KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Asa Dini

Truk itu berhenti. Suaranya tadi berdecit, dan aku menoleh, dan itu berhenti, dan aku pula berhenti. Disitu, didepan truk itu, sepasang mata dari sebuah tubuh menjelang ajal melihat ke arah aku. Ia menangis. Ia tersenyum. Tangannya berusaha menggapaiku. Tidak lama tangan itu terjatuh di aspal, disusul sepasang mata yang menutup rapat. Mata itu. Senyum itu. Aku berlari pada tubuh itu, membenamkan wajahku diatasnya, dan menangis sejadi-jadinya.
“ASAAAAA…….”

****

Ini sudah yang ketujuh kalinya kami bertengkar minggu ini. Tujuh kali di tujuh hari. Seharusnya malam minggu sepasang kekasih tidak berakhir dengan perang mulut. Oh, Dini, kenapa ia selalu cemburu tentang hubunganku dengan Rika. Berapa kali harus aku terangkan hubungan aku dengannya cuma sebatas teman. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya. Malahan, aku sangat mencintai Dini. Kenapa ia selalu mempertanyakan itu? Bagaimana lagi harus aku tunjukan rasa cintaku? Handphoneku berbunyi. SMS. AKu merogohnya dari saku dan baru saja mau aku buka begitu Dini merebutnya dari tanganku. Di layarnya tertulis Rika. Dini langsung melotot. Lalu aku bilang, “Buka saja!”, karena memang kami tidak punya hubungan apa-apa. Rika tahu aku dan Dini pacaran. Dan dia menghargai hubungan kami. Dan aku mencintai hubungan aku dan Dini seperti aku mencintai dia. Biar dia baca SMS itu. Biar dia tahu aku dan Rika cuma teman dan berhenti bersikap cemburu seperti itu karena hal itu betul-betul membuat aku kesal. Nanti akan aku marahi dia sambil mentraktirnya makan bakso dan aku hampir tertawa oleh ideku namun yang keluar cuma angin dari hidung yang mendengus kencang. Lalu Dini melihatku. Ia seperti tersinggung oleh ulahku tadi. Kemudian dilemparnya handphoneku ke tubuhku sambil mengatai aku selingkuh. Aku sangat terkejut. Seolah-olah dunia berhenti berputar dan aku terlempar dari muka bumi. Tanganku menangkap handphone itu sebelum jatuh dari tubuhku dan mataku berlari pada tiap kata di layar dan aku mengerti mengapa Dini begitu marah. Sebab disitu tertulis, ‘Met weekend ya ,Say. Aku kangen. Gimana? Sudah sama pacar kamu? Kalau sudah buruan kesini. Aku tunggu, ya. Bye’. Aku mencoba menjelaskan tapi Dini sudah menamparku. Ia lalu memutar tubuhnya dan berlari. Aku tahu ia menangis. Ia tidak pernah menangis didepanku. Ia selalu menyembunyikannya dengan berlari ke toilet atau membelakangiku. Aku tidak mau Dini menangis. Aku tidak mau kehilangan dia. Malah, dialah yang terbaik yang aku miliki. Jadi aku mengejarnya.

****

Sebenarnya aku tidak mau mengungkit-ungkit persoalan Rika. Tapi telingaku sudah panas. Awalnya ku dengar mereka cuma teman dekat. Lalu belakangan hubungan mereka semakin mesra. Malah teman-temanku menanyakanku apa aku sudah putus dengan Asa. Aku sih cuek saja. Tapi setiap kali ada saja bayangan tentang Asa dan Rika sedang berduaan. Aku jadi khawatir dan penasaran dan marah. Setiap kali persoalan ini kutanyakan pada Asa ia selalu dengan enteng menjawab, “Ah, cuma teman, kok.” Entah kenapa aku jadi marah dan bertanya apa dia tidak pernah mendengar gosip hubungannya dengan Rika. Dia dengan entengnya lagi menjawab, “Itu cuma gosip. kami teman. Itu saja, kok.” Hingga malam ini ketika tiba-tiba handphonenya berbunyi, aku langsung merebutnya dari tangan Asa. Aku tahu tindakan ku kelewatan. Tapi entah kenapa naluri perempuanku berkata SMS itu untukku. Namun aku berniat mengembalikannya pada Asa sebelum kemudian ia menyuruhku membacanya. Sesaat aku merasa semua beban seolah-olah hilang dari pundakku, sebab bila Asa berani menyuruhku membaca sms dari Rika pastilah diantara mereka memang tidak ada apa-apa. Oh, Tuhan, aku cinta dia. Aku cinta Asa. Dialah semua yang aku miliki. Semoga perasaan ini benar. Sebab aku tidak mau kehilangan dia. Malahan, aku tidak bisa kehilangan dia. Aku menekan tombol open di sebelah kiri dan di layarnya langsung muncul sebuah pesan. Mataku berlari disekitar layar dan kakiku lemas dan hampir saja aku terjatuh ditempat aku berdiri. Namun aku tetap berdiri sebab aku tidak mau Asa melihatku sebagai cewek yang lemah. Lalu handphonenya aku lempar ke tubuhnya. Asa terkejut. Ia berniat mengatakan sesuatu namun tanganku sudah duluan mendarat di pipinya. Aku takut. Sebelum ia bersuara aku sudah ketakutan akan kata-kata yang akan ia keluarkan.
‘Sudah sama pacar kamu?’
Apa itu sudah? Apa ia akan meninggalkan aku? Oh, Tuhan. Aku lemah. Aku cewek lemah. Hampir saja aku menangis didepannya. Namun aku langsung berbalik dan berlari meninggalkannya. Tidak sadar kalau wajahku sampai basah oleh air mataku sendiri.

****

Dini pasti sangat galau. SMS itu pasti membuatnya sangat down. Ia bahkan tidak sadar sebuah truk sedang melaju kencang di sebelahnya. Oh, tidak. Jangan Dini. Tuhan, jangan Dini-ku. Ambil saja aku. Tuhan, ambil saja aku.

***

Entah apa lagi yang aku harapkan di dunia ini. Tanpa Asa disebelahku aku jadi lemah. Harusnya aku lebih menaruh perhatian padanya. Harusnya perhatianku cuma padanya. Supaya dia lebih mencintaiku daripada Rika. Supaya cinta kami bisa untuk selama-lamanya. Aku tertawa. Ya, aku tertawa. Menyadari betapa egoisnya aku. Cinta kami untuk selama-lamanya? Ha. Sesaat aku berpikir begitu munafiknya cintaku. Bukan salah Asa untuk selingkuh. hanya saja ia menemukan cinta sejatinya, seperti aku menemukan cinta sejatiku…yang bukan milikku.

“Diniiiiii!”

Ha?

“DINIIIII! Dini, stooop!”

Asa? Ia mengejarku?

“DINIIII! BERHENTI!!!!”

Ah, sudahlah Asa. Cukup biarkan saja aku sendiri. Dan sakit ini pun akan hilang dengan sendirinya.

“DIIINIIIIIII!!! Oh, TUHAN, AWAS SEBELAH KIRIMU!!!”

****

Aku berhenti dan menoleh ke kiri seperti yang dikatakan Asa. Didepanku tengah melaju sebuah truk yang dengan ganasnya meraung-raung menyuruhku menepi. Tapi kakiku terlalu takut untuk bergerak. Tubuhku kaku. Dan Sesaat, tepat ketika truk itu akan menghempaskan tubuhku, sesuatu mendorong tubuhku menjauh. Atau seseorang?

****

“…Kalau kau memang Tuhanku, ambil saja aku, jangan Dini-ku. Amin.”

****

Malam minggu ini aku memilih untuk tinggal dirumah. Sudah lengkap persiapan ku. Cemilan, snack, ciki, dan 3 botol cocacola cukuplah buat aku berperang melawan malam. Astrid mengajakku ke pub, lagi, dan aku menolak. Tempat itu cuma membuat kepala ku yang sedang pusing ini bertambah pusing. Aku menyalakan komputerku. Mengaktifkan MSN-ku, dan tentu saja, semua teman-temanku offline. Semuanya sibuk malam mingguan. Semuanya sibuk pacaran. Pacar?! Uuh, sebel aku dengan kata itu. Diantara semua teman-temanku cuma akulah yang belum punya pacar. Belum punya. Bukan ‘belum pernah punya’. Tiba-tiba aku teringat cowokku yang terakhir ini. Sudah hampir dua bulan kami putus dan ia masih terus mengejarku. Ha. Dasar. Tadi siang ia menelepon dan bertanya apa aku ada rencana malam minggu ini. Aku jawab, “Ada!” keras-keras dan langsung aku tutup. Saat itu aku tidak sedang tertawa tapi kesal. Makanya aku menolak ajakan Astrid untuk dugem dan memilih untuk tinggal dirumah supaya kepalaku agak dingin. Aku kesal bukan karena mantanku yang terus mengejarku itu. Tapi sama cowok lain. Aku menaruh perhatian padanya tapi ia cuma menganggap aku teman. Ia bilang ia sudah ada pacar dan sangat mencintai pacarnya itu. Tapi aku tidak perduli. Malahan dengan status ‘teman’ ini aku berhasil mendekatinya dan menciptakan gosip tentang hubungan kami berdua. Tunggu saja suatu hari saat ia memutuskan pacarnya dan masuk dalam cengkraman ku. Boleh saja tadi siang ia menolak ajakanku untuk pergi tapi nanti…lihat saja,…Asa, kau pasti jadi milikku. Aku mematikan MSN ku, lalu komputerku, dan semua snack dan cocacola aku masukkan lagi ke kulkas. Saatnya tidur. Heh. Sepertinya malam ini batal saja ah aku berperang melawan malam. Lebih baik tidur dan mimpi indah. Aku beranjak ke tempat tidur, mengambil selimut dan bantal tidurku. Tidak lupa juga handphoneku ku aruh disebelah kepalaku. Sudah kebiasaan. Namun tiba-tiba aku kepikiran sesuatu. Sesuatu yang iseng. Tanganku meraih handphone dan jemariku sudah lincah menari diatas keypadnya. Aku tersenyum sendiri. Apa reaksi dia Senin nanti? Heh. Di situ aku tulis, ”Met weekend ya ,Say. Aku kangen. Gimana? Sudah sama pacar kamu? Kalau sudah buruan kesini. Aku tunggu, ya. Bye’ dan aku tekan tombol send di sebelah kiri dan to: Asa. Setelah itu aku taruh lagi hendphoneku di sebelah. Mematikan lampu. Menaikkan selimutku. Dan tidur.

3 Responses to “Asa Dini”

  1. on 19 Feb 2008 at 16:46HaNz

    kok ceritanya gax selesai?

  2. on 22 Feb 2008 at 16:31POLOSMAN

    sialan ga selesai ga enak ah

  3. on 19 Jun 2008 at 08:23diedie

    Bersambung….ato ???? kok… ngegantung gtu sech……

Tinggalkan Komentar