Laki-laki muda itu memasuki warung makan yang masih lengang dan mengambil tempat duduk di sudut ruangan yang tidak terlalu mencolok. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian dan sebaliknya, tidak pernah berkeinginan memperhatikan orang lain. Sederhana saja alasannya, dia bukan jenis orang yang supel dan (apa namanya jaman sekarang gaul?), yah begitulah. Kalau dipikir-pikir, bisa jadi itu alasan yang masuk akal. Bukankah seorang pemuda yang gaul itu seringkali diidentikan dengan tampan, kaya, keren, atau setidaknya pembawaannya menyenangkan dan sedikit funky? Nah, laki-laki ini jelas bukan tipe seperti itu. Dia laki-laki biasa, benar-benar dari kalangan yang biasa-biasa saja. Seraut wajah yang tidak menarik, dan penampilan yang minus (seakan-akan tidak punya kemauan untuk menyenangkan hati perempuan). Kepribadiannya pun membosankan. Ia tidak suka mengeluarkan lebih dari satu kalimat tiap kali bicara dengan orang lain. Hal yang patut disyukuri adalah dia punya karier yang lumayan bagus di pemerintahan. Seorang pegawai Gubernur di Jawa Timur. Bukan jenis orang kepercayaan sang Gubernur, cuma pegawai biasa yang ahli mengoperasikan komputer. Selebihnya, dia cuma pemuda yang hidup sendiri di sebuah rumah kontrakan di kota Surabaya yang metropolitan.
Di jaman sekarang ini, setiap anak laki-laki (tidak menutup kemungkinan seorang anak perempuan yang tomboy) sepanjang masa kanak-kanaknya mengidolakan tokoh cerita pahlawan super hingga selalu menganggap dirinya kelak akan menjadi salah satu dari pahlawan-pahlawan super itu, seperti icon jagoan dari Amerika, Superman atau Batman, atau jagoan Jepang seperti Gaban atau Jiban, yang punya kekuatan luar biasa dan yang dengan gagah beraninya menyelamatkan umat manusia dari setiap kejahatan.
Nah, laki-laki muda yang kini duduk termenung dengan secangkir kopi di hadapannya itu, mengalami masa kanak-kanak yang sama menariknya dengan anak-anak yang lain. Permasalahannya, sampai sekarang pun dia masih membayangkan dirinya mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu memiliki kekuatan super yang terpendam. Dia benar-benar merasa yakin, di suatu malam yang aneh, ketika bintang utara memancarkan sinar putih yang menyilaukan, tubuhnya akan melayang dengan perasaan yang luar biasa dan tiba-tiba saja sekujur tubuhnya dibaluti kain yang tidak akan tertembus peluru sekalipun, kemudian seakan-akan segala kekuatan super akan bergumul dalam dirinya, dan dia kemudian terbang untuk memburu dan membasmi kejahatan di seluruh sudut bumi ini.
Tanpa sadar laki-laki itu tersenyum, senyum yang kekanak-kanakan. Ia merasakan suatu sensasi dalam jiwanya dan sudah tidak sabar lagi menunggu keajaiban terjadi pada dirinya. Sambil mengaduk kopi kentalnya tanpa perhatian, ia berkata pada dirinya sendiri, “Dan semua orang mengelu-elukan aku dengan perasaan takjub. Bahkan semua penjahat gemetaran waktu dengar namaku dibisikan.”
Tanpa tanda-tanda sebelumnya, tiba-tiba seorang perempuan sudah duduk di hadapannya. Dia mengenal perempuan ini. Si rambut pendek yang sangat periang dan penuh percaya diri, dan seorang rekan kerja (malah mungkin teman satu-satunya) yang bisa dibilang cukup dekat dengannya.
“Masih mengkhayal tentang kekuatan super yang terpendam itu lagi ya?” katanya tanpa tedeng aling-aling. Gadis ini memang sudah terbiasa menemukan rekan sekerjanya yang satu itu tengah asik melamun sendirian tanpa satu orang kawan pun di sisinya.
Kemudian dengan penuh semangat gadis berkaca mata itu berteriak kepada pemilik warung makan, “Pecel pincuk Pak, minumnya es kelapa muda!”
Setelah menyampaikan keinginannya, perempuan itu memandang sekelilingnya dengan perasaan puas.
“Kita beruntung keluar sebelum waktu makan siang. Kalau penuh, tempat ini terasa panas banget kan?” katanya sambil mengipas-ngipas dirinya sendiri. Merasa tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan, dia pun memandang laki-laki di hadapannya, “Rizal Prasojo! Kamu memperhatikan aku nggak sih?”
Rizal yang masih terbuai dalam angan-angannya, kembali mengaduk-aduk kopinya yang sedari tadi belum diminumnya sedikit pun. Ia menjawab dengan malas.
“Ya.” Rizal akhirnya meminum kopinya. “Tempat ini tambah panas kalau banyak orang.”
Setelah kamu datang jauh lebih parah, Rizal menambahkan dalam hati.
“Memang,” kata Tina yang jelas tidak mengetahui pikiran Rizal yang sebenarnya. Kemudian dia menambahkan, “Surabaya memang panas sih. Di Indonesia, cuma daerah-daerah tertentu aja yang sejuk udaranya. Bogor dan Malang selalu jadi tempat favoritku. Kadang aku jadi kangen sama Belanda. Utrecht, Den Haag, Haarlem, Groningen, Leiden, semua tempat-tempat favoritku. Amsterdam, kota paling bersih, sejuk, dan cantik sekali. Bunga-bunganya apalagi. Kamu pernah ke Belanda?” Tina bertanya dengan penuh semangat.
Rizal menggeleng. Dia belum pernah ke Belanda, atau ke luar negeri manapun. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya di Malang, tempat kelahirannya, dan Surabaya tentu saja. Sebenarnya dia memang ingin melanglang buana ke segala penjuru dunia, sepertinya mengasikkan dan menarik sekali. Tapi, darimana dia akan punya uang sebanyak itu?
Tina terus saja bercerita, “Aku lama di Groningen, ambil master untuk hukum Administrasi di sana satu setengah tahun, terus melakukan research di Leiden untuk bidang hukum Internasional. Bekerja untuk KBRI di Amsterdam lima tahun, magang di Law Firm di Utrech dua tahun, sebelum akhirnya dipanggil untuk jadi penasehat hukum Gubernur di sini. Sepanjang waktuku kuhabiskan untuk mengumpulkan dan menerapkan ilmu di Belanda. Nggak pernah punya waktu untuk yang lain.”
Untuk pacar maksudmu? pikir Rizal dalam hati dengan sinis. Sebenarnya ia bosan juga tiap kali berbicara dengan Tina. Tina selalu bercerita tentang masa lalunya di Belanda, sambil sesekali menyelipkan kebanggaannya atas dirinya sendiri. Memang Tina orang yang sangat sukses, sungguh berbeda dengan nasib Rizal yang cuma mampu meraih gelar Sarjana bidang Tehnik Informatika yang digelutinya, itu pun dari salah satu universitas lokal saja, bukan luar negeri seperti Tina. Tina bahkan sebentar lagi akan dipromosikan untuk meraih gelar Doktor di bidang Hukum, yang sudah pasti akan diambilnya di Belanda.
“Ik houd Nederland,” Tina berkata sambil tersenyum bangga, “aku suka sekali Nederland. Kadang kalau kupikir-pikir, aku mau menghabiskan sisa waktuku di sana. Beli rumah dan bekerja di Law Firm, atau KBRI, memang sesuai dengan harapanku selama ini. Nanti setelah aku dapat gelar Doktor, baru aku timbang-timbang lagi. Soalnya, nggak etis rasanya udah dibiayain pemerintah, tapi nggak mau mengabdi sebentar untuk daerah. Nah, aku bukan jenis orang yang nggak tahu berterimakasih. Begitu kan menurut kamu, Zal?”
Tina menatap Rizal dengan pandangan memohon. Tina tentunya mengharapkan jawaban yang sesuai dengan harapannya. Namun Rizal cuma diam membisu. Bukan berarti dia setuju, dia cuma malas menjawab.
Bukankah setiap hari ini yang kamu bicarakan, Tina? Ia mengeluh dalam hati. Selalu membicarakan tentang keberhasilanmu dan kota Belanda yang kamu puja-puja. Dan aku, aku selalu mendengarkan. Selalu memberi pendapat yang nggak benar-benar sesuai dengan kata hatiku, tapi memang pendapat seperti itu yang kamu inginkan, cuma sekedar menyenangkan kamu. Seorang perawan tua yang punya segalanya, kecuali cinta.
Diam-diam Rizal tertawa dalam hati. Ya, kalau dipikir-pikir, apa bedanya Tina dengannya? Mungkin Tina seorang perempuan karier yang sangat sukses, tapi dia tidak lebih bahagia dari Rizal. Rizal merasa sangat yakin bahwa Tina pun merasakan penderitaan yang nyaris sama dengannya, yakni kehidupan tanpa cinta dan kehangatan.
Rizal memandang kawan bicaranya yang kini sedang menerima makan siang pesanannya dari Pak Tanto,si empunya warung makan langganan para pegawai kantor Gubernur.
Merasa diperhatikan, Tina membalas tatapan Rizal dengan maksud bertanya. “Ada apa? Kenapa melihat aku seperti itu? Apa kamu mulai merasa tertarik sama aku?” Tina mulai menggodanya.
Rizal serta merta menggeleng dan menjawab pendek, “Sama sekali nggak.”
Jawaban yang nyata-nyata telah merendahkan martabat Tina sebagai seorang perempuan yang hebat, menurut hematnya sendiri. Tina memandang Rizal dengan kesal dan memperhatikan ketika laki-laki itu bangkit dari kursinya dan hendak pergi.
“Hei, mau kemana?” tanyanya heran. “Sesudah menjatuhkan harga diriku, terus kamu mau pergi begitu aja? Kopi kamu aja belum kamu habiskan.”
Rizal membayar minumannya dan lantas mengeloyor pergi tanpa menjawab pertanyaan Tina. Tina benar-benar ditinggal sendirian dengan wajah memerah dan perasaan jengkel luar biasa.
Memang laki-laki bermasalah, maki Tina dalam hati. Laki-laki yang punya segudang masalah kejiwaan. Tidak pernah bisa menjadi dewasa. Pengkhayal sejati. Kamu akan selalu bermasalah kalau nggak bisa berubah! hujatnya dalam hati. Tidak akan ada satu orang pun perempuan yang bersedia menghabiskan waktunya untuk hidup dengan kamu. Sendirian, itu lah takdir kamu, Rizal Prasojo. Sepanjang hidup kamu.
Setelah puas menyalurkan kekesalannya dalam berbagai kalimat makian, Tina pun menghabiskan makan siangnya dengan perasaan tidak karuan.
Rizal tidak ingin segera kembali ke kantornya untuk bergulat sepanjang siang dengan segala macam database administrasi yang membosankan. Dia ingin menyendiri, dan seperti biasanya, dia memilih untuk menyendiri di sebuah taman di jalan Pemuda yang tempatnya persis di depan kantor Gubernur. Ia duduk di sebuah bangku taman yang mulai mengelupas catnya, kemudian menatap ke arah jalan yang penuh lalu lalang kendaraan. Ia tidak menghitung berapa kendaraan yang lewat seperti yang biasanya dilakukannya, melainkan lebih memilih untuk meneruskan angan-angannya yang tadi sempat terputus berkat kehadiran Tina, si cerewet yang sangat bangga pada dirinya sendiri. Terlalu amat sangat bangga malah. Jelas bukan tipe perempuan dengan siapa ia ingin menghabiskan seluruh waktunya untuk hidup dengannya.
Nanti setelah aku menjadi pahlawan super, toh akhirnya semua perempuan akan tergila-gila sama aku, kata Rizal pada dirinya sendiri dengan penuh keyakinan. Aku akan menyelamatkan mereka dari para penjahat dan laki-laki busuk yang ingin menodai mereka, kemudian aku bawa mereka terbang mengelilingi dunia. Tapi aku harus mengelabui para penjahat, sehari-harinya aku tetap berpenampilan seperti ini dan bekerja sebagai pegawai Gubernur yang membosankan ini. Kemudian waktu terjadi kejahatan, aku mencari ruang kosong untuk berubah, lalu aku berteriak “Super Hero!”, dan aku pun bertransformasi menjadi seorang pahlawan super yang sangat kuat. Para penjahat awalnya menganggap aku orang gila, tapi waktu aku mulai menunjukkan kekuatanku, dan waktu aku terbang, mereka mulai merasa ketakutan. Peluru nggak bisa menembus kulitku, pedang akan peyot dengan sendirinya waktu mengenai badanku, mataku juga bisa mengeluarkan sinar laser yang mampu membakar baja terkuat di dunia sekalipun. Kadang aku lengah, para penjahat itu juga semakin pintar. Mereka menciptakan robot rekayasa untuk menghancurkan sang pahlawan super, tapi tentu saja mereka gagal. Mereka semua akan kalah. Aku, refleksi dari seluruh kebaikan dunia, akan membasmi kejahatan di muka bumi ini. Rizal, sang Pahlawan Super, penyelamat bumi dan pembasmi kejahatan!
Entah sudah berapa lama Rizal terbuai dalam khayalannya hingga dia tidak menyadari seseorang kini sedang menatapnya lekat-lekat di sampingnya. Rizal merasa terkejut dengan kehadiran laki-laki asing itu. Seorang pria yang mulai tua dengan tatapan mata yang tajam dan raut muka penuh teka-teki. Ia tidak memakai pakaian yang mencolok, cuma sweater berwarna pastel yang sudah pudar dan celana katun yang berwarna coklat.
Rizal tidak ingin berbicara dengannya, tapi dipandangi seperti itu tentu saja tidak membuat nyaman siapa pun. Apalagi, Rizal benar-benar merasa terganggu. Rizal pun menyapanya dengan ragu-ragu.
“Ada apa, Pak?” tanyanya perlahan. Rizal sempat melihat keterkejutan yang luar biasa terpancar dari wajah laki-laki itu. “Bapak mencari apa?”
Laki-laki itu tidak segera menjawab. Dia hanya menatap Rizal dengan pandangan takjub. Rizal merasa canggung dengan suasana di sekelilingnya. Di tengah-tengah taman yang sepi, dengan suara bising kendaraan di sekitarnya, ia harus duduk berdampingan dengan seorang laki-laki yang sedari tadi memandanginya tanpa berkedip.
Apa orang ini gila? Rizal bertanya-tanya dalam hati. Ia mulai merasa ketakutan ketika melihat kedua mata orang itu melotot padanya. Segala keberanian dan keyakinan mengenai kekuatan super yang terpendam dalam dirinya perlahan-lahan menghilang dan berubah menjadi ketakutan yang luar biasa. Rizal ingin menjauh dari orang itu, tepatnya melarikan diri. Ia sudah bersiap untuk berteriak dan berlari kalau-kalau laki-laki itu mengeluarkan senjata tajam untuk menodongnya atau melakukan pelecehan padanya. Bagaimanapun juga, saat ini Rizal bukanlah seorang laki-laki dengan kekuatan super, dia cuma seorang pemuda yang rapuh dan sangat canggung luar biasa.
Tangan laki-laki itu mulai meraih lengan Rizal. Rizal hampir saja berontak, tepat ketika laki-laki itu mengeluarkan kalimat yang menenangkannya.
“Saya bukan penjahat.”katanya dengan tegas. “Saya nggak punya niat jahat sama kamu. Saya juga bisa pastikan saya bukan orang gila.”
Rizal tidak berteriak maupun memberontak setelah mendengar kata-kata itu. Dia cuma memandang laki-laki itu dengan perasaan takut. Meskipun takut, anehnya Rizal tidak berniat untuk meninggalkan laki-laki itu. Jujur saja, dia merasa agak penasaran dengan laki-laki yang kini tersenyum ramah padanya.
“Nama saya Jono, teman-teman saya memanggil saya Bos Jo. Kamu bekerja di kantor Gubernur kan?”
Rizal mengangguk perlahan. Laki-laki itu mengambil sebatang cerutu, benar-benar-benar sebatang cerutu, dan menyulutnya. Ia menghisapnya perlahan-lahan. “Ini cerutu yang bagus. Asli buatan Inggris. Kamu bukan perokok, jadi saya nggak perlu menawarkan satu buat kamu.”
Rizal kembali mengangguk. Dia masih bingung untuk mengeluarkan kata-kata yang tepat kepada lawan bicaranya. Dia tidak merasa takut lagi pada Jono, malah kini dia merasa yakin bahwa Jono itu seorang laki-laki kaya dari golongan para kaum intelek.
“Sedang istirahat siang, ha? Kenapa nggak makan siang dengan rekan-rekan kerja yang lain?”
“Saya tadi sudah minum kopi.”
“Aaaa_minum kopi.” kata Jono dengan raut muka mengerti. “Kamu nggak punya keinginan untuk mengenyangkan perut kamu ya? Kamu juga nggak suka bergabung dengan yang lain. Kamu lebih suka menyendiri dan bermain-main dengan angan-angan. Penyakit laki-laki bujangan. Seperti nggak punya hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan aja. Saya sekali pernah seperti itu. Tapi setelah hadir seorang perempuan yang menyerap tenaga dan pikiran saya sampai habis, saya nggak pernah punya waktu lagi untuk menyendiri. Padahal itu satu-satunya hal di dunia yang paling saya butuhkan saat itu.”
Rizal tersenyum mendengarkan kata-kata si Bos Jo. Rizal adalah seseorang yang sulit mendapatkan alasan untuk tersenyum, dan kini dia mengangkat topi untuk laki-laki asing yang berhasil membuatnya tersenyum ini.
“Tapi ini bukan tentang perempuan.” Jono menggeleng perlahan. “Aku yakin bukan. Ini tentang hakekat laki-laki. Tentang ego. Tentang hal-hal yang kamu inginkan. Begitu kan?”
“Ya_barangkali.”Rizal menjawab ragu-ragu. Dia kurang mengerti maksud Jono.
“Menurutku, setiap orang pasti pernah menyendiri kan? Mungkin karena pusing dengan pasangannya, atau pekerjaannya. Atau bosan dengan hidupnya, atau ingin mendapatkan keajaiban_seperti menjadi pahlawan dengan kekuatan super. Begitu kan, Rizal?” kata Jono dengan sikap yang amat tenang. Ia sempat menangkap reaksi terkejut dari Rizal, namun ia tetap meneruskan kata-katanya. “Setiap anak-anak punya khayalan seperti itu, Rizal. Ya, setiap anak-anak kecil yang belum dewasa. Saya juga dulu begitu.”Jono menghisap cerutunya.
“Maksud Bapak, aku seperti anak-anak, yang belum dewasa_begitu? Terimakasih untuk penilaiannya. Tapi maaf, aku sedang nggak butuh penilaian orang tentang diri aku sendiri.” Rizal memberanikan diri untuk bicara dengan ketus pada lawan bicaranya yang kini malah tersenyum lebar. “Lagipula, Bapak ini siapa? Siapa juga yang cerita sama Bapak tentang pahlawan super itu? Tina? Apa Bapak ini bapaknya Tina? Apa hubungan Bapak dengan aku?” Rizal menatap Jono dengan penuh rasa curiga.
“Wah, bisa ngomong lebih dari satu kalimat juga tho?” kata Jono sambil tersenyum. Rizal kembali menganggap itu sebagai suatu pernyataan yang menghinanya. Tapi Jono tidak peduli. “Kamu itu sebenarnya bisa normal seperti laki-laki yang lain, tapi dengan sikap kamu yang seperti itu, bisa-bisa orang menganggap kamu….”Jono membuat putaran kecil di sekitar dahinya.
“Gila?”R izal benar-benar kehilangan kendali. Dinilai sebagai orang sinting oleh orang yang baru dikenal tentu saja tidak mengenakkan hati siapapun_bahkan bagi orang yang benar-benar gila sekalipun. “Aku? Gila? Kenapa Bapak berani-beraninya menilai aku seperti itu? Apa hak Bapak? Kenal saja kita nggak! Tina kan yang bercerita sama Bapak tentang pahlawan super itu? Memangnya kenapa kalau aku punya kekuatan yang terpendam? Apa Bapak ini semacam psikiater atau dokter jiwa, ha?”
“Tenang-tenang. Nggak perlu emosi. Saya kasih tahu ya, bukan siapa tadi namanya_Tina, yang memberi tahu saya. Tapi, kamu sendiri yang bercerita, Rizal Prasojo.”
“Aku? Kapan kita pernah ketemu sebelumnya? Nggak pernah. Bapak bohong. Ada apa ini sebenarnya? Tina ingin menjadi dewa penolong? Aku kira dia akan menyimpan rahasiaku sebagai teman yang bisa dipercaya. Dia mendengarkan aku seperti orang yang benar-benar paham, tapi sekarang dia mengirim dokter jiwa?”
“Saya nggak bilang kamu gila, Anak muda. Tapi, lama-lama kamu bisa menjadi sinting beneran kalau nggak bisa diam untuk mendengar penjelasan saya,” kata Jono masih dengan penuh ketenangan.
Rizal menatap Jono dengan putus asa. Dia memang sudah tidak mampu lagi mengendalikan emosinya. Namun ketika melihat ketenangan yang diperlihatkan oleh Jono, Rizal pun berusaha menahan diri. Ia mencoba untuk meminta penjelasan dengan seterkendali mungkin.
“Ya, ya, okay, aku tenang sekarang. Apa yang mau Bapak jelaskan sama aku?”
“Bahwa kamu sendiri yang bercerita tentang kekuatan terpendam itu sama saya. Nah, saya kasih tahu ya, saya bisa tahu segala sesuatu tentang kamu, dari kamu sendiri. Kamu bercerita sama saya tanpa kamu sadari. Memang nggak nampak jelas di mata saya, atau di telinga saya. Tapi pikiran kamu yang bercerita, dan saya menangkap pikiran kamu. Saya membaca pikiran kamu, walau misalnya kamu berusaha menutupi.”
Rizal menggeleng tak percaya. “Nggak mungkin. Sama sekali nggak masuk akal.”
“Tapi sudah terjadi, anak muda. Kita nggak kenal satu sama lain, kita baru ketemu di sini. Tapi saya tahu segalanya tentang kamu, cuma dengan membaca pikiran kamu.”
“Bapak membohongi saya,” kata Rizal dengan tatapan marah. “Nggak mungkin ada orang yang bisa mengetahui segalanya dengan membaca pikiran orang. Aku nggak percaya hal-hal gaib seperti itu.”
Tapi kamu percaya bahwa kamu punya kekuatan super yang terpendam, dalam hati Jono merasa heran. Benar-benar naif.
“Nah, Rizal Prasojo. Sebaiknya kamu percaya tentang hal-hal gaib, seperti aku. Mungkin sedikit bukti bisa membantu?” kata Jono sambil meletakkan cerutunya di sisinya. “Sekarang pikirkan, apa hal yang paling memalukan yang pernah terjadi sama kamu selama ini?”
Rizal mendengus. Sedikit pun dia nggak mau memikirkan pertanyaan itu. Dia sudah terlalu tidak percaya pada laki-laki tua yang aneh itu. Barangkali, orang yang namanya Jono inilah yang sebenarnya gila? pikirnya.
“Saya sudah bilang saya sama sekali nggak gila, Rizal. Meskipun saya orang tua yang aneh, tapi saya benar-benar bisa membaca pikiran kamu.”
Rizal menatap Jono dengan mata terbelalak. Bagaimana dia bisa mengetahui apa yang dipikirkannya? Rizal bertanya dalam hati.
Jono kembali bertanya. “Nah sekarang coba jawab pertanyaan saya, apa kamu pernah menyukai perempuan?”
Rizal mengerutkan keningnya. Perempuan? Dulu waktu masih kecil dia pernah menyukai seorang anak perempuan tetangganya, tapi cuma cinta monyet anak-anak saja. Nggak benar-benar berharga. Sedangkan sekarang ini, dia belum pernah tertarik dengan seorang perempuan pun. Menurutnya, mereka sama sekali tidak baik dan tidak menarik. Perempuan cuma menyusahkan. Mereka rata-rata senang mengikat laki-laki dan selalu bergantung pada laki-laki. Nggak bisa mandiri. Pokoknya, dia tidak merasa membutuhkan satu makhluk perempuan pun saat ini.
“Jadi sekarang nggak ada perempuan yang menarik, ha? Tapi cinta monyet masa kanak-kanak juga nggak berharga sama sekali kan? Kamu seharusnya mencoba untuk mendekati perempuan yang baik sekarang ini. Kata siapa perempuan itu makhluk yang senang mengikat laki-laki dan selalu bergantung pada kita? Kadang-kadang laki-lakilah yang membuat mereka seperti itu. Ada juga kok perempuan yang menyenangkan dan mandiri. Percayalah, kamu membutuhkannya lebih dari yang kamu sadari.”
Kali ini Rizal benar-benar tidak bisa mengeluarkan sepatah pun kata. Dia hanya terpaku di tempatnya. Rasanya seperti melihat sebuah keajaiban yang terjadi di depan matanya sendiri. Laki-laki di hadapannya telah membuktikan kata-katanya, bahwa dia bisa membaca pikiran Rizal. Sungguh luar biasa.
“Nggak luar biasa sebetulnya,” kata Jono sambil menghisap cerutunya kembali. “Cuma salah satu dari fenomena alam. Saya senang sekarang kamu sudah percaya sama kata-kata saya. Sekarang, kamu sudah total percaya sama saya kan?”
Rizal kembali pada kebiasaannya, mengangguk-angguk dengan patuh. Bukan karena bingung harus bicara apa, tapi karena dia merasa sia-sia untuk mengeluarkan kata-kata sementara pikirannya sudah mewakili apa yang dia ingin katakan.
“Tapi lebih baik bicara. Bisa-bisa kamu jadi bisu kalau mulut kamu nggak pernah kamu gunakan,” Jono berkata dengan santai.
“Hebat sekali!” Rizal berseru. “Bapak sangat membuat aku kagum.”
“Nah, kalau boleh jujur, saya sebenarnya juga kagum sama kamu, Anak muda.”
“Aku? Kenapa?” Rizal merasa heran.
“Kamu juga punya sesuatu, kamu tahu?”
Rizal menatap Jono dengan pandangan bertanya-tanya. Apa maksudnya dia punya sesuatu?
Jono menarik sudut bibirnya ke atas, kemudian berkata dengan intonasi yang dalam.
“Kamu juga punya kekuatan yang orang lain nggak punya.”
Kalimat itu kembali membuat Rizal terpaku. Kali ini dia tidak mau membantah, ataupun menyetujui. Dia juga tidak ingin memburu Jono dengan berbagai pertanyaan untuk menjawab kebingungannya, meskipun sesungguhnya dia sangat penasaran dan tidak sabar mendengar penjelasan dari Jono. Hingga saat ini dia sudah mendapatkan kejutan yang luar biasa ketika menyadari bahwa dirinya bertemu dengan seseorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Kini, lebih baik dia menunggu kejutan lain yang akan menimpanya.
Jono menatap Rizal dengan tatapan yang tajam menusuk. Hingga Rizal bisa merasakan tatapan itu hingga tulang rusuknya. Kedua laki-laki itu kini tengah bertatap-tatapan, hingga akhirnya suara Jono memecah keheningan.
Dengan suara yang lembut Jono berkata, “Cuma kamu yang bisa melihat saya di dunia ini. Cuma kamu yang bisa berbicara dengan saya, dan menyentuh saya dalam ujud saya sebagai manusia. Tidak ada satu pun manusia dan binatang di dunia ini yang bisa seperti itu. Percayalah, kamu sangat mengherankan saya.”
Sungguh pengakuan yang luar biasa. Rizal merasakan mulutnya bergetar. Jantungnya mulai berdegup kencang. Dia memandang Jono dengan ragu-ragu. Suatu perasaan yang tidak menentu meninju dadanya dengan cepat. Dengan mengerahkan segala kesadaran yang tersisa, Rizal pun bertanya dengan tersendat-sendat, “A..apa…apa Bapak…”
“Bukan, saya bukan hantu atau setan,” Jono menjawab kekuatiran Rizal sambil tersenyum. Ia menatap Rizal sekilas kemudian berkata, “Jin? Nah, kamu mulai berpikir kalau kamu ini Aladin dan saya jin di dalam lampu yang cuma keluar sehabis digosok-gosok sampai hangat. Maaf kalau mengecewakan, tapi saya ini bukan jin Baghdad atau Timur Tengah manapun, Anak muda.”
Rizal menarik napas panjang. Degup jantungnya semakin bertambah kencang. Lantas, kenapa cuma dia yang bisa melihatnya? Sebenarnya, siapa laki-laki ini?
Jono mengarahkan wajahnya ke langit dan memandangnya sambil tersenyum. Kemudian ia melemparkan suatu teka-teki yang seharusnya semua manusia tahu jawabannya.
“Apa makhluk Tuhan yang terbuat dari cahaya yang mulia, tidak makan, tidak tidur, dan mengabdi kepada Tuhannya tanpa batas waktu hingga kapanpun_menembus batas akhir dari dunia?”
Kini Rizal menatap Jono dengan suatu sensasi perasaan yang luar biasa. Dia tidak lagi merasakan kehadiran Jono seperti manusia biasa. Dia tidak penah merasakan suatu ujud makhluk seperti ini sebelumnya. Dia merasakan udara sekelilingnya menjadi hangat sekaligus sejuk. Dia merasa jiwanya tenang sekaligus tidak menentu. Dia merasa tubuhnya hidup sekaligus mati. Rizal menikmati perasaan ini. Perasaan yang mungkin hanya akan ia rasakan saat ini saja.
Bertemu dengan salah satu malaikat dari beribu malaikat yang ada dalam ujud manusia….
Menatapnya, berbicara dengannya, memegangnya, seperti layaknya manusia biasa…
Salah satu ciptaan Tuhan yang paling mulia dan tidak pernah mengkhianatiNya…
Meskipun kelak aku tidak berubah menjadi seorang pahlawan super, tapi ternyata aku memang memiliki suatu kekuatan yang luar biasa. Yang cuma aku di dunia ini yang bisa…
Rizal menatap laki-laki di sampingnya yang kini mulai membiaskan sinar cahaya yang terang menyilaukan. Tubuh laki-laki itu perlahan-lahan merasuk menjadi kemilauan cahaya yang luar biasa indah.
Rizal tidak merasa canggung ataupun takut menyaksikan semua fenomena dunia yang luar biasa megah dan indah itu. Ia justru tersenyum, dan kini ia sungguh-sungguh tahu alasannya, dan ia sangat bahagia.
Tina melangkah dengan sangat cepat, seperti diburu setan. Mukanya penuh dengan kekuatiran. Ia sama sekali tidak tersenyum atau sekedar membalas ketika beberapa rekan kerjanya menyapanya. Ia sangat terpukul, bahkan tidak percaya dengan penglihatan dan pendengarannya sendiri. Namun kekuatirannya ternyata benar-benar menjadi nyata.
Ia memasuki ruang kantornya yang besar dan tertata rapi. Dinginnya AC menghapus butir demi butir keringat di kulitnya. Sambil duduk di kursinya yang empuk, ia meraih telepon di mejanya dan menekan nomor yang sebenarnya sudah sejak dulu ingin dihubunginya. Dulu ia masih merasa tidak yakin dan sangat sungkan untuk melakukannya. Tapi sekarang, dia sudah yakin. Dia harus melakukan suatu tugas penyelamatan.
Sebuah suara terdengar di ujung sana.
“Halo, tolong disambungkan dengan Dokter Sam,” Tina meminta pada seorang perempuan yang kedengarannya seperti seorang sekretaris yang terlatih. Ia menunggu sebentar dengan perasaan tidak karuan. Untungnya ia tidak perlu menunggu terlalu lama.
“Ah, Dokter Sam, ini Tina Arista….Ya, terimakasih, Dokter juga saya harap…..Ya, saya sebenarnya mau minta tolong….(Tina tertawa gugup)…Bukan saya, Dokter, tapi teman saya, teman kerja saya…..Jadi tadi siang sehabis makan siang saya mencari dia di taman, dan saya melihat tingkahnya, yang meyakinkan kecurigaan saya, kalau dia agak-agak terganggu…..Ya, bicara sendiri, tersenyum sendiri, tertawa, seolah-olah ada orang lain yang sedang menemani dia….Saya benar-benar melihat dan mendengarnya dengan jelas, Dok….Dari dulu saya memang sudah curiga, dan jujur aja, saya prihatin sama keadaannya….Dia seperti anak-anak……Sama sekali nggak terbuka, nggak punya teman….Yah, mungkin tertekan dengan kehidupannya…..Ya, sebagai teman saya cemas sekali dengan dia, apalagi mengingat dia sebagai pegawai Gubernur…..Betul, saya sepakat, dia memang harus mendapat pertolongan…..Apa dia masih bisa sembuh Dok?…..Sayang sekali, masa depannya bagus di sini…..Ya, terimakasih, sebagai teman, kita memang harus menolong orang lain yang butuh pertolongan kan….Dulu saya cuma nggak mau menyinggung dia dengan ikut campur terlalu dalam, Dok….Nah, begini saja, saya ada ide, bagaimana kalau Dokter menemui dia seolah-olah sebagai seorang kenalan baru dan memberi dia beberapa patah nasehat……Saya nggak tahu itu berhasil atau nggak, tapi, kita harus berusaha kan Dok….Ya bagus, terimakasih…..Jadi rencananya begini………………………….”
belum membaca, sambil menarik scroll ke bawah, waw, panjang sekali cerpennya untuk cerpen di sebuah blog/website. pertanyaan yang saya lontarkan ialah apa tidak sayang cerpen ini diterbitkan di sini. sedangkan Anda bisa mengirimkannya di media cetak atau menuliskannya dengan 10 cerpen lainnya, lantas kirim ke penerbit dan dijadikan buku. waw…menarik bukan?!
sayang semisal bakat Anda tersia di sini. tapi itulah hebatnya pilihan. kita bisa memilih yang bertentangan dengan orang lain tho? maaf, saya hanya memberikan pandangan lain saja lho. semisal Anda lebih tertarik menulis dan mengirimkan tulisan Anda di sini yah tak apa. toh, juga tak merugikan.
jujur, saya belum membaca keseluruhan karya Anda, so komentarnya belum bisa saya ungkap. terima kasih.
salam
pemerhati cerpen
^_^
ahaaaa…pemerhati cerpen, trim’s motivasinya, memang pengen menulis dalam sebuah buku, tp belum tau seberapa besar kemampuan dan kesempatan saya utk itu….tp,jd penasaran nie,apresiasi anda gimana dengan tulisan ini?hehehehek….
semangat
din
.
Salut, Mas.
.
salam
frozen_