KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Time Will Tell (2)

…sambungan dari Time will tell..?

Seperti pagi-pagi sebelumnya, di atas bus yang membawa Nizam dan Val ke tempat kerja, keduanya terlibat dalam percakapan yang diselingi tawa. Renyahnya tawa mereka serenyah snack kentang yang Val bawa sebagai cemilan di perjalanan.

“Val, di pesawat kan dijual macam-macam makanan. Ada mi instan, nasi uduk dan kue-kue,” kata Nizam di tengah perjalanan sambil merogohkan tangannya ke dalam kantong plastik berisi snack kentang yang dipegang Val.

“Iya. Trus kenapa?” jawab Val singkat.

“Menurut kamu, si Sam bakal makan apa kalau di pesawat?”

“Sam? Sam bagian Marketing yang… ehm…”

“Iya. Sam yang kayak Agus.”

“Kayak Agus?”

“Iya. AGUS*, Anak Gajah Usia Setahun. Hehehe,” Nizam terkekeh sambil memandang Val yang tersenyum kecil.

“Ih… kamu kok jahat banget. Masa anak gajah kamu samain sama si Sam. Hihihi. Emangnya Bona. Bona kan imut, luccuu giccuu.”

“Bona, gajah kecil berbelalai panjang? Lha, berarti buat kamu si Sam gak imut dong.”

“Udah ah. Tadi apa pertanyaan kamu? Si Sam kalo di pesawat bakal makan apa… itu kan…”

“Iya, si Sam bakal makan apa kalo di pesawat?”

“Hmmm… apa ya? Kayaknya sih dia bakal makan nasi uduk atau nasi kuning, biar kenyang sekalian.”

“Yeee… salah.”

“Lha trus makan apa? Aku kan belum pernah terbang bareng dia.”

“Aku juga belum pernah terbang bareng si Sam. Tapi aku tahu pasti. Aku dikasih tahu sama bunda Ira.”

“Bunda Ira, chief Flight Attendant?”

“Iya. Mau tahu?”

“Mauuuu…”

“Kata bunda Ira, yang udah pasti si Sam kalo di pesawat… bakal MAKAN… MAKAN TEMPAT! Hahaha,” Nizam tertawa puas berhasil mengerjai Val.

“Ih… jayus! Hihihi. Makan tempat. Cappee deehh,” Val mencubit tangan Nizam yang berbunga-bunga ketika Val melakukannya, bukan perih yang dia rasakan tapi bahagia karena baginya Val mencubitnya dengan mesra.

Bus yang membawa mereka ke bandara, kantor AirWorld, sudah hampir mencapai tujuannya. Keduanya lalu bangkit dari tempat duduknya dan bergerak mendekati pintu keluar bus, bersiap-siap untuk turun.

***

Di kantor, di depan komputernya, selepas shalat Jumat, Nizam menyandarkan badannya ke sandaran empuk kursi kerjanya. Wajahnya dihiasi senyuman layaknya orang yang sedang kasmaran. Hari-harinya yang tak pernah lepas dari merdunya suara Val di atas bus pagi dan sore hari membuatnya makin ingin memiliki Val. Terlebih mimpinya lebih dari lima tahun yang lalu yang beberapa hari terakhir selalu mengganggu di kala sepi bertahta di hatinya terutama menjelang tidur malam. Mimpi bahwa calon pasangan hidupnya adalah “Rina”, menumbuhkan keyakinan bahwa baginya, Val, Valerina adalah “Rina”.

Nizam menghela nafasnya dalam-dalam lalu diangkatnya gagang telpon yang ada di meja kerjanya. Ditekannya ektension meja kerja Val, 1201. Nada panggil pun terdengar di telinga Nizam. Dua kali nada itu berbunyi lalu dari ujung telepon terdengar suara Val menyapa.

“Selamat siang. AirWorld office dengan Valerina bisa dibantu,” begitu suara lembut Val menyapa telinga Nizam dengan SOP answering call kantor AirWorld.

“Siang, Val. Ini gue, Nizam. Lagi sibuk gak?”

“Lumayan Zam. Tapi aku masih bisa atasin kok. Ada apa? Sore ini gak bisa bareng pulang?”

“Oh, enggak. Emang gue cuma nelpon kamu kalo bilang begitu aja ya?”

“Gak juga sih. Tapi seringnya sih begitu. So, kali ini what’s up?”

“Kamu udah nonton film Nagabonar 2?”

“Belum. Kan filmnya baru tayang minggu lalu. Kamu mau ngajak aku nemenin kamu nonton ya?”

“Hmm…”

“Kok malah hmm…?”

“Iya. Kalo kamu mau, besok temenin gue ya. Eh, tapi ada yang marah gak ya?”

“Ih, jayus banget sih kamu. Kalo kamu mau bayarin tiketnya sih, gak akan ada yang marah.”

“Oh gitu ya. Harus bayarin ya…? Hmm… oke deh Val. Gue tanggung tiketnya.”

“Asyik… Thanks ya Zam.”

“Sama-sama. Tapi kamu yang bayarin minum dan snack-nya ya. Hahaha.”

“Hmm… gimana ya. Boleh deh. Besok aku bawain air putih dalam botol dan kacang kulit. Hahaha.”

“Jadi, besok bisa ya.”

“Bisa Zam. Nanti detilnya kita bicarain di bus aja ya. Biar nanti kita ada bahan omongan.”

“Oke. Thanks ya Val.”

“Sama-sama Zam. Dagh.”

“Dagh juga.”

Klik. Terdengar bunyi gagang telpon di tutup di ujung telepon. Nizam masih meletakkan gagang telpon di dekat kepalanya lalu ia berbisik lirih “I love you Val” sebelum diletakkannya gagang telpon itu pada tempatnya.

***

Sejak kepergian keduanya menonton film di bioskop di malam minggu yang cerah itu, kebersamaan mereka semakin sering terjadi. Tidak hanya saat pergi dan pulang kerja. Hari Sabtu dan Minggu pun kini sering mereka luangkan bersama. Kian lama Nizam semakin mengenal diri Val yang sesungguhnya dan membuatnya semakin ingin memiliki Val sebagai kekasihnya.

Nizam sudah berkali-kali memikirkan bagaimana supaya ia bisa menyampaikan isi hatinya dengan tepat. Ia tidak mau mengalami penolakan. Walau ia belum pernah merasakannya, ia yakin kegagalan dalam hal soal perasaan akan sangat menyakitkan. Jauh lebih perih daripada kegagalan dalam pelajaran atau pekerjaan.

Dalam hari-hari belakangan ini, Val sering menelponnya menjelang larut malam. Memang yang sering dibicarakan adalah persiapan presentasi penelitian Val untuk dewan direksi yang akan dilakukan pada penghujung bulan. Val merasa Nizam bisa memberikan kritik yang membangun untuk presentasinya sehingga setiap hari pun Val memberikan softcopy draft presentasinya pada Nizam untuk dibaca. Dan setiap malamnya Nizam dengan sepenuh hati memberikan pandangannya tentang presentasi Val. Kadang-kadang ia tidak mempedulikan pekerjaannya sendiri ketika e-mail dari Val berisi draft presentasi diterimanya. Ia memilih membaca dengan hati-hati agar bisa memberikan masukan yang berharga. Dan sejauh ini Val sangat respek dengan masukan yang diberikan Nizam.

***

Pagi, seperti biasa, di atas bus, Val memperlihatkan kepada Nizam presentasi final yang akan disampaikannya pada dewan direksi setelah makan siang. Nizam membaca presentasi itu dan menyadari bahwa hampir semua masukannya telah diolah Val dan dimasukkan dalam presentasi final.

Menjelang area bandara, Nizam mengembalikan presentasi itu kepada Val. Senyum Nizam tersungging lebar pada pujaan hatinya itu. Val pun membalas senyumnya dan mengucapkan terima kasih atas bantuan Nizam. Ia juga minta maaf kalau sekian lama mengganggu waktu istirahat Nizam. Nizam hanya menggelengkan kepalanya sementara senyumnya masih belum hilang dari wajahnya. Dalam hatinya, kalaupun Val meminta seluruh waktunya, mungkin dia akan berikan.

***

Minggu siang itu, Nizam dan Val duduk berhadapan di dalam sebuah warung makan di lokasi parkir sebuah mal. Sejak beberapa hari sebelumnya, Nizam sudah bertekad kalau siang itu ia harus menyampaikan perasaannya pada Val. Karenanya ia memilih meja di pojok warung makan itu agar tidak banyak yang bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Ditambah lagi hujan di luar begitu derasnya turun membasahi bumi.

“Val. Kamu seneng gak hari ini?”

“Seneng Zam. Tumben kamu nanya begitu. Pokoknya sejak presentasiku yang… yah bolehlah aku bilang sukses kemarin ini, ya hatiku seneng banget. Dan itu juga berkat bantuan kamu Zam.”

“Syukur deh. Tapi gue harap setelah ini mudah-mudahan apa yang akan gue sampaikan ini gak ngerusak suasana hati kamu.”

“Hmm… kok bisa? Memang kamu mau ngomong apa? Kamu gak bawa dompet ya? Hihihi. Tenang, hari ini aku yang bayarin Zam.”

“Janji ya, kamu gak akan marah sama gue setelah ini. Janji ya Val.”

“Tentu aja Zam. Ada apa sih?”

“Hmm… Begini Val. Udah beberapa bulan ini kan kita deket. Gak cuma pas di bus. Tapi kita udah banyak banget ngeluangin waktu bersama. Seneng-seneng bareng. Apa-apa bareng deh.”

“Iya. Trus…”

“Hmm… Dan gue ngerasa nyaman banget berada deket kamu Val. Gue ngerasa nyambung banget. Pokoknya kalau gak ketemu sehari aja sama kamu, perasaan gue sepi banget deh. Dan udah beberapa hari terakhir ini gue gak bisa lagi menahan keinginan gue untuk bilang ini. Bilang kalo… kalo gue sayang kamu Val. Dan gue pingin kamu jadi pacar gue.”

“Pacar kamu. Hmm…”

“Gue harap kamu…”

“Zam… boleh gak aku simpan dulu jawabannya. Aku gak bisa jawab sekarang.Aku perlu memikirkannya.”

“Ya. Kamu boleh mikirin dulu jawabannya. Gue gak mau maksa.”

Thanks Zam. Mudah-mudahan nanti malam aku bisa kasih tahu jawabannya.”

“Sama-sama Val. By the way, suasana hati kamu gak berubah setelah denger ini kan Val?”

“Hmm… gak kok. Aku tahu kok suatu hari kamu bakal menanyakannya.”

“Jadi seharusnya kamu udah nyiapin jawabannya dong. Upss… maaf Val gue gak bermaksud mendesak.”

It’s okay. Tapi aku boleh kan gak jawab sekarang.”

“Tentu aja Val. Seperti yang gue bilang tadi.”

Thanks Zam.”

Hujan pun perlahan reda. Setelah membayar makanan dan minuman, keduanya lalu berjalan menuju mal seperti biasa. Sikap Val tidak berubah sama sekali. Sementara dalam hati Nizam terus bertanya-tanya gerangan apa yang akan menjadi jawaban Val.

Ia belum menyiapkan diri untuk patah hati. Ia benar-benar hanya memikirkan satu skenario. Cintanya bersambut. Itu saja.

Sepanjang siang hingga sore itu ketika ia mengantarkan Val kembali ke rumahnya, ia benar-benar tersiksa. Ia tidak bisa menikmati kebersamaan mereka hari itu. Dan dalam perjalanan pulang ke rumahnya, di atas sepeda motor butut miliknya, ia mulai memikirkan skenario yang sama sekali tidak diinginkannya. Hanya memikirkannya saja, Nizam merasakan perih yang sangat di hatinya. Tanpa permisi, air mata pun mengalir di pipinya.

Apakah mimpi lebih dari lima tahun yang lalu itu bukan sekedar bunga tidur? Akan menunjukkan tanda-tanda yang jelas? Atau sebaliknya?

Hanya waktu yang akan menjawab. Dan itu hanya dalam hitungan jam. Once again, time will tell.

* singkatan ini berasal dari celetukan Tukul di Empat Mata

One Response to “Time Will Tell (2)”

  1. on 11 Apr 2008 at 13:02Epank

    Wah kayakx penulis lagi nuggu keputusan dari seseorang.. Slmt menanti ya….

Tinggalkan Komentar