KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Lukisan Jingga Senjaku

Aku melukis langit senja dengan tinta berwarna jinggaMenarik segaris lurus sebagai pembatasnya dengan tinta berwarna ungu tua

Hanya ada jingga

Dan ungu tua sebagai bingkainya

Lalu burung-burung senja terbang pulang melewati langit jingga

Menghiasnya hingga tampak lebih berwarna

Tapi itu hanya sementara

Dan lukisanku kembali jingga

Kububuhkan setitik merah di tengah-tengahnya

Sebagai penyemarak suasana

Terlihat rancu

Tidak terlihat lagi seperti lukisanku

Seperti lukisan seniman penyebar senyum palsu

Yang menarik ujung kuasnya dengan kaku

Yang mewarnai langitnya dengan tinta berwarna merah jambu

Dengan membingkainya dengan warna biru

Padahal, jauh dilubuk, hati mereka kelabu

Tetapi selalu berjubah kepura-puraan dan bertopeng keangkuhan

Menonjolkan kesempurnaan

Yang sebenarnya semu

Lantas, apa bedanya denganku?

Lukisanku jingga berbingkai ungu

Hatiku hitam pekat bukan kelabu

Dan jubah agungku kelicikan bukan kepura-puraan

Aku bertopeng keputusasaan bukan keangkuhan

Dan menonjolkan kebingungan bukan kesempurnaan

Yang sama sekali tidak terlihat semu, tapi sebuah kenyataan

Lukisan langit senjaku sempurna

Merahnya telah kuhilangkan dengan air mata

Dan larut bersama warna jingga

Yang membuatnya terlihat lebih nyata

Karena aku adalah seniman dengan sejuta tanda tanya

Yang melukis hanya untuk berkata:

“Lebih baik aku tiada.”

Tinggalkan Komentar