Bisik
Maret 11th, 2008 by jun an nizami
Di atap jakarta, siang itu matahari sedang jumawa-jumawanya penuh pongah sinar tatapannya.
“Wan, sebentar lagi kereta datang, kita siap-siap!” seseorang berbisik pada teman di sebelahnya.
“Ini akan berhasil? Aku khawatir!” ia bertanya dengan gugup gemetar, “aku belum pernah melakukannya!” sambungnya.
“Aahh.. lu jangan payah gitu, Wan! Tenang aja, ada gue. Lama-lama lu bakalan bisa.
“Man, kamu sudah lama kerja kayak gini?” masih bertanya, dengan tatap mata penuh sangsi, memperhatikan sosok teman yang baru dua minggu dikenalnya.
“Gue tuh sudah lama kerja kayak gini, jadi udah pengalaman.”
“Kamu nggak takut?”
“Yaa.. kayak lu itu, pertama sih takut.”
“Wwuuss..” kereta ekonomi Jakarta-Bogor yang telah dikerumuni tepat berhenti di depan mereka, memberhentikan pula percakapan mereka.
”Wan, ayo!” Herman mengais lengan temannya yang sedari tadi memikirkan keraguannya. Di dalam kereta mereka terpaku diam, sesekali berbisik.
”Wan, kereta sedang penuh, ini kesempatan!” bisik herman dengan muka mendekati telinga si Wawan. Dalam keramaian dan menyusup di antara kelengahan, Herman mulai beraksi. Jemarinya menari lincah. Satu dompet, dua dompet telah berpindah kuasa, lalu ia simpan dalam tas yang ia kaiskan di depan dadanya. Sedangkan si Wawan memperhatikan temannya dari jarak tiga meter dengan rasa kepengecutan yang benar namun terkikis. Berkecamuk ragu dihadang bimbang, akhirnya si Wawan pun menekat-nekatkan diri dengan berbekal teori-teori yang dibekalkan Herman. Matanya belajar liar mengamati lengah seseorang di depannya. Jarinya bergetar mengikis kisi-kisi iman.
***
Samar-samar salam adzan maghrib pun terdengar sampai di sebuah gubuk di sisi kota.
”Wan, ini bagian lu. Lumayan buat beli oleh-oleh untuk ibu lu di kampung!” tutur Herman dengan memberikan sejumlah uang hasil dosa siang tadi. Tapi si Wawan hanya tertunduk membisu.
”Udahlah..Wan, jangan terlalu banyak dipikirin. Hidup yang memaksa kita melakukan ini,” tutur Herman dengan pembelaannya.
“Kalau bukan karena terpaksa, aku takkan lakukan ini, Man!” kata Wawan dengan berkaca-kaca.
“Gue ngerti.. Wan. Gue juga pernah ngerasa kayak gitu, tapi toh lu juga kan perlu buat biaya berobat ibu lu di kampung?”
Si wawan hanya terdiam, ia akhirnya luluh atas nama keterpaksaan. Sesaat Herman tersenyum kecut.
“Eh.. Wan, gue numpang tidur disini lagi ya?”
“Iya..” jawab Wawan sambil memasukan uang yang diberikan Herman ke sebuah kotak kecil di bawah tumpukan pakaiannya. Lalu si Wawan meninggalkan Herman. Ia pergi ke mushala untuk melaksanakan shalat maghrib. Selepas shalat, hatinya menjadi penuh timpang.
“Apakah yang ku lakukan ini benar?” ia berbicara dengan hatinya, ia sadar atas kesalahannya, dan mulai ragu untuk meneruskan pekerjaannya yang dijalaninya siang tadi. Tapi ragu itu diam dibungkam keterpaksaan, terus begitu berulang-ulang kali. Ia beranjak pulang meninggalkan mushala. Selintas ia teringat masa kecil berjama’ah di kampung halamannya. Jauh tenang, penuh kedamaian, tapi hidup jua lah yang mengutusnya datang ke kota ini, kota jakarta yang semuanya ada, segalanya tersedia. Kejahatan, kesantunan, kepongahan, dan kesengsaraan. Sampai di gubuk yang ia jadikan tempat tinggal, si Wawan masih melihat Herman yang sudah tertidur. Dan tatapannya terhenti di sebuah surat yang sudah terbuka di atas lemari pakaiannya. Surat yang diterimanya tiga hari yang lalu dari seorang tetangganya yang baru datang dari kampung, mengabarkan bahwa ibunya sedang sakit. Perlahan air mata si Wawan menetes kembali setelah membaca lagi surat itu.
“Maafkan Wawan Bu..” gumamnya dengan menengadah ke arah bulan.
***
Siang terlalu cepat merapat. Sore itu stasiun sudah mulai sesak oleh orang-orang yang baru pulang bekerja. Si Wawan dan Herman masih terduduk menunggu kereta berikuktnya sambil asyik ngobrol.
“Man, aku pengen pulang ke kampung. kasihan ibuku,” keluh si Wawan.
“Ya ..sabar dong, memang sudah punya duit apa? Tabungan dari hasil kerja lu juga paling berapa? Apalagi sekarang lu udah di-PHK, operasi sama gue aja kan baru mulai kemaren.”
“Ya..itulah aku bingung!” jawab si Wawan. Herman terdiam sesaat, sambil asyik menghisap rokok kreteknya.
“Nah..lu kan suka shalat. Jadi mendingan lu berdoa aja, mudah-mudahan kita dapat dompet yang lebih tebel,” goda herman. Si Wawan hanya diam saja.
“Alhamdulillah..berarti Allah telah menilai bahwa uang ini sudah cukup untuk kita hari ini!” ujar seseorang yang duduk di sisi Wawan, sambil menunjukkan teman di sebelahnya. Hati si Wawan bergetar mendengar ucapan itu. Lebih bergetar lagi setelah ia menoleh dan menyadari bahwa yang mengucapkannya hanyalah seorang bocah pengamen kepada temannya . Kemudian bocah-bocah itu tersenyum santun saat sadar bahwa ada yang sedang memperhatikan mereka.
“Wan..ayo naik!” membuat si Wawan terkejut. Di dalam kereta, seperti biasa Herman tak terlalu kesulitan melakoni pekerjaannya, sedangkan si Wawan masih tertegun memikirkan petuah dari bocah-bocah pengamen tadi. Lalu keraguannya muncul lagi, tapi keterpaksaannya unggul lagi. Terus begitu berulang-ulang kali. Keterpaksaannya menang lagi, dan keraguannya makin terhimpit. Di tengah-tengah kerumunan penumpang yang saling berdesakan, Herman sudah terlalu asyik memainkan jemarinya, dan kini ia tak lagi terlihat oleh si Wawan. Dan ditakbiri rasa keterpaksaan, si wawan pun mulai patuh melaksanakan sebuah titah dari sang bisik. Malaikat di sisi kanannya pun telah angkat tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda menyerah. Wawan menghirup napas dalam-dalam dan.. cepat.. sebuah dompet telah berhasil ia ambil dari seseorang yang berdiri lengah di depannya. Ada rasa sedikit lega di dadanya, tapi ada satu titik pada satu kedipan matanya.
“Ingatlah.. Nak! Satu saat, dimana saat itu yang disediakan hanya sepasang mata untuk berbicara, dan saat dimana hanya tinggal tangan dan kakimu sendiri yang akan menjadi saksi, dan di situ yang tertinggal hanyalah tanggung jawab,” sosok ibunya yang melintas.
Namun….bbuukkkk..sebuah tinjuan yang diikuti tinjuan-tinjuan lain, memecahkan sosok itu dari sudut ruang bayang mata si Wawan. Hidungnya mengeluarkan darah disusul darah-darah yang keluar dari sekujur tubuhnya. Allah.. seketika ia telah menjadi bulan-bulanan massa. Tinjuan, tendangan tiap-tiap penumpang, dan…… bbrruukkk. Akhirnya si Wawan terjatuh dengan dompet yang telah terlepas dari kepalan jemarinya. Penglihatannya berganti temaram..hitam..gelap.
“Copet….copet….copet!”
Sebelum seluruh gelap utuh menangkap, ia masih sempat mendengar teriakan itu menjadi seperti sebuah bisik, bisik halus pada telinganya, dan Herman entah ada di mana. Si Wawan dibuang keluar gerbong, dan beruntung kereta sedang berhenti di sebuah stasiun. Ia tergeletak dengan pakaian telah menjadi berwarna darah, ia pingsan tanpa ada yang mempedulikan. Menjelang isya ia baru siuman..Ia tertatih-tatih menuju gubuknya, ia telah berniat untuk pulang ke kampungnya berbekal uang hasil tabungan selama bekerja, sebelum ia di-PHK, walaupun belum mencukupi untuk biaya pengobatan ibunya. Sesampainya si Wawan tercengang mendapati seisi lemari pakaiannya acak-acakan, semua uangnya telah tak ada. Ia jatuh, ia bersimpuh. Tak ada jalan ….Kawan
Jakarta.01-08
Wah bagus nih, tpi kok ngambang. Lanjutìn dong byar seru.