Waria yang Tampan
Februari 22nd, 2008 by kusnandar
Wah…. Kesiangan lagi. Hari paling bikin bosan memang hari Senin. Yang enak pasti selalu hari Sabtu dan Minggu. Kita tidak perlu melakukan kegiatan sesuai jadwal, bebas melakukan apa saja. Hari Senin sudah harus kuliah yang dosennya seperti Hitler. Kumis seadanya, rambut klimis, jadul banget. Tapi galaknya minta ampun. Mandi aja dulu kali ya.
Segarnya kalau sudah mandi, walau kepala masih pusing karena dua hari berturut – turut harus ngelayanin orang yang suka sekali minuman keras. Jadi tidak sempat makan, langsung ke kampus aja.
Kampus aku bisa di tempuh hanya berjalan kaki saja, aku ngekost sih. Di setiap perjalanan selalu saja terlihat hal yang sama setiap hari. Ibu–ibu yang sedang mengosip tentang tetangganya yang akan bercerai karena sang suami selingkuh, tentang anak gadis yang suka keluar malam – pulang pagi, atau tentang aku yang tampan tapi tidak jelas hidupnya.
Ditempat tinggalku, aku sangat digemari banyak orang, dari ibu–ibu, tante–tante dan gadis–gadis. Tapi mereka selalu bingung kenapa aku selalu sendiri. Aku tipe orang yang susah bergaul katanya. Padahal ditempat kerja, aku sangat terkenal.
Cuaca hari ini sangat tidak bisa diperkirakan. Sebentar–sebentar terang, lalu tiba – tiba gelap seperti mau hujan, tapi tidak hujan. Kata orang–orang yang berpendidikan si ini karena global warming. Tau tidak orang kampung tentang itu ya? Apalagi orang kaya yang tidak peduli dengan alam, lebih baik mencari uang untuk bersenang–senang.
Sepuluh menit sudah aku berjalan, akhirnya sampai juga. Terlihat orang–orang sibuk di kampus atau hanya ingin terlihat sibuk saja? Terserah merekalah. Aku langsung masuk kelas yang ternyata sudah di mulai.
Hidupku ini tidak ada liburnya. Setiap hari harus kuliah dan bekerja. Untung saja aku bekerja malam. Andaikan kedua orang tuaku masih ada mungkin aku tidak perlu bekerja dan hanya kuliah saja. Aku ditinggal pergi kedua orang tuaku sejak masih berumur 5 tahun. Setelah itu aku diasuh paman dan bibiku yang kejam. Oleh karena itulah sejak lulus SMA aku kabur dari rumah dan tinggal sendirian. Walaupun aku benci hari Senin, tapi hanya hari ini yang satu mata kuliah saja. Aku jadi ada kesempatan untuk pulang dan tidur sebentar sebelum bekerja.
Sudah sore. Aku pulang dengan berjalan kaki, sama seperti saat aku berangkat kuliah. Aku lihat masih saja ada ibu–ibu yang bergosip. Apakah sepanjang hidupnya ibu–ibu itu terlahir untuk bergosip? Dar pada melihat ibu–ibu bergosip lebih baik aku melihat anak–anak kecil yang sedang bermain sepak bola. Mereka terlihat sangat berbakat dari pada atlet–atlet nasional. Di Indonesia sepak bola itu bukan satu olahraga yang menggunakan kaki saja. Tapi ada tiga cabang olahraga di dalam sepak bola nasional. Pertama jelas hanya menggunakan kaki saja, yang kita kenal dengan sepak bola. Kedua ada olahraga karate, karena setiap pertandingan pasti ada yang berkelahi. Dan yang ketiga olahraga rugby, disini penonton bisa menjadi pemain dan masuk lapangan untuk menghancurkan segala macam benda dan manusia. Benar–benar tidak membuat bangga Indonesia. Lebih baik aku tidur.
Tidak terasa malam telah tiba. Para hewan penghisap darah sudah memasuki kamar dan menghisap darahku sedikit demi sedikit. Aku langsung mandi dengan cepat, takut tidak ada pelanggan nantinya. Pakaian sudah aku siapkan di lemari. Aku berdandan layaknya seorang selebritis. Pakaianku sangat mencolok dengan warna merah di bagian atas dan levis dibawah. Tubuhku harum seperti memakai minyak wangi yang mahal. Aku bercermin dan percaya bahwa akan banyak pelanggan memanggilku.Pelan–pelan aku mengamati keadaan tempat kost ku. Setelah terlihat sepi aku langsung melesat seperti pesawat. Semua orang cepat sekali tertidur.
Sampai di tempat kerjaan, orang–orang sudah banyak layaknya siang hari yang cerah. Aku selalu saja digoda. Betapa hebat diriku. Baru sepuluh menit aku berdiri sudah ada yang memanggilku. Terdengar suara–suara bising dari tempat aku bermain dengan pelanganku. Tiba – tiba pintu didobrak dan aku langsung dinaikan ke mobil. Ternyata bukan aku saja tapi ada puluhan orang yang dinaikan ke mobil. Kami dibawa kekantor polisi untuk di beri pencerahan. Padahal bukan kami saja yang perlu, polisi juga perlu untuk diberi pencerahan. Kami ditanya satu persatu. Ada yang bebas ada juga yang tinggal untuk sementara.
Saat giliranku dipanggil, aku ditanya segala macam dan diminta KTP. Gawat, aku tidak punya KTP. Segera polisi itu membentak dan ingin mengurungku. Tapi anehnya polisi itu selalu menatap diriku dengan mata yang menggoda. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. Aku diajak oleh polisi itu ke tempat yang tidak bertuan. Diperjalanan polisi itu selalu menasehatiku layaknya orang yang tidak berdosa. Setelah sampai , polisi itu melakukan sebuah negosiasi denganku.
“Kamu sangat cantik,” kata polisi itu. Aku hanya diam.
“Kamu ingin di sini atau bebas?” polisi itu bertanya.
“Ingin bebas Pak,” jawabku.
“Tapi ada syaratnya?” kata polisi itu.
“Apa itu Pak?” jawabku lagi.
“Kamu harus bermain dengan saya,” dengan mata polos polisi itu berkata.
Aku kaget. Apa pekerjaan polisi seperti ini. Bisanya memanfaatkan segala macam hal demi dirinya sendiri. Yang jelas aku tidak akan menolaknya, toh ini memang pekerjaanku. Memuaskan segala hasrat pria yang tidak tersalurkan termasuk polisi yang satu ini.
pengalaman pribadi apa ga seh? wuihh…polisi ga bermoral.
kykny emg pnglmn prbdi deh…(^_^) juskid
waria kok tampan?cantik donk!polisi yang aneh!Tapi menarik lho cerpennya.
waria sllu jd korban, aq rasa ini pengalaman pribadi (walaupun bkn penulis) tp ini yang marak d masyarakat seorang polisi yg shrsnya menjlnkan tugasnya mlh merusak.
aq suka cerpen ini penuh denan pesan n nilai moral. thanks bget buat yg nulis cerppen ini, smoga cerpen ni d mnti bnyak kalagan..
luph it……
waduh…apa bnr pak polisi itu yg minta main….atau malah km yg mau main krna liat seragam polisi yg gagah…anehkan….. biasanya waria alias banci itu yg sering suka mainan …apalg nyedot botol…. maaf yah cerpennya jelek buangat….nga masuk akal…