Three Little Birds
Februari 24th, 2008 by didi roten
Pernah seorang bijak berkata, “Uang bukanlah segalanya.” Sesaat aku hanya terdiam mendengarnya. Sungguh aku tak setuju dengan ucapannya. Bagaimana tidak..itu penyebab kegilasahanku pagi ini. Sungguh aku putus asa. Tanpa uang, aku harus bagaimana?
Sang bijak, kuludahi dengan kata tidak setujuku. Namun sepertinya itu tidak mengena, ia tetap tawarkan kata yang serupa, “Uang bukanlah segalanya”. Tak tinggal diam, kumulai mencari jawabannya. Bagian otak paling cerdasku, mulai kuajak diskusi. Kubertanya..benarkah itu? Otak cerdasku tak berikan respon dalam bentuk kata…dia hanya bangkitkan gambaran sebuah kisah yang dulu pernah terlintas di mata.
Disana, kulihat seorang pemuda kaya. Tampangnya boleh dikategorikan sama sekali tak menarik bagi para wanita. Namun herannya, gadis yang merangkul mesra pundaknya parasnya begitu indah. Lalu pemuda kaya itu berkata padaku, “Wajar… uang bisa membeli segalanya, bahkan cinta.”
“Kamu pembohong!” teriakku pada sang Bijaksana.
Orang bijak itu hanya tersenyum. Tak lama, ia tegaskan kembali ucapannya, “Uang bukanlah segalanya.”
Untuk yang kedua kalinya otak cerdasku kuajak kembali berdiskusi. Kubertanya..benarkah uang adalah segalanya? Dia kembali bangkitkan sebuah kisah yang pernah melintas di mata. Ternyata, gambaran yang serupa. Seorang pemuda kaya dengan bidadari tadi. Gambaran kali ini bukan tentang keromantisan mereka. Sang bidadari entah kemana, yang kulihat hanya si pemuda kaya tengah duduk diantara kerumunan temannya. Disana, ia terlihat sungguh berwibawa. Semua menghormati dan menyimak dengan baik segala kata yang terucap dari mulutnya.
“Apa kata Bos sajalah..hehe,” ucap salah seorang diantara mereka.
Sang pemuda kaya tersenyum puas dengan dada yang membusung bangga. Dalam hatinya berkata, “Uang bisa membeli segalanya..bahkan teman sekalipun.”
“Kamu penipu!” kembali kuberteriak pada sang bijak.
Orang bijak itu tetap tersenyum. Tak lama, ia tegaskan kembali ucapannya, “Uang bukanlah segalanya.”
Untuk yang kesekian kalinya otak cerdasku kembali kuajak berdiskusi. Aku mulai muak. Kuharap, kali ini bukan hanya sekedar gambaran sepintas, namun sebuah kalimat sakti yang mampu jawab segalanya. Lama aku tak dapati jawabannya. Sepertinya ia tertidur pada ruang paling dangkal. Tak sudi menunggu lama, kuingatkan kembali soal diskusi yang tertunda.
“Okeh..” jawab otak cerdasku, tanda setuju.
Hatiku girang mendengarnya. Aku yakin, kali ini bukan sekedar gambaran yang akan diberikannya. Dengan semangat kumenunggu kalimat yang akan terucap.
“Huh..” Aku kecewa. Ternyata tetap sama. Lagi-lagi soal si pemuda kaya. Kali ini si pemuda kaya, bukan tengah nongkrong bersama gang-nya. Disana, kulihat si pemuda kaya tengah asik membakar aspal jalanan dengan gilasan ban Mercy milik bokapnya. Lampu merah tak peduli, jalan raya bagai milik pribadi.
“Buarrr.”
Mercy itu terdiam setelah menghajar beton cadas pembatas jalan. Ramai orang yang terkejut dengan suara dentuman keras barusan. Mereka berdiri di sepanjang sisi trotoar. Beberapa suara sumbang terdengar memaki. Sumpah serapah bagai sebuah ungkapan keterkejutan. Si pemuda kaya terlihat mengerang kesakitan. Dengan wajah penuh luka, ia keluar dari Mercy penyoknya. Seorang supir taksi yang saat itu berstatus sebagai penonton, pasang tampang sinis sembari hembuskan asap rokok dari mulutnya.
“Siapa yang ngantar gue ke rumah sakit, gue kasi tiga ratus ribu,” ucap si pemuda kaya.
“Hahaha..” mereka tertawa.
Lalu si pemuda berdiri menghampiri si pengemudi taksi. Pintu taksi ia buka, lalu dengan santai senderkan tubuhnya yang penuh luka. Spontan si pemilik taksi segera menghampiri.
“Rumah sakit, Mas!” perintah si pemuda kaya.
“Jalur ke rumah sakit ga ada. Lo cari taksi lain aja!” teriak si pengemudi taksi.
Si pemuda kaya pun keluar. Pintu mobil ia banting dengan keras. Ia berdiri dekat Mercy penyoknya, menanti lewatnya taksi yang bisa ia bayar dengan uangnya. Namun, malam telah larut. Dan sepi pun menghampiri. Entah kenapa, tiba-tiba si pengemudi taksi yang tadi kembali menghampiri si Pemuda kaya. Barangkali..ia kasihan.
“Lo gak liat tuh!” dengan wajah melotot, ia arahkan jari teluntuknya.
“Ini jalur bebas taksi. Dengan kata lain, taksi ga boleh lewat sini,” ucap si pengemudi taksi.
“Lah..kok taksinya Mas bisa parkir disini?” tanya si pemuda kaya dengan wajah bingungnya.
“Ini jalan punya nenek moyang gue, suka-suka gue dong!” ucap si pengemudi taksi.
Si pemuda kaya terdiam. Dia pikir itu benar.
“Gue tinggal di gang sini. Gue parkir bentar cuman buat ngopi. Mau ga mau, plang jalur bebas taksi itu ga berlaku buat gue,” tambah si pengemudi taksi.
“Mas, pinjam Hp buat nelpon dong,” pinta si pemuda kaya.
“Gimana seh, masa orang kaya ga punya pulsa!” ledek si pengemudi taksi.
“Nih gue ada tiga ratus ribu.HP-nya gue bayarin dech,” ucap si pemuda kaya dengan nada sombong memaksa.
“300 ribu? Handphone gue harganya tiga juta, masa lo tawar tiga ratus ribu..lo tukar pake Mercy penyok lo juga gue ogah..gue ga sanggup bayar bengkelnya.”
Sang Pemuda kaya kembali terdiam. Kata-kata itu terdengar masuk di akal.
Sang bijak memandangiku, tanpa kata, juga suara. Aku tersenyum puas dengan gambaran kali ini. Aku tak bertanya pada otak cerdasku bagaimana selanjutnya nasib si pemuda kaya.
“Kalau kamu setuju uang bukanlah segalanya..kenapa wajahmu masih terlihat muram?”
“Tiga hari yang lalu Ibuku berkata.. kiriman uang belanja bulan ini sedikit tertunda.”
“Tersenyum sajalah..toh pagi ini terlihat indah.”
“Berucap..segampang meludah..tapi resah, membuatku semakin gelisah.”
“Lihatlah langit di atas sana, bukankah ia begitu mempesona?”
Bagai kehabisan kata-kata, kuterdiam menanggapinya. Dalam kebisuan, banyak hal yang kuributkan. Motor ga ada bensin, mau berangkat ke kampus gimana. Soal sarapan pagi, bisa ditolerir dengan cukup makan siang saja. Jatah rokok, cukup diminimalisir dengan beli rokok isi ulang alias batangan. Tapi..sampai kapan aku bisa bertahan.
“Ohh..” nafas berat berhembus pelan bersama keresahan.
Indahnya pagi terasa sedikit ternodai. Sisa rokok sebatang kuhisap dengan perlahan. Kopi sisa semalam, kunikmati dengan penuh penghayatan. Walau resah masih meninggi, namun kini hatiku berkata setuju dengan ucapan sang bijak.
“Memang uang bukan lah segalanya, tapi..untuk hidup kita butuh uang!”
Sang bijak terdiam. Kini, ia yang kehabisan kata-kata. Lama tak dihiraukan, ia pun menghilang bersama tetesan embun semalam.
Seorang diri, kuterdiam pada bangku teras depan kamarku sembari pandangi indahnya perubahan alam. Fajar di ufuk timur yang merah, kini semakin cerah. Pada ranting pohon yang rindang, kulihat tiga burung kecil menari dengan girang. Meloncat kesana kemari bak pesta menyambut pagi. Kicaunya terdengar begitu ceria. Kupandangi mereka yang tengah bernyanyi disana. Aku sedikit bertanya..kenapa burung-burung itu begitu ceria? Bukankah mereka belum tau, akankah makan hari ini?
Sungguh mengagumkan..walau belum tau akankah makan hari ini, namun mereka tetap bernyanyi dengan ceria. Ya..tiga burung kecil itu bernyanyi bagai tiada hentinya. Seperti tak ada resah dalam hidupnya. Walau hanya seekor burung, tapi ada keyakinan di dalamnya. Mereka tau, Tuhan Maha Pengasih. Pasti akan ada rejeki selama mereka masih berusaha mencari.
Keresahan itu perlahan hilang, ditelan kicauan merdu Tiga burung kecil dari ranting pohon rindang yang ada disana. Kenapa harus resah, bila pagi begitu indah? Aku rasa..hati yang lemah yang membuatku putus asa. Percuma kududuk bermuram diri diantara keindahan yang ada. Bukankah sang bijak pernah berkata, semua masalah ada jalan keluarnya? Aku hanya harus berusaha..lalu selesai sudah semua masalah.
Kuberlari masuk kedalam kamar, tinggalkan sisa kopi di atas meja bersama sebatang rokok yang telah lumat dimakan bara. Aku tergesa kar’na teringat akan sebuah pesan semalam. Sebuah pesan dari seorang teman. HP yang masih tertidur pulas di atas meja belajar, kubangunkan dengan genggaman. Dalam pesan itu, ada sebuah harapan.
“Za..sory baru balas. Tadi malam gw dah ketiduran. Teman lo mau nyari papan skate bekas? Dia punya budget berapa?”
Pesan itu pun kukirim. Penuh harap, kumenanti sebuah pesan balasan. Sembari menunggu jawaban, kukirim satu pesan pada seorang teman. Seingatku dia pernah berkata, pengen jual papan. Semoga sang papan belum laku terjual. Bila itu terjadi, habislah sudah.
“Lep..papan bekas lo udah laku belom? Ada yang nyari papan bekas nih.”
Tombol ‘send’ pun kupencet perlahan. Tak lama berselang..terlihat pada layar, ada sebuah pesan baru. Dengan harap-harap cemas, kubaca pesan barusan.
“It’s oke lah. Iya, Rei. Ada teman gw yang pengen belajar main skate. Dia butuh papan, ama truck, juga rodanya sekalian. Dia punya buget cuman 500 ribu. Ada ga lo, bro?” jawab Reza pada pesannya.
Pesan itu tak langsung kubalas. Kumenunggu balasan dari si pemilik papan yang bernama Kalep Christian. Tak sabar menunggu, hati pun terasa gemas pada dia yang entah sedang apa disana. Aku hanya berharap, semoga dia bukan sedang tertidur pulas.
“Aha..!” aku terkejut kegirangan.
Sang pemilik papan bekas, ternyata sudah membalas. Pesan itu lalu kubuka, sambil membuka mata lebar-lebar. Semoga setelah membaca pesan ini bibirku tersenyum lebar.
“Papan bekas gw belum laku, Rei. Lo mau tawar berapa?” ucap Kelep pada pesannya.
“75 ribu, kayaknya mantap bangat tuh Lep. Harga teman-teman lah. Oke ga tuh?” jawabku pada pesan balasan.
Untuk sementara, si pembeli papan yang bernama Reza didiamkan dulu. Urusan dengan Kalep, harus dipastikan benar-benar deal..setelah itu, bisnis baru dimulai.
“Grrrr..” bunyi getar Handphone pertanda ada pesan masuk.
“Oke dech, 75. Uangnya kapan lo kasi, Rei? Kalau bisa, jangan lama-lama..lagi BU juga nih,” ucap Kalep dalam pesannya.
Secepat kilat kukirimkan pesan balasan..sebab diseberang sana ada orang yang menanti sebuah jawaban. Kini hati sedikit tenang. Soal papan anggap sudah ada ditangan. Yang jadi masalah, soal Truck ama Weels alias roda beserta beringnya. Sebelum pagi usai, masalah ini harus sudah selesai. Tiba-tiba, otak cerdasku tawarkan sebuah nama. Ada baiknya kucoba tanyakan padanya. Pada Handphone, kumulai mencari yang bernama Krisna.
Jempol tanganku pun mulai bergerak lincah bagai menari di atas dance floor. Bolak balik kirim pesan, sungguh tak percuma. Semua yang kucari, akhirnya kudapatkan juga. Papan, Truck dan juga Weels alias roda beserta beringnya kuanggap sudah ada dalam genggaman. Papan bekas milik Kalep, kuhargai 75 ribu. Sedangkan Truck N Weels punya Krisna kutawar 200 ribu. Tanpa banyak komentar, mereka setuju. Langkah terakhir..hubungi pembeli, N let’s make money!.
“Za..sory balasnya lama, cewek gw barusan nelpon..cerita soal mimpi buruknya. Teman lo itu cuman punya duit 500 ribu yah, buat satu papan skate komplit? Mm..itung-itung bantuin skateboarding Indonesia biar semakin berkembang, 500 ribu oke lah. Gw kasi papannya, kapan N dimana? Pulsa terakhir nih, ga usah banyak cingcong.”
Pesan itu pun kukirim. Bila dia masih bertanya, aku sungguh tak tau harus bagaimana. Yang kubutuhkan hanya kepastian waktu dan tempat transaksinya. Dan kuberharap..itu dilakukan secepatnya.
“Kalau entar sore ketemuan di Base skatepark gimana, Rei? Bisa ga lo?”
Yah..ini anak goblok banget seh. Udah dibilang pulsa terkhir, masih banyak cincong. Mau balas pake apa. Kuputar otak cari solusi tercepat. Otak cerdasku, kusuruh bergerak cepat. Langkah sejengkal, teramat bodoh bila sampai kandas gara-gara tak ada pulsa. Pada bangku teras depan kamar, kuberpikir dengan keras. Dalam renungan yang panjang, kagetku tiba-tiba dikejutkan suara langkah dari kejauhan. Ternyata yang muncul adalah Mbak Lusi anak buah si Ibu kost. Terlihat pada tangan kanannya terselip sebuah sapu. Sedangkan di bagian kiri, ia menenteng ember plastik kosong. Apa salahnya mencoba..bisa jadi dialah sang penyelamatku.
“Mbak..bisa pinjam SMS gak?” tanyaku padanya.
“Oh..bisa. Nih, Rei..pake aja,” sahutnya tulus bersama sebuah senyuman.
“Wah..makasih banyak ya Mbak.”
Pagi indah dengan hati yang ceria. Saat ini, itulah yang kurasa. Tak kan kubiarkan semua ini terlewat percuma. Kutatap mentari dengan sinar yang tak kalah bahagia. Sejam yang lalu, gundah itu begitu terasa. Bahkan..hampir putus asa. Tapi, merdunya nyanyian tiga burung kecil pagi ini, seakan bisikkan sebuah pesan padaku. Bahwa tak perlu resah..kar’na semuanya akan baik-baik saja. Kicaunya seakan sadarkan aku tentang apa itu dunia. Untuk hidup, harus berusaha. Untuk hidup..butuh biaya. Namun tetap, uang bukanlah segalanya. Ada hal penting lain diatasnya. Satu kata yang bisa mengubah segalanya. Sebuah kalimat sakti yang membuat semua makhluk bisa bertahan dalam kejamnya dunia.
-Don’t ever give up, sobat! -
By: Didi roten.
lumyah menyentuh cirita di atas
kayanya kurang kata2 yang puitis dikit
Keren Bang
Punya Ciri Khas sendiri loe….
Salute….
Terusin Karya loe Bang..
Hidup Abang Didi…..
Yeahhh…..
GBU.
Keren2…
bner kata EPUL cma krang putiz za…
teruzz berkarya yach…
SeManGaT….
eh..
dah pada baca cerpenku yg lain blom..?
hehhehe..promosi.
cari aja lwat mesin pencari.
masih di kolomkita jg kok..
nih judulnya..
pada dia yg menunggu.
last word before i miss u
aku muak mencumbumu.
thankssss…….
good story…
uang bukan segalanya..
krennn. ggelooo ????
spaaa , yankk buattt !!!!!!!!!!!!!11
Wiii..
boleh”…
bkin lgy yg bnyk,,
biar gw jd rajin baca,,,
hhe
gud lah pokokna…
bacanya mpe srius niy di… he’
SEtuju bgd!!!
kalu rezeki mah udagh ada yang ngatur ko’
jangankan burung, cicak mahluk kecil yg kerjanya cuma nempel di dinding duang aja bisa tetep makan lho…
lah semut2 ma nyamuk pada nyamperin… dya tinggal melet duang, hap….lep…. kenyang degh