya!”
Aku tersenyum mendengar semangat dalam suaranya. Semangat yang sama seperti saat dia mengatakan impiannya untuk membaca jutaan buku dan menceritakannya pada dunia. Semangat Risa yang kukenal dulu.
***
Itu percakapan terakhirku dengan Risa…
Sebulan kemudian, mama Risa meneleponku. Aku nyaris nggak bisa mengenali suaranya diantara isakan air mata.
“Cha, Risa sudah nggak ada.”
“Maksud Tante?” aku mencoba mencerna kata-kata itu dengan kemampuan otakku yang pas-pasan ini
“Risa sudah meninggal Cha..”
“Tante!!! Bercandanya nggak lucu!!!” seruku. Akal sehatku membenarkan hal itu. Untuk apa seorang ibu bercanda mengenai kematian putrinya? Kecuali kalau…
Kalau benar, Risa telah meninggal…
“Tante nggak bercanda, Sayang!”
“Nggak mungkin! Tante pembohong!!!”
“Cha, kamu tenang dulu! ” Mama muncul dari dapur karena mendengarku berteriak-teriak di telepon
“Tante Irene pembohong Ma!!! Masa dia bilang Risa meninggal!!! Kan ga mungkin Ma!!!”
Mama mengambil gagang telepon dari tanganku dan berbicara, “Irene? Apa benar yang Cha bilang tadi?”
aku menunggu dengan tegang. tolong katakan kalau ini semua bohong!!! ga mungkin kan Risa meninggal?! bohong kan?!
Wajah Mama menegang. Saat dia menaruh gagang telepon dan berbalik untuk menatapku, sebutir air mata menetes ke pipinya.
“Ma…? ”
“Kamu yang sabar ya Cha…”
Lututku melemas dan aku jatuh ke lantai. Wajah Risa, tawanya, senyumnya, semangatnya, matanya yang berbinar…
Impiannya…
Semuanya berkelebat di kepalaku bagaikan potongan slide yang diputar ulang.
“Suatu hari nanti, aku akan menjadi orang yang paling banyak membaca buku! Aku akan mengingat semuanya dan menceritakannya pada dunia! “
***
Mama Risa menyambutku dengan pelukannya yang biasa saat aku datang untuk melayat, pelukan hangat seorang ibu. Bedanya, kali ini tubuhnya terasa begitu rapuh dan wajahnya yang biasanya ceria terlihat tirus dan pucat. Air matanya menetes tanpa henti, bahkan saat ia mengantarku ke kamar Risa.
“Maaf Cha..sebenarnya Tante nggak mau merahasiakan ini dari kamu, tapi Risa yang meminta begitu. Tante nggak punya pilihan,” mama Risa membimbingku ke tempat tidur Risa. Tangannya yang kurus merogoh ke kolong tempat tidur, dan mengeluarkan sebuah kotak sepatu sederhana dengan pita besar di bagian atasnya.
“Ini apa, Tante?” tanyaku, menerimanya dengan ragu-ragu saat mama Risa menyodorkan kotak itu padaku
“Ini titipan dari Risa, buat kamu.”
Mama Risa menyeka air matanya dan mencoba tersenyum, “Tante pergi dulu ya. Tante ada di ruang tamu sama Mama kamu kalau kamu mencari Tante.”
Aku mengangguk kecil. Pintu kamar Risa tertutup dengan debam halus saat mama Risa keluar dari ruangan itu.
Aku mengamati kotak di pangkuanku itu dengan bingung. Titipan Risa? Apa maksudnya ya?
Aku membukanya, dan kesedihan menerpaku dengan cepat.
Buku.
Tumpukan buku.
Semuanya hadiah dariku. Segelnya masih rapi. Belum ada satupun yang dibuka. Di tumpukan teratas, ada sebuah amplop pink. Aku meraih amplop itu dan membaca surat di dalamnya.
Cha tersayang,
waktu kamu baca surat ini, berarti kamu udah liat buku - buku yang aku tumpuk di kotak ini..
Aku minta maaf Cha..aku salah udah nyembunyiin ini semua dari kamu.
Sebenarnya sudah dari dua tahun yang lalu dokter mendiagnosis kanker di otakku. Aku kaget banget waktu tahu Cha. Mama dan Papa juga kaget dan sedih, tapi aku nggak sedih Cha. Aku masih punya impian. Aku masih harus membaca lebih banyak buku. Aku harus mewujudkan impianku itu di waktuku yang tinggal sedikit ini.
Buku adalah kehidupanku, alasanku untuk hidup. Saat membaca, aku merasa bisa pergi ke tempat-tempat terjauh di dunia ini. Negeri dongeng peri-peri, kerajaan-kerajaan besar di masa lalu…semua tempat yang tidak bisa kudatangi dengan keterbatasanku ini, bisa kulihat dengan buku.
Tapi kankernya mulai menyebar ke mata. Untuk pertama kalinya aku takut Cha. Aku nggak mau buta. Aku ingin membaca dan membaca. Aku hanya ingin membaca. Tapi keadaan berkata lain. Akhirnya aku malah nggak bisa membaca sama sekali. Di ulang tahunku yang ke 17, kamu ngirim banyak banget buku. Tapi ga ada satupun yang bisa kubaca. Karena itu, buku yang kamu kirim belum ada yang aku buka. Maaf ya Cha. Aku nggak bisa bilang ke kamu karena kamu pasti heran. Dan kalau kamu tahu keadaanku, kamu pasti khawatir. Aku nggak mau kamu khawatir. Aku nggak mau kamu kasihani. Aku masih punya impian Cha. Aku akan berdiri dengan impianku itu, walaupun dengan semua keterbatasanku.
Walaupun aku hanya bisa meraba deretan huruf Braille, aku masih akan terus membaca. Walaupun aku hanya bisa mendengarkan mama mendongengkan cerita padaku, aku akan terus mengingatnya. Walaupun aku hanya bisa menuliskannya dengan kata-kata sederhana, aku akan menceritakan pada dunia.
Tentang mimpiku, tentang impianku.
Tentang buku - buku dan hidupku.
Suatu hari nanti, aku akan menjadi orang yang paling banyak membaca buku. Aku akan mengingat semuanya dan menceritakannya pada dunia.
Salam sayang,
Risa
***
Inilah ceritaku. Tentang Risa, seorang gadis yang penuh semangat. Dalam keterbatasannya, dia masih memegang erat impian - impiannya.
Sahabatku Risa, dengan semua keterbatasanya, masih ingin mempertahankan impiannya.
Sudahkah kamu melakukan hal yang sama??
Cerita yg sngat bagus, mengharukan. Sukses selalu buat penulisnya.
Mengharukan…
mungkin dgn ngebaca ini aq termotivasi untuk ngeraih impianku.
mungkin berat..tapi aku harus berusahakan…
sukses buat penulisnya ya…
Sungguh indah dan bagus,mendengar ceritamu yang mengisahkan perjuangan seseorang dalam keterbatasan,membuat diriku malu sekaligus dapat memotivasi diriku agar lebih kuat dalam menjalani hidup.Sukses dengan tulisanmu ya
huhuhuh….sedih bangat crite nie sih!!!
ceritanya sangat menyantuh,tapi saya ingin sumbernua yang jelas yang meliputi nama pengarangnya.
Kok hampir sama ya dengan cerita kehidupanku
Thanks banget ceritanya.
Hikkkkkssss…..
baguuussss! Inspired banget!
Sukses yah buat penulisnya…
Baguuuussss…
Inspired banget!
Sukses terus buat penulisnya dan doaku buat Risa…..
Bgus bnget nih, sukses ya…bwt sang penulis
hm……absolutely fantastic story!!??
membaca semua ini membuat ku merenung
akan tujuan hidupku sebenarnya,,
coz msh bnyk impian yng ingin gw raih,,,
keep writing!!??? to the Author,,
risa iti beneran ada ato cuma ngarang aja??
waa…thx untuk komentnya…
risa itu…beneran..tp namanya bukan risa n dy jg bkn sahabatku…
another person yg true lifenya menginspirasiku untuk terus maju, jd aku share di sini…
hope this story can inspiring you as it anspiring me…
baguus… banget, begitu mengaharukan
aku sempat teringat ketika angan dan harapanku tak tercapai lantaran kondisi yang tak diinginkan,
bisa dijadikan motivasi nich …sukses selalu buat kamu ya …
critanya bgus bgt,aq sangat terharu dg crita ini. Selamat bwt Penulisnya…..! SUKSES TERUS YA……..!!!!!!!!
ceritanya yg menyentuh membuat pembaca terharu!!!!
berusahalah untuk menggapai sesuatu…
karena kesuksesan berawal dari usahamu untuk menggapainya!!!!
beuuh..
merindiing gw…
yg lw critain disini siapa…??
palagi pas bagian akhir surat Risa …
gud job…
Semoga semua yg membaca cerita ini mampu bersyukur kpd Yang Diatas atas rahmat yg telah diberikan-Nya..
“Sabbe satta bhavantu sukhitata”.Semoga semua makhluk hdp bahagia.
Wah… ternyata kamu memang berbakat ya…
Cerita kamu yang ini menginspirasi kita banget…
Keren…