KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Rumah Kosong II

Satu minggu telah berlalu. Bonnie telah sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya. Niky pun serius dengan tugas dari kantornya. Walau kadang ada hal yang ganjil di rumah tua itu. Toh mereka berdua tak pernah menggubrisnya. Mereka sudah terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Atau malah tidak menyadarinya?
Seperti pagi ini, Bonnie dan Niky telah bersiap-siap berangkat. Mereka berdua tampak sibuk di kamarnya masing-masing.
“Bon, lo mindahin bingkai foto Mami sama Papi yang ada di kamar gue ya?” tanya Niky setengah berteriak.
“Kagak!!!” seru Bonnie.
“Terus siapa dong? Ahh… bodolah,” Niky pun cepat-cepat keluar dari kamar. Di luar Bonnie telah menunggu.
Rumah pun sepi setelah ditinggal pergi penghuninya. Perlahan tapi pasti bingkai foto yang disebut-sebut Niky tadi berpindah ke tempatnya semula.

Menjelang malam seperti biasa Niky dan Bonnie pulang bersamaan. Bonnie langsung ke dapur mencari minuman. Sedangkan Niky menuju ke kamarnya.
“Bonnie!!!” teriak Niky dari kamarnya.
Bonnie yang sedang minum kontan saja terbatuk-batuk karena kaget. Tergopoh-gopoh ia menghampiri sang kakak.
“Apaan sih, Ky? Bikin gue keselek aja lo!” gerutu Bonnie.
“Lo ngaku deh, Bon. Lo kan yang mindahin foto Mami dan Papi dari pagi?” tanya Niky.
“Mindahin? Apaan sih gak ngerti?!”
Tadi pagi foto ini ada di atas meja kerja gue. Terus sekarang udah balik lagi nempel di dinding deket lemari,” kata Niky.
“Lo kali yang pikun. Gue baru dateng langsung ke dapur kok. Lagipula dari kemaren gue gak ke kamar lo. Apalagi mindahin foto atau jangan-jangan lo kena sindrom Alzheimer, tau kan penyakit pikun yang udah stadium lanjut. Udahlah foto aja lo persoalin, gue mau makan dulu, laper nih!” balas Bonnie.
“Iya… ya apa gue yang lupa. Ahh… nggak ah tadi di sini… terus sekarang di sana. Gue sempet mindahin nggak ya? Gue jadi bingung,” sungut Niky. Ia pun menyusul adiknya ke ruang makan.

Malam semakin larut, Bonnie belum juga tidur. Ia masih memandangi batu permatannya. Tiba-tiba refleks tangannya melempar batu tersebut.
“Aww… adaww… kok panas sih?”
Bonnie meniup-niup tangannya yang kepanasan. Perlahan-lahan ia pungut kembali batu permata yang tadi dilemparnya.
“Aneh? Kok jadi dingin kayak es? Jangan-jangan ada yang nggak beres di sini,” desis Bonnie. Bulu romanya berdiri membayangkan apa yang terjadi di rumah itu.
“Ahh… gak bisa! Gue nggak boleh takut sama begituan!”
“Bon, udah tidur belum?” panggil Niky dari balik pintu kamar Bonnie.
“Belum, masuk aja nggak dikunci kok!”
“Gue lagi ngejar deadline dari kantor nih. Tapi perasaan gue nggak enak. Temenin gue ngetik dong?!” pinta Niky.
“Kayak anak kecil aja lo minta ditemenin. Ya udah nanti gue nyusul ke kamar lo!” kata Bonnie. Padahal dalam hati ia juga ketar-ketir.
Bonnie pun menemani kakaknya yang masih sibuk dengan tugas-tugas kantornya. Sejam pertama ia masih bertahan dengan ikut membaca buku. Tapi setelah itu ia sudah tak tahan lagi melawan kantuknya. Bonnie akhirnya tertidur.
Saat ia membuka matanya tampak Niky berjalan di depannya. Mereka berdua tengah meniti tangga ruang bawah tanah. Ada sesuatu yang harus mereka cari di ruang tersebut, entah apa. Mereka mengaduk-aduk seluruh isi ruangan itu.
Tiba-tiba seseorang menarik ujung baju Niky. Seperti dikejar-kejar setan mereka berdua mencoba keluar dari ruang pengap tersebut. Bonnie yang telah lebih dulu sampai di atas mencoba menarik tangan kakaknya yang masih tertinggal di bawah. Terlambat, saat Bonnie hendak mengulurkan tangannya, pintu masuk ruang keramat itu segera tertutup rapat.
Terdengar suara Niky yang berteriak-teriak memanggil namanya. Bonnie panik ia bingung harus berbuat apa.
“Niky…!!!”

“Heh kebluk! Bangun! Pagi-pagi udah ngigo. Kuliah jam berapa lo?”
“Ky, lo gak papa? Ky, bener lo gak papa?” balik tanya Bonnie.
“Aduh Bonnie adikku sayang, nyawa lo belum kumpul ya? Mimpi lo udah lewat!” celetuk Niky.
“Ya ampun, thanks God! Sumpah, Ky, gue mimpi jelek banget hari ini.”
“Lo kuliah jam berapa? Bareng gue nggak?” tanya Niky.
“Gue nggak ada kuliah hari ini gue mau di rumah aja!” jawab Bonnie.
“Yakin? Berani lo?” goda Niky.
“Ngeledek aja sih! Udah sana minggat yang jauh, telat dipecat lo!” usir Bonnie.
Niky hanya tertawa kecil lalu turun ke bawah. Tak lama kemudian terdengar suara deru mesin mobil. Sepertinya Toyota Yaris milik Niky sudah keluar dari halaman rumah tua itu. Bonnie hanya memandangnya dari balik jendela kamarnya.
Ditariknya nafas panjang. Baru kali ini ia bermimpi aneh. Bonnie menuju dapur dan mengambil sebotol air dingin. Pikirannya menerawang memikirkan mimpinya. Matanya melirik ke ruang makan. Ingin ia masuk kembali ke ruang bawah tanah itu. Namun ia mengurungkan niatnya “Masih terlalu pagi,” pikirnya.
Akhirnya Bonnie memutuskan untuk pergi keluar mencari sarapan. Satu jam kemudian Bonnie kembali dan langsung mandi. Entah kenyataan atau imajinasinya saja, samar-samar ia mendengar suara derit pintu.
“Hoi, siapa tuh?!” teriak Bonnie. Tak ada jawaban. “Bik Ijah apa udah dateng ya? Tapi masih jam segini?”
Bonnie pun cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Tak berapa lama kemudian ia keluar dari kamar mandi. Ia memeriksa keadaan di sekitarnya, sepi. Matanya nanar saat melihat pintu masuk ruang bawah tanah terbuka. Cepat-cepat ia menutup kembali pintu masuk ruang tersebut.
“Den Bonnie nggak kuliah?” tiba-tiba Bik Ijah muncul dari ruang tamu.
“Lho? Bik Ijah udah dateng? Daritadi?” tanya Bonnie.
“Nggak juga, den. Tadi baru dateng saya memang nyapu halaman depan dulu. Muka Den Bonnie kok pucet banget? Den Bonnie sakit?” tanya Bik Ijah.
“Nggak kok, ya udah bibi terusin kerja aja,” jawab Bonnie.
Bik Ijah meninggalkan Bonnie dengan heran. Bonnie pun kembali ke kamarnya dengan langkah gontai. Hatinya penuh dengan tanda tanya. Bila ia mengingat-ngingat lagi sebenarnya banyak kejadian ganjil di rumah ini. Bonnie pun curiga jangan-jangan rumah ini bukan sembarang rumah.
Hampir setengah jam ia termenung di kamarnya. Percuma ia berpikir toh akhirnya ia memutuskan untuk menemani Bik Ijah yang sedang mencuci.
“Bik, kira-kira rumah ini udah dijual ke berapa tangan?” tanya Bonnie.
“Wah itu sih nggak kehitung, den! Tapi yang Bibi tau beberapa tahun terakhir ini mereka yang pada beli rumah ini rata-rata pada nyari sesuatu. Tapi nggak tau, den, yang dicari apa. Sampai akhirnya Pak Johansa membeli rumah ini. Lalu merenovasi beberapa bagian rumah,” cerita Bik Ijah. Bonnie hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Den Bonnie sama Non Niky gak tinggal sama orang tua?” tanya Bik Ijah.
“Orang tua kami sudah meninggal, Bik. Waktu saya kelas I SMA,” Bonnie menjawab lirih.
“Ohh…maap, den. Terus Den Bonnie tinggal berdua saja dengan Non Niky?”
“Begitulah, Bik. Dulu saya tinggal di Bandung. Setelah lulus SMA saya kuliah di Jakarta, Niky juga kerjanya di Jakarta. Akhirnya rumah di Bandung kami sewakan. Kami di Jakarta mengontrak rumah. Setahun kemudian Om Hans bilang dia baru beli rumah di Bogor. Terus kami berdua diminta unutk tinggal di rumahnya ini.
Terus terang, Bik. Saya juga bingung ngapain juga Om Hans beli rumah ini. Padahal dia udah punya apartemen mewah di Jakarta,” cerita Bonnie.
“Mungkin buat hari tua, den!” celetuk Bik Ijah.
“Bik Ijah bisa aja. Ya udah, Bik. Maaf ya ganggu!”
“Nggak papa, den. Itung-itung nemenin bibi,” ujar Bik Ijah.

Bonnie pun kembali ke kamarnya. Ia jadi berpikir ada misteri apa di rumah tua ini. Ia terus mondar-mondir di kamarnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Pekerjaan pamannya itu adalah pedagang barang-barang antik. Mungkinkah orang-orang yang pernah membeli rumah ini mencari ruang bawah tanah? Sebenarnya ada apa di ruang bawah tanah itu?

Jam menunjukkan pukul delapan malam saat Niky pulang. Bonnie yang dari sore menunggunya langsung memborondongnya dengan berbagai pertanyaan.
“Ky, gue yakin rumah ini nggak beres. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini. Gue baru ingat kalo Om Hans pernah bilang kalo kita menemukan sesuatu yang ganjil di sini. Kita harus menghubungi Om Hans. Gue yakin Om Hans sedang mencari-cari sesuatu juga di sini, lewat kita! Soalnya Om Hans kan tau, kita berdua anaknya geratakan gak bisa diem. Apa aja dibuka dan dibongkar,” cerocos Bonnie.
“Aduh, Bon, lo ngomongin apa sih? Gue tuh capek banget, lo kalo mau cerita besok aja ya. Gue mau tidur, ngantuk banget nih… daggghhh,” ujar Niky cuek.
“Tapi, Ky! Yahh…gak seru lo, Ky!” gerutu Bonnie.
Dengan perasaan kecewa lantaran kakaknya terlihat tidak peduli, Bonnie kembali duduk di ruang TV. Walaupun baru jam delapan malam tapi suasana di sekitar rumah tua itu sepi. Bahkan terlalu sepi dan hening. Tak ada suara-suara orang lewat. Apalagi suara bising motor atau mobil. Yang ada hanya suara jangkrik yang sedang menikmati suasana malam.
“Kira-kira Om Hans nyari apa ya? Gue mesti cari tau!” desis Bonnie.
Dengan segera Bonnie bangkit dari tempatnya duduk. Lalu ke kamar mencari lampu senter. Perlahan ia membuka kembali pintu masuk ruang bawah tanah.
Ruangan seluas 24 m2 itu benar-benar pengap. Disapukannya cahaya lampunya ke seluruh ruangan. Akhirnya ia menemukan saklar lampu. Diperiksanya bohlam lampu dengan seksama. Mati! Ia segera naik ke atas mencari bohlam lampu yang masih berfungsi di kamarnya.
Beberapa menit kemudian Bonnie kembali dengan sebuah bohlam lampu di tangan. Ia tertegun sejenak saat melihat pintu ruang keramat itu tertutup rapat.
“Aneh, perasaan tadi gue gak tutup. Niky di kamar, apa iya tertutup sendiri?” pikir Bonnie.
Tapi Bonnie tak ambil pusing. Dipasangnya bohlam lampu lalu dinyalakan saklarnya. Cahaya lampu 60 watt itu berpendar terang. Lantas ia sibuk mengamati setiap sudut ruangan itu. Matanya menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Ruangannya masih tertata rapi, entah sejak kapan. Bonnie menemukan setumpuk koran-koran tahun 1800an. Bahasa yang ditulis dalam lembaran usang itu kebanyakan bahasa Belanda. Walau tak sedikit juga koran-koran lokal yang menggunakan ejaan Van Ophuysen.
“Arsitek asal Belanda Mark Van Der Gullick tewas mengenaskan di rumahnya,” Bonnie membaca salah satu koran tersebut. Lalu membaca lembaran-lembaran yang lain.
“Van Der Gullick ditemukan tewas setelah beberapa hari sebelumnya, rumahnya dirampok. Sial bener nasibnya,” gumam Bonnie.
Bonnie memandang lukisan Van Der Gullick. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil pada lukisan itu, entah apa. Wajah Van Der Gullick tampak menyiratkan kesedihan yang dalam.
“Bonnieee…” Bonnie menoleh. Bulu kuduknya merinding. Entah dari mana suara itu berasal. Yang jelas suara itu mampu membuat Bonnie gentar. Ia bergegas keluar dari ruangan pengap itu.
“Brakkk…!!!” Tiba-tiba pintu masuk ruangan tersebut tertutup. Bonnie panik, digedor-gedornya pintu tersebut. Hawa dingin menyeruak ke seluruh penjuru ruangan yang tak seberapa besar itu. Bonnie tak tahu dari mana hawa itu berasal. Bonnie makin panik saat lukisan Van Der Gullick jatuh dengan sendirinya.
“Ky!!! Niky tolongin gue!!!” teriak Bonnie.
Ia terus berteriak memanggil kakaknya. Dada Bonnie mulai sesak. Hingga akhirnya tak sadarkan diri.

Bonnie membuka matanya perlahan. Kepalanya pusing, ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tampak seorang lelaki sebayanya duduk di sebelahnya, menonton TV!
“Gue di mana nih?” tanya Bonnie.
“Di mana? Kenapa lo? Tampang lo kusut amat? Kayak abis ketemu setan.”
Bonnie masih belum mengerti. Ia menajamkan penglihatannya. Ternyata yang duduk di sebelahnya Raka, teman kuliahnya. Ia mencoba duduk sambil memegangi kepalanya.
“Ya ampun tadi cuma mimpi toh? Gue kira beneran,” ujar Bonnie.
“Makanya banyak-banyak doa lo! Udah tau tinggal di rumah tua kayak gini!” celetuk Raka.
“Dateng dari kapan lo, Ka?” tanya Bonnie.
“Baru, sekitar sepuluh menit yang lalu. Gue mau numpang nginep sini ya. Seminggu aja! Gue mau buat tugas nih. Di kost-kostan nggak konsen, abis berisik banget!” pinta Raka.
“Terserah lo deh. Gue ke dapur dulu ya,” ujar Bonnie.
Bonnie masih memegangi kepalanya. Mimpinya seperti nyata. Sudah dua kali ia bermimpi seperti itu. Pertanda apakah itu semua?

Pintu masuk ruang bawah tanah itu tertutup rapat. Bahkan terlalu rapat sehingga tak ada yang mengira bahwa di bawah lantai itu tersembunyi sebuah ruangan misterius.
Bonnie berjongkok di dekat lantai masuk ruang misterius itu. Dielusnya lantai tersebut seperti dukun yang sedang memantrai jejak-jejak jin. Ia masih tampak serius sampai akhirnya…
“Bonn!!!”
“Hahhh?!” Bonnie terperanjat. Jantungnya serasa mau meledak.
“Niky! Ngagetin gue aja lo!” omel Bonnie.
“Lagian kurang kerjaan banget sih. Kalo mau nongkrong di WC bukannya di ruang makan!” celetuk Niky.
“Bercanda aja sih, lo! Ky, lo merasa ada yang aneh gak sih selama kita tinggal di rumah ini?” tanya Bonnie.
“Aneh? Biasa aja ah. Yah namanya juga masih baru jadi mungkin emang agak-agak gimana gitu. Tapi sejauh ini gak ada yang aneh kok,” jawab Niky santai lalu meninggalkan Bonnie.
Kembali Bonnie sendirian di ruang makan. Niky sepertinya tidak mau tahu tentang hal-hal ganjil yang terjadi di rumah tua itu. Bonnie pun mencoba untuk tidak ambil pusing walau dalam hatinya penuh dengan tanda tanya.

Bonnie masih memandangi batu permata yang berhasil “dicuri”nya dari ruang bawah tanah. Batu yang sangat indah. Berkilau bermandikan cahaya lampu. Bonnie tersenyum menikmati keindahan batu permata tersebut. Hawa dingin perlahan mulai menyusup dari sela pintu kamarnya. Ia pun menggigil kedinginan. Bonnie nyaris tak sadarkan diri saat Raka masuk ke kamarnya.
“Bonn! Lo gak apa-apa?” tanya Raka yang sedikit prihatin melihat kondisi Bonnie yang sedang menggigil.
Bonnie menatap Raka tajam. Anehnya hawa dingin yang tadi menyelimutinya perlahan menghilang. Raka membalas tatapan Bonnie dengan heran.
“Gue, gak kenapa-kenapa kok!” jawab Bonnie sejurus kemudian.

Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat Bonnie turun ke dapur mengambil air minum. Ia sedikit tertegun saat melihat pintu ruang bawah tanah terbuka lebar. Ia pun langsung melongok ke dalamnya. Tampak olehnya sesosok gadis tinggi sedang berdiri memandangi foto Van Der Gullick.
“Ngapain lo, Ky?” tanya Bonnie.
“Eh, elo, Bon! Gue cuma lagi ngecek aja. Soalnya tadi gue dengar ada suara grasak-grusuk di sini, tikus kali ya?” ujar Niky. Bonnie hanya manggut-manggut.
“Oh iya, temen lo mau nginep berapa hari di sini?” Niky mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Katanya sih satu mingguan. Gak masalah kan?”
“Ya gak masalah sih itung-itung nemenin kita,” kata Niky.
Mereka berdua segera naik lalu menutup pintu ruang misterius tersebut. Niky menatap ruangan tersebut penuh tanda tanya. Sebenarnya ia ingin menceritakan banyak hal pada Bonnie tentang mimpi-mimpinya. Mimpi berada di rumah tua itu. Namun, niatnya diurungkan. Segala sesuatu bila diceritakan pada Bonnie bukannya menyelesaikan malah memperpanjang masalah.

Pagi itu Bonnie dan Raka bersiap berangkat kuliah. Namun, Bonnie menemukan sesuatu yang agak ganjil. Kakaknya masih asyik meringkuk di kamar. Padahal biasanya pagi-pagi buta Niky sudah siap berangkat ke kantor. Maklum jalanan macet, setidaknya Niky butuh waktu tiga jam untuk sampai ke kantornya.
“Ky, lo gak ke kantor? Lo sakit ya?” tanya Bonnie.
“Lo duluan aja, Bonn. Gue lagi males banget nih ke kantor. Lagipula sekarang hari Jumat biasanya kerjaan gue gak begitu padat,” jawab Niky dengan malas.
“Oh gitu ya? Ya udah deh, gue sama Raka berangkat ya. Dagghh Niky, hati-hati lo di rumah!” pamit Bonnie.
Mata kuliah manajemen siang itu tidak menarik minat Bonnie. Pikirannya terus tertuju pada rumah. Ia terus memikirkan Niky yang sendirian di rumah. Bik Ijah kemarin izin untuk tidak masuk hari ini karena anaknya sakit. Sebentar-sebentar Bonnie melirik Casio di pergelangan kirinya. Ia takut terjadi sesuatu pada Niky. Apalagi kakaknya itu belum pernah seharian penuh di rumah semenjak mereka pindah.
Bonnie mengetuk-ngetuk jarinya di meja tanda gelisah. Firasatnya mengatakan kalau terjadi sesuatu pada Niky. Keinginannya untuk segera pulang terhambat oleh jadwal kuliah yang padat hari itu.
Jam lima sore Bonnie baru bisa bersiap pulang. Tapi itu belum bisa membuatnya bernafas lega. Ia masih harus menunggu kereta KRL jurusan Bogor selama satu jam. Dua setengah jam kemudian “penyiksaan” itu berakhir. Tepat jam setengah delapan malam Bonnie sampai di rumahnya.
Mungkin karena sudah keburu capek. Bonnie pun lupa pada niat awalnya ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Ia malah langsung ke kamarnya, tidur!

Bonnie bangun dengan perasaan aneh. Rumahnya tiba-tiba terdengar ramai. Lantas ia keluar kamar mencoba memeriksa keadaan. Matanya terbelalak saat melihat apa yang terjadi. Rumahnya berubah bak istana, banyak orang sedang berdansa di ruang tengah. Mereka tampaknya sedang berpesta. Dan yang lebih mencengangkan lagi mereka semua berpakaian dengan gaya Victorian. Bonnie merasa rumahnya dijadikan tempat pesta kostum. Setengah berlari ia ke kamar kakaknya.
“Ky! Niky! Buka pintunya!!!” teriak Bonnie.

“Wooii… bangun! Gila lo ya, pagi-pagi udah teriak-teriak,”
Bonnie tersadar dari mimpinya. Nafasnya tersengal-sengal seperti dikejar setan. Raka menatapnya heran sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Niky mana?” tanya Bonnie setengah sadar.
“Ya udah berangkatlah. Sekarang udah jam tujuh pagi, bos! Mimpi sampe segitunya,” celetuk Raka.
“Sekarang hari Sabtu kan. Harusnya Niky libur, kenapa dia masuk?” tanya Bonnie lagi.
“Meneketehe! Tanya dong sama kakak lo! Makanya kalo mau ngapa-ngapain tuh berdoa dulu. Udah tau tinggal di rumah kayak gini, setannya iseng-iseng!” lanjut Raka.
Bonnie menatap Raka penuh harap. Ia baru ingat temannya yang satu itu punya indera keenam. Raka sedikit tahu banyak mengenai hal-hal mistis. Ia pun mencoba mencari tahu pada Raka.
“Ka, lo pasti tau sesuatu kan? Lo pasti tau kan ada yang gak beres di rumah ini? Iya kan, Ka?” desak Bonnie.
“Gue gak tau apa-apa kaleee!!! Satu-satunya yang gue tau, setiap rumah, gedung, bangunan apapun, di manapun pasti ada ‘penghuni’nya. Termasuk rumah lo ini,” bisik Raka.
Bonnie terdiam, membayangkan siapa saja ‘penghuni’ rumah tua yang ia tempati saat ini. Tapi Bonnie tak mau ambil pusing. Yang ia pikirkan adalah misteri yang ada di rumah tua ini. Mimpi-mimpinya seolah nyata entah apa mimpi-mimpi seperti itu mampir juga di tidur Niky.

4 Responses to “Rumah Kosong II”

  1. on 21 Feb 2008 at 16:42alwafi

    gimana caranya mempublikasikan tulisan kita saat ini juga?

  2. on 28 Feb 2008 at 14:44lili

    PArt III nya Mana nih???????????

  3. on 28 Mar 2008 at 06:49Angga

    Waa makin seru nih.Dibikin novel ja mas n kalo dah jadi kasih taw w di fs w ya di c@k.Rowo ini please… Oh iya part III dah jadi lum?

  4. on 03 Apr 2008 at 15:25Nday

    woow, lanjutannya duunk!

Tinggalkan Komentar