Sedu Sedan Lautan di Malam Panjang
Maret 5th, 2008 by jurnalcahaya
Gemerisik sayup sedu sedan lautan di kutub utara, ketika tiba saatnya mentari terbenam di barat
Karena tak bisa rasakan sinarnya lagi
Karena tak bisa memeluk hangatnya lagi
Karena tak bisa mendengar tawa di cerah cerianya hari
Lautan di kutub utara menatap sendu langit kelabu di ujung timur
pertanda datangnya musim dingin yang lama
menggandeng kegelapan bersamanya
Lautan meneteskan air mata, memikirkan bahwa selama ribuan jam di masa depan, tak akan ada matahari disana
Perih ia melepas mentari pergi
Namun berpikir, mungkin ada tempat lain yang harus ia sinari
Biarkan mentari mencari kebahagiaan dan takdirnya sendiri
Lalu seiring malam panjang menjelang, Tuhan pun berbisik
Wahai lautan yang biru dan dalam,
Kalau mentari tidak pergi,
kau tak akan pernah melihat betapa banyak bintang yang tersebar hanya untukmu
pilihlah satu untuk menerangi langitmu
Kalau mentari tidak pergi,
kau tidak akan pernah mendengar tasbih burung hantu yang ingin menghibur hatimu
Kalau mentari tidak pergi,
kau tidak akan pernah dipeluk pekatnya malam yang sama hangatnya dengan mentarimu
Kalau mentari tidak pergi,
kau tidak akan pernah menyadari lembutnya cahaya purnama
kalau mentari tidak pergi,
kau tidak akan pernah merasakan nikmatnya tertidur lelap, menabung tenaga dan cinta untuk menelusuri luasnya dirimu
Lautan pun tersenyum, menyadari kebenaran firman penciptanya
ia pun menutup mata, beristirahat sejenak
sebelum empat bulan kemudian ia akan menyambut mentari baru
yang akan menghangatkan hatinya dengan kasih sayang
untuk waktu yang lebih lama