Don’t Hide Your Feelings 10
Maret 13th, 2008 by 亜也子
Keesokan harinya..
“Aya, ada yang nyariin tuh di depan,” kata Haru-nii.
“Sapa? Yuuki? Micchi?” tanyaku.
“Bukan.. cowok itu.. ryuuji,” kata Haru-nii.
“Ha?! Ryuu.. sejak kapan dia tahu alamatku?”
“Entah.. maybe dia punya mata-mata kali.”
Aku tak menghiraukan omongan Haru-nii dan segera menuju ke tempat Ryuu.
“Ohayou,” sapa Ryuu
“Ohayou,” kataku, “by the way, kau tau darimana alamat rumahku?”
“Ohh.. kemarin aku lewat di sekitar sini. And ngeliat kamu. Sekarang juga iseng lewat sini dan yaa.. pengin mampir dulu bentar.”
“Oh,” jawabku datar, “tapi kemarin aku gak ngeliat kamu di sekitar sini kok.”
Ryuu hanya tertawa menyeringai dan aku mengangkat bahu.
“Mo masuk, Ryuu?”
“Hmm di sini aja juga gapapa.”
“Oh. Ya sudah. Gue ke dalam ya,” kataku datar meninggalkan Ryuu.
Ketika di dalam,
“Aya, temannya kok gak disuruh masuk?” tanya Mama.
“Ma, bukan temannya tapi calon pacar. Hahaha..” kata Haru-nii tertawa.
“Ihh.. apanya yang calon pacar.”
“Lagian lo tuh deket banget ama dia. Apa coba namanya kalo bukan calon pacar??”
“Omakase deh,” kataku datar, “iya dah entar aku suruh masuk. Lagian ada angin apa sih dia datang kesini segala?”
“Ya jelas lah.. mo jemput calon pacarnya. Hihihi..”
Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya Haru-nii karena moodku hari ini lagi gak mood untuk bercanda dan meladeni omogannya itu.
“Ryuu.. mending lo masuk ke dalam aja,” kataku mempersilahkannya masuk tapi segera meninggalkannya lagi.
“Aneh. Kenapa sikapnya Aya cuek kayak gitu?” bingung Ryuu. Tapi iapun segera masuk ke dalam rumahnya itu.
“Wait Ryuu. Gue k edalam dulu. Mo make seragam,” kataku berjalan menuju kamarku.
Dan Ryuu masih terlihat bingung dengan sikap dan keanehanku.
“Hei, santai aja kali. Aya kayanya lagi BT gara-gara kejadian kemarin. Kalo BT-nya dah ilang pasti dia balik ke sikap semula,” kata Haru-nii
Ryuu hanya tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Aya turun dan, “Ryuu gue mo ke sekolah nih. Haru-nii gue duluan aja ya.”
Ayapun segera keluar dari rumahnya, ”Ittekimasu!”
Dan Ryuu pun ikut ke luar rumah dan mengejar Aya.
“Ay.. Aya tunggu…” panggil Ryuu. Diapun berhasil memegang tangannya Aya.
“Yo. Nani?”
“Kau kenapa? Beda banget dari biasanya.”
“Sorry Ryuu.. gue lagi bener-bener bad mood….”
“Kenapa? Kalo ada apa-apa cerita aja sama aku.”
Akhirnya aku berhenti. Menghela napas.
“Uh! I hate Tanoki!!” kataku langsung dan tiba-tiba.
“Kenapa?”
“I hate anything who related with Tanoki!!!”
Ryuu bingung sementara Aya terus-terusan berkata kalau ia membenci Tanoki.
“Aku ngerti kalau kamu benci banget sama dia. Tapi jangan tumpahin kebencian kamu sama aku dong!”
Aya menoleh. Melihat muka Ryuu yang penuh perhatian itu.
“Kalau kamu ada masalah sama dia jangan terlalu dipikirin. Tanoki memang menyebalkan seperti itu. Kalau kau terus ladenin dia akan terus ngelonjak. Aku sama dia saingan dari dulu tapi kita tetap berteman karena aku menghiraukan apapun yang membuatku bisa membencinya,” kata Ryu sok bijak sambil tersenyum.
Aya terus melihat ke arah mukanya Tanoki.
“Kalau kamu benar-benar membencinya, akan lebih baik kalau kamu menghindar dari dia,” katanya lagi.
Kini Aya memalingkan mukanya.
“Aku ingin sekali menghilang dari kehidupannya dia. Tapi tugas itu mengharuskanku untuk terus berada dekat dengannya. Lebih-lebih, dia sama sekali gak perduli akan hal itu. Uh!!! I hate TANOKI the way he is..!!!!” kataku sambil berjalan dengan jalan yang amat sangat sebal. (nani kore?!)
“Hoy.. matte yo aya!!” panggil Ryuu, ”kalau kamu marah-marah kaya gitu, muka kawaii kamu bisa berubah jadi iblis lho. Hehe..” kata Ryuu lagi sambil mengekspresikan muka iblis.
Ayapun sejenak tertawa melihat ekspresi Ryuu dan akhirnya mreka berangkat ke sekolah bersama dengan tertawa. Dan ryuu merasa puas dengan apa yang sudah dia lakukan. Ia tersenyum.
Setelah kejadian ini, Ryuu terus-terusanan berada disamping Aya dan dia terus-terusan mendekati Aya dengan tujuan mendapatkan hati Aya. Aya sendiri tidak menyadari akan hal itu sementara Tanoki terlihat makin hari makin kesal melihat dua sejoli yang semakin dekat itu. Tapi ia tetap tidak mau menyadari perasaan itu. Dan Aya meski ia senang tidak ditemukan lagi dengan Tanoki, ia merasa terganggu dengan keberadaan Ryuu dan sedikit kesepian.
Tak ada yang mengetahui mengapa mereka merasakan hal itu. Deadline tugaspun semakin dekat. Sementara Tanoki dan Aya sama sekali belum melaksanakan tugas itu. Entah mereka lupa atau tidak perduli akan tugas itu. Namun sesuatu akan terjadi.
Akhirnya tugasitupun hanya tinggal 2 hari lagi. Haruki sedang berjalan di lorong sekolah ketika sekolah sudah mulai sepi dan melewati kelasnya Aya. Di kelas itu ia melihat Micchi dan Yuuki masih berada di kelas seperti sedang melakukan penelitian. Harukipun menghampirinya.
“Hai,” sapa Haruki.
“Senpai” jawab Micchi dan Yuuki.
“Lagi ngapain. Rajin banget!”
“Iya nih. Abisnya deadlinenya 2 hari lagi sih,” jawab Micchi.
“Deadline? Tugas apaan?”
“Karya ilmiahnya si Tomo-sensei. Emang Aya dan Tanoki belum buat tugas itu ya?” tanya Yuuki.
“Apa?? Aya sekelompok sama Tanoki??”
Mereka berdua mengangguk.
“Pantesan!” jawab Haruki datar, “Ok, thanks ya!”
Harukipun segera meninggalkan kelas dan segera pulang untuk memberitahukan Aya. Di jalan ia bertemu dengan Hikaru. Iapun membicarakan hal itu dengan Hikaru. Tapi, ternyata Tanokipun memang belum mengerjakan karya ilmiah itu. Akhirnya mereka berniat untuk memaksa mereka berdua mengerjakan karya ilmiah itu dalam waktu 2 hari.
Di rumah Aya..
“Aya..” panggil Haruki
Ayapun keluar kamar, “Doshite?”
“Kamu ada tugas dari Tomo sensei ya?”
Aya mengangguk.
“Dah dikerjain?”
Aya menggeleng.
“BAKA!!! Entar kamu gak dapat nilai Aya!! Kenapa gak dikerjain??”
“Lah.. partnerku aja cuek kaya gitu. Malas aku!”
“Kamu gak boleh kaya gitu. Kalian udah jadi partner. Setidaknya bekerjasama lah hanya dalam waktu 2 hari. Kalau tugas udah selesai kalian bisa sendiri-sendiri lagi.”
Aya masih terdiam.
“Demi tugas Ay. Demi nilai kamu. Dan demi aku Ay!”
Aya masih terdiam.
“Aya. Kamu udah gede. Buang keegoisan kamu. Cuma 2 hari.. abis itu it’s over!”
Aya masih terdiam.
Harukipun kesal dengan keegoisan Aya dan mulai beranjak untuk meninggalkannya lalu Ayapun mulai berbicara
“OK…OK.. tapi apa bisa selesai dalam 2 hari?”
“Bisa Ay! Haruki dan Hikaru akan bantu. Tapi kalian berdua harus kerjakan semaksimal mungkin. Cuma 2 hari aja,” bujuk Hikaru.
“Haaaaii..” kataku dengan ucapan malas dan tak bersemangat.
“Ya uda. Cepat temui dia. Lebih cepat lebih baik.”
“OK! Besok akan aku bicarakan,” kata aya, “no comment Niichan!!”
Aya keluar dari kamar dan menuju entah kemana.
Harukipun mengejarnya.
“Aya kamu jangan manja kaya gitu donk. Udah tau tinggal 2 hari lagi. Mana bisa.”
“Abis kapan aku bisa ketemu dengannya??”
“Hari ini. Kamu ke rumahnya aja. Entar aku kasih alamatnya.”
“Ahh.. OK..OK.. iya.. ntar abis makan,” katanya segera turun menuju dapur.
Haruki tersenyum, “Sekarang tinggal Hikaru. Good luck Hika!”
Di rumah Tanoki.
“Tanoki..” panggil Hikaru.
“Ya”
“Tugas kamu udah dikerjain belom?”
“Malas. Ayanya aja gak perduli.”
Melihat jawaban simplenya Tanoki akhirnya Hikaru pun membujuknya dengan segala cara seperti Hikaru membujuk Aya. Dann..
“Hai.. entar aku ke rumahnya!” katanya dengan ekspresi datar meminum orang juicenya.
Setengah jam kemudian Aya dan Tanoki di tempat yang berbeda berencana untuk mengerjakan karya ilmiah itu. Meski mereka bertampang BT untuk bekerjasama mereka tidak menyadari kalau mereka akan mendapatkan sesuatu di malam ini.
“Ittekimasu!” kata Aya dan Tanoki.
Merekapun pergi dan ternyata mereka bertemu di tengah jalan secara tak sengaja.
“Yo!” sapa Tanoki duluan.
“Yo!” jawab Aya
Mereka terdiam cukup lama.
“Aku mau membicarakan tugas kita,” kata mereka berbarengan.
Mereka pun terdiam.
“Kamu duluan aja,” mereka kembali berkata hal yang sama berbarengan.
Akhirnya mereka tersenyum dan tertawa.
“Haha.. ternyata kamu juga perduli sama tugas itu?” tanya Aya.
“Ya.. karena tugas itu penting untuk Tomo sensei dan diriku.”
“Ya. You right.”
Mereka tersenyum.
“Haha..” Aya tertawa.
“Nani?”
“Kenapa kau pake jaket setebal itu?? Cuaca cerah begini.. gak bakal hujan kali..”
“Eh. Omakase deh! Sedia paying sebelum hujan kali!” kata Tanoki berjalan melihat sekeliling.
Sementara itu di rumah Aya, Ryuu datang berkunjung. Namun ia terlihat kecewa ketika Haruki berkata Aya sedang pergi ke rumah Tanoki. Iapun segera pulang.
to be continued..
wah , bguz bged niu cerpen’a . . knpa gag djadiin novel aza . ?
keren low . .
yg ke-11 kpan mncul . ?
scepadna iah . .
blez . !
hee??
bagus??
masa sih??
sankyuu ya..^^
hmm secepatnya deh..
hmm mnk niatnya mo dibikin novel..!!^^
doakan saja ceritaku bnr2 bagus haha..
hei Kapan selasai, tolong tulis yang terakhirnya dulu dong!!!memang cerita ini bisa baca, Bagus…bagus.
lah?! masa langsung ditulis yang terakhir.
endingnya happy ending dh.. hehhee..
hmm kuusahakan selesai secepatnya deh.
di kolom kita loadingnya lama untuk ngelanjutin ceritaku.
jadi kalo mau tau lanjutannya buka multiplyku aja tiap hari aku update
http://www.shirochii.multiply.com
sankyuu minnasan..^^
Waii..
Akhirnya dimuat juga DYHF10 di kolomkita ya Achi? Tp ko lama bngetz to ktmbang yg d multiply
Tp tetep ok ko’
emang lama.. kan disini harus dibaca dulu sama redaksinya..
makanya mending buka di multiplyku aja hehehe..
demo lanjutannya rada lam.. mav.. tapi akan aku usahain secepatnya..^^