Ketulusan Cinta
Maret 3rd, 2008 by rhiyan_dhy
Tak akan pernah ada yang meragukan keajaiban cinta. Cinta mampu mengubah segalanya dengan tak terduga. Mengubah kelelahan menjadi semangat lagi. Seorang penakut menjadi seorang pemberani, pemalu menjadi penuh percaya diri, dan penyendiri menjadi super-supel dalam bergaul. Ia mengkonversi duka menjadi bahagia. Termasuk menginspirasikan berjuta-juta tulisan seperti ini. Tetapi… hanyalah ketulusan yang dapat mengubah cinta menjadi keajaiban cinta.” Sebenarnya aku malu menulis kata-kata ini. Aku ragu belum benar-benar tulus dalam mencintaimu. Terlalu gombal menyimpulkan ketulusan cintaku adalah keajaiban cinta. Tetapi akankah ketulusan cinta itu diragukan? Padahal kita tak meragukan keajaiban cinta. Aku hanya bisa berusaha untuk lebih tulus…Ketulusan ini diawali oleh awal yang tak pernah terlupa. Ketika itu usia kita masih SMA. Mirip kisah anak SMA mungkin, tetapi menurutku kisah kitalah yang paling indah dari semuanya. Awalnya pertemuan kita sederhana, malah aku melihatmu sangat jelas dengan pendengaranku. Saat itu hanya ada bayanganmu yang agak meninggi di balik tirai pembatas. Untungnya, aku punya alasan untuk melihat pertama kali dengan bantuan temanmu. Ternyata kamu memang tinggi, bukan sekedar bayangan yang meninggi. Aku agak malu jikalau harus mengukur tinggi kita – Jauh berbeda. Ibarat pangeran pendek dan sang putri tinggi.(Upps, harusnya kan pangeran katak dan sang putri!
Setelah itu, kita hanya ber-SMS dan kembali melihatmu jelas dalam pendengaran di HP milikku. Ada satu perasaan yang sulit terungkap saat SMS itu kukirimkan ke Hpmu. Namun masih ragu dan sangat malu untuk mengungkapkannya. Aku hanya bisa untuk menyingkatnya, ASK (Moga kamu tahu kepanjangannya?)
Tak pernah disangka, atau mungkin karena singkatan itu terlalu mudah, kamu pun mengetahuinya. Suatu pagi kamu menanyakan singkatan itu. Tersirat maksud bahwa kamu telah mengetahuinya. Perasaanku bercampur antara menyembunyikan perasaan ini dengan mengiyakan perasaan yang sesungguhnya…Aku Sayang Kamu. Agak membingungkan karena mengucapkan ini sungguh berbeda dari berbicara di depan teman-teman untuk presentasi. Ini lebih membuatku gugup, padahal waktu itu pun hanya lewat telepon. Anehnya, aku merasa kita bertemu berhadapan untuk saling mengungkapkan perasaan. Sekali lagi, kamu makin jelas saja dalam pendengaranku. Sembari terbata-bata aku menjawab,”hmm, ya seperti itu..(aku sayang kamu)”batinku terus melafalkan mantra ini: ASK, ASK, dan ASK…hingga tak terhitung lagi. Tak terasa karena gugup telah sampai bilangan berapa? Tapi, agar gugupku tidak bertambah-tambah menyerang seluruh tubuh, aku berusaha untuk menggantungnya tanpa komitmen untuk mengiyakan. Hanya saja, sebenarnya dalam hati, Aku sayang Kamu!!!
Namun tak kuat juga akhirnya. Dengan keberanian yang terus aku tambah-tambah, aku mengungkapkan perasaanku. ”maukah kamu mengiyakan jadi kekasihku?” begitu kira-kira tanyaku. Waktu itu memang agak lupa, soalnya aku kelihatan banget gugupnya. Yang terpenting, kamu jadi kekasihku, ini amat penting.
Kemudian kotak cinta kita mulai terisi helai demi helai hari, dengan penuh warna-warni. Aku ingin katakan bahwa ketika itu aku sangat berubah. Sebelum bertemu kamu, hidup terasa serius buatku. Tetapi kamu merubahnya, ternyata hidup itu lebih indah dari yang pernah aku duga. Aku pun agak berani dalam menyiasati aturan di asrama sekolah agar bisa bertemu dan meneleponmu. Selain itu, sungguh senyumanmu sangat indah dalam waktu-waktu yang biru. Ketika melihat lautan, biasanya yang kulihat hanya biru. Namun ketika melihatnya bersamamu, yang terasa adalah hati yang biru. Penuh kehangatan, kecerian, semangat, harapan, impian, dan hidup. Alangkah penuh warna-warni.
Warna-warni itu pun melekat di bibirku. Sejujurnya aku agak malu untuk mengakui. Aku berbohong pernah pacaran dengan orang lain karena yang terjadi sebenarnya adalah cinta sepihak – bertepuk sebelah hati (aku menyukai orang itu, tapi dia tidak menyukaiku. Atau… dia menyukaiku, tapi aku tidak menyukainya) Termasuk aku pernah berciuman, padahal tak pernah. Alasan berbohong, kata temanku bahwa seorang cewek itu suka cowok gentlemen dan agak nakal. Tapi… kenyataannya, kamulah yang menyentuh bibirku dengan bibir manismu pertama kali. Sungguh memerah wajahku, hatiku bersuara tak teratur melebihi suara taksi yang kita tumpangi. Rasanya sungguh pertama kali (memang yang pertama!). Tak akan pernah bisa aku lupa.
Tetapi itu bukan hanya yang pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Aku ingin warna-warni itu senantiasa melekat di bibir ini. Selalu ada dalam kehidupan kita. Tak pernah terpikir untuk berpisah. Selalu ingin bersama dalam kedalaman biru tak berkesudahan.
Hingga suatu malam tepat pukul 22.11WIT, kamu memutuskan aku melalui SMS. Sempat marah, kesal, dan… menangis. Tapi lelaki tak boleh menangis katanya, harus tetap tegar. Meskipun aku tak setegar yang kamu kira. Bahkan malaikat pun enggan tersenyum kepadaku. Seperti hujan yang dingin, membeku di dalam hatiku.
Apa salah dan kekuranganku? Aku sadar kalau aku kurang tinggi, kurang tampan, kurang baik. Mungkin juga aku kurang perhatian. Trus, kamu pun berkata aku terlalu jauh untukmu. Hanya saja aku tetap berkeras tak ada alasan untuk memutuskan hubungan kita. Sama sekali tak ada. Sambil menghapus lelehan di sudut mata, aku bertekad untuk menikahimu ketika kita bertemu kembali.
Setelah itu aku berusaha untuk berdiri lagi. Aku menatap menantang lautan dengan mereka-reka biru hati. Barangkali aku memang salah dan kekuranganku memang lebih banyak. Kalau kamu memilih begitu, aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun. Dengan hati yang masih sendu, Aku harus bisa melepaskanmu. Jangan-jangan aku tak pantas untukmu, aku butuh lebih banyak keberuntungan agar kita bisa bertemu lagi. Bagiku, warna-warni itu sangat berharga. Bahkan Terlalu berharga. Kamu adalah kebahagiaan, tak pernah pantas untuk tidak bahagia. Wajahmu terlalu cantik untuk menangis. Jadi, melepaskanmu mungkin lebih baik.
Seiring waktu, aku makin berusaha melupakanmu. Mungkin warna-warni itu tak pantas untukku. Aku berusaha untuk menyukai perempuan lain. Agak sakit di hati, namun untuk melepaskanmu – mungkin demi kebaikanmu – ini mesti dijalani. Aku memilih untuk dicintai.
Akan tetapi, semakin dicintai dirinya, aku semakin mencintai dirimu. Tak pernah hilang bayanganmu dari wajahnya. Melihatnya begitu indah dengan imajinasi wajahmu. Aku berkhianat. Seharusnya tak boleh dilakukan. Aku tidak boleh mempermainkan perasaan perempuan. Tak pantas buatku untuk memperlakukannya seperti itu, kan? Dan mungkin ia mengetahui perlakuanku, Ia pun memutuskanku. Ia memiliki pilihannya sendiri. Tetapi aku menolak diputuskan, rasanya sama seperti diputuskan olehmu. Agak egois, aku ingin mempertahankannya. Sangat bertentangan dengan hatiku yang menyadari keadaan sebenarnya. Di dalam kedalaman jiwa, Aku masih menyayangimu, Fat…mujhe tumse mohabbat kartaho (hmm, katanya sih bahasa pakistan)
Keadaan ini kian diperumit oleh masalah ketika aku harus memutuskan kuliah. Semula aku sangat ingin masuk kedokteran. Dengan berkedok ingin menuntut kedokteran di pulau Jawa. Aku sadar kalau itu sulit, sehingga aku bisa masuk ke fakultas kedokteran yang juga ingin kamu masuki. Aku sangat ingat kalau kamu aku prediksi berpeluang besar untuk masuk ke fakultas kedokteran itu. Tapi hasil tes buta warna sebagai syarat masuk kedokteran menyatakan berbeda terhadapku. Aku harus menerima keadaan bahwa aku tak lolos alias buta warna. Bahwa peluang untuk bertemu lagi denganmu adalah kecil. Dengan sangat berat, aku memilih kuliah di salah satu fakultas yang jauh berbeda haluannya denganmu. Studinya non-eksakta, Ilmu pemerintahan–fakultas ilmu sosial politik di UGM, yogyakarta. Konsekuensinya memang kita terpisah jauh. Rasanya amat sakit, tapi harus bisa dilalui. Kita berkorban untuk orang yang sangat kita cintai, adalah sangat alami. Mungkin dengan berkorban, aku lebih bisa melepaskan.
***
Selanjutnya pada masa kuliah, aku menghela nafas panjang. Seharusnya aku bisa memilih dari pilihan yang hanya satu. Aku memilih untuk mencintaimu dengan tulus. Mungkin terlalu gombal karena ada pula cewek yang mencoba hadir dalam hidupku. Tetapi aku hanya memperistri wanita yang aku cintai. Aku tak boleh mempermainkan perasaan perempuan. Tak ada alasan untuk mempermainkan mereka, meski aku patah hati. Biarkan seperti ini. Kadang kedewasaan itu menyakitkan, kadang menunggu itu tak pernah indah. Tapi… tanpa sadar aku menunggu.
Agak ragu sebenarnya untuk menunggu, karena itu bisa berarti aku kurang tulus dalam berkorban. Hanya saja, keraguan itu sirna ketika kamu kembali hadir dalam pendengaran dan SMS di Hpku. Sungguh aku sangat gembira dengan hadirnya dirimu. Rasanya aku melihat senyuman indahmu dalam ruang kamarku setiap hari. Penuh warna-warni lagi, hidupku tercerahi. Kepenatan dan kelelahan karena beban kuliah terasa berkurang entah kemana. Alangkah mudahnya kuliah-kuliah terlewati.
Hingga kemudian di suatu pagi, aku mendengar suara cowok yang marah dan mengaku sebagai pacarmu. Agak tersinggung karena bisa-bisanya dia mengaku sebagai cowokmu, tapi aku juga harus tahu diri, jangan-jangan memang dia kekasihmu. Sayangnya, kamu mengiyakan bahwa dia adalah pacarmu. Seketika itu langit runtuh menimpaku. Mendung menggelayut penuh penat. Hati tak lagi berhasrat. Jiwa tak kunjung bersemangat. Begitu lelah hati merasai kenyataan yang seperti ini. Cintaku bertepuk sebelah hati lagi. Tak bisa terperi lagi tangis dalam hati.
Namun aku harus tegar lagi, meski aku masih tak setegar yang kamu kira. Mungkin ini adalah jalan agar aku harus lebih tulus, berusaha untuk melepaskan dirimu. Pelajarannya, aku terlalu mudah dalam memutuskan sesuatu. Aku terlalu percaya diri dengan menyangka bahwa kita telah kembali. Ternyata kamu telah termiliki. Sambil mereka-reka semangat untuk bangkit lagi, aku menulis surat ini untukmu:
Teruntuk:Ytc. Fatmawati Di tempat Salam patah hati,
Saya sungguh bergembira atas semua yang telah kita lalui beberapa waktu yang lalu. Agaknya perasaan saya tak terkira ketika kita bisa bercanda, bercerita dan bertukar semangat yang kita punya. Hingga saya menyangka kita telah bersama lagi.
Sayangnya, pendapat ini tidaklah demikian untuk anda. Saya hanyalah rekan atau sekadar kolega dalam hubungan yang tak bisa kita namakan. Sungguh, dengan kerendahan hati saya, saya tak bermaksud untuk meninggikan hati saya, untuk bangga mengatakan bahwa anda adalah milik saya. Tetapi, sebenarnya ini justru berlainan dengan integritas saya, bahwa saya terlalu mudah menyimpulkan…bahwa saya menganggap hubungan kita telah kembali seperti dulu. Bahwa kita telah bersama lagi.
Akan tetapi, di suatu pagi yang lemah, ketika itu kerinduan saya begitu menjadi-jadi, seakan membuncah ke angkasa. Saya mendengar suara seseorang laki-laki yang mengaku sebagai kekasihmu. Layaknya petir menggelegar di dalam handphone saya. Akhirnya, saya terdiam antara bingung dan sedikit marah pada diri sendiri. Tidak menyesal, hanya mampu tersenyum lemah. Barangkali yang saya dengar adalah benar, dan mungkin juga salah. Semoga begitu…
Kendatipun demikian, jawaban anda sungguh berbeda dengan ekspektasi (harapan) saya. anda menyatakan, dia memang kekasih anda. Tiba-tiba dunia terasa gelap di mata saya. kemudian terjatuh, dan tubuh sulit digerakkan. Tetapi saya harus bisa berdiri, berusaha setegar mungkin menghadapi semua ini. Ternyata patah hati berkali-kali pun tetap saja sakit di hati.
Hanya saja, saya tak bermaksud untuk menyalahkan anda. Bagi saya, ini jelas kesalahan saya yang terlalu tinggi. Bangga dengan kehadiran saya yang merasa lebih baik dari kekasih anda. Jujur, saya menganggap bahwa saya masih lebih baik dari lelaki itu. Barangkali kita harus melakukan fit and proper test untuk menguji saya dengan dia. Saya sebenarnya hanya ingin menyatakan bahwa tak ada maksud untuk membebani keputusan anda. Saya hanya ingin anda tahu bahwa saya sangat menyayangi anda. Sungguh, saya bahagia bisa bertemu dengan anda. Saya sangat mencintai anda dengan kesungguhan hati saya.
Akhirnya, dengan menimbang banyak uraian saya di atas. Tepatlah jika saya menyimpulkan bahwa saya telah patah hati lagi. Terimakasih untuk semua yang pernah anda berikan. Setiap detik bersama anda adalah sangat bermakna tinggi bagi saya. tiada kata-kata yang pantas untuk ditulis sebagai akhir dari surat ini, mungkin cukup ucapan…semoga anda berbahagia, semoga kita bisa lebih tulus menghadapi semuanya. Karena ketulusan adalah integritas dalam prakteknya.
Demikian surat ini dibuat, tanpa tendensi untuk menjatuhkan lelaki itu, untuk melukai perasaan anda, sama sekali tak pernah. Semoga tulisan ini bisa berguna dan ditimbang-timbang lagi ketika kita bisa bersama. Entahlah, dalam hati saya, selalu ada keyakinan bahwa kita akan bersama lagi…
Hormat saya,A. sudiana sasmita
Yup, melalui surat ini aku akan berusaha lebih tulus. Aku jadi ingat suatu pernyataan. Cewek itu semakin dikejar, malah semakin berlari. Tapi jika tak dikejar? Malahan tidak didapati… Aku jadi bingung dengan hati makhluk yang satu ini. Jadinya aku hanya mengelus dada sambil berkata,” dengan ketulusan, pasti akan datang suatu keajaiban cinta…”
Keesokan harinya, aku mencoba untuk sibuk, lebih sibuk, dan semakin sibuk. Harapannya aku akan lebih mudah untuk melepaskan, lebih mudah untuk tulus… sembari masih berharap akan hadirnya suatu keajaiban cinta. Aku ikut beberapa kegiatan kampus. Aktif dalam keanggotaan panitia-panitia, dan berusaha sedikit tersenyum dengan makhluk yang bernama perempuan. Karena dalam beberapa kesibukan, banyak juga dihadiri oleh makhluk-makhluk ini.
Agaknya phobia perempuan, tapi aku harus bisa membiasakan diri. Mungkin lebih tepatnya aku phobia untuk jatuh hati. Semakin hati kita melangit ke langit-langit cinta, semakin sakit begitu terjatuh ke dalam lembah patah hati. Hanya saja, aku selalu ingin menyentuh langit-langit itu bersamamu. Bukan suatu kesalahan jika kita terjatuh. Bahkan bila harus mati sekalipun. Semoga Allah mendengarku, menyampaikan ketulusan ini kepadamu… sekali lagi, berharap keajaiban cinta bisa hadir menyapa. Sebenarnya tak perduli, meski berkali-kali jatuh aku akan tetap berharap keajaiban itu hadir.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, keajaiban itu semakin aku nantikan. Memang dalam tulus pun ada kesabaran, jadi harus lebih sabar. Tak lupa tiap hari aku bermunajat dalam kesunyian. Biarlah keajaiban itu hadir esok pagi. (Hampir tiap malam, munajatku serupa begitu).
Sampai akhirnya, aku kembali mendengar suaramu di dalam Hpku lagi. Aku sangat bersyukur bisa mendengar suaramu lagi. Alangkah senangnya bisa mendengar suara kamu lagi. Temaramnya hatiku dalam sendu, terasa terbit lagi dengan seketika. Tetapi kamu membicarakan masalah dengan pacarmu, lebih tepatnya mantan pacarmu dengan begitu berat. Begitu terasa sedihmu dalam hatiku. Kamu tak pantas untuk sedih! Wajahmu terlalu cantik untuk menangis. Kamu paling layak untuk bahagia. Tak boleh ada yang membuatmu menangis, untuk membuatmu sesedih itu.
Ini membuat perasaanku bercampur-campur antara kesal, menyesal dan agak gembira. Kesal karena masih ada orang yang membuatmu menangis. Membuatmu tidak bahagia. Apakah dia tidak tahu kalau wajahmu terlalu cantik untuk menangis sedih? Begitu kesalnya aku hingga mengumpatnya dengan makian tak terkira. Huh, dia pasti tak bahagia telah memutuskanmu. Benar-benar orang itu tak beruntung karena memutuskanmu. Tetapi perasaanku pun sangat menyesal… barangkali jika aku tak terlalu berharap, tidak terlalu bermunajat, kamu masih bisa bahagia dengan orang itu. Aku tak menyalahkan Allah yang menakdirkan semua ini, namun ini mungkin kesalahanku. Toh, aku juga belum tentu lebih baik dari orang itu. Belum tentu bisa membahagiakanmu. Walaupun aku tak mau kamu menangis dengan wajah cantikmu itu, kamu lebih layak untuk bahagia. Tapi yang jelas, aku terlalu berharap, secara tidak langsung telah membuat kamu putus dengannya. Padahal aku sangat merasakan, betapa bahagianya kamu dengannya. Aku hanya jadi orang lain yang hadir untuk mengacaukan hubungan kalian secara tidak langsung.
Tetapi siapa sih yang mau jadi orang ketiga? Dengan tingkahku merusak semua kebahagiaan kamu. Padahal kamu sangat layak untuk bahagia. Tak pantas berduka. Hanya saja sekarang, setidaknya aku membantumu untuk tidak terlalu sedih. Berusaha agar kamu menjadi kuat, karena kamu adalah cewek kuat, sama sekali tidak rapuh. Perasaanku pun menjadi agak bergembira karena bisa hadir dalam kesedihanmu. Sekuat tenaga berusaha menghapus air mata di sudut mata indahmu. Sungguh suatu keajaiban untuk dapat hadir lagi dalam cerita hari-harimu. Dengan menguatkan diriku sendiri juga, bahwa harapanku barangkali tak ada hubungannya dengan putusnya kamu. Untuk saat ini, yang terpenting kamu tidak sedih lagi…dan menjadi bahagia kembali.
Sungguh pun demikian, setiap hari mendengarmu mulai gembira dan tidak sedih lagi membuat hatiku terus saja menganggap diri sangat layak untukmu. Aku jadi terlalu pede dengan semua keadaanmu yang terasa lebih baik. Sampai ujungnya, kamu memperkenalkan seorang cowok yang menjadi pacarmu. Aku tak menyalahkanmu, karena memang aku juga belum tentu layak untukmu. Mungkin aku hanya terlalu pede untuk dapat membahagiakanmu, untuk jadi kebahagiaanmu, untuk dicintai dirimu. Aku perlu lebih banyak lagi keberuntungan, sangat memerlukan keajaiban cinta. Harus lebih tulus lagi dengan berkorban. Apapun yang terjadi, berkorban untuk kamu adalah alami. Aku harus tulus berkorban untuk kebahagiaanmu.
Oleh karenanya, kenyataan ini membuatku lebih tegar dari sebelumnya, mungkin. Dengan hati yang legowo, aku coba melepaskanmu lagi. Meski kembali hati ini masih ada yang terasa sakit. Tak ada alasan untukku terlalu berharap. Aku hanya harus lebih tulus. Tidak lebih, dan tidak boleh berkurang. Berusaha untuk melepaskan, adalah mungkin tetap pilihan.
***
Tiba-tiba di suatu subuh yang sunyi, tepat ketika itu adalah hari ultahku yang ke-19. Suara mama menarikku dari alam mimpi. Terasa begitu sulit aku terima, bahwa bapak telah pergi jauh, telah meninggal dunia subuh tadi. Tak pernah disangka, kado terbesarku adalah berita seperti ini. Padahal aku tak pernah merayakan ultah, tapi kenapa perayaannya mesti seperti ini. Sungguh kado yang takkan terlupa. Kita baru merasakan pentingnya seseorang, begitu kita kehilangan. Tetapi sungguh, bapak adalah orang terpenting dalam hidup. Dan bapak meninggalkan kehidupan ini dengan menyisakan keraguan pada diriku, apakah aku telah pantas untuk menggantikannya? Sebagai anak pertama, apakah aku layak menggantikan perannya?
Dalam sudut segitiga, aku menangis tak terhenti. Sepertinya tak sanggup berdiri. Sebelum berita ini, sahabatku dikabarkan tenggelam dalam KM Senopati. Tak ditemukan. Bahkan orang-orang terdekatku telah menjauh-meninggalkan aku. Aku tak sanggup menyeka air mata lagi, hingga tangan ini dengan penuh ragu-ragu memencet nomor Hp-mu. Entah atas alasan yang seperti apa, yang jelas aku sangat ingin meneloponmu. Berharap suatu keteduhan hadir jelas dalam pendengaranku. Mengharap tangis ini dihapuskan olehmu. Meskipun aku sepertinya tak tahu diri.
Syukur, suaramu menyapa dan tampak berusaha menenangkan, sungguh sejuk mengalir di pembuluh darahku. Menghantarkan kehangatan dan semangat ke ruang hati. Sejujurnya, aku benar-benar tak mau kehilanganmu. Bila perlu aku datang ke tempatmu untuk menyatakan bahwa aku sangat menginginkan dirimu. Aku tak mau kehilangan lagi. Dalam berapa hari kemudian, kamu mengiyakan untuk kembali padaku lagi. Meski tersimpan suatu tanya, mungkin ini bukan sayang, melainkan perasaan kasihan. Aku sepertinya masih tak layak untukmu.
Kemudian tanya ini terbukti, sebulan berikutnya kamu menyatakan perasaan sebenarnya. Kamu tak mampu menolakku karena peristiwa kehilangan yang aku alami. Ternyata kamu telah memiliki pacar. Aku tak menganjurkan dusta dalam merajut cinta, tapi sungguh aku tak sanggup berdiri. Aku sangat membutuhkanmu dalam banyak hal. Aku cenderung memaksamu sebagai sahabatku, meski dalam hati tak pernah seperti itu. Aku sangat menyayangimu…
Hingga kemudian, aku memang terlalu naif untukmu. Aku terlalu memaksakan kehendak. Mungkin juga aku terlalu jujur, aku tak bisa menganggap kita tak punya hubungan apa-apa, aku tak pernah merasa putus denganmu. Ini berujung pada kekesalanmu untuk memutuskan hubungan denganku. Tak menghubungi melalui sms dan telepon lagi. Lalu aku memutuskan urat nadiku dalam lemah, tak kuasa menerima keadaan ini. Aku benar-benar ditinggalkan. Tak ada yang dapat aku pertahankan, termasuk ketulusan. Iya, bahkan ketulusan pun aku tak dapat melakukannya karena aku malah memaksakan kehendak.
Aku tersadar esok paginya, jarum infus telah melekat di lenganku. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku sangat memalukan, mungkin tak seharusnya seperti ini. Aku pun sangat sadar akan kekeliruanku. Aku sadar belum bisa tulus pada dirimu. Aku tak berniat untuk berdiri lagi, yang ada adalah aku berusaha menjalani semuanya. Biarlah waktu mengalir mengalamatkan keajaiban padaku. Terpikir maksud untuk meminta maaf, tapi aku takut terbawa perasaan. Bagaimanapun juga, aku sangat memalukan. Apalagi ini percobaanku yang ketiga. Sungguh tak layak aku mengatakan kata tulus, mengharap ketulusan hadir, keajaiban cinta menyapa kehidupanku.
***
Beberapa bulan selanjutnya, aku akan datang ke jayapura. Tiba di rumah kediamanku yang tentram dan sangat indah, menurutku. Sebelumnya ada keraguan, jangan sampai aku lebih terluka karena mengingat memorie kita. Tapi aku pantang melanggar janji, aku pernah bilang padamu akan datang ke jayapura, jadi aku harus datang. Sekalian aku libur, meliburkan kepenatan, kesibukan dan mungkin meliburkan hati (jika memang bisa dilakukan). Yang jelas, dalam hatiku masih ada perasaan yang membuatku terus berpikiran untuk bagaimana agar aku lebih tulus, agar datang suatu keajaiban. Keajaiban itu akan mengantarkanmu padaku ketika aku sampai di jayapura. Tanpa aku harus mengabarimu, lagi pula Hpmu non-aktif lagi.
Setibanya di bandara Sentani - Papua, aku berangkat naik taksi dan bis ke rumahku yang cukup jauh. Sekitar 2,5 jam perjalanan kira-kira. Saat menginjakkan kaki di tanah ini, aku terasa digetarkan oleh suatu perasaan tak terkira. Antara bahagia, sedih, senang, dan gembira.
Sesampai di rumah, aku disambut dengan kehangatan keluarga yang sangat indah. Dalam batinku berharap, kehangatan ini mampu menggantikan perasaan yang masih saja bergetar pahit dalam dadaku. Lebarkanlah senyum, sambut betapa cerianya mereka dengan adanya diriku. Mama, kedua adikku, dan tetangga di sini. Semua begitu hangat, dan tersenyum indah padaku. Semoga mampu menggantikan senyum indahmu, meski ternyata tak pernah bisa.
Yang terpenting, aku tak boleh terlihat sedih. Aku harus bergembira, usahakan selalu ceria. Aku harus mengerti perasaan mama dan kedua adikku yang masih sedih kehilangan ayah. Mereka harus paham bahwa kita harus bisa menatap masa depan dengan semangat dan penuh harapan. Walaupun aku ditinggalkan lebih banyak dari mereka – oleh ayah, kamu dan temanku juga. Sebagai anak pertama, aku tak boleh sedih, supaya mereka pun tak tambah sedih.
Oleh karenanya aku pun harus sibuk, dari awal memang aku telah antisipasi. Jangan sampai aku terlihat sedih, yakni aku meminta beasiswa dari pemerintah daerah. Aku ingat, dulu bapak yang bekerja keras agar beasiswaku dapat terpenuhi, tapi sekarang aku harus usaha sendiri. Sekalian aku juga tahu bagaimana prosedur dan semua tentang birokrasi di daerah ini. Jujur, aku pun mulai menyukai minat studi yang ditawarkan dalam kuliahku. Secara jelas, aku mempelajari yang pernah bapakku praktekkan.
Dalam beberapa hari, lelah juga aku mengurus beasiswa ini. Ternyata begitu rumit dan peluangnya pun sangat kecil. Boleh jadi ini juga kesalahanku, aku tak terlalu meniatkan pencarian beasiswa ini. Pikirku akan cukup mudah, tapi nyatanya sangat sulit. Sungguh mengesalkan mengamati perilaku pejabat, untuk bertemu saja sulit. Apalagi jika diminta tanggung jawabnya pada masyarakat. Mungkin perlu juga keajaiban agar dapat bertemu. Kita harus tulus dalam mengantri berjam-jam Dengan berpikiran sulitnya untuk bertemu, aku kembali memikirkan untuk bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu, aku putuskan kemudian untuk menelusuri kenangan kita. Semoga dengan menelusuri jejak kenangan kita, kerinduanku akan berkurang. Seluruh urat nadiku dipenuhi aliran rindu tak terkira.
Hari sabtu pagi, aku pergi untuk menelusuri semuanya. Dengan memakai kendaraan umum aku pergi ke jayapura. Tempat yang akan aku tuju ialah: pasar terminal Youtefa, masjid As-sholihin,Saga Mall, warung pangsit di depan DDI, pasar Ampera, pantai dok 2 bawah di depan kantor Gubernur, (bekas) Terminal angkasa, toko buku Gramedia, dan sebuah warnet kenangan. Wah, sepertinya ini perjalanan yang cukup panjang.
Sekita jam 9 pagi, aku tiba di pasar terminal Youtefa. Berkeliling sekali untuk mencari penjaga toko yang dulu menganggap kita sebagai suami-istri, padahal kita masih kelas 2 SMA. (Aku emang keliatan tua kalee?) juga menemui tukang jual kaset CD “fullhouse” kenangan kita. Lalu aku naik angkot ke mesjid as-solihin untuk melihat tempat pertama kali kita bertemu. Ada bayanganmu yang tersenyum indah dan tinggi di sudut tempat itu. Rasanya ia tersenyum padaku.
Aku melanjutkan perjalananku setelah hampir 30 menit, sambil berharap keajaiban mendatangkanmu tepat di hadapan ini, aku berjalan ke arah lingkaran Abe menuju ke Saga Mall. Waktu itu tidak terlalu ramai, aku sangat terhanyut dalam kenangan kita. Sampai-sampai aku memanggilmu dari belakang, sayangnya itu bukan kamu. Aku salah orang, cewek itu bahkan tidak mirip denganmu. Betapa gilanya aku…
Setelah itu aku naik angkot lagi ke Entrop untuk turun di depan DDI. Tiba-tiba aku terbayang ciuman pertama kita sepanjang jalanan ini. Tanpa sadar terhanyut, samar-samar ada warung pangsit pinggir jalan. Aku mengagetkan supir agar berhenti. Itu warung pangsit kenangan kita, di sebelahnya ada SMP yang dulu aku kabur dari rombongan sehabis lomba olimpiade tingkat kota, hanya untuk bersamamu. Aku pun tersenyum sendiri. Padahal aku tak begitu suka pangsit, malah sekarang aku sedang memakannya. Kamu terasa hadir di depanku, memakannya bersama-sama.
Tidak lebih dari sejam, aku naik angkot lagi ke jayapura, menuju pasar ampera. Ketika sampai, aku berjalan menelusuri kegiatan pasar ini ke lorong-lorong yang pernah kita lalui. Aku melihat warung makan kenangan, warung bakso kenangan, tempat penjual bros hadiah kenangan, genangan air di tengah jalan kenangan, pokoknya semua menjadi kenangan. Hanya saja Kakiku agak kelelahan, terus aku naik angkot lagi ke dok 2 bawah, melihat laut kenangan bersamamu. Semakin aku berharap keajaiban akan menghadirkanmu nyata dalam relung mata.
Tak terasa lelehan hangat di sudut mata mulai keluar lagi, padahal aku seorang cowok. Aku rasa wajar jika menangis dan lirih aku memanggil namamu: FATMA! Semakin keras, keras, dan keras. Aku dilihat beberapa orang di situ. Aku memang kayak orang gila ya…?
Setelah lebih sadar, aku meninggalkan pantai menuju toko buku Gramedia. Sempat terlintas dalam perjalanan terminal angkasa telah dipindahkan. Berganti dengan jejeran seng-seng pembatas. Sekilas aku memandangmu berdiri di situ untuk menunggu aku. Mataku berkedip sekali, bayangan itu menjadi ilusi semata.
Sampai di toko buku, aku tak membeli apa-apa. Hanya berjalan gontai melirik kesana-kemari, masih berharap untuk menemukanmu dalam perjalananku. Tak pernah lepas bayanganmu dalam sudut mataku. Hingga lelah akhirnya, aku akan sedikit beristirahat di warnet kenangan kita itu. Cukup 10 menit, aku telah sampai di tempat itu. Tapi tempatnya telah berubah, bukan di tempat kita dulu. Ketika masuk, sekali lagi aku berharap ada kamu duduk di situ. Tapi tak jua aku temukan. Perlu keajaiban yang berlebih untuk menghadirkanmu. Kemudian ketimbang aku menganggur, lebih baik aku membuka FS (Friendster) milikmu. Dengan terperanjat dan rasanya komputer ini meninju-ninju hatiku dengan keras, aku melihat sepasang foto di FS milikmu. Kalian tampak sangat mesra, sungguh keajaiban yang aku temui ternyata berwujud seperti ini. Namun masing untung, aku hanya bertemu foto kalian, bukan wujud kalian ketika bermesraan di depan mataku. Tetapi tetap saja, hatiku tambah perih. Sebenarnya agak berlawanan dengan ketulusan yang ingin aku datangkan lagi, aku menulis perasaanku lewat tulisan ke kotak masuk FS kamu. Tak ada maksud, kecuali aku berharap kamu dapat mengetahui perasaanku…
Setelahnya aku pulang ke rumah, beberapa hari kemudian aku pulang ke jogja. Aku ingin memberikan bingkisan yang aku siapkan sebelumnya untukmu. Tapi terasa berat dan cukup sulit karena aku mesti ke bandara pagi-pagi sekali. Aku hembuskan nafas kuat-kuat, aku masih tetap harus punya ketulusan… semuanya biarlah jadi kenangan di sini. Ketulusan adalah milik masa lalu dan masa depan nanti.
Akhirnya aku pun sampai di jogja, sebelumnya aku sempat singgah di rumah nenek untuk silaturahmi dan bertegur sapa dengan kerabat. Tiada kepantasan buatku untuk meragukan keajaiban cinta. Pilihan untuk tetap tulus adalah tetap terbaik, semoga kebahagiaan menyertaimu, karena kamu paling pantas untuk bahagia. Biar aku di sini untuk berusaha berdiri lagi. Kesibukan kuliah akan membantu ketulusanku, aktif di organisasi akan membantu energi kerinduanku tersalurkan dengan lebih baik. Aku jadi tidak mudah marah,dan lebih semangat… mungkin.***
Sampai tiba-tiba di suatu pagi kamu hadir kembali dalam pendengaranku di sebuah awal sebelum puasa. Kamu menegurku dengan senyum dan air wajah yang jelas dalam pendengaranku. Sungguh senang hatiku bisa mendengar suaramu lagi. Kembali mendengar dan bertegur sapa dengan suka cita. Dengan semua pengalaman sebelumnya, aku mencoba untuk lebih hati-hati dalam mengartikan ini. Aku harus berusaha agar hubungan kita dapat berjalan dengan lebih baik.
Selain itu, jujur ada cewek yang sepertinya menyukaiku. Diam-diam aku kembali berpikir untuk dicintai. Sepertinya aku cukup lelah dengan semua ini. Aku mendengar hadirmu dalam Hpku, tapi aku khawatir kembali seperti dulu. Aku mungkin diuji untuk melepaskanmu lagi..lebih tepatnya tulus melepaskanmu.
Akan tetapi, 2 hari setelah puasa aku kembali mendengar kabar putusnya dirimu dengan seorang cowok yang kamu cintai. Aku pun merasa sangat sedih, hatiku begitu merasakan semua bebanmu. Entah kenapa aku sulit untuk melepaskanmu, ternyata memilih untuk dicintai bukanlah pilihan. Syukur, cewek itu mau memahaminya. Bagaimanapun juga aku tak boleh melukai perasaan perempuan. Aku kemudian menatapmu lekat dalam foto di desktop laptopku. Berharap kamu tersenyum indah padaku, sekaligus mengajakku untuk bersama lagi.
Esoknya, aku hanya bisa terus berusaha untuk memberikanmu semangat. Meskipun sebenarnya aku menyemangati diriku sendiri. Kamu bukan cewek rapuh. Sekali lagi, kamu sangat pantas untuk bahagia sebab kamu adalah kebahagiaan. Tak ada kebahagiaanku selain kamu…
Tak terasa telah berhari-hari kita mulai bersama lagi, suatu malam kamu menyebutku sebagai malaikat. Bahwa dalam hidup ini ada seseorang yang menolong, membetulkan dan membantu kita untuk melihat tujuan hidup kita, dan itu adalah tugas layaknya malaikat. Walaupun mungkin aku tak pantas disebut malaikat, bagiku kamu adalah kebahagiaan, karenanya aku menjadi pasangan hidupmu selamanya. Itu saja sudah cukup! Lalu aku menyatakan ini padamu, niatku hanyalah agar kamu tahu betapa aku tak berdusta.
Alhamdulillah, Awalnya jawabanmu agak menggantung dan agak marah. Tapi tanggal 3 oktober kamu mengiyakan semua harapanku. Ini adalah keajaiban cinta yang sangat indah buatku. Betapa ramadhan ini begitu ajaib. Mampu mengubah segalanya. Sejujurnya, ibadahku tak seberapa dibanding orang lain. Tapi semoga saja ketulusan kita memang layak mendapatkan keajaiban dalam ramadhan kali ini. Walaupun sempat dalam hati kecilku terpikir akan suatu peluang kembalinya cowok yang kamu cintai itu lagi. Ia datang dengan menyesal karena telah meninggalkanmu, memohon dengan sangat untuk kembali padamu. Tapi… aku yakin pada keajaiban cinta. Aku yakin pada dirimu. Semoga ketulusan kita menyentuh hati kita untuk menghadirkan keajaiban cinta. Terlebih lagi, kita berkomitmen untuk menjadi pasangan hidup selamanya melalui pernikahan. Semoga langkah kita dimudahkan dan dikabulkan. Melalui ketulusan, biarlah keajaiban cinta mengubah segalanya menjadi nyata dalam kotak cinta kita, Fatma Winnie d’Sasmita adalah nama kotaknya.
Senja ramadhan,1428H
Ini kisah nyata ya.