Dimensi Dy
Maret 16th, 2008 by muth3
Aku menatapnya, kubiarkan bulir-bulir kristal itu mengalir di pipinya. Kutunggu detik detik berlalu, uapkan kristal bening itu.
“Kau sudah puas?” tanyaku akhirnya. Dia hanya mengangguk
“Dy, emang punya rasa kayak gini sakit banget yah? Apa jatuh cinta itu salah? Aku nggak mo lagi punya rasa kayak gini” seribu tanda tanya mnyerangku
“Si brengsek itu lagi!” umpatku kesal. Entah sudah berapa kali aku melihat gadis mungil ini menangis hanya karena cowok brengsek yang bahkan tak pernah kulihat wajahnya. Andai saja aku bisa, ingin rasanya kutembus dimensi ini untuk menghajarnya.
“Apa yang dilakukannya padamu?”
“Mereka…mereka jadian Dy!” ia kembali terisak
“Aku nggak ngerti mengapa Wina tega padaku. Kalaupun Wina suka padanya mengapa nggak dari dulu aja dia bilang ke aku padahal aku percaya banget ma dia, Dy”
“Wina nggak salah Rhe…saat kau menggantung asa pada seseorang kau harus bisa mereguk resikonya juga.”
“Iya…tapi kenapa Wina. Dia sobat aku. Aku udah ngganggap dia bagian dari diriku. Kenapa justru dia yang merebut orang yang aku suka!”
“Tatap aku Rhe…apa kau yakin, Fian orang yang tepat buat kamu. Mungkin Fian justru yang terbaik buat Wina!” tegasku padanya. Kusentuh pipinya, berusaha menghapus bulir air matanya. Dia menggeleng.
“Aku tidak yakin….!”
“Lalu mengapa kau menangisi nya?”
“Aku bukan nagisin Fian, aku nyadar kok dia bukan pangeranku. Tapi Wina, mengapa aku punya sobat kayak gitu! Penghianat!!” ia kembali terisak
“Atas dasar apa kau memvonis dia sebagai penghianat. Ingat Rhe, hati tak bisa dipaksakan, begitu juga hati Wina.”
“Aku nggak memvonis dia, aku hanya merasa dia tidak menghargai persahabatanku selama ini. Apa itu arti persahabatan. Mengambil milik teman sendiri!”
“Sejak kapan Fian jadi milikmu!” dia tertegun menatapku.
“OK, bukan milik. Tapi setidaknya Wina tahu aku suka Fian!!!”
“Hanya karena itu??”
“Ya…”aku tertawa mendengar jawabannya
“Kalo kau hanya menertawakan aku, aku tidak akan pernah lagi mengganggumu” ancamnya.
“Iya…sori Rhe. Aku cuma ingin kau menyikapi ini lebih dewasa. Tidak semua yang kita inginkan sanggup kita raih. Adakalanya kita terjatuh untuk kemudian bangkit dan berdiri lebih tinggi” Dia mengernyitkan dahi.
“Aku dewasa, aku gadis berusia 17 tahun.” Dia berdiri dihadapanku sambil tersenyum lucu walau masih ada sisa airmata di wajahnya.
“Dewasa? Kedewasaan tidak diukur dari umur, tapi kemampuanmu memandang dunia”
“Aku dak ngerti!!!!” kerutan di dahinya bertambah. Dia kelihatan bingung dengan ucapanku. Aku beranjak pergi meninggalkannya dengan kebingungan yang harus dia temukan sendiri jawabannya. Banyak hal yang masih harus dipahaminya sebelum menuntut orang lain memahaminya.
@@@
“Hy Dy…kau nggak bosan kan dengerin semua curhatanku. Aku senang baget Dy. Aku udah bicara ma Wina dan sekarang aku ngerti napa dia bersikap kayak gitu. Aku yang salah, terlalu berprasangka buruk padanya. Well…aku bahagia melihat sobatku itu bahagia. Dan sekarang aku dewasakan Dy!” gadis itu dengan cerianya menghempaskan tubuhnya di sampingku dan berceloteh riang.
“Apanya yang dewasa, bentar-bentar pasti nagis lagi kan. Itu penyakit kamu. Cengeng!!!. Apa anak kecil secengeng kamu bisa di bilang dewasa!”
“Kau salah kalau menganggap aku gadis kecil yang seperti dulu. Gadis yang akan berlari padamu sambil terisak. Tidak…kini aku nggak mau di katai cengeng lagi!” oh ya…itu tidak mungkin. Dalam seminggu dia bisa berubah setegar karang??? Aku tidak akan percaya padanya. Aku tahu kau Rhea…
“Oh iya…apa ini yang dinamakan gugur satu tumbuh seribu. Dy aku suka seseorang. Namanya Ryan, dia teman lesku. Sebenarnya sudah lama aku perhatiin dia, tapi karena waktu itu aku suka Fian mukanya nggak terdeteksi. Tapi skarang…mungkin aku jatuh cinta beneran, Dy!” binar matanya yang bahagia silaukan duniaku. Aku tersenyum menatap sinar bahagianya itu. Akankah cowok baru itu jadi pangerannya. Tiap saat setelah melepas satu elang pergi, pasti akan ada elang baru yang bertengger di kepalanya. Yah di kepalanya…gadis ini hanya membiarkan elang-elang itu penuhi pikirannya bukan hatinya, karena menurutnya hatinya hanya untuk sang pangeran. Apakah elang baru ini sanggup menukik dan menyentuh hatinya?
“Hey…kau mendengarkanku kan? Dy, aku suka banget ma di. Anaknya tuh sopan, pinter, alim, dan manis lagi. Pokoknya dia sempurna Dy, ups..emang ada manusia yang sempurna?” kucoba cerna tiap katanya.
“Lalu bagaimana perasaanmu dengan Fian, apa itu sudah berlalu. Secepat itukah?”
“Kau sendiri yang bilang padaku, aku harus bahagia melihat dia dan Wina” aku mendesah panjang. Kapan gadis ini dewasa, kata-kataku tak pernah dipahaminya. Kata-kata itu hanya terpantul di dinding dimensiku.
“Terserah kau, yang jelas aku tidak mau kau datang lagi padaku sambil terisak. Aku benci melihatmu menangis!” tegasku padanya, dia tersenyum.
“Oh…ya! Aku tidak akan menangis lagi. Aku janji padamu. Kecuali kau pergi dariku, meninggalkan aku. Pada siapa lagi aku ngadu!” senyumnya sentakkan aku. Apa aku berarti bagimu? Bukankah aku hanya tempat sampah bagimu. Aku bukan siapa-siapa yang pantas kau tangisi.
“Mengapa kau terdiam, Dy? Apa aku boleh membangun mimpi tentang Ryan?” tanyanya kemudian.
“Asalkan kau tidak menangis lagi”
“Beres boss” dia berlalu dariku.
Kembali lagi gadis itu mengadu padaku. Kali ini bisa kutebak, elang itu terbang juga.
“Dy…Ryan udah punya cewek!” ucapnya lirih
“Tapi aku lega kok!” kembali ia terisak. Ku hempaskan diriku di sampingnya, memandangnya lekat-lekat, mencari sesuatu yang hilang di mata kelam itu.
“Cengeng!!! Begitu saja nangis. Bukankah kau janji padaku untuk tidak menangis lagi!” tak kuasa kutahan amarahku. Tangisnya seakan tercekat, airmatanya menguap. Di pandanginya aku tajam seakan meminta jawab atas sikapku.
“Kau benar, Dy. Aku cengeng!!! Aku ingkar janji. Tapi Dy, plis pahamin aku dong!”
“Aku…? Belum cukupkah aku pahami dirimu. Tak pernahkah kau berusaha pahami aku? Kau selalu menuntut semua orang pahami apa yang kau rasakan, tapi apa kau pernah mencoba pahami orang lain!” Dia terdiam, waktu bekukan kami. Ku tahu sel otaknya kini sedang bekerja keras menjaring semau kataku.
“Aku lelah, Dy…aku capek dengan dunia ini! Mengapa semua orang sanggup menggapai apa yang mereka inginkan, tersenyum kemudian bahagia selamanya. Sedangkan aku, tetap saja di sini berharap bintang jatuh dan bahagiakan aku. Aku bahkan berusaha bahagia untuk orang lain, tapi bisakah aku betul-betul bahagia untuk diriku sendiri? Aku bosan dengan bumi ini…”
“Kau ingin ke Mars” dia akhirnya tertawa
“Kau ingin membiayai perjalananku?” dia balik bertanya.
“Tidak akan! Kau yang ingin pergi tentu saja kau sendiri yang membiayainya” dia memandangku cemberut.
“Aku kekanak-kanakan yah, atau hanya seorang pemimpi?” aku hanya mengangguk membenarkan analisisnya.
“Aku hanya ingin ada seseorang yang bisa menarikku dari jaring-jaring laba-laba ini. Aku ingin punya sayap yang sanggup terbangkan aku…aku ingin bebas seperti kau, Dy!”
“Aku? Kau pikir aku bebas?”
“Ya, tentu saja, kau tidak pernah punya masalah. Sedangkan aku? Susah jadi seorang manusia. Apa aku boleh meloncat ke duniamu Dy…”
“Apa kau sanggup jadi pendengar setia seperti aku? Apa kau sanggup pahami orang lain?” kuserang dia dengan pertanyaan yang kadang mengusikku.
“Tapi Dy, aku hanya ingin bebas, bersatu dengan angin kemudian terbang ketempat pangeranku yang Sesungguhnya, ataukah kau pangeran yang selama ini kutunggu” kata-katanya buyarkan satu gelembung di duniaku.
“Kau pikir dengan meloncat ke duniaku kau akan bebas…kau akan menemukan pangeranmu! Asal kau tahu saja bukan dunia yang membelenggumu tapi jiwamu…coba kau pandangi duniamu dengan bijak, pahami dirimu. Hanya di duniamu pangeran itu ada” Rhea membisu. Dia berhenti menarikan tangan kecilnya di lembaranku. Sesaat muncul tanya di ujung pena untukku.
“Apa kau punya masalah Dy? Apa kau ingin keluar dari dimensimu?” aku terdiam. Membatu dalam satu detak waktu yang tak kunjung reda. Masalah? Apa aku punya? Yah..aku punya masalah Rhe. Masalah yang tak mungkin kuungkap padamu. Aku jatuh cinta padamu. Pada seorang gadis yang menghidupkan aku di lembaran kertas. Pada seorang gadis yang selalu ungkap rasanya padaku, tapi tak sanggup kusentuh karena aku berada di dunia berbeda dengannya. Rhe…andai saja kau tahu aku sangat ingin keluar dari dimensi ini, tepis selaput kaca. Berdiri di hadapanmu, hapus air matamu dan tenangkan kau dalam dekapku.
“Dy…kau dengar aku kan? Aku yakin kau akan selalu bersamaku. Entah di dunia mana kau pasti ada” dia menutup lembaranku. Kupandangi langit-langit dimensiku. Penuh dengan selaput kaca. Kucoba menyentuhnya, aku terhempas. Kuraih pedang asa ciptaan rhea. Ku tebas batas dimensi itu. Tubuhku serasa menguap ke angkasa. Aku bebas, aku lepas dari kerangkeng selaput kaca. Ku berdiri di samping gadis itu. Matanya terpejam indah, mimpi hanyutkannya. Kekecup kening gadis terkasihku tuk ucap terima kasihku karena kasihnya aku bebas,lepas dari dimensi khayalnya. Kurasakan angin menerbangkanku jauh…jauh…jauh sampai batas dunia. Perlahan tapi pasti turun bagai bulu. Perih saat kerasakan tubuhku kembali ke satu bui…bui yang berwujud. Wujud yang selama ini ku damba. Wujud yang sanggup hapus airmata gadis terkasihku. Wujud manusia seutuhnya. AKU HIDUP RHEA…
-end-