Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Puisi on Maret 31st, 2008 5 Comments »
Bahwasanya dunia itu berputar..iya
Bahwasanya cinta itu pasang surut..iya
Dan bahwasanya luka itu perih.. iya
seperti hatiku saat ini
kelabu.. berantakan
padahal sedetik kemarin ia masih tertawa
padahal sedetik kemarin ia masih tersenyum penuh harap
tapi kini..
Hanya untaian doa dan uraian air mata yang temani sepiku
Posted in Puisi on Maret 31st, 2008 No Comments »
Ku tak pernah mengerti pagi
Yang memaksaku tuk membuka mata
Menuntunku menatap realitas
Ku masih diberi nafas lanjutkan hidup
Ku tak pahami siang
Yang menghadirkan kebosanan
Apakah arti ku ada
Meski kadang syukur masih berkelebat
Malam menjelang,
Kututup hariku dengan doa yang kadang hampa
Mengapa ku tak lanjutkan saja perjalanan
Yang memang harus kulalui
Kutelusuri saja waktu yang tersisa
Permanent link to this post (60 words, estimated 14 secs reading time)
Posted in Puisi, Kelam on Maret 31st, 2008 No Comments »
Ku pernah lalui kelam malam yang gulita
Telusuri jalan terjal berlumpur
Menggoreskan luka di sekujur tubuh dan hati
Lebur dalam hujan
Koyak diterpa badai
Ku tetap berjalan meski terhuyung
Hanya kekuatan cintaNya yang menopangku
Kau..
Memang luka mengiris hatimu
Tapi tidak tubuhmu
Kau bagai anak harimau di pelukan induknya
Meski menangis karena dunia melukaimu
Selalu ada cakar dan taring yang akan melindungimu
(Lanjutan kisah Via, Aisya, Hilda, dan Cherry, dalam Hanya Seuntai Kata Untukmu, Sahabat!)
Hari itu sekolah tampak seperti biasa, angin semilir membelai rambut, ayam peliharaan Ibu kantin yang masih riang menyambut pagi, serta senandung kecil mang Udin di sela kegiatannya menanak nasi uduk yang tak terkalahkan dari restoran ternama mana pun masih mengudara di kantin SMP Fantasista. Dan Via masih setia menunggu bel masuk ditemani itu semua, bersama dengan satu gelas es teh manis sebagai penyemarak.
Posted in Cerita Kehidupan on Maret 31st, 2008 2 Comments »
Doa-doa mengalir di tengah padang pasir dari mulut orang yang fajir, dialah diriku. Pada kesendirian aku berterus terang tentang hati dan jiwa.Dendang amarah dan penderitaan hidup adalah halilintar yang memaksa air mata keluar. Hutan gelisah membakar hidup. Aku menentang hidup. Aku menggenggam hidup yang telah diterkam nasib. Lingkaran setan menerjang gelisah. Lidahku adalah gelisah. Tanganku adalah gelisah. Hatiku adalah api. Jiwaku adalah duri. Aku memaki pujian. Aku menerkam keindahan. Aku ingin membunuh cinta. Aku ingin membunuh halilintar.
Posted in Puisi on Maret 29th, 2008 1 Comment »
Kalau memang cerita indah itu hanya sebatas semu
menjaring asaku ‘tuk melayang jauh
tak ‘kan pernah terlintas di benakku
rasa sesal bersua denganmu
Degup yang terasa…
Rindu yang slalu koyak inginku ‘tuk dekat denganmu..
Serta rasa sayang yang selimuti hatiku akanmu..
Posted in Puisi, Intermezzo on Maret 29th, 2008 No Comments »
Tertegun kala ku tatap wajahmu..
Tatap matamu bagai bias sinar mentari senja di hamparan rumput yang menghijau..
Manis senyummu menggambarkan surga di taman Edden..
Indah tubuhmu bak gitar Spanyol yang melantunkan melodi indah dari dawainya..
Kau buat aku diam laksana batu yang membisu..
Sungguh aku terpesona dalam angan dan khayal..
Permanent link to this post (51 words, estimated 12 secs reading time)
Pada suatu hari terjadi hujan lebat sekali dimusim gugur. Semua daun yang rontok hanyut ke sebuah sungai yang sangat lebar. Demikiannya lebarnya sungai itu sehingga dari tepi yang satu, orang tidak bisa membedakan antara sapi dan kuda yang ada di tepi yang lain. Karena hujan demikian besar, maka air sungai itu meluap dan menimbulkan arus deras ke hilir. Lalu spirit sungai itu mulai tertawa bangga karena semua keindahan alam semesta pada akhirnya harus takluk dan bermuara kepadanya. Kemudian ia mengikuti aliran arus sungai itu melakukan perjalanan ke timur sehingga akhirnya sampailah ia ke samudra. Dia tertegun melihat ombak samudra yang tampaknya tak mempunyai batas. Hal itu menimbulkan perubahan dalam sikapnya.
Bergetar saat kutatap kau dari kejauhan,
dan kudengar hatiku yang bergumam…..
mengapa kau tak datang padaku?
Ku menanti penuh harap tatkala sinar senja mulai turun,
tapi mengapa tak kudengar kasihku memanggil namaku..
Tak tahukah engkau gemuruh di dadaku
Lekas datang padaku, peluk dan ciumlah aku..
Permanent link to this post (46 words, estimated 11 secs reading time)
Posted in Intermezzo, Renungan on Maret 29th, 2008 No Comments »
Bumi yang agung meniupkan hawa. Hawa ini disebut angin. Bila angin tak bertiup, tak terjadi apa-apa. Tapi bila angin bertiup, selaksa lubang dan lowong menderu liar. Tidakkah kau dengar jeritannya yang tak kunjung henti?
Di gunung tinggi dan bukit rendah ada hutan yang lebat. Di hutan ini ada pohon-pohon yang batangnya begitu besar hingga seratus orang bisa mengelilinginya. Pohon-pohon ini punya lubang seperti hidung, mulut, telinga, kendi, cangkir, lesung, kolam yang dalam, dan danau kecil yang dangkal.
Sewaktu angin bertiup, lubang-lubang ini meraung laksana ombak dan bersuit bagai anak panah lepas dari busurnya. Ada yang menjerit, ada yang seperti menarik nafas berat, ada yang menangis, ada yang meratap, ada yang tertawa, dan ada yang menghela nafas. Yang paling keras nyaring bersuara “iii” dan yang mengikuti lantang menggemakan “wuuu”.
Bila anginnya lembut bertiup sepoi, keselarasannya sungguh redup. Namun, saat angin ribut paduan suaranya memekakan telinga. Saat angin berhenti berhembus semua lubang menjadi kosong dan sunyi kembali menyengat. Pernahkah kau melihat suasana hutan yang berayun dan bergoncang seperti itu?
Permanent link to this post (168 words, estimated 40 secs reading time)