Letters to You (1)
Maret 4th, 2008 by kezya
First letter
Aku sedang melawan keinginan untuk meneleponmu, walau separuh atau mungkin ¾ dari jiwaku ingin mendengar alunan suara indahmu dan mengatakan,
“Sayang… apa yang sedang kau lakukan sekarang, aku merindukanmu”
Oo.. pasti menyenangkan sekali membuatmu mendengar kata–kata itu, pastinya membuatmu semakin mencintaiku.
Aku pun sedang melawan keinginan untuk menulis tentangmu tapi untuk yang ini aku menyerah karena hanya kamu inspirasi untuk kesukaanku ini. Cinta…
Aku sedang naik angkutan umum waktu itu, aku duduk berhadap–hadapan dengan sepasang suami istri yang nampaknya tidak muda lagi. Sang istri sedang mengandung dan sang suami dengan mesra terus menggenggam jemari istrinya. Aku membayangkan seandainya aku dan kamu berada di posisi itu, menyenangkan.
Sepertinya kalau sekarang kamu dengan tiba–tiba datang dan melamarku aku tak akan berpikir lagi untuk menerimamu menjadi suamiku. Dan seandainya pun tidak seperti itu aku tahu kamu akan menungguku bila aku menerima tawaran bekerja di Dubai. Tapi tidak, Sayang. Aku masih terlalu kecil untuk dapat bekerja dan ijazah SMA kita pun belum keluar dan aku berharap aku dengan atau tanpamu ingin pergi dari kota ini untuk menapaki luasnya bola bumi ini.
Aku ingin pergi Sayang, walaupun aku harus tanpamu aku pasti akan pergi dan pasti akan kembali ke kota ini kemudian untuk meraihmu lagi melalui kisah yang kutulis ini.
Aku mematikan ponselku dan menchargenya setelah panas telingaku bercakap terlalu lama. Aku baru saja diyakinkan bahwa Dubai tidak seburuk yang dibayangkan.
Haruskah aku pergi? Menuruti keinginanku?