Maaf Aku Mencintaimu
Februari 22nd, 2008 by erwinarianto
Sebelum perkenalan dengannya, hidupku sangat lah berjalan dengan baik. Aku mempunyai keluarga, sahabat, karir, dan cinta. Karena suatu pertemuan yang tidak sengaja dari sebuah group milist dari internet. Hidup memang penuh kejutan, setidaknya bagiku. Semuanya berawal dari hobiku chat dalam dunia maya, layar monitorku berkedip bertanda ada obrolan masuk disana, dan Ninien memanggilku untuk melakukan chat, kami bercerita berbagi pengalaman dengannya. Ya Ninien adalah sebuah nama yang tidak sengaja mengubah semua kehidupanku.
“Namaku Ninien. Aku merantau ke Jakarta untuk menggapai mimpiku” begitulah Ninien mengawali percakapannya dengan ku, dia ternyata perantau dari Semarang, sebuah kota yang tenang untuk menggapai mimpi di Jakarta.
Setelah lama berbagi mimpi dan berbincang lama pada dunia maya, Ninien memberiku no Hp “ini nomer Hp ku 081575412345.., No Hp Kamu berapa” dia menanyakan nomor Hp Ku, “Tenang nanti aku telp kamu, aku tidak punya HP” Elakku, karena aku tidak gampang percaya memberi nomor HP ke sembarang orang.
Setelah Ninien, memberi nomor HP, aku pun menelponnya dengan menggunakan telepon kantor, dari obrolan kami, saya mendapatkan Ninien adalah seorang yang lembut dan penuh perhatian.
Dari pembicaraan telepon kami pun sepakat untuk dapat berjumpa / kopi darat di bilangan Otista. Ninien bekerja di suatu BUMN di Jakarta. Saat ini adalah bulan puasa, kami berjanji untuk buka puasa bersama.
Awal pertemuan ini aku hanya berniat tahu sosok Ninien, karena aku telah memiliki kekasih Wulan. Dan waktunya tiba kami berjumpa di tempat yang dijanjikan
Saat tiba di tempat janjian, sepulang kerja.
“Ninien ya” tanyaku kepadanya karena kala itu banyak orang dan ada tidak ada orang yang mirip dengan foto yang diberikannya.
“Iya.. kamu Ridwan ya?” fia bertanya balik kepadaku dan menegaskan bahwa itu adalah aku.
“Kamu jatuh ya dari sepeda motormu¡?” Ninien mengawali perbincangan kami berbuka puasa bersama.
“Iya nih. Tidak apa-apa, cuma lecet sedikit saja” kataku menjelaskan kepada Ninien.
“Makanya cari pendamping dong, biar ada yang merawatnya” Ninien penuh perhatian dengan senyum yang lembut begitu mengguyur hati ini. Dan setelah selesai aku mengantarkan Ninien ke tempat kosnya. Dan tanpa sadar kukecup kening Ninien. Dia pun memasang muka yang bingung.
“Mas ini maksudnya apa?” Ninien mengungkapkan kebingunganya itu. Akupun tidak berkata dan hanya tersenyum, setelah itu aku pun kembali pulang karena malam telah larut. Dan semenjak itu kami sering berjanji berjumpa kembali. Kami bagaikan dua orang kekakasih yang sempurna walau terdapat bom waktu yang akan meledak karena terdapat cinta segi empat dalam percintaan kami, dimana Ninien telah memiliki seorang kekasih di Semarang bernama Heru, dan aku telah memiliki kekasih pula yang telah aku lamar dan kami telah berjanji untuk menikah 3 bulan lagi, sebuah waktu yang singkat.
Waktu malam takbiran, aku main ke tempat kos Ninien.
“Mas, anterin aku belanja di Atrium Senen ya”
Dan akupun pergi ke Atrium Senin untuk berbelanja keperluan hari rayanya. Ternyata Ninien adalah wanita yang tangguh, dia dapat mengendari motorku yang bisa di bilang adalah motor laki-laki. Dalam perjalanannya dia berkata “Mas seandainya hubungan kita normal seperti banyak percintaan pada umumnya aku bahagia mas, tapi kita menjalani percintaan yang luar biasa, dan kamu telah memiliki Wulan disamping mu” dengan tangis air mata dia mengungkap kan itu. Dia telah tahu aku telah punya kekasih bernama wulan.
Kami juga suka melakukan hal-hal yang unik, karena itu begitu menyenangkan buat kami, seperti kami makan ice cream dari restoran A&W sambil berjalanan di Mall, Ninien berlari sambil memeluku di jembatan itu, dimana banyak orang yang melihat. Setiap pagi hari aku ke tempat kos Ninien, Ninien selalu membuatkan teh dan aku mengantarkanya berangkat ke halte dan di halte sebelum berangkat, aku sering mencium kening Ninien, sehingga banyak orang yang melihatya. Hahaha…. begitu indah saat itu!
Aku dan Wulan telah menetapkan pernikahan kami, kurang lebih waktu dari pernikahan itu tinggal 3 bulan lagi. Hati ku pun semakin kacau, di satu sisi aku semakin mencintai Ninien, dan disisi lain keluarga ku, telah melamarkan aku dengan Wulan.
Aku menikmati setiap hari yang berlalu, dengan keberadaan Ninien, semua hidupku penuh dengan warna baru, dimana aku mendapat suatu aroma baru dalam kehidupan ku, aroma ceria, penuh kejutan, seperti cinta anak remaja, berbeda dengan aroma cinta yang diberikan Wulan untukku, dimana Wulan selalu menuntutku untuk jadi dewasa, dimana itu bukan aku yang sebenarnya.
“Mas, besok kita nonton di Kalibata yuk” Ninien mengajakku untuk menonton film terbaru saat itu.
“Iya tapi kamu tunggu di bioskop ya, aku pulang antarkan wulan dulu”
Dengan wajah penuh senyum dan ikhlas dia menunggu di bioskop Kalibata untuk waktu yang cukup larut karena aku harus pulang mengantarkan Wulan terlebih dahulu.
Setiap hari sepulang kerja, aku ke kantor Ninien, hanya untuk waktu 30 menit. Tiba-tiba HP-ku berdering, pertanda Wulan telah menungguku di kantornya.
“Bang, ada dimana, kok lama banget” Wulan menanyakan keadaanku.
“Iya aku sedikit lagi sampai di kantor kamu, tunggu ya” aku menjelaskan kepada Wulan. Tapi setelah aku selesai telphone ninien berada di sampingku.
“Sudah waktunya kamu pulang ya mas, aku engga mau kamu pulang mas” kata ninien merajuk.
Dilemma di hati di antara dua cinta.
“Maaf sayang, aku pulang dulu, aku mau jadi tukang ojek dulu, nanti malam aku kesini lagi ya” jelasku kepada Nienien. Dan Ninein tertunduk layu , sambil berlinang air mata.
“Oh Tuhan, aku menjalani dua cinta, aku mencintai Ninien, tapi aku telah bertunangan dengan Wulan, apa yang bisa aku lakukan..? Tanggal pernikahan kami telah ditetapkan, gedung telah dipesan, tapi hatiku telah beralih kepada Ninien” Itulah pertanyaan dalam diriku setiap hari, dan akupun tersungkur bersujud kepada Allah mempertanyakan keadaan hati ini.
“Mas, liburan 4 hari aku mau pulang ke Semarang, kamu mau aku bawain apa?” Ninien berkata kepadaku.
“Apa saja, lumpia, atau bandeng lunak juga boleh” aku menjawab sekenanya.
“Mas, kalau aku di Semarang, tolong jangan telpon aku siang ya, telpon aku jam 9 keatas” dia memintaku.
“Kenapa Nin?” tanyaku kepadanya.
“Aku sedang bersama Heru, mungkin” katanya, “Heru orangnya cemburuan Mas” dia kembali menjelaskan kepadaku.
“Oke” sahutku lagi.
“Gila, dia disana dengan kekasihnya Heru, dan Aku disini dengan wulan, kisah cinta macam apa ini” tanyaku kepada diriku sendiri.
Mengapa aku suka Ninien adalah karena dia satu profesi denganku, dia seorang akuntan sama seperti aku. Sifatnya yang lembut dan penurut berbeda dengan Wulan yang selalu tegas dan sedikit angkuh. “Oh Tuhan apa yang akan terjadi nanti?” Sebuah pertanyaan yang tidak pernah terjawab, dan rasa cintaku kepada ninien semakin bertambah, aku semakin mencintai dia.
” Mas Ridwan .. ada rencana nikah kapan” tanya seorang kenalan dalam chatku dengan seorang sahabat. Mas Andik seorang kenalanku dalam chat di dunia maya.
“Mungkin bulan Juni Mas, tepatnya tanggal 5 Juni” balasku kepada mas Ridwan.
“Mas, kamu kapan nikah bulan Juni ya mas” tanya Ninien kepadaku.
“Kata siapa?” kataku mengelak.
“Aku baca log dari chat kamu mas” Ninien mendesakku.
Ninien senang bernyanyi, dia menyanyikan lagu Naff, “akhirnya ku menemukanmu saat hati ini. Ku berharap engkaulah jawaban segala risau hatiku dan biarkan diriku mencintaimu hingga akhir hidupku” Sebuah syair yang memilukan hatiku. Ninien sangat menyukai musik Jazz. Pernah suatu hari, ketika suatu hari aku menonton Jazz Goes To Campus di UI, ketika itu motorku sedang mogok dan kutitipkan di rumah Wulan. Dan aku sedang ke bengkel cuci steam motor untuk mencuci motor Wulan.
“Mas temenin aku menonton JGTC ya” pinta Ninien.
“Wah motorku sedang mogok Nien”
“Ayo dong mas, please??” pinta ninien kembali.
“Oke deh, tapi 30 menit lagi aku sampai UI, tapi sampai jam 12.00 ya, aku harus ke tempat Wulan”
“Ya Mas, sampai jam 13.30 ya” pinta Ninien.
“Oke deh”.
Dan aku sampai di UI, ternyata ninien bersama Fauzan, sahabatnya.
“Mas tolong anterin mas Fauzan ya?”
“Iya sayang”
Setelah mengantar Fauzan, kembali kujemput Ninien.
“Mas aku bawa motornya, aku mau coba motor matik dan mau tau UI Mas” dan kami pun berkeliling UI. Setelah itu aku menonton JGTC.
“Nin, aku pulang dulu ya, aku harus ambil motor di rumah Wulan, nanti malam aku kerumah kos kamu ya, kita nonton di Kalibata, ada film bagus”
“Gila kamu Mas, pagi sama Wulan, siang sama aku, sore sama Wulan, malam sama aku..” Ninien menyindirku, dan aku hanya tersenyum.
“Bang lama banget, abis dari mana..?” Wulan menanyakan perihal aku lama datang kembali ke rumahnya.
“Habis ke tempat Dodi” jawabku”
“Oh”.
Dan waktu telah menjelang maghrib
“Aku pulang dulu ya Cinta” kataku ke Wulan. Wulan hanya mengangguk, dan setelah itu aku pacu motorku ke bilangan Otista untuk menemui Ninien. Ninien sedang mendapat telp dari Heru.
“Mas, kamu diam dulu, Heru sedang bicara ya” kata Ninien kepadaku. Dan kami melaju ke Kalibata Mall untuk menonton bioskop. Di sana kami tidak menonton film dengan penuh, karena kami menikmati pertemuan kami, dan kami bermemadu kasih di dalam gedung bioskop. Film pun usai.
“Mas, ayo pulang, nanti aku dikunciin sama ibu kos” katanya. Ternyata benar, dia dikunciin oleh ibu kosnya, dan dia menelphone sahabatnya satu kos Irna untuk membukakan pintu. Sebelum pulang, sempatku kecup bibir Ninien, begitu lembut dan membuatku menitikan air mata karena menjalankan kisah ini.
“Nien, aku besok tugas ke Tarakan 1 minggu” ucapku di telepon. Kami setiap hari selalu berkomunikasi lewat telepon dengan menggunakan promosi sebuah selular CDMA.
“Kok bisa? Kebetulan aku harus tugas ke Makasar, untuk audit cabang sana”
“Ya sudah 1 minggu ini kita tidak bertemu dulu ya Nien” kataku kepadanya.
“Mas waktumu sudah dekat ya dan kita harus berpisah. Kita selesaikan setelah kita pulang Mas” katanya kepadaku.
“Ninien aku dah sampai di Juata airport”, kataku kepada Minien, “disini hanya sebuah pulau kecil Nien” kataku bercerita kepadanya.
“Aku baru aja landing di Sam Ratu Langi, Mas” Ninien bercerita kepadaku.
“Makasar adalah kota yang belum pernah aku datangi, aku hanya pernah singgah disana sebelum aku tiba melanjutkan ke Manado atau daerah Kalimantan Nien”
“Disini Bagus mas, suasana yang nyaman, aku nginap di pinggir pantai Losari, pemandangan yang indah”
Beberapa waktu Ninien tidak bisa aku hubungi, aku telpon tidak pernah diangkat. Seminggu telah terlewatkan, kami telah kembali ke Jakarta. Kami kembali bertemu. Dia menyapaku lewat senyumnya, senyum kerinduan yang akan memudar. Tak ada yang dapat memulai membuka kata antara kami. Seakan terkunci dengan rasa rindu yang kurasa belasan hari. Aku merasakan segala hangatnya menyatu dalam jiwaku seakan tak ingin mengakhiri ini dengan tangis. Dia sama sekali tak melihat perubahan raut wajahku. Dalam hembusan nafas, aku masih berdoa “Ya Allah jangan ada air mata disini.”
Sedikit terkejut ketika ia mulai membuka pembicaraan.
“Mas, aku kangen banget sama kamu” katanya lirih. Dia bilang dia merindukan aku, aku tau dia tak membohongiku. Tatapan matanya.. aku paham bahasa matanya. Aku tak punya nyali untuk terus menatapnya, aku hanya tersenyum. Dan beralih tak lagi memandangnya. Ada rindu dimatanya rindu untukku.
“Kita pergi ke rumah tanteku ya Nien, di daerah Pondok Gede”
Aku dan Ninien sepakat untuk bolos kerja, hanya untuk bertemu, dan kupacu sepeda motorku ke rumah tanteku di bilangan Lubang Buaya, Pondok Gede. Aku dititipi kunci untuk menjaga rumah kosong tersebut. Setelah berbincang seadanya, kami pun terbawa suasana, kami memadu kasih bagai suami istri, dan pikiran kami, tubuh kami bersatu tanpa batas yang menghalangi dan tanpa sehelai benangpun membungkus tubuh kami.
“Mas kita sudah melewati batas Mas”
“Iya Sayang, kalau terjadi sesuatu aku mau bertanggung jawab,” kataku.
Selepas dari rumah tanteku, aku mampir ke Tamini Square, kami menikmati makan disuatu restoran fast food.
Aku katakan, “Aku mencintaimu Nien, dengan segala hatiku dan akan kujaga sampai mati.”
“Tapi kamu 2 minggu lagi akan menikah Mas, dengan Wulan,” Ninien menjawab, “dan ketika ijab-kabul telah terucap maka aku tidak dapat mencintaimu lagi mas” Ninien kembali berlinang air mata menjelaskan kepadaku.
“Nien, biarkan takdir ini berjalan dahulu, biarkan aku menikah dengan Wulan dahulu, bila sudah waktunya, aku akan menikahi kamu Nien,” aku mencoba menjelaskan kepada Ninien.
Semakin dekat pernikahan, hatiku semakin kacau dan Ninien semakin menjauh dariku, tetapi hati ini tidak bisa dipungkiri, aku telah mencintai Ninien dengan segenap aku, apalagi kami telah melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan.
Empat hari sebelum pernikahanku, aku menemui kembali Ninien.
“Nien, aku tau kok, hari ini akan jadi hari penentuan tentang hubungan kamu dan aku kan?” kataku dengan halus dan terus memegang erat tangannya.
“Iya, mas. Kita udah sama-sama janji sepulangnya kita dari tugas, kita bakal nyelesain masalah kita,” jawabnya. Entahlah aku tak punya nyali ‘tuk sekedar menatapnya.
“Nien, kita kabur saja, kita kawin lari saja,” kataku mengajaknya.
“Mas, maaf aku tidak bisa, nanti kehidupan kita gimana?” tanyanya.
“Kita mulai dari nol, kalaupun harus meninggalkan kehidupanku kini, aku rela kok, walau harus jadi pemulung aku mau, asal hidup bersama kamu.”
“Nien, aku tidak tau harus ngomong apalagi ke kamu. Karena takdir aku ninggalin kamu, ngga ada yang bisa gantiin kamu dalam hati aku Nien. Harusnya aku yang bilang, kalo aku yang cuma bisanya nyakitin hati kamu setiap saat, yang cuma bisa ngasih mimpi buruk dalam setiap tidur kamu, yang cuma bisa nyiptain tangisan dimata kamu yang penuh cinta. Aku yakin kamu bisa jauh bahagia tanpa aku,” ucapku dengan mata sedikit memerah. Kuberikan kaos biru yang kupakai untuk dia dan kuantar dia ke kantornya dengan kecup perpisahan. Yang ternyata itu adalah pertemuan terakhirku dengannya. Namun aku tak ingin merasakannya lagi karena bagiku hari ini akan menjadi penentuan segala arah dalam langkahku yang dulu sempat aku habiskan bersamanya.
Dan takdir tidak bisa terelakan, aku menikah dengan Wulan, dengan pesta yang cukup meriah, dengan tamu yang cukup banyak, tetapi hati ini menangis. Setelah itu aku tidak pernah bisa menghubungi Ninien kembali.
Tapi aku tetap tidak putus asa, aku mencoba mendatanginya ke kantornya menjauh, dan dia bersama seorang lelaki lain bernama Ramlan.
“Mas kamu sudah nikah, kamu bukan masku yang dulu aku cintai lagi,” Ninien berkata lirih kepadaku. Kehidupanku dengan Wulan berjalan dengan sangat sempurna, tapi hati ini terus tertuju kepada Ninien. Pikiran ini hidup ini kosong tanpa dia, aku terlalu mencintai dia, dan selalu terpikir apakah hidup ini dipilih atau memilih.
“Turut berduka cita ya, mbak Wulan,” tetanggaku menyalami Wulan yang berlinang air mata. Di samping wulan terdapat sesok mayat yang telah di bungkus dengan kain kafan, dan kulihat jasadku sudah dikafankan.
Entah siapa yang memberi tahu Ninien, dia datang ke pemakamanku.
“Mas, kenapa kamu seperti ini, kenapa mengakhiri hidupmu dengan tragis mas, aku tau kamu mencintaiku, aku tau Mas, aku juga mencintaimu.”
Kulihat Ninien menangis dengan tersedu.
“Aku juga selalu mencintaimu Nien, ‘kan kujaga cinta ini walau jasadku telah tiada dan hati ini selalu untukmu seorang bidadariku.”
Tetapi Nienin tidak dapat mendengarku lagi. Dan malaikat mautlah yang kini meminta pertanggungjawaban tindakanku ini.
“Tapi ini kulakukan karena aku terlalu mencintaimu Nien.”
“Cinta itu indah, tetapi terkadang menyakitkan”
= Depok 8 February 2008 =
Atas nama cinta pengorbanan dìlakukan demi yg dcnt meski takdr tak memihak hati te2p ku2h mencintai
gw g hbs fkr y…qo ad org kyk Ridwan…
emg seah cnt tuh bth pngrbnn, tp ms iy hrs dg nyw qt…?
y…nmny jg crt fiksi, mo diapain lg…
tp yg jls, gw k qo crtny…good luck de bwt mz or abg Erwin
GBU…(^_^)v
lumayan menyentuh cerita cintanya……
tp cerita ni hampir mirip dgn crita slh seorang tmnku……hampir mirip
si cowok kehilangan keluarga, karier n semuanya demi mengejar cinta seorang cewek
n pd akhirnya dia mencoba bunuh diri, tp ga berhasil,…..tp skrng kehidupanny bnr2 hancur