KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sulis dan Heru

Wanita setengah baya itu meremas-remas sendok garpunya, enggan menciduk nasi mengepul di depan. Di seberang, seorang suami sedang menyeruput kopi panas jatahnya pagi ini. Seruputan itu nyaring di tengah keheningan dapur rumah mereka. Dua tiga kali kopi mengalir masuk mulut si suami, acuh pada marah istrinya.

“Itu barangkali kopi terakhir kamu Mas,” ucap si istri dingin. Di seberang, si suami kerepotan mengipasi seragam kerjanya yang tertumpahi kopi. Tumpah karena terkejut mendengar nasibnya esok hari tanpa kopi pagi. Dengan berat langkah ia pergi untuk memulai kerja di tempat lain meski masih sempat melontarkan salam pendek.

“Di Jogja, anak kita nunggu duit buat makan Mas. Kalau kamu nggak dapatkan amplopnya lagi, bagaimana?!” belum habis marah si istri sepanjang menemani suaminya makan pagi. Ia banting sendok di tangan kiri ke lantai, maksudnya agar si suami tahu seberapa besar ia punya kekesalan.

***

Di halaman.

‘bluk!’

“Heh siapa itu?!” Warso berteriak dan lari keluar garasi menuju pagar depan. Dia menengok ke kanan, kiri dan ke tiap tempat mencurigakan di sekitar situ. Beberapa lama ia awasi. Setelah tak menemukan seorangpun, ia kembali ke mobil tuanya untuk segera berangkat ke kantor. Namun, ketika bergeser beberapa kaki dari pagar. Ia tersandung satu benda yang ia cari-cari sejak ia pulang dari jalan Surabaya kemarin. Setengah heran ia memelototi benda di bawah kakinya, memastikan bahwa itu nyata bukan cuma halusinasi.

“Diik…Sini cepat!” teriak Warso memanggil seseorang dari dalam rumah. Tak lama seorang perempuan setengah baya keluar terburu-buru. Bahkan tak dia kenakan alas kaki, ia terus mendekat cepat ke sisi suaminya. Karena melihat suaminya sedang mengangkat satu benda yang paling ingin ia lihat pagi ini. Ia tangkap benda itu, ia dekap dan ciumi, ia lepaskan pula lelehan air mata bahagia dan haru. “Dwi… akhirnya kamu bisa dikirimi nak…,” lantas ia susupkan badannya ke dada Warso.

“Sudah Fatimah. Hapus air mata kamu…” bisik Warso lembut, “tapi siapa yang melempar ke dalam tadi? Lihat dulu isinya Dik.”
Warso merobek amplop coklat tebal berisi uang itu. Ia dapatkan dari koperasi pegawai hasil usahanya mengajukan permohonan pinjaman lunak minggu lalu. Ia memapah Fatimah untuk duduk di bangku teras, bersama-sama menghitung jumlah uang. Dan terembus nafas lega di ujung kesibukan mereka menghitung. “Pass,” ucap Warso mantap dan diiyakan oleh anggukan Fatimah.

***

Di seberang rumah.

Edan koen Her, kalau aku sudah tak buat macem-macem, buat kawin.” Sulis membanting karung ke tanah basah bekas hujan semalam suntuk. Dipelototinya Heru, ia asik memutar-mutar nomor rumah dari kuningan. Merasa tak dihiraukan Sulis mendaratkan satu tendangan ke paha Heru. Heru mengacuhkan luapan amarah Sulis yang sekali lagi menendang pantatnya. Karena tak juga mendapat balasan, Sulispun menyerah untuk sama-sama menjadi wong edan. “Apa susahnya Her punya duit banyak. Yang susah itu nyarinya.”

“Apalagi kalau kehilangan duit banyak Lis.” Heru melempar dan menangkap nomor rumah di tangannya berulang-ulang. Sulis mendengus, bangkit menyeret karungya lagi menyusuri pinggir jalan mengais sampah plastik dan logam, apapun yang bisa diloakkan. Heru mengekor, ia mengambili kertas juga plastik tapi tidak logam. Sulis melarang Heru mengangkat logam, akan lebih berat jika karung sudah penuh dan menggelayut di punggung.

Mereka adalah dua anak umur belasan yang berdua merantau dari Jawa ke Jakarta. Alasan lama bosan pada nasib harus berkubang kemiskinan menjadi tiket mereka nggandol sepur, nekat mempertaruhkan diri menjelajahi semaraknya ingar bingar ibu kota. Ibu dari seluruh negeri dan telah melahirkan jutaan mimpi baik sehat atau prematur atau cacat. Heru dan Sulis adalah kelompok mimpi kelahiran prematur sekaligus cacat.

Tak bisa mengharapkan ayoman dua orangtua lagi. Berlindung pada famili juga bukan termasuk pilihan, mencari pekerjaan di sawah-sawah tak akan sebanding dari mengemis di Jakarta. Meski mengemis tidak menjadi alat pikat bagi dua anak kecil itu. “Harus ada keringat Ru, bukan terus ngemis.” Ungkap Sulis di salah satu gerbong KA menuju Semarang. Malam itu, berdua meringkuk berpeluk berkerubut koran bekas, sekuat tenaga tersisa untuk melawan dingin tiupan angin sawah.

Begitu sampai di Jakarta, lapar adalah parang sakti dalam membuka lahan hidup di hutan kesenjangan itu. Rel kereta menyedekahkan bahunya untuk menancapkan tulang kayu rumah orang lumpuh ekonomi. Tidak perduli garangnya pemda mengusik tidur dan barang kali sarapan mereka. Berganti-gantinya preman mengacungkan ketakutan bertarif ke hidung mereka. Orang-orang miskin itu berteguh kaki mempertahankan sisa-sisa nyawa mereka yang menempel di badan dengan terpaksa. Kini Heru dan Sulis adalah mahasiswa baru Kuliah Kerja Nyata itu, nyata sengsaranya, nyata kere-nya.

Tinggal di rumah kardus, walaupun tidak benar-benar kardus saja sih. Mereka berdiam di resort itu bersama seorang pengamen laki-laki asli Purwokerto. Namun sebulan lalu ia hijrah ke Jakarta Utara bergabung dengan kawanan pengamen lain. Di sini sudah terlalu padat pengamen, dimana-mana bertemu orang nggenjreng senar atau ngocok kempyeng (tutup botol yang dipipihkan). Diwarisi rumah dan selimut sungguh di luar harapan Heru atau Sulis.

Sehari-hari Heru dan Sulis mengumpulkan barang bekas dari jalan, tempat sampah atau tempat umum lain. Berangkat pagi buta, sepanjang siang mengelilingi seluruh bagian kota, baru kembali pulang selepas petang setelah menyetorkan hasil kaisan ke pengumpul. Lalu menjalani hidup sebagaimana seorang manusia, makan, bersantai, ngrokok, tidur atau cuma ketap-ketip tergolek angan-angan tak kesampaian.

Walaupun kelas empat SD adalah jenjang pendidikan terjauh yang mampu dilampaui. Bukan berarti cita-cita tak berhasil menyurupi kepala mereka. Sulis, ia ingin punya baju bagus, tas-tas cantik atau pacar ganteng. Heru, empat tahun lebih muda dari Sulis malah mengaplingkan seluruh otakknya untuk menghayalkan punya dan tinggal di sebuah rumah, lengkap dengan orang tua kaya, penuh kasih sayang. “Yo, bangunin saja Bapak sama Mbokmu sana Her. Suruh ngasih tau nomer yang mau keluar, pasangi, baru mimpi kamu terjadi,” kata Sulis suatu sore dalam perjalanan pulang dari nyampah.

“Mana Her? Sini gabungin juga.”

“Apa Lis, Ini?” Heru mengangkat nomor rumah di tangannya. “Jangan, aku ngambilnya susah tadi.”

“Alah wong kamu nyolong aja. Sini…” Sulis berusaha menyabet lengan Heru. Heru menghindar, melindungi nomor rumah itu. “Iya kan, kamu ngambil dari rumah itu…”

“Iya, tapi kan aku sudah mengembalikan uangnya Pak Warso.” Sambil mengingat nama tertera pada amplop yang ia lempar ke dalam pagar rumah Warso pagi tadi.

“Alah kayak kenal saja. Terserah kamu, dasar edan.” Sulis meminta uang hasil timbangan barang bekas miliknya dan Heru pada Hajah Siti. Duapuluh ribu.

Dalam perjalanan pulang, mereka asik bercanda. Setelah membeli nasi bungkus untuk makan malam, mereka berdua meniti remang trotoar. Tawa sesekali membuai telinga pejalan lain, tawa itu mengandung kebahagiaan yang jujur.

“Mau kamu apakan sih Her nomor itu?”

“Di pasang di rumah Lis, namanya juga nomor rumah. Sembilan, bagus kan?” Heru puas menatap telapak tangannya menimang angka sembilan. “Barangkali ini nomor rumah keberuntungan yang akan kupasang juga di sebelah pintu rumahku. Kamu juga tinggal sama aku ya Lis?”

“Rumah yang mana lagi to Her?” Sulis balik bertanya heran.

“Rumahku nanti, kalau sudah kaya. Gedong.”

Akhirnya mereka menginjak lorong-lorong sempit diantara rumah-rumah semi permanen. Teriakan tidak lagi leluasa dilepaskan. Letih berjalan sudah merenggut bibit senyum sekalipun. Tinggal terdengar suara langkah menggores tanah. Derum kendaraan dari jalan. Cekcok kecil suami istri yang selalu memiriskan hati. Belum lagi jika malam larut, banyak orang mabuk lalu lalang di gang-gang sempit. Tapi malam itu mereka mendapati riuh rendah di kejauhan, di mana mereka akan berhenti berjalan.

“Apa itu Her?” Sulis menunjuk kerumunan orang di sekitar rel KA. Orang-orang berseragam campur orang-orang dekil. Di tengah kerumunan ada ricuh berseling raung orang-orang lapar. Sulis segera berlari mendekat, Heru mengejar.

Kepala Sulis menyembul di antara siku lengan orang dewasa. Mereka berdesakan dengan satuan polisi pamong praja, merangsek masuk. Tujuan mereka cuma satu, berteguh sekali lagi untuk sebuah gubuk.

Saling dorong berlangsung lama. Beberapa ibu pingsan di tempat. Laki-laki lelahpun semakin kewalahan melawan barikade. Hanya umpatan, teriakan dan ratapan silih berganti mengisi kepenatan batin putus asa orang-orang itu. Di antara mereka, Heru kebingungan menyaksikan bisingnya salah satu perayaan di kota Jakarta itu. Perayaan penggusuran jatah tempat hidup yang tak akan jauh beda luasnya dari jatah tempat mati. Heru masih menggenggam nomor yang ingin ia pasang di rumah. Ia bertanya pada setiap orang yang ia temui, “Pak, Bu, rumahnya mau diapakan?” setelah ia mendengar jawaban dari setiap calon gelandangan, iapun mengerti.

Di sebelahnya Sulis berdiri dengan pandangan kosong. Ia sekarang mengenali sesungguhnya apa itu sebuah jiwa yang lelah. Ia membidik datar seraut wajah jauh di tengah buasnya gerombolan. Wajah segar laki-laki paruh baya, baru tadi pagi ia temui. Ia mengenakan seragam serupa jenisnya, mengoyak malam yang sempat terkurung gelapnya gubuk gubuk. Di deretan gubuk itu pula Sulis dan Heru pernah berlindung sejenak, tapi tidak untuk malam ini dan malam selanjutnya.

“Her. Simpan nomor rumah itu. Sekarang memang baru kita colong nomornya, kelak rumahnyapun jadi punya kita. Seperti dia telah rampas rumah kita.” Heru mengangguk lemah di sisi Sulis. Sulis mendekap Heru, meletakkan kepala Heru di bahunya. Matanya telah berkobar, seiring kobaran api membakar puing-puing rumah kardus seluruh orang di sekitarnya.

***

Tinggalkan Komentar