Korsleting!
Maret 4th, 2008 by Arki Atsema
Aku bangun dari tidurku di pagi yang sunyi, dan tiada lain yang kurasakan selain rasa bingung. Sebuah kubangan kebingungan, di mana aku di dalamnya sedang berenang-renang. Pikiranku menelisik bahwa aku sedang duduk di atas kasurku yang berantakan; aku juga masih di dalam kamar apartemenku yang jorok ini; dan, oh, bukankah itu matahari yang bersinar menembus jendela kamarku. Ini pagi yang normal buat ukuran manusia, juga buatku. Semuanya masih berantakan; buku-buku dan kertas-kertas yang berceceran di mana-mana; televisi 25 inchi-ku yang sepertinya belum kumatikan sejak, entahlah, mungkin 2 minggu yang lalu; aroma ruangan ini yang langsung mengingatkanku untuk membeli sekarung pewangi ruangan plus semprotan nyamuk; dan semuanya itu tidak berubah. Lalu ada apa dengan rasa bingung ini? Apa yang telah terjadi? Mungkinkah aku sudah mati? Karena kulit telapak tanganku kelihatan putih pucat. Aku melamun sejenak menatap layar televisi, lalu bisikan itu datang menusuk telingaku, ”Ya, aku sudah mati. Selamat! Aku mati muda. Sekarang pergi dan rayakan dan bergegaslah mandi.”
Kudapati diri ini seperti baru pulang dari sebuah perjalanan panjang yang melelahkan dan leherku sepertinya tidak bisa digerakkan; kelopak mataku seolah tidak percaya bahwa matahari sudah terbit sejak beberapa jam sebelumnya. Pagi ini agaknya merupakan pagi yang gila, di mana aku terjaga dari tidur lelahku selama, entahlah, mungkin 2 minggu, dengan perasaan bahwa aku belum bangun sama sekali. Seperti bangun dari mimpi namun masih menjadi bagian di dalamnya. Satu-satunya alasan yang bisa kucerna adalah, ya, aku memang telah mati.
Tapi bagaimana caranya? Aku tidak memiliki penyakit apapun yang membahayakan jiwa semacam serangan jantung, tuberkulosis, flu burung, disfungsi otak, tumor darah, leukemia, kanker usus besar, kanker mulut besar, kanker payudara karena aku laki-laki, atau kanker penis kalau memang penyakit itu ada, karena penisku sepertinya baik-baik saja. Dan juga, hei! ngomong-ngomong ke mana perginya penisku? Aku tidak bisa merasakan penisku. Tanganku juga. Kaki kananku juga. Kaki kiriku juga. Badanku. Hidungku. Rambutku juga, dan jerawat yang sering kupencet-pencet raib entah ke mana. Bahkan aku tidak lagi merasakan kasarnya kain sweater lengan panjang busuk ini bersentuhan dengan kulitku. Mati rasa, aku mati rasa seperti kasur jelek yang sedang kududuki.
Kukira mungkin saja suatu malam seorang perampok yang miskin, yang di mana sebagian besar dari hidupnya adalah kehinaan, masuk menerobos jendela kamar apartemenku dan mencoba menguras habis harta benda di dalamnya selagi aku tertidur pulas. Namun karena ia tidak menemukan apapun selain beberapa pakaian kotor yang berhamburan di lantai dan perabotan yang tidak berharga bila dijual lagi, ia lalu kesal dan menumpahkannya dengan membenamkan wajahku dengan bantal. Dan disitulah akhir hidupku. Sepertinya tragis sekali, walaupun sebenarnya aku lebih suka apabila tertembak senapan oleh seorang wanita yang kutolak cintanya atau tabrakan beruntun di arena balap mobil internasional. Aku bisa mati tersenyum bila demikian yang terjadi daripada seperti orang bodoh seperti sekarang, dengan perasaan lemah dan kulit putih pucat menyeramkan ini.
Aku bangkit dari tempat tidurku. Jam dinding menunjukkan pukul 8 kurang 15 menit di pagi hari. Entah mengapa tiba-tiba saja kepalaku pusing sekali begitu aku berdiri di lantai. Sepertinya ada gasing yang berputar-putar di dalam kepalaku, atau seperti komedi putar yang pengencangya sudah longgar, atau hamster yang berlari-lari di dalam roda mainan di dalam kandangnya. Yang jelas pusing ini tidak datang sendirian, ia juga membawa rasa mual yang begitu hebat. Aku mencoba berjalan, namun begitu melangkahkan kaki rasa pusing langsung menggigit. Keseimbanganku juga agak terombang-ambing. Aku mencoba bertahan dan melihat ke sekeliling ruangan; meja makan berubah menjadi tempat lalat beranak-pinak; lemari pakaian terlihat begitu gelap dan mengerikan, kalau ada mahluk halus yang tinggal di dalamnya, aku tidak heran; piring dan gelas ditumbuhi jamur dan kawan-kawan; dan, bingo! Itu dia yang kucari-cari: Kamar mandi.
Ini berat sekali, untuk sekedar berjalan beberapa meter dan sampai tepat di depan pintu kamar mandi yang masih berwarna hijau, sedikit terkelupas, dan sedikit terbuka. Lebih baik aku dihajar habis-habisan sampai bonyok, daripada berurusan dengan kepalaku yang sekarang beratnya setara dengan ikan paus. Keringat perlahan jatuh berlinang di sekitar dahi dan sebagian lagi masuk ke mata kananku, rasanya ingin sekali muntah. Aku membungkuk, memasang kuda-kuda. Cairan muntahan perlahan naik, tertahan di sela-sela kerongkongan, seseorang hanya perlu menyentuh perutku untuk mengeluarkannya. Tidak perlu sampai ditekan atau dipukul, cukup taruh saja telapak tangan di atas pusarku, dan cairan ini akan kusemprotkan dengan deras. Pandanganku mulai terkena efek sampingnya, seolah-olah aku melihat pintu kamar mandi terbalik; ruangan inipun sepertinya terbalik dan aku berdiri di langit-langit. Tapi sepertinya putaran di kepalaku sudah berhenti, justru ruangan ini, pintu kamar mandi, kasur, meja makan, buku-buku, kursi, dan piring yang dari tadi berputar-putar searah jarum jam Big Ben dan aku mematung di dalamnya. Aku bingung memutuskannya apakah aku atau ruangan kamar ini yang sedang pusing.
Mulutku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku lari menerobos pintu kamar mandi dan berlutut. Dengan cepat aku membuka mulut dan menumpahkan semuanya ke lantai. Berliter-liter muntahan yang menjijikan terciprat kesana-kemari, beberapa menempel di celana jeans-ku, dan beberapa memantul ke dinding. Aku merasakan arusnya begitu kencang melewati sela-sela gigiku; gumpalan makanan, susu basi, telur serangga, remah-remah yang memadat, bahkan darah dan lendir semacam ingus seukuran bayi manusia, semuanya terjun bebas dari mulut. Mungkin sekitar 8 atau 10 menit aku berhasil mengeluarkannya sampai tetes terakhir. Sinting! Apa yang telah kumakan untuk ini semua? Aku meludah-ludah, meyakinkan semuanya sudah berakhir. Kamar mandiku kini berubah menjadi karnaval muntahan yang dimeriahkan dengan aneka warna dan aroma. Seekor kecoak-pun sepertinya tidak akan sudi berkunjung ke sini. Aku mengusapkan tangan kananku ke mulut, menyeka sisa-sisa muntahan yang ada. Napasku tersengal-sengal, tak beraturan, seperti habis lari marathon. Keringat masih berjatuhan, kali ini semakin banyak; wajahku terasa panas layaknya kompor gas, dan bahuku naik turun. Lega rasanya, pikirku, beban berat telah dijatuhkan dari punggung, sedikit ringan sekarang.
Baiklah, aku telah mati dan baru saja muntah dengan hebat, sekarang apa lagi? Apa yang harus kulakukan? Perlahan aku keluar kamar mandi dan duduk di lantai, rasa pusing masih tersisa, tidak sehebat yang tadi, tapi masih hidup di kepala. Ingin sekali aku masuk ke dalam kepalaku dan membantai virus-virus ini tanpa belas kasihan. Aku mengangguk-angguk, menggeleng-geleng, mencoba mengeluarkan parasit pusing ini, namun tak berhasil. Kalau begitu, berarti hari ini, di hari pertama aku mati ini, aku harus pergi ke apotek yang tak jauh dari sini untuk membeli sekardus obat pusing. Pokoknya aku harus segera pergi dari sini, lagipula busuknya aroma ruangan sudah tidak bisa diajak berbaikan dengan hidungku.
***
Aku keluar ruangan dengan susah payah. Pintu kamar tampaknya macet, sulit dibuka. Aku baru teringat setelah berkali-kali menggerakkan daun pintu dengan kasar, bahwa untuk membuka pintu brengsek ini, bagian bawahnya harus kutendang. Maka, kutendanglah pintu itu tanpa basa-basi, dan rusaklah ia sekarang. Tidak bisa ditutup atau dibuka lagi, semua bautnya lepas; jatuh bergemerincing dan pintunya jatuh berdebam, kamar apartemenku kini bisa dimasuki siapa saja tanpa harus mengetuk pintu atau menekan bel terlebih dulu. Aku melangkah keluar, menginjak pintu yang terbaring di lantai dengan sepasang sepatu kets-ku yang agak sempit dan positif kumal, yang belum kulepas selama, entahlah, mungkin 2 minggu; membuat kakiku sepertinya sudah pantas untuk disajikan sebagai menu sarapan rayap-rayap, karena saking busuknya. Bayangkan siapa yang mau dibayar 1 miliar untuk menghirup napas di dekat pergelangan kakiku selama 5 menit. Kalaupun ada, pasti nama tengahnya adalah tolol, nama depannya adalah goblok, dan nama belakangnya adalah sinting.
Lorong apartemen terlihat begitu bercahaya. Sinar matahari masuk melalui jendela yang terpampang di depan dan di belakang. Mataku menyipit, mencoba melihat sebisaku. Sepertinya kini aku merasakan apa yang dirasakan seekor kelelawar di pagi hari. Aku mulai bersimpati pada keluarga kelelawar dan mengutuk mereka, para bangsat yang menembaki kelelawar itu di malam hari untuk dijadikan sup. Aku berjalan dengan gontai, mencoba meraih pintu keluar di depan sana yang tampaknya jauh sekali. Sambil menyalakan rokok untuk mencoba mendapatkan sedikit ketenangan, dengan sabar aku melatih keseimbanganku berjalan seperti anak balita. Kuperhatikan serpihan abu rokok berjatuhan, menempel di sweater-ku yang kusut. Rasa pusing turut memperlambat irama langkahku.
Dari depan, terlihat muncul sesosok bayangan hitam yang perlahan menjelma menjadi seorang pria gendut, dengan janggut dan kumis yang menyatu, dan kepala plontos mengkilat disertai pipi gembul bergantungan seperti pantat babi. Ini dia si pemilik apartemen, sang tuan tanah, orang yang paling berkuasa di sini yang tidak pernah membersihkan atau memperbaiki apartemennya namun selalu menaikkan iuran bulanan seenak perutnya, sehingga apartemen ini menjadi bobrok, kumuh, kotor, menjijikan, dan joroknya minta ampun. Tak heran kalau tadi aku muntah seperti kesetanan.
Aku tetap tenang, mengacuhkan si perut kembung ini. Dia menatapku keheranan. Aku tersenyum ke arahnya, dalam hati aku penasaran ingin tahu reaksinya bila ia mendapati aku sudah menjadi hantu seperti ini, dan takkan bisa melunasi hutang-hutangku padanya selama berbulan-bulan ke belakang.
”Hei! Kamu ini ke mana saja, hah? Tidak keliatan berminggu-minggu, aku kira kamu mencoba kabur dari sini.”
”Ya, ya, ya, aku sendiri juga bingung.”
” Ya Tuhan, lihat mukamu! Baru kulihat tampang mayat hidup seperti ini. Kamu ini sedang sakit atau apa, hah? Berani-beraninya orang sakit datang ke apartemenku. Seharusnya kamu dikurung, dikarantina di rumah sakit. Kecuali kalau kau memang sengaja datang ke sini untuk membayar hutang-hutangmu.”
”Itulah yang ingin kusampaikan padamu. Aku sudah mati. Aku menyadarinya ketika bangun pagi ini, aku sudah menjadi hantu. Dan sepertinya semua hutangku itu akan kubawa untuk dibakar di neraka. ”
”Brengsek! Kamu pikir saya anak kecil? Kau tidak akan bisa lari. Sampai akhiratpun akan kukejar! Sekarang juga bayar hutang-hutangmu, dasar tak tahu adat!”
”Hei! Bahkan di saat aku sudah matipun, kau masih berani menghinaku, dasar sinting! Aku tidak peduli dengan ocehanmu yang sialan itu, yang jelas aku sudah mati dan kini aku ingin hidup tenang.”
”Otakmu ini sudah kosong ya! Masih muda tapi sudah gila. Pokoknya kamu harus membayar iuran selama 5 bulan, ditambah bunga untuk sifat kurang ajarmu selama ini. Titik!”
Si gendut ini sedang mengarang cerita rupanya. Bisa-bisanya dia bilang hutangku sekarang 5 bulan, seingatku hanya 3 bulan, atau 4, tapi tidak sampai 5 bulan seperti yang dibilang orang gila ini.
”Baiklah aku akan membayar semua hutangku.”
”Bagus, kalau begitu kapan?”
”Nanti saja, kalau rambutmu sudah tumbuh lebat. Kira-kira kapan ya, pak?”
Aku tertawa terkekeh dan berjalan melewatinya, lalu menutup kedua telingaku sambil berlalu, sementara dia terus mengoceh tak karuan berusaha memecahkan kedua gendang telingaku dan seluruh kaca yang ada di lorong ini. Sepertinya sikapku ini memang sudah kelewatan tapi biarlah, aku tidak peduli dengan si gendut yang terus berteriak-teriak, mencaci-maki di belakang badanku, yang kupikirkan adalah segera tiba di apotek dan menelan obat pusing sebanyak-banyaknya. Sesampainya di pintu keluar, kudengar si gendut teriak, ”Brengsek! Kau apakan pintu kamar apartemenku? Dasar maniak, sepertinya kamu memang dibenci keluargamu sendiri. Kamu pikir utang-utangmu cukup untuk mengganti pin…”
Aku bergegas keluar dan membanting pintu keluar, membiarkan si kuda nil itu kesal dengan dirinya sendiri. Sepertinya dia memang tidak pernah puas kalau berurusan denganku. Tunggu saja sampai dia melihat hadiah yang telah kusiapkan di dalam kamar mandi.
***
Rokok kuhisap dalam-dalam sambil berjalan dengan sangat hati-hati; menjaga sebisa mungkin agar tidak jatuh. Apotek berdiri kokoh di seberang jalan sementara mobil-mobil berlalu-lalang di depanku, menghempaskan angin langsung ke bagian wajah. Tak kusangka, udara di luar apartemen dinginnya bukan main. Aku menggigil setengah mati. Rokok sepertinya tidak dapat menyelamatkan nyawaku dari ancaman mati beku. Kedua telapak tangan kugosok-gosok sampai lecet lalu kutempelkan ke pipi kiri dan kananku. Tindakanku itu sedikit membantu mengurangi getaran di badan. Deretan gigiku bergemeretak cepat sekali dan lidahku rasanya mulai mengkerut dan bibirku berkeriput. Seolah-olah kota ini dibangun di atas balok es raksasa. Sinar matahari yang begitu terang tampaknya tidak melakukan tugasnya dengan baik.
Namun anehnya, bila kuperhatikan, orang-orang di sekitarku sepertinya tampak biasa-biasa saja dengan kondisi ini. Mereka bertingkah seperti orang normal yang biasa ditemui di trotoar jalan. Seolah-seolah hawa dingin ini bukanlah hal yang terlalu mengganggu. Bahkan seorang wanita melintas di depanku dengan mengenakan tank top dan celana mini warna pink yang di bagian belakangnya terpampang gambar wajah sedang tersenyum ke arahku. Agaknya cuaca dingin ini hanya menyerang diriku seorang; hanya aku saja yang sedang kedinginan di tengah kota, di antara puluhan orang lainnya. Inilah kematian, pikirku, tidak ada lagi darah hangat yang mengalir di tubuhku, yang tersisa hanya seonggok daging arwah yang tersusun oleh partikel-pertikel es. Kalau memang kematian sedingin ini, maka wajar saja apabila banyak dari mereka yang pergi ke neraka untuk membakar diri.
Tapi aku harus bertahan untuk lekas pergi ke apotek, beli semua obat pusing yang ada, jejalkan ke dalam mulut, lalu tidur seharian dan berharap esok semuanya akan berubah. Aku berjalan sambil menyandarkan bahu pada tembok-tembok bangunan yang berdiri di sisi kiriku; sepatuku bergesekan dengan trotoar dan menimbulkan suara yang berisik. Sekali-kali aku terbatuk, entahlah, mungkin karena aku terlalu bersemangat menghisap rokok di tangan. Orang-orang bergantian menatap diriku sambil mengerutkan dahi, bertanya-tanya dalam hati: ”Kenapa si gembel ini tidak bergabung dengan teman-temannya di lampu merah?” Atau berdoa: ”Kuharap bukan dia yang akan datang melamar anakku nanti malam”; atau mungkin ada pula di antara mereka yang menggumam: ”Akhirnya si dungu ini mati juga.” Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk menerima prasangka buruk yang datang dari cara orang-orang memandangku atau, mungkin ini hanya perasaanku saja. Yang jelas aku tidak terlalu peduli dengan mereka.
Hawa dingin dan pusing di kepalaku semakin tak tertahankan. Aku meraih kursi panjang yang tersedia di atas trotoar dan merebahkan badanku dengan lepas. Apotek berada di seberang jalan, dan tempatku duduk berhadapan dengannya. Sekilas tampak orang-orang sedang berkerumun di dalam apotek . Semua usia, dari balita, anak kecil sampai kakek-nenek, keluar-masuk tempat itu dengan wajah berantakan. Rupanya banyak orang yang sedang sekarat hari ini. Tapi bukankah setiap hari memang begitu? Masalahnya hanya mereka terlalu enggan untuk mengakuinya.
Kira-kira waktu sekarang menunjukkan pukul 8 menuju setengah 9 di pagi hari. Baru kusadari, aku telah menyedot habis lebih dari 3 batang rokok, sekitar 5 mungkin, dan sekarang kunyalakan batang yang terakhir. Cuaca pagi ini memang benar-benar sialan. Aku menyilangkan kedua tangan ke bahu kanan dan kiri, lalu merundukkan kepala di antara dua lutut, yang bisa kulihat hanyalah kedua sepatuku menempel di atas trotoar; mata mulai berair dan badanku terasa semakin ceking saja. Napas kuhirup dan kuhembuskan dalam tempo tak beraturan, sedikit embun keluar dari mulut. Tali sepatu kiri terurai, sepertinya belum kuikat selama, entahlah, mungkin 2 minggu.
Kedua tanganku dengan cekatan membetulkan tali sepatu; kuikatkan dengan simpul asal-asalan, dengan bentuk yang aneh, dan membuatku ragu apakah bisa membukanya lagi atau tidak, kalaupun bisa sepertinya harus dengan susah payah. Tapi hal tersebut tidak terlalu mengganggu pikiran, yang justru menggugah rasa penasaranku adalah bintik merah yang kulihat menyebar di area sekitar pergelangan tangan kanan yang tak sengaja terlihat saat mengikat tali sepatu. Aku menyingkap sweater lengan panjang-ku dan, ya Tuhan, nyamuk-nyamuk brengsek telah mengadakan pesta yang meriah rupanya. Mereka bersenang-senang menghisap darah di tangan kananku dan meninggalkan titik-titik bentol merah yang begitu menyebalkan. Kurang ajar sekali mereka, tanpa rasa bersalah menghisap darah orang mati, pantas saja aku tidak bisa merasakan apapun, mati rasa; kecuali terhadap hawa dingin ini yang terus membandel tak mau pergi. Kusingkapkan lengan yang satunya lagi, dan ternyata bintik-bintik itu juga berkumpul di lengan sebelah kiri.
Nyamuk kurang ajar.
Si gendut juga kurang ajar karena membiarkan nyamuk masuk ke kamarku.
Perampok yang membunuhku juga kurang ajar.
Hawa dingin ini juga benar-benar kurang ajar. Semua orang kurang ajar. Semuanya yang tadi memandangiku dengan jijik. Kalian semua kurang ajar. Seharusnya kalian yang digigit nyamuk, bukannya aku.
***
”Dia sudah terperangkap dalam lubang sekarang, sekitar 2 minggu ke depan mungkin dia sudah bisa bergabung dengan yang lain dan maaf saja, kau kalah. Ini pekerjaan yang terlalu mudah.”
”Baiklah, selamat kalau begitu. Sejak awal aku memang sudah pesimis dengan orang ini. Lagipula ini tugas pertamaku, masih banyak hal yang harus kupelajari.”
Aku menoleh ke sebelah kanan, lalu ke sebelah kiri dengan gerakan yang amat lambat, tapi tidak ada siapa-siapa di sebelahku. Hanya aku, sebatang kara, yang duduk sejak tadi di kursi panjang ini. Lalu suara tadi milik siapa? Siapa yang sedang bicara?
”Jangan diambil pusing, suatu saat nanti kau akan menjadi ahli provokasi nomor satu. Sebenarnya aku yang sangat beruntung mendapatkan orang ini untuk tugas pertama. Terlalu banyak celah, gampang sekali dimanipulasi. Asal sudah menguasai bab-bab awal Kitab Setan, maka semuanya tinggal menjentikkan jari.”
Suara siapa ini? Halo?
”Maksudmu aku kurang menguasai ilmuku? Asal kau tahu, posisiku ini menuntut peran yang sangat sulit untuk dijalani. Manusia memang dirancang seperti itu, untuk selalu tergoda menggunakan nafsunya, sedangkan akal sehat orang ini lebih sering mati ketimbang hidup. Kitab Malaikat itu lebih tebal daripada Kitab Setan, jadi wajar saja kalau mungkin ada ilmu yang kulupakan sedikit.”
Setan? Malaikat? Bicara apa kalian? Suara-suara ini sepertinya berasal dari bawah kakiku. Tapi hanya ada sepatu bututku di sana, masa sepatuku yang sedang bicara?
”Ya, ya, aku mengerti, oleh karenanya jangan terlalu khawatir. Bagaimana kalau kita bahas catatan kita masing-masing? Sekalian mengukur kemampuan kita.”
Ini aneh sekali. Panggil saja aku tidak waras, tapi sepertinya kedua sepatuku sedang bicara.
”Ide bagus. Kau saja duluan.”
Sinting! Aku yakin sekali. Ini benar-benar nyata. Sepatu kanan dan sepatu kiriku, mereka berdua sedang bercakap-cakap, mereka saling bersahutan satu sama lain, seperti yang terjadi antara aku dan si gendut di lorong tadi. Dan apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan? Bawa-bawa nama setan dan malaikat segala. Oh Tuhan, apa lagi yang sedang terjadi dengan diriku sekarang? Kedua sepatuku berbicara dan aku hanya bisa diam tak percaya.
”Baiklah, aku mulai dari sebulan yang lalu. Dari situ semuanya berawal.”
Aku pasang telingaku baik-baik. Ocehan seperti ini sebaiknya tidak untuk dilewatkan. Silahkan kalian bicara sesukanya, aku mulai penasaran.
Sepatu Kiri : ”Sebulan lalu, parade destruksi total itu dimulai dari kampusnya. Musim ujian tiba, 5 mata kuliah, dan aku menyuruhnya untuk tidak belajar. Triknya adalah beberapa acara di TV sulit untuk dilewatkan, seperti pemutaran film The Godfather, yang menurutku setiap orang akan berat mengacuhkannya. Lalu, pelan-pelan rasa malas dibangkitkan dengan bantuan ketebalan buku dan tabel-tabel penuh angka dalam pelajaran statistik, sehingga semangat belajar dengan sendirinya luntur, menon-aktifkan diri.”
Sepatu Kanan : ”Oh pantas saja semangat belajarnya sulit kuhidupkan. Padahal aku sudah mencoba pendekatan internal dengan menggunakan cita-cita dan mimpi sebagai sudut pandangnya. Aku mencoba menghidupkan kembali memorinya di mana ia pernah bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha sukses yang menjadi motif dirinya mengambil semua mata kuliah itu Bahkan menyalakan video rekaman pesan orang tuanya di kepalanya tentang meraih masa depan. Tapi gagal.
Sepatu Kiri : ”Caramu itu memang biasanya ampuh, namun sayangnya kau kalah cepat. Aku menggunakan trik jalur alternatif yang kupelajari dari bab tambahan Kitab Setan di mana aku membelokkan pemahamannya mengenai cita-cita dan masa depan, bahwa belajar, mengikuti ujian, atau menghadiri kelas bukanlah cara satu-satunya untuk menjadi seorang pengusaha. Bahwa terlalu banyak belajar hanya akan menjadikannya robot. Bahwa nilai A bukan faktor utama dalam bekerja.”
Sepatu Kanan : ”Hebat sekali! Betul-betul licik. Kau tahu apa yang kaulakukan padanya adalah 100% sesat. Pada faktanya, apa yang kausampaikan adalah benar. Tentang nilai A itu juga benar. Tapi kau memanfaatkannya dengan sempurna. Dengan pemahamannya yang kurang, kau membuat dia melahap jargon-jargon itu mentah-mentah, dengan kata lain dia telah kehilangan pegangan dan berdiri dengan satu kaki di tepi jurang, maksudku tinggal selangkah lagi, maka tamatlah ia. Dan sekuat apapun aku mencuci otaknya akan cuma-cuma, karena akal sehatnya tertutup rapat.”
Sepatu Kiri : ”Aku mengumpamakannya seperti mendirikan taman bunga di gerbang neraka. Dia akan dengan mudah menganggap apa yang kubisikkan itu benar, namun yang tidak ia ketahui adalah jalan yang ditempuhnya akan berujung di lembah kegagalan.”
Sepatu Kanan : ”Lalu hubungan sosialnya memburuk.”
Sepatu Kiri : ”Ketika nilai diumumkan, bukanlah hal rumit untuk mengeluarkan berliter-liter penyesalan dari gudang dan menuangkan ke pikirannya. Otomatis kepercayaan diri mulai tersapu dan bibit-bibit pesimis tumbuh setelah secara rutin diairi oleh perasaan rendah diri dan malu. Kekuatan dari rasa sesal memang menakjubkan mengingat banyaknya kecenderungan untuk hancur yang dihasilkan olehnya.”
Sepatu Kanan : ”Dan kemudian lahirlah amarah dan kebencian.”
Sepatu Kiri : ”Tepat sekali! Ia membenci kuliah setengah mati dan mendapat nilai jelek menjadikannya 2 kali lipat. Semuanya yang mengendap dalam kantung kesabarannya lalu meledak. Ia membenci semuanya, Tuhan, hidup, orang-orang, bahkan dirinya sendiri. Aku meniupkan serbuk buruk sangka ke hatinya, sehingga rasa benci semakin memuncak. Dan terima kasih pada si gendut karena keberadaannya adalah pelumas bagi emosi untuk mendidih.”
Sepatu Kanan : ”Ia merasa tidak berguna. Nasihat orang tua berubah menjadi tekanan psikis yang dahsyat. Dunia tidak lagi di pihaknya dan rutinitasnya membuahkan frustrasi. Dia mencetak ulang dirinya sebagai anti-sosial.”
Sepatu Kiri : ” Ya, ya, teruskan.”
Sepatu Kanan : ”Semua yang ia lihat kumpulan rongsokan. Teman-teman dan orang terdekatnya dipandang sebagai bagian dari skema kehancuran. Satu-satunya jalan yang ia inginkan adalah putusnya hubungan dengan realita.”
Sepatu Kiri : ”Lalu masuklah virus diasetilmorfin itu lewat injeksi intravena di kedua tangannya yang langsung diterima oleh reseptor µ di dalam otak dan cepat membaur di darah dan jaringan sehingga aktivitas pelepasan neutrotransmitter terhambat, lalu timbullah rasa kantuk dan efek psikadelik yang begitu kental membuatnya merasakan euforia kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia melayang diiringi dentingan piano menuju nirwana.”
Sepatu Kanan : ”Dengan kata lain kesadarannya lumpuh. Virus-virus itu memang dahsyat dan adiktif. Begitu dia sadar dari pengaruhnya, dalam hitungan detik ia langsung ditarik kembali dan terjerumus ke lubang yang sama. Makanya aku tidak diberi kesempatan untuk memperbaikinya. Kerja yang bagus!”
Sepatu Kiri : ”Terima kasih. Tapi kau jangan menyerah. Asal tahu saja, anak ini sebenarnya anak yang baik. Ia memiliki visi yang hebat mengenai sebuah revolusi untuk membentuk kehidupan dunia yang lebih baik. Ia memiliki modal untuk menjadi seorang visioner yang akan diikuti oleh banyak orang, namun sayangnya kemampuannya itu semakin hari semakin menumpul karena ia bingung menentukan arah yang akan dituju. Kepercayaan diri, adalah obat penawarnya.”
Sepatu Kanan : ”Ya itu benar sekali. Tenang saja, aku sudah menyiapkannya paket balas dendam yang jitu. Selanjutnya kau yang akan kalah.”
Sepatu Kiri : ”Itu baru namanya percaya diri, berdo’alah biar anak ini tertular. Kalau aku boleh memberi saran, mungkin kau bisa mulai dengan membujuknya untuk mengganti model rambutnya yang kuno itu dan mulailah untuk mengajarinya mandi, 2 hari sekali.”
Sepatu Kanan : ”Ide yang bagus, aku juga mulai muak dengan gaya rambutnya.”
Sepatu Kiri : ”Sebenarnya aku tidak boleh membocorkan ini, tapi kata kuncinya adalah dunia merupakan tempat yang paling membosankan, dan sayangnya manusia adalah mahluk yang paling mudah merasa bosan. Mereka secara naluriah merasa haus akan pengalaman baru, penemuan baru, atau bentuk pemuasan diri yang baru. Dan inilah yang menjadi pintu masuk kaum kami untuk menghancurkan mereka tahap demi tahap dari dalam. Sifat serakah manusia, adalah pintu gerbang yang sangat lebar bagi kami, karena sifat tersebut adalah anak haram dari rasa keingintahuan terhadap hidup. Ingat kisah Adam dan Hawa’kan? Karenanya hidup harus dijalani dengan kehati-hatian yang tinggi.”
Sepatu Kanan : ”Mmm…baiklah, tapi beri aku waktu untuk berpikir. Memang hidup manusia itu…astaga! Demi Tuhan ampunilah aku…”
Sepatu Kiri : ”Apa yang ter…”
Sepatu Kanan : ”Aku lupa mematikannya.”
ZZAPP!! Dan suara itu menghilang. Sepatuku berhenti berceloteh. Aku menggoyang-goyangkannya, namun suara itu tetap saja tidak muncul. Jari telunjuk masuk dan mengkorek-korek kedua kuping, namun suara itu tetap sunyi. Mereka hilang ditelan angin, berganti menjadi suara mesin-mesin mobil dan derap sepatu orang-orang berjalan. Aku menyandarkan badan ke kursi dan memejamkan mata, mencoba menelaah kembali kalimat-kalimat yang diucapkan kedua sepatuku. Mungkin saat ini aku memang sudah tidak waras.
Seorang diri dan tidak waras.
***
Aku mendehem keras. Sesuatu tersangkut di tenggorokan, namun sepertinya hanya perasaanku saja. Badanku terasa sedang melar, sesuatu menarikku dari berbagai sudut. Baru kusadari bahwa hawa dingin telah lenyap begitu saja. Aku membuka-tutup kedua telapak tangan dan kesepuluh jari yang ada di sana terasa begitu nyata. Rasa gatal mulai muncul di sekitar punggung. Kaki kananku terasa sedikit bengkak terutama di mata kaki. Darah-darah yang tadi membeku agaknya telah melumer, tersembur ke setiap penjuru di dalam tubuh seperti arus yang terlepas dari sumbatnya. Hangat … hangat … hangat …yang kurasakan sekarang. Organ tubuhku dan sel-sel yang menyusunnya kini kembali berfungsi seperti awal, membunuh mati rasa yang tadi begitu kentara. Inilah, menurutku, sensasi yang didapat Pinokio ketika berubah menjadi anak manusia. Sensasi yang dirasakan oleh bayi saat meluncur keluar dari raga yang menahannya selama 9 bulan.
Kabel-kabel di dalam otak seolah tersambung kembali dan aliran listrik memercik menyalakan proyektor memori. Aku ingat sekarang. Aku ingat semuanya yang terjadi. Perasaan mati ini dan segala hal mengenai muntah-muntah tadi. Kulit yang putih pucat dan pusing yang sedang kualami ini. Aku ingat sekarang.
Kekecewaanku terhadap kuliah yang mencapai klimaks, mengundangku untuk mendatangi si kembar di ujung gang gelap, yang saling berteriak satu sama lain, ”Dari jutaan wajah di dunia ini, mengapa kau memilih yang serupa denganku, brengsek!”, dan memberiku semua barang itu. Sedikit keras namun menenangkan, mereka bilang. Dan aku membuktikannya saat jarum itu menembus pembuluh vena-ku; memompa cairan hangat yang lalu menyatu dengan merahnya darah; mengalir ke segala arah dan begitu menguasai; kulihat pemandangan di mataku; kudengar dendang di telingaku; dan kurasakan sepasang sayap di punggungku; dan dunia menjadi sangat ringan di pundakku. Kusuntikkan lagi, lagi, dan lagi. Kuambil jarum suntik di laci kamar dan kusuntikkan lagi. Sampai bintik merah muncul di tangan seperti ladang stroberi, tersamarkan menjadi bekas gigitan nyamuk. Aku membaur dengan atmosfer surga selama, entahlah, mungkin 2 minggu; terpisah dari ruang dan waktu.
Arus sungai berpendar dalam jutaan warna menyeretku jatuh ke dalam pusaran yang membawaku terbang mengangkasa ke langit di mana bunyi piano dan lonceng gereja bersahutan menyambutku datang dari dunia nyata. Saat itulah aku menjadi raja dan saat itulah aku berselimutkan ketenangan yang begitu hebat di tiap detiknya. Namun, saat itu pula tanpa sadar tiap bagian dari hidupku dikremasi.
Aku akui aku telah melakukan kesalahan bodoh. Selama ini aku tertidur tak sadarkan diri di alam mimpi rekayasa heroin laknat hanya karena masalah ringan. Sebenarnya aku tak peduli dengan nilai jelek yang aku peroleh, tapi bukan berarti lantas membinasakan diri seperti ini. Sama saja dengan aku mengaku kalah pada para dosen menyebalkan itu dan mata kuliah tengiknya. Bukankah aku punya mimpi dalam hidupku yang menunggu untuk diwujudkan? Aku menebak-nebak sepertinya suara-suara yang kudengar dari sepatuku tadi adalah suara malaikat dan setan yang tadinya kupikir selalu berada di kedua bahuku seperti yang terlihat di film kartun Donald Duck. Tapi entah mengapa mereka berdua malah berasyik-asyikan di kedua kakiku? Kuharap mereka mengenakan masker. Bagaimanapun juga aku harus berterimakasih pada mereka karena telah memulihkan ingatanku lewat ketidaksengajaan. Sepertinya kecelakaan kecil terjadi sehingga suara mereka bisa kudengar dengan jelas sekali. Jangan-jangan mereka berdua masih pemula. Sepertinya iya, dasar bodoh!
Aku bangkit dari tempatku duduk. Dengan energi yang baru, kuseberangi jalan sambil setengah berlari. Tujuanku masih sama: membeli obat pusing. Apotek tampak lengang dari sebelumnya, hanya satu-dua orang sekarat yang tampak. Aku menghampiri etalase dan berkata pada seorang pelayan di sana, ”Obat pusing, sebungkus!”. Tak lama ia menyerahkan sebungkus tablet warna-warni padaku. Tanpa basa-basi, aku langsung meraihnya, dan menyodorkan sejumlah uang tanpa menanyakan dulu berapa harganya dan tanpa melihat ke arah si pelayan, aku langsung berbalik menuju pintu keluar, bahkan aku lupa mengucapkan terima kasih.
Di tengah perjalananku menuju keluar apotek, langkahku terhenti, sesuatu mengganggu pikiranku. Sampai saat ini, aku masih mengira diriku sudah mati, hantu gentayangan. Walaupun motor dalam tubuhku sudah kembali bekerja dan tidak lagi menggigil, namun aku masih merasa seperti mayat. Aku butuh sesuatu yang dapat meyakinkanku.
Aku kembali berjalan ke arah etalase menuju pelayan tadi. Kali ini kuperhatikan fisiknya yang hitam dan rambut keriting, dan parasnya membuatku ingin tertawa. Ia menatapku dengan sigap dan berkata, ”Uangnya pas, tak ada kembalian.”
”Aku hanya ingin bertanya sesuatu.”
”Ya.”
”Menurutmu apa orang mati bisa merasakan pusing di kepalanya?”
”Sepanjang aku bekerja di sini, belum pernah ada hantu datang menanyakan obat pusing. Memang siapa yang mati?”
Aku tersenyum lepas seolah dahagaku telah hancur. Senyumku begitu lebar sehingga barisan depan gigi seriku terlihat. Aku mengarahkan jari telunjukku pada pelayan tadi berkali-kali, sambil tertawa kecil aku berkata, ”Dunia ini memang tidak waras.” Aku bergegas keluar menyambut jam 9 pagi yang cerah. Tawaku tak berhenti dan terus menemani perjalanan pulangku menuju apartemen busuk itu sekali lagi dalam hidupku.
***
Malaikat : ”Ya Tuhan, ya Tuhan, ini benar-benar celaka, kita benar-benar celaka!”
Setan : ”Sepertinya sudah terlambat. Anak itu mendengar seluruh pembicaraan kita. Artinya rahasia bocor. Dan…kita akan menerima hukuman terberat.”
Malaikat : ”Hukuman terberat? Apa itu?”
Setan : ”Menjadi manusia. Itu hukuman yang terberat.”
***