KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Istikharah yang Patah

Masih dalam senyap. Nyanyian subuh berkumandang tanpa keluh.Sedangkan Jibril sedang bertamu membawa titipan sebuah “keselamatan”. Ia kukuhkan pada sebuah tubuh. Selepasnya lalu beranjak pulang, terbang, lalu hilang.
Tubuh yang terkulai itu mulai merasakan hawa “selamat” yang dikukuhkan Jibril. Jemarinya perlahan bergerak, lambat-lambat sepasang matanya terbuka.
“Di mana ini?” dadanya penuh tanda tanya, ia hendak beranjak.
“Aakkhh..apa yang terjadi padaku?” ia mengerang dan kembali terkulai karena rasa remuk memeluknya. Erangannya cukup membangunkan seseorang yang tertidur di bangku sebelah ranjangnya.
“Alhamdulillah..Luqman, kamu sudah sadar?” tanyanya sembari menggosok mata.
“Di mana aku, Paman?” masih bertanya dan kembali matanya menyapu tiap penjuru ruangan.
“Kamu di rumah sakit, Man! Sudah dua hari kamu tak sadarkan diri!”
“Dua hari??” ia terheran.
“Syukur, kamu selamat dari kecelakaan itu, Man!”
Luqman tak lagi bertanya, kini ingatannya ada dihadapannya dan cukup menjawabnya.
“Sudah, sekarang kamu jangan banyak bergerak. Paman panggilkan dokter dulu!” pamannya bergegas.
Lembar ingatan Luqman terbuka. Ia membaca lagi apa yang ia alami.
***
Dalam naungan malam, dengan jilbab hitam yang alam kenakan, seakan mengiring semua yang terjaga untuk masuki alam mimpi. Tapi tidak untuk seorang Luqman yang sedang berduka asa. Jalanan begitu sepi, semuanya seperti telah mati, begitu pikir seorang Luqman yang patah hati.

Dari atas motornya Luqman menderu-deru. Ia lusuh,terlihat mengeluh dengan airmuka kaku bekas airmata yang kering. Allah, ia seperti telah gila karena kepatahannya. Rasanya menghampa, ia berputus asa.
“Allah..apa kau ingkar janji?” pekiknya. Luqman memacu lebih lagi kecepatannya, seperti ingin “menembus alam lain”, dan membaca tinta’an qudrat yang digurat untuk takdirnya.
“Mengapa kenyataannya berbeda?” ia berguruh, segemuruh hatinya.
“Duuuaarrr..” seketika sekelebat bintang menyeringai, sabit sunggingkan senyun. Luqman tak mampu mengelak dari pembatas jalan yang mengintainya.

Luqman terlempar. Jalanan tersiram darah, jatuh terhempas. Ia terkapar, akhirnya tak sadar. Bintang dan sabit tak lagi terlihat.

***

Mekar-mekar mawar. Rona kamboja telah kembali segar. Pagi itu setelah lima hari dilewati. Luqman pulang dengan vonis “sempurna” dari dokter. Akan tetapi di rumah, Luqman lebih banyak terdiam. Luka hatinya tak turut sembuh seperti luka raganya.
Tatap matanya dalam, tapi penglihatannya sedang melayang jauh, teramat jauh. Jiwanya gundah, galaunya membuncah. Air matanya tak henti alirkan air mata, pertanda sebetapa entah sebagaimana rupa luka hatinya. Terlebih sore itu ia mendapatkan sebuah surat undangan yang dititipkan seseorang kepada bibinya.
“Man, ini ada surat undangan buat kamu. Tadi ada teman Aisyah menitipkannya!”
“Te..terima kasih,Bi!”kata Luqman terbata, coba sembunyikan letupan dihatinya. Ia genggam surat undangan itu. Luqman memilih berfirasat ia merasa berat untuk melihat sepasang nama siapa yang tertera di kertas undangan itu. Lalu ia bersegera ke kamarnya. Sedang paman dan bibinya hanya bisa menatap Luqman dengan penuh iba.
“Kasihan Luqman, Ma. Yatim piatu, kini ia harus ditinggalkan orang yang dicintainya lagi,” gumam paman Luqman menoleh ke arah istrinya.
“Semoga saja dia kuat, Pa,”jawabnya.
Mencoba untuk tak percaya, tapi tetap nama itu yang tertera. Mencoba menghibur hati, tapi tetap tak dapat merubah nama yang telah terbingkaikan di surat undangan itu. Luqman tak terus membuka surat undangan dari “kekasihnya” itu, ia sedari tadi hanya tertegun melihat goresan sepasang nama, rangkaian separang nama yang dibuat seindah-indahnya, karena memang dikhususkan untuk menyambut hari yang terindah.
“Aisyah..dengan orang lain,” lirih ia. Sebelum air matanya kembali berderai, ia dikagetkan oleh dering ponsel di mejanya. Buru-buru ia meraihnya. Sebuah panggilan diterima. Sebuah panggilan dari sebuah nama yang terindah baginya dan telah jadi terburuk untuknya.
“Assalamualaikum..Kak!” Aisyah kalamkan salam.
“Waalaikum salam!” jawab Luqman.
“Bagaimana kabar, Kakak?”

Terdengar indah suaranya.
“Alhamdulillah,baik,”suaranya parau.
“Maafkan Aisyah. Selama Kakak di rumah sakit, Aisyah tak bisa menjenguk.”
“Tak apa,” singkat.
Sesaat aisyah terdiam seperti ragu berkata-kata.
“Emmm..surat undangan? Sudah Kakak terima?”.
Entah kenapa hati Luqman tersentak mendengar pertanyaan itu.
“Su..sudah,” sedapatnya Luqman menjawab pertanyaan dari Aisyah walau dadanya terasa sesak.
“Apa Kakak jadi membenci Aisyah setelah kita berpisah?” lanjutnya.
“Entahlah..,” jawaban yang terasa sinis bagi Aisyah.
“Maafkan Aisyah dan keluarga Aisyah, Kak,” suaranya berubah sendu. Sejenak suara di udara menjadi hening. Sedangkan hati luqman bergolak mendengar Aisyah mengucapkan kata-kata”keluarga”nya. Entah sebab apa.
“Jika bisa, tapi jika tidak..maafkanku tak mampu memaafkan karena…,” kata Luqman tertahan disitu.
Aisyah kaget mendengar jawaban Luqman seperti itu, tapi ia pun coba mengerti apa yang dirasakan oleh Luqman.
“Allah pun Maha Pengampun atas segala kesalahan. Mengapa Kakak tak bisa?” Aisyah mengingatkan Luqman. Ia ingin kembali menata hati Luqman yang dikuasai amarah.
“Bukankah hanya Allah yang mampu melakukannya? Karena memang hanya Dia lah yang maha pengampun. Sedangkan aku hanya manusia yang terbatas,” bela Luqman.
“Manusia seperti Muhammad pun mampu memaafkan walau baginya amat menyakitkan,” terang Aisyah.
“Bukankah Muhammad manusia pilihan?” kini egolah yang membela Luqman. Amarah kadung menguasainya. Aisyah sudah merasa percuma untuk melanjutkan percakapannya dengan Luqman.
“Sudahlah..Kak. Mungkin amarah terlanjur menguasai Kakak. Yang pasti Aisyah meminta maaf serta doa restu. Dan semoga waktu akan membuat Kakak mengerti. Karena ini adalah takdir. Assalamualaikum,” selepas berkata-kata Aisyah langsung menutup panggilannya hingga tak menyempatkan Luqman menjawab salamnya.
“Waalaikum salam,” ia ucapkan dalam hati sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya.
“Takdir?masihkah aku harus percaya?” gumamnya dengan derai air mata, seolah telah tak peduli bahwa ia ialah seorang lelaki yang mestinya tak cengeng.

 

***

Langit-langit langit telah berdandan senja. Siap-siap sambuti malam yang segera bersalam. Kumandang maghrib telah merebak. Luqman berwudhu. Ia membasuh amarah kekalutan dengan sejuk air ketenangan. Ia tutupi gelisah dengan hampar sajadah.
Selami rakaat-rakaat cinta, mengadu kepada sang Pembolak-balik Kalbu.
Ia mengaji hingga kumandang Isya menyapa sempurna. Lepas shalat isya Luqman membuka surat undangan yang jika tadi hanya dilihatinya. Bersamaan ia membuka surat undangan itu, perlahan lembar kenangan Luqman kala bersama Aisyah pun turut terbuka. Ia teringat saat mengungkapkan cintanya kepada Aisyah dengan penuh keyakinan, karena Aisyahlah yang menjadi jawaban istikharahnya. Keyakinannya begitu penuh melangit-langit setelah Aisyah menerimanya. Tetapi sungguh seperti telah runtuh seluruh langit keyakinan itu setelah orang tua Aisyah menampar lamaran dari keluarga Luqman dengan hanya alasan tahta, kasta yang berbeda. Berselang satu hari dari hari keruntuhan yang dirasakan Luqman itu, Aisyah berkunjung ke rumah paman dan bibi Luqman hendak meminta maaf.
“Paman, Bibi, dan Kakak semoga berkenan memaafkan Aisyah dan keluarga Aisyah,” kata Aisyah sambil mengusap air matanya dengan ujung kerudung.
“Insya Allah, kami pasti maafkan. Kami pun cukup mengerti akan sikap orang tua Aisyah,” jawab paman Luqman di iya-kan istrinya.
Sedangkan luqman terus saja tunduk terdiam. Hatinya masih serasa berat menerima keruntuhan itu. Paman dan bibi Luqman berlalu dari ruang tamu meninggalkan Aisyah dan Luqman agar mereka lebih leluasa menumpahkan perasaannya masing-masing, begitu pendapat bibi Luqman.
Luqman masih terus terdiam dengan rasa kekalutannya, sedang Aisyah terdiam dengan rasa kebersalahannya.
“Aisyah mohon..maafkan Aisyah dan keluarga Aisyah, Kak,” kata itu kembali terulang. Luqman terus saja diam tertunduk, entah menahan rasa apa lagi. Sedang dalam hati Aisyah pun turut bergelut sebuah kata yang ia sembunyikan.
“Kak, sebenarnya Aisyah sudah dijodohkan sewaktu Kakak sebelum melamar Aisyah. Tapi itu tanpa sepengetahuan Aisyah,” kata yang tersembunyi itu diberanikan Aisyah untuk dibuka. Luqman tersentak, kepalanya yang sedari tertunduk kini terangkat, lalu menatap tajam kepada Aisyah.

“Kau menerimanya??” selidik Luqman dengan nada lemah dan mata memerah.
“Aisyah tak bisa untuk tak menerima, karena itu adalah permintaan orang tua Aisyah, Kak. Semoga saja Kakak mengerti.”
Genaplah seluruh runtuhnya keperihan Luqman.
“Ya, semoga.”
Tak lama setelah berkata seperti itu Luqman menuju motornya, ia memacu dan berlalu.
Sedang Aisyah menatapnya dengan uraian air mata. Luqman menjauh dari tatapan kecemasan Aisyah. Pergi sejauh-jauhnya.
Keputus-asaan hingga kecelakaan yang ia alami, cukup memecah berantakan lamunan panjangnya. Surat undangan yang terbuka itu tak disadari telah basah oleh tetesan air tangisan. Surat undangan itu, Luqman kembali letakan di meja.

***

Malam telah terlalu kelam dengan sepertiga waktunya. Jibril pun sedang membagi-bagikan salam bagi para pecinta dari sang Maha Cinta. Salam Jibril pun turut membangunkan Luqman dari tidurnya. Luqman terbangun dengan berlumur doa dimulutnya. Ia tamui Tuhan dengan tahajud kerinduan. Ia bersimpuh meminta jawaban atas jawaban yang sedang membuat keyakinannya timpang.
“Allah..dengan istikharah aku pernah meminta jawabanMU dan kau mengirim raut Aisyah kedalam mimpiku sebagai jawabannya, hingga aku yakin bersama dialah aku jalani sunah rasulMU. Lalu apakah ini? Ya, dia bersama orang lain. Lalu, apakah Kau ingkar janji? Apakah aku masih harus yakin?”
Suasana hening, angin tertahan, udara diam. Ada sesuatu yang tumbuh di hati Luqman “husnudzan”. Dawai kedamaian menyemilir. Rasa “ikhlas” turut tumbuh mengiringinya. Ia tertegun dalam siksa yang ternikmat.
“Cukup cinta dan aku.”

Malangbong.2005.


4 Responses to “Istikharah yang Patah”

  1. on 12 Mar 2008 at 19:15dedeawan

    Bagus sekali, luar biasa, perfect, dan islami. Anda termasuk penulis sekelas habiburrahman. Komentari dong cerpenku kuda besi

  2. on 17 Mar 2008 at 12:50wenie

    keren bgt crita mengharukan… islami bgt dan bguz bgt..

  3. on 09 Oct 2008 at 13:20Rany

    bagus bgt sangat dalem menyentuh bgt…mirip dengan yang kualami sekarang….

  4. on 15 Dec 2008 at 20:41Momoy

    Bagus,terus berkarya,ya…

Tinggalkan Komentar