Noktah Hitam Merah Muda
Februari 17th, 2008 by jun an nizami
Di bawah kemuraman langit, deru angin sedang memburu, langkah cepat sesosok wanita dengan sisa napas yang terengah-engah. Awan gelap turut mengintai wanita berbaju hitam itu, yang berlari seperti membawa sebentuk kesah dalam dekapannya.
Sambil mengumpulkan semua napas-napasnya kembali, sembari mengusap seluruh peluh keringat di wajahnya yang pucat pasi, sesekali ia berhenti untuk menoleh ke belakang, dengan harapan bahwa ia sudah hampir mendekati titik aman yang sedari tadi sedang ditujunya.
Titik itu kini mulai mendekat. Langkahnya kini mulai mengecil, langkah wanita itu kini berubah pelan. Setelah ia merasa benar-benar aman dari muka-muka penuh murka yang sedari tadi sedang mengejarnya, kini wanita itu mulai melenggang dengan hati tenang
menuju letak rumahnya. Rasa ketenangan yang juga diiringi sebuah rasa kepuasan, tapi tak serta menghabiskan seluruh kecemasan di dadanya. Ketenangannya datang, setelah ia menutup rapat-rapat dan mengunci pintu kamarnya. Kepuasannya datang, setelah ia melihat darah di sela-sela jemarinya yang masih menggenggam sebilah belati. Tapi kecemasannya sesekali menjalar, karena ia masih sadar bahwa ia telah melakukan beberapa dosa besar.
Wanita itu beranjak menuju kamar mandi dengan terus memandangi warna darah yang masih melumuri sebilah belati yang digenggamnya.
“Aku telah membunuh lelaki bajingan itu, aku puas, aku puas, ha..ha..ha.. aku puas!!” lepas dengan tawa lepasnya, sambil membasuh belatinya yang berdarah.
Tapi suatu rasa lain seketika menyelinap dan kemudian menyergap sesak ke dada wanita itu, tawa serta kepuasan itu kini perlahan berganti menjadi tetesan-tetesan tangisan.
Wanita itu mematung sesaat tanpa geming di hadapan sebuah cermin.
“Mengapa kau tega lakukan itu?” tiba-tiba menghentak.
“Mengapa..? mengapa..? mengapa..? hingga aku
membunuhnya!!” lanjutnya sambil menghujani cermin dengan beberapa tikaman belati yang sudah bersih dari noda-noda darah.
“Prraakk..”
Wajah di cermin itu kini retak, rona mukanya berubah hambar, dingin.suasana hening. pandangan wanita itu kini begitu ngeri. Tangis dan tawanya terus berganti dalam wajah
lusuhnya yang masih memendam misteri. Di balik rambutnya yang terurai, ia menyembunyikan sebagian wajahnya yang telah basah oleh air mata, diiringi sunggingan senyumnya yang cantik namun kosong.
Kini perpaduan itu tengah berekspresi dalam setengah sisa-sisa cermin yang telah retak, mencerminkan golakan-golakan dalam dadanya. Namun perpaduan ekspresi itu terhenyak oleh rasa mual yang tiba-tiba, rasa mual yang sudah sebulan terakhir ini akrab dengannya. Rasa mual yang akhir-akhir ini kerap mendera tubuhnya, kini rasa itu mulai menyusur kembali dari dalam perutnya, dan…muntah,menyeruak.
Sisa-sisa cermin di hadapannya menjadi saksi bisu tiap-tiap ekspresinya. Di sisa cermin itu pula, kini wanita itu menerawang sosoknya di saat-saat yang lalu. Sebab pelariannya itu, sebab tikaman-tikaman itu, sebab air mata itu, sebab senyum kepuasan itu, dan
sebab muntahnya itu. Kini semuanya terpampang di cermin yang telah retak itu.
***
14 februari. “Hari Valentine”, begitulah kini tanggal itu dijuluki semenjak barat menjadi kiblat. Mantra-mantra cinta berhambur dan berserakan dimana-mana. Senja itu, langit masih berkirim kabar dengan rintik-rintik hujan. Di dalam sebuah kafe yang sengaja dihias dengan nuanasa warna merah muda, ditambah hiasan bunga-bunga di tiap pojoknya yang juga berwarna merah muda.Beberapa pasang sejoli sedang terlihat asyik menikmati suasana yang diiringi laguan-laguan cinta dari seorang penyanyi bermimik manja.
Dan Febri masih terduduk sendiri, sembari memperhatikan butir-butir tangis langit. Rambut indahnya tergerai, hias lesung pipit begitu mempermanis senyumnya.
Matanya berbinar menandakan lamunan indahnya yang dikirim butiran-butiran hujan.
“Hei.. sudah lama ngelamunin aku’nya?” tiba-tiba seseorang lelaki dengan mendaratkan sebuah kecupan di pipi, dan tanpa rasa malu mengejutkannya dari belakang.
Tapi sebelum menoleh ke arah itu, Febri sudah bisa menebak bahwa lelaki itu adalah Danu. seseorang yang sedang ditunggu-tunggunya.
“Ihh.. ngagetin aja!” gerutu Febri dengan rona manja. Danu duduk di sisi Febri sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah.
“Maaf deh, emang lagi seru ya, ngelamunin aku’nya?” godanya lagi.
“Siapa juga yang lagi ngelamunin kamu?” balas Febri lagi.
Danu hanya senyum-senyum. Sejenak mereka saling bertatapan.
“Kamu kok lama, darimana dulu?” lanjut Febri ketus.
“Emmm.. pacarku kayaknya marah nih.. soalnya tambah cantik!”
“Ahh.. mulai gombal lagi deh!”
“Tapi suka kan?”
“Ngga tahu.. ah” jawab Febri, lalu diam.
“Ya.. maaf deh, tadi aku masih ada kerjaan, jadi agak telat!” tutur Danu sambil membelai rambut wanita itu.
Di luar, langit sudah kehabisan air hujan untuk dicurahkan dan sore pun telah serahkan segenap tugasnya kepada malam. Mendung seketika berubah cerah, langit seketika tampakkan bintang-bintang indah. Setelah begitu asyiknya makan sambil bercakap-cakap, kini sejoli itu beranjak meninggalkan kafe, dengan bergandengan tangan menuju sebuah mobil berwarna silver milik Danu.
Tanpa terasa memang, sudah lima bulan febri menyerahkan hatinya pada lelaki yang kini duduk di sampingnya dan kini pertautan hati mereka menginjak Februari pertama, bulan yang dialiasi bulan kasih sayang. Di dalam mobil, febri mengingat-ngingat semua
itu.
“Sekarang kita kemana, dan?”
“Ke pantai dulu ya?! sebelum kita pulang.”
Febri hanya mengangguk tanda setuju, lalu menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.
“Nama kamu kenapa bukan cinta,?” sela Danu.
Alis febri menyimpul.
“Memang kenapa?”
“Kan cocok aja, bulan lahir kamu Februari, tanggal lahirnya..tanggal empat belas. Pas sama hari Valentine!” tutur Danu diiringi seulas senyuman.
“Itu kan nama pemberian orang tua aku!” jawabnya.
“Berarti hari ini kamu ulang tahun?” tanyanya.
“Iya dong, terus kamu mau kasih hadiah apa?” manjanya.
“Ada deh..!” sahut sang perayu ulung.
Kini lesung pipit kembali mengembang di pipi Febri, memperhatikan sosok lelaki yang begitu ia cintai dan terasa penuh perhatiannya.
Langit indah namun agak muram, bintang terang namun terlihat gusar menerangi pesisir pantai. Kini sejoli itu terlihat mabuk dengan angin bahagia bulan kasih sayang. Di tepi pantai, Danu menyematkan sebuah cincin di jari manis wanita manis itu. Sambil saling berpandangan lalu bibir mereka saling melumat lembut.
Mereka berjalan menyisir pesisir pantai yang temaram, seolah ingin mengabarkan kebahagiaanya kepada seluruh hamparan pasir. Kemudian mereka saling berkejaran, layaknya ingin menuju sebuah tempat terindah hingga terengah-engah lalu bersandar di balik sebuah batu besar. Masih dengan napas terengah-engah, tatapan mereka kini beradu kembali, bibir mereka bertemu kembali. dibelai angin, diiringi buaian dari sosok
bayangan hitam yang tiba-tiba menyusup. Terlalu jauh….
Kini langit makin muram menyaksikan sepasang insan melucuti dan menanggalkan pakaian iman. Bintang kian gusar melihat ungkapan cinta sepasang manusia di hari
kasih sayang dengan cara binatang. Angin menganga tak menderu, ombak diam tak berdebur, menonton persetubuhan sepasang insan telanjang iman.
Batu itu berair mata tanda tak restu, tapi hanya batu. Menyatu dengan hawa panas, dan….
“Aaaaaakkhhh..” erang lengkingan panjang itu memecahkan hening dalam sebuah kamar mandi. Kini yang didapati Febri hanya rona lusuhnya yang berair mata di
hadapan sebuah cermin yang telah retak. Perlahan ia meraba perutnya yang pasti akan segera membesar, tapi akan menjadi petaka bagi kehormatan orang tuanya dan akan segera menjadi bahan gunjingan orang-orang di sekitarnya. Ia meremas perutnya yang menyimpan janin hasil menodai warna cinta dua bulan kemarin.
“Lalu mengapa kau tak mau bertanggung jawab, Dan? Setelah kau puas, kau meninggalkanku dan pergi bersama wanita lain!” Febri hanya bisa berteriak di hadapan
kebisuan cermin yang retak.
“Tapi akhirnya kau mati juga di tanganku. Ha..ha..ha..!” seringai tawa gilanya, sambil menatap dan menggenggam kembali belati yang kilatan-kila tannya menjilat-jilat jidatnya.
Dengan belati itulah malam ini ia telah membunuh Danu yang sedang bercumbu bersama seorang wanita di dalam mobilnya dan di tepi pantai yang sama. Setelah tiga minggu yang lalu ia mengadu tentang kehamilannya kepada Danu. Namun malang….. ternyata kekasih
tercintanya yang penuh perhatian itu malah mencampakannya dan enggan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Danu mulai menjauh.
Hingga akhirnya malam inilah yang menjadi malam tumpahan kekecewaan, kebencian, dan penyesalan Febri.
“Ha..ha..ha.. matilah kau! Ha..ha..ha..mati..mati..mati, kau!” kembali gaduh diiringi tawanya yang ngeri dengan menghujamkan kembali belati pada
setengah sisa cermin yang telah retak.
Tapi akhirnya tawa itu terus berganti dengan uraian tangis. Entah tangis untuk apa…..
Tapi mungkin untuk bayangan-bayangan ucapan yang melintasi benaknya kini.
“Dasar perempuan binal!”
“Siapa ayah, anakmu itu?” wajah-wajah itu datang silih berganti mengucapkan.
Wajah orang tuanya, wajah teman-temannya, dan wajah semua orang yang dikenalnya.
“Dan apa yang harus aku katakan?” lirihnya.
Kini kedua kakinya pun tak lagi sanggup menopang seluruh beban wanita itu, ia rubuh.
semua rasa di dadanya teraduk, hingga menyelimuti akal sehatnya. Watak warasnya kini tinggal setitik menunggu redup, untuk berakhir di titik nadir.
Serpihan-serpihan cermin di lantai, kilatan-kilatan belati telah menjadi saksi atas tangis dan tawanya juga tingkah kegilaannya. Belati itu kini mulai ikut menari bersama keputusan atas keputusasaannya. Sebilah belati itu menapak, menemui segaris nadi. Mengiyakan lagi sebisik fatwa-fatwa syetan.
“Crrraatt..!”
Noktah merah menetesi lantai warna putih. Pandangan Febri mulai menyongsong lorong gelap, pekat, hitam, lalu hilang. nada-nada nadi itu berhenti.
Tasik, 11 februari 2008.
bagus, tapi kayaknya banyak cerita yang hampir sama, terus aja berkarya…